
Olivia terus mengusap wajahnya yang basah. Berpaling dari Ragel yang malah menatapnya lamat.
Ingin rasanya Ragel ketawa, tapi dia tahan. Hanya tersenyum segaris melihat Olivia yang malu. Karena Ragel melihat dirinya menangis sesenggukan di pelukan Ragel.
"Apa lo senyum-senyum, hah?" sentak Olivia mengusap wajahnya yang masih basah.
"Gue? Senyum-senyum?" tanya Ragel menunjuk dirinya sendiri. "Jelas banget ye? Habis lo lucu. Udah nangis kejer. Ujung-ujungnya malah marah."
Olivia cemberut. Mengambil kotak bekalnya yang masih utuh. Menutup nya rapat, lalu berdiri dari duduknya. Memutuskan pergi duluan meninggalkan Ragel.
"Eh, lo mau kemana?"
"Ke kelas. Males ngeladeni elo!"
Ragel buru-buru berdiri. Menarik tangan Olivia cepat. "Tunggu!"
"Apa? Lo mau bilang kalau gue jelek pas nangis?" tanya Olivia sudah berprasangka buruk duluan.
"Enggak. Gue mau ngajak lo makan malam di rumah gue nanti malam," ucap Ragel serius.
Olivia mengernyitkan dahinya. "Makan malam? Dinner maksud lo?"
Ragel mengangguk sekali.
"Nggak!" Olivia menggeleng kuat. "Gue nggak cocok dinner sama orang kayak--"
"Lo pacar gue!" potong Ragel cepat.
"Sekalipun gue pacar lo," jawab Olivia cepat.
"Ini ajakan sekaligus perintah dari Papa. Lo serius nggak mau nerima ajakan kepala sekolah buat dinner nanti malam?"
Ragel menatap Olivia serius. Menatap manik hitam itu lekat. Gadisnya ini kepala batu.
"Liat dulu," jawab Olivia cepat.
Gadis itu melepas tangannya dari genggaman Ragel. Buru-buru pergi dari sana.
Entah kenapa, di mata Olivia. Ragel semakin kesini, semakin bersikap manis pada nya.
***
Olivia mengeluarkan semua baju nya dari lemari usang miliknya. Melihat berbagai macam baju, dari yang memang di beli sama kakak dan ibu sama Olivia yang baru. Sampai yang di kasih orang.
__ADS_1
Olivia mengambil satu baju. Mencobanya di depan cermin kamar. Menggeleng pelan, mengambil baju yang lain.
Lalu menggeleng lagi. Entah kenapa, semuanya terasa tidak cocok di mata Olivia. Padahal semua baju ini adalah baju yang paling bagus yang pernah Olivia miliki.
"Haaahh! Gue kenapa sih? Cuman dinner Liv. Mau ketemu kepala sekolah. Makanya harus tampil rapih. Iyah, cuman dinner sama kepala sekolah!"
Olivia mengangguk meyakinkan diri sendiri. Bahwa dirinya hanya sekedar dinner diajak keluarga Ragel. Bukan urusan penting juga.
Iya, bukan urusan penting.
"Liv?"
Bu Ina masuk ke dalam kamar. Melihat kondisi kamar yang berantakan karena baju-baju gadis itu.
"Astaghfirullah! Kamu ngapain sampai kasur jadi ketutupan sama baju kamu, hm?" tanya Bu Ina meminta jawaban.
Olivia cengir, menampakkan deretan giginya yang putih. "Oliv bingung mau pake baju yang mana buk," jawab Olivia jujur.
Bu Ina menghela napas panjang. Berjalan mendekati Olivia dengan tongkat bantu di kedua ketiak nya untuk berjalan.
"Dinner sama keluarga Ragel?" tanya Bu Ina tepat sasaran. "Yaudah, sini ibuk yang pilihan. Ribet banget emang punya anak gadis lagi jatuh cinta."
"Iiihhh, ibuk! Oliv nggak lagi jatuh cinta! Ini cuman supaya Oliv terlihat rapih dan elegan aja di depan keluarga Ragel," bantah Olivia tak terima.
"Iya. Sekalian entar di bilang cantik sama mas pacar," sindir ibuk terkekeh kecil melihat Olivia yang semakin cemberut.
Dress di bawah lutut itu terlihat manis dan cantik. Apalagi dipadukan dengan cardigan mocca. Semakin anggun kalau yang pake Olivia.
"Udah sana! Ganti baju dulu." Bu Ina memberikan dress tersebut, lalu berlalu meninggalkan Olivia di kamar.
Olivia terdiam, menatap dress tersebut lekat. Bagus juga sih, apa coba pake aja dulu?
***
Olivia keluar dari kamar dengan rambut kuncir dua. Membuat Olivia terlihat imut dan manis.
Bu Ina mengangguk pelan. "Coba muter!" titah Bu Ina.
Olivia menurut, memutar pelan. Hingga dress putih dan cardigan itu mengembang secara perlahan dan anggun.
"Cantik!" Bu Ina menggedikkan dagu, menyuruh Olivia keluar. "Udah gih, berangkat. Tuh Ragel udah dateng dari tadi," ucap Bu Ina.
"Titip salam sama keluarganya," lanjut Bu Ina tersenyum kecil saat Olivia menyalami punggung tangannya.
__ADS_1
"Siap! Makasih ibuk yang paling caaantiiikkk!!"
"Dih! Pinter bener muji nya!"
Olivia terkekeh kecil, melambaikan tangan. Keluar dengan penuh percaya diri.
Olivia terpaku melihat Ragel dengan hoodie mocca dan celana jins hijau lumut agak muda. Cowok itu terlihat tampan saat Ragel sedang menaikkan lengan baju nya.
Ragel menoleh, melihat Olivia lamat. Lucu, gemesin, dan manis.
Tiga kata itu belum cukup untuk mendefinisikan Olivia yang sekarang. Gadis itu benar-benar beda sekali dengan dirinya yang di sekolah.
"Apa liat-liat!"
Walau memang sikap ketus Olivia nggak pernah berubah.
"Siapa yang liat? Orang gue liat anak kecil kuncir dua tadi," jawab Ragel santai. Mendekati Olivia.
Olivia membulatkan matanya lebar. "Anak kecil? Maksud lo gue, hah?"
Ragel mengangguk. Menepuk kepala Olivia pelan. "Imut!"
Deg!
Olivia membeku di tempat. Ragel selalu saja membuat jantung Olivia berdetak kencang.
๐๐
Dag Dig Dug hati ku!
Awokawokawok๐คช jantung ku bergetar saat kau di dekat kuuuuuu!! Bunyikan musik nya!!!
Gimana, kalian deg-degan juga nggak? Acha kasih yang manis-manis dulu yaaaa, biar manis juga hidup kalian๐
Oke, Acha minggat.
Pay pay
Acha yang paling imut sejagat rayaaa!!๐โจ
Ragel : yang paling imut sejagat raya itu Olivia!๐
Olivia : nggak usah gombal! Gue nggak baper!๐ฅ (Tersipu malu, seraya memalingkan wajah)
__ADS_1
Acha : iya dah iya! Yang jomblo nyari kontrakan lain di planet mars!
Bruuuummmmm ๐๐๐