
Saga berjalan lurus, sesekali tersenyum simpul saat murid-murid menyapa nya dengan ramah.
Guru PL yang begitu tenang, memiliki wibawa yang tinggi dan selalu ramah pada siapapun. Mampu membuat semua orang kagum akan sosok Saga.
"Pagi Pak Saga!" sapa sekumpulan murid.
Saga tersenyum singkat. Melewati sekumpulan murid tersebut dengan wajah tenang.
"Huaaaa! Pak Saga ganteng banget hari ini!!!"
"Outfit nya itu lho. Bener-bener nggak ketinggalan. Gue mah rela punya sugar daddy kayak Pak Saga, xixixi."
Saga tertawa kecil mendengar celoteh murid perempuan yang terus mengaguminya.
Lucu sekali. Mereka benar-benar lucu sekali.
"Yan!"
Saga berhenti sesaat, memerhatikan Laura dan teman-temannya. Gadis dengan rambut warna cokelat itu mendekati Rian.
Seorang kapten basket di sekolah ini.
"Apa? Lo mau manfaatin gue? Sori Lau, gue nggak mau terseret ke dalam urusan nggak guna lo!" tolak Rian mentah-mentah.
"Hmph! Lo seriusan nggak mau nolongin gue?" tanya Laura menatap Rian intens.
"Nggak! Nolongin lo sama aja gue bunuh diri sendiri."
"Serius Yan? Laura punya tawaran bagus buat lo. Lo untung, Laura untung," tambah Resa meyakinkan Rian.
Saga mengernyitkan dahi. Mencoba mencerna percakapan mereka.
Ah, sudahlah! Mencoba melerai dan menasehati Laura dan teman-temannya. Sama saja berbicara dengan batu.
Terlalu keras tempurung kepala mereka untuk dipecahkan dengan kata-kata.
"Oke, gue mau dengar penawaran lo," ucap Rian akhirnya memutuskan.
__ADS_1
"Bagus!" Laura bertepuk sekali. Tersenyum miring melihat Rian yang hanya memakai baju basket. "Lo suka Oliv kan?"
Rian terdiam, mundur beberapa langkah saat Laura melangkah mendekatinya.
"Gue suka atau enggak sama Olivia. Bukan urusan elo!"
"Hah! Dasar! Jelas banget emang elo suka sama si miskin," ucap Laura. Mendekatkan Wajahnya pada Rian. "Dilihat darimanapun, lo emang masih suka sama dia."
"Lo!" tunjuk Rian.
"Darimana gue tau?" Laura tersenyum sinis. "Gue punya seribu mata tanpa lo tau."
"Jadi ... apa mau lo?!"
"Mau gue? Deketin Olivia, buat dia jatuh cinta sama lo. Kapan perlu, buat dia bergantung sama lo. Sampai bertekuk lutut dan berpaling dari Ragel nya gue. Gampang kan?"
Rian terdiam beberapa saat. Mencoba memikirkan perkataan Laura.
"Lo!!" Rian membulatkan matanya lebar. "Lo gila Lau!!!" bentak Rian.
"Gue? Gila? Kayaknya sih iya. Tapi lo akan lebih gila kalau nggak bisa dapatin hati dan raga Olivia. Ya kan, Ri-an?" ucap Laura menepuk pundak Rian pelan.
Rian membuang muka, menatap gudang yang tak jauh dari tempat dia berdiri.
Jujur, Rian emang suka sama Olivia. Gadis manis yang mampu membuat hati nya berdetak cepat. Gadis manis yang masuk dalam kriteria Rian.
Dan gadis manis itu, menolak Rian saat kelas 11.
***
Saga menatap lurus pada sosok pria setengah baya. Satu papan catur hitam putih tersebut terletak tepat diatas meja.
Saga melangkah mendekat.
Menyadari kedatangan Saga, Pak Tama mendongak. Tersenyum singkat pada Saga.
"Duduk!" titah Pak Tama.
__ADS_1
Saga mengangguk. Duduk di seberang Pak Tama.
"Main catur sendirian aja Pak?" tanya Saga.
"Ah! Saya bukan main catur. Lagi mikirin strategi untuk operasional sekolah dua tahun ke depan. Biar sekolah semakin bagus sepeninggal saya nanti," ujar Pak Tama.
Mengambil raja yang ada di papan catur. Memegangnya erat.
Saga mempertahankan senyum nya. "Bukankah sekolah sudah lebih dari bagus dari sebelumnya Pak?"
Pak Tama meluruskan pandangannya. Menatap Saga penuh selidik.
"Iya, memang sudah bagus. Hanya saja perlu penertiban pada warga sekolah. Akhir-akhir ini kasus yang tidak terduga sering kali terjadi. Hingga rumor nya menyebar ke sekolah lain," ujar Pak Tama meletakkan kembali pion raja di tempatnya.
Kini giliran Saga mengambil pion prajurit. Melangkahkan nya dua langkah.
"Apakah bapak tau? Untuk menertibkan warga sekolah itu ... tidak semudah bapak menertibkan guru-guru," ucap Saga.
"Saya tau dan saya mengerti maksud kamu Saga."
Saga mengangguk kecil. Menoleh pada anak-anak yang sedang sibuk dengan urusan mereka.
"Masa transisi bagi anak remaja menuju dewasa itu, melewati hal-hal yang sulit dalam hidup mereka. Memerlukan mental dan hati yang kuat," ujar Saga kembali.
"Dan salah satu masa yang paling berat dilewati remaja pada masa transisi nya adalah cinta. Cinta bisa jadi buta, bisa jadi suatu hal yang lumrah bagi setiap orang."
Pak Tama mendengarkan dengan saksama setiap kata yang diucapkan Saga.
Entah Pak Tama saja yang merasa aneh atau bagaimana. Tapi sepertinya Saga membicarakan satu hal yang jelas berporos nya pada siapa.
"Bagaimana kalau cinta itu bisa berubah jadi buta? Mungkin saja semua hal yang diharamkan menjadi halal dan hal yang keji adalah hal lumrah yang memang harus nya di maklumi," ujar Saga tersenyum singkat pada Pak Tama.
Berdiri dari duduknya. Menunduk untuk izin pamit pergi meninggalkan Pak Tama.
"Saya rasa, penertiban yang paling utama adalah murid di sekolah ini. Karena bisa saja, pion prajurit yang semula biasa saja. Secara diam-diam naik menjadi ksatria, atau mungkin. Menjadi ratu tanpa disadari siapapun," lanjut Saga.
Membalikkan badan, guru PL tampan itu melangkahkan kaki meninggalkan Pak Tama yang masih mencerna setiap perkataan Saga.
__ADS_1
"Dan guru PL juga harus ditertibkan. Terutama kamu, iya kan Saga?"