MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
17. Ibarat Tahu Dalam Gado-Gado


__ADS_3

Pak Tama menghela napas berkali-kali. Sekali lagi dia menatap wajah innocent Ragel. Tak habis pikir dengan jalan pikir Ragel.


Lihatlah Ragel sekarang, duduk anteng tanpa beban. Padahal tadi dia nyaris menghilangkan nyawa murid Papa nya.


"Ragel, udah berapa kali Papa bilang. Jangan ngelakuin hal itu lagi. Kalau sampai terjadi, kamu bisa berurusan sama polisi dan Papa juga kena imbas nya, Ragel!" nasihat Pak Tama pelan-pelan.


"Ragel nggak peduli Pah. Ragel juga nggak akan nyangkutin Papa, kalau seandainya Ragel di laporkan ke polisi," ucap Ragel santai.


Pak Tama menepuk jidatnya capek. Aish, Ragel ini! Benar-benar bikin kepala Pak Tama pusing.


"Kamu itu ya ..." Pak Tama menggaruk kepalanya suntuk. "Nggak tau lah Gel. Papa capek mikirin nya!!"


Ragel tersenyum. Berdiri dari duduknya, dengan langkah ringan menuju pintu. "Udah kan Pah? Kalau gitu, Ragel pulang dulu. Bye Papa!!"


Pak Tama terdiam, menatap punggung Ragel yang hilang di telan pintu. "Astaga anak itu~~"


***


Ragel melangkah santai sambil bersiul ria. Cowok itu bahkan melupakan kejadian yang dia lakukan beberap jam lalu. Padahal dia nyaris membunuh murid dari Papa nya. Tapi Ragel malah bersikap santai, seakan tidak ada beban.


Rencananya sekarang, Ragel akan ke kelas pacarnya. Mengajak Olivia makan, lalu mengantarnya pulang.


Tapi di tengah lorong, dia melihat Olivia berjalan berduaan dengan guru PL sialan itu sambil bercanda ria.


Astaga! Ragel cemburu rupanya?!


Oh tentu tidak! Karena pada dasarnya, dia hanya menganggap Olivia pacar saat di depan semua orang. Cowok itu bahkan tak ada perasaan sama sekali sama si nenek lampir Olivia.


Lihatlah, Olivia sudah diberi julukan oleh Ragel sendiri.


Ragel tersenyum simetris, melangkah diam-diam mengikuti Olivia dan guru PL sialan itu sampai depan parkir.


"Kamu pulang sama siapa? Mau bareng saya?"


Mendengar tawaran Saga. Ragel langsung melangkah mendekati pacarnya dan merangkul bahu kecil itu dari belakang.


Olivia menoleh, sedikit mendongak melihat wajah Ragel. Ragel juga ikut melihat. Pandangan mereka saling menumbuk. Dengan satu wajah masam penuh sumpah serapah dan satu lagi wajah tanpa dosa dengan senyum menyebalkan.


"Pacar saya pulang sama saya," ucap Ragel mutlak.


Saga mengangguk sekali, tak mau memperpanjang masalah sama anak kepala sekolah.


"Yaudah, kalau gitu saya pulang dulu. Sampai jumpa besok Olivia," ucap Saga mengangkat tangannya hanya sekedar pamitan singkat.


"Iya pak, sampai jumpa besok juga!" jawab Ragel ikut-ikutan mengangkat tangan.


"Ah," Saga tersenyum. " Sampai jumpa besok juga Ragel!"


Ragel memiringkan kepala. Mengisyaratkan guru PL itu untuk cepat-cepat pergi dari hadapannya.


Setelah Saga benar-benar pergi dengan motor bututnya. Olivia langsung melepas rangkulan Ragel dengan kasar.


"Bisa nggak sih lo, nggak bikin gue terkejut?!"


"Nggak bisa!" jawab Ragel enteng.


"Oh!!" imbuh Olivia berbalik. Melangkah meninggalkan Ragel.


Cukup, dia ingin cepat-cepat pulang dari sini!!


Tapi dengan cepat, Ragel menarik tangan Olivia. Hingga gadis itu berbalik dan langsung jatuh ke pelukan Ragel.

__ADS_1


Olivia dapat merasakan detak jantung cowok itu. Bahkan wangi mint dari tubuh Ragel juga terasa.


"Gel, lepas!" pinta Olivia berusaha melepaskan diri dari dekapan Ragel.


"Sebentar aja. Gue pengen kayak gini. Sebentar aja, plis!" pinta Ragel tulus.


Olivia melemah. Dia lemah saat orang memohon padanya seperti ini. Apalagi mengingat Ragel saat beberapa jam yang lalu.


Olivia mengangguk. Memeluk Ragel dengan tangannya yang melingkar sampai ke punggung Ragel. Menepuk-nepuk nya pelan.


Ragel terdiam, dia bungkam tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Rasanya dia mendapatkan secercah kehangatan itu.


Tanpa mereka sadari, seseorang memfoto posisi mereka yang sedang berpelukan.


"Lo pasti capek," ucap Ragel pelan. "Tapi lo masih mau bela-belain buat ngelerai gue yang nyaris bunuh orang, lagi?"


Olivia tersenyum di balik dekapan Ragel. "Gue emang capek Gel. Tapi bukan berarti gue diam gitu aja saat dengar kabar kalau lo nyaris nge-bunuh adik kelas lo sendiri," ujar Olivia, suaranya mengecil saat Ragel malah semakin mengeratkan pelukannya.


Ragel berdesis kesal. " Dia bukan adik kelas gue!"


Olivia terkekeh kecil. "Iya iya!"


Ragel mengurai pelukannya. Tangannya masih setia di pinggang gadisnya itu. "Mau makan bareng gue?" ajak Ragel menaik turunkan alisnya.


Olivia mengangguk. Untuk kali ini, dia akan menuruti apa yang diinginkan Ragel. Karena untuk hari ini, cowok itu pasti membutuhkan seseorang untuk ada disampingnya.


"Tapi gue mau makan gado-gado. Bukan makan di restoran mewah," ucap Olivia enteng.


"Oke!"


Eh, gado-gado mana ada sore-sore pasangan gila!!!


***


Tapi Olivia bahkan tak peduli. Setelah turun dari motor Ragel. Gadis itu ngacir ke tempat duduk yang dekat dengan jembatan yang di bawahnya ada sungai.


Disusul Ragel dengan kedua tangan yang dia tenggelamkan ke dalam saku celana. Cowok itu duduk di depan Olivia.


Olivia mengernyit, "lo nggak mesan gado-gado nya dulu?"


Ragel menggeleng pelan. Menoleh ke gerobak Abang gado-gado. Menepuk tangannya berkali-kali. "Bang! Oi, bang!!"


"Lo bego atau gimana si Gel? Lo kira lagi di cafe atau restoran, gitu?" sembur Olivia. Membuat Ragel tersadar. "Langsung nyamperin sono. Dasar emang!"


Ragel menghela napas pelan. Berdiri dari duduknya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Mengetuk jidat pacarnya pelan.


"Iya, bawel!"


Blush!


Sepertinya Olivia terbawa perasaan. Karena gadis itu dapat merasakan wajahnya yang memerah. Wah, jangan sampai dia jatuh hati sama Ragel secara perlahan.


Ragel terkekeh melihat Olivia yang masih mematung. Lalu pergi begitu saja meninggalkan gadisnya yang masih mengontrol perasaan yang meletup-letup.


"Si Ragel kampret!! Amit-amit dah, gue jatuh hati sama Ragel kampret psikopat gila itu!! Amit-amit, astaga!!" Olivia terus mengetuk kepalanya pelan, lalu mengetuk meja berkali-kali.


Beberapa menit kemudian, Ragel kembali dengan dua plastik es batu berukuran setengah kilo yang masing-masingnya ada kerupuk bawang.


Tersenyum penuh arti, Ragel duduk di depan Olivia. Lalu menyodorkan satu bungkus kerupuk tersebut. Sedangkan yang satu bungkusnya dia makan sendiri.


Olivia melongo, tak percaya. Ini Ragel kan? Bukan siapa-siapa?

__ADS_1


"Gel, lo ... itu kan kerupuk Abang gado-gado. Kenapa malah lo ambil? Dua bungkus lagi," ucap Olivia tak percaya.


Ragel masih tersenyum, memakan kerupuk bawang lagi. Lalu berbicara,"iye. Tadi gue makan satu kerupuknya. Terus gue bilang, kerupuknya enak bang. Lah si Abang malah nyuruh gue ambil. Yaudah gue ambil sekalian dua plastik."


Olivia menghela napas, berdiri lalu meletakkan tangannya di kening Ragel. "Lo nggak demam kan Gel? Gue rasa, lo bukan tipe orang yang norak gini deh?"


Olivia masih bertanya-tanya. Ini si Ragel nggak konslet kan?


Ragel malah memajukan wajahnya. Hingga jarak diantara mereka menipis. "Apa sejelas itu gue nunjukkin kenorakan gue?" tanya Ragel.


Senyum yang terpatri di wajah tampan cowok itu berubah menjadi senyum mengerikan di mata Olivia.


Olivia membulatkan mata. Buru-buru gadis itu memundurkan wajahnya lagi.


"Apaan sih lo!" gerutu Olivia.


Ragel terkekeh melihat gadisnya yang salah tingkah.


Olivia menghela napas lega, saat Abang gado-gado datang dengan nampan yang diatasnya ada dua piring gado-gado.


"Silakan dimakan, Dik!"


Olivia dan Ragel tersenyum tipis. Setelah Abang itu berlalu. Mereka segera menikmati acara makan tersebut.


Tak ada yang memulai pembicaraan. Hanya dentingan sendok dan piring yang beradu. Ditambah suara kendaraan yang berlalu lalang.


Hingga keheningan itu pecah. Saat Ragel memindahkan tahu di piringnya ke piring Olivia.


"Biar sehat lo!"


Bibir Olivia mengerucut, nggak terima disebut tak sehat. "Terus lo kira gue nggak sehat selama ini?" tanya Olivia kesal.


Ragel memicingkan mata, tak bisa menebak mood cewek yang ada di depannya ini.


"Lah? Kok lo kesal? Gue baik-baik yah ngomongnya Livia. Lagian juga, bukan berarti lo nggak sehat," jelas Ragel melanjutkan makannya.


"Kalau lo bilang gitu. Kenapa nggak lo aja yang makan tahu nya?"


"Gue nggak suka tahu," jawab Ragel enteng.


"Ragel!" Olivia menunjuk cowoknya itu dengan sendok garpu, matanya membulat sempurna. "Kenapa bisa lo nggak suka tahu? Gue sebagai pencinta tahu, nggak terima. Nih ya Gel, tahu dalam gado-gado itu enak!!" ujar Olivia menggebu-gebu.


"Yaudah, lo makan aja."


"Ish, lo tuh ya!!" Olivia memindahkan tahu yang diberikan Ragel tadi ke piring cowok itu. "Tahu dalam gado-gado itu komponen penting, tau nggak lo? Apapun makanannya, yang namanya tahu tetap harus ada. Istilahnya, kalau nggak ada tahu. Makanan terasa hampa dan kosong. Apalagi makanannya gado-gado. Duh, gue nggak bisa ngebayangin gimana nggak ada tahu dalam gado-gado," omel Olivia panjang lebar.


Ragel tersenyum kecil, menatap gadisnya itu takjub. "Sama kayak masalah dalam hidup kita?" tanya Ragel.


Olivia mengangguk mantap. "Yap, tepat banget! Kalau hidup kita cuman ada bahagia doang, nggak seru. Masa' kita senyum-senyum terus kek orang gila. Gitu juga kalau hidup kita cuman ada masalah aja! Yang ada malah sensian, terus end deh! Hidup itu pasti ada berbagai macam warna. Ada putih, hitam, biru. Pokoknya warna-warni deh!"


Ragel menggeleng mendengar penuturan Olivia yang menggebu-gebu. Tanpa sadar, tangan cowok itu mengusap rambut Olivia lembut.


Olivia mematung, begitu juga dengan Ragel. Suasana tiba-tiba canggung, Ragel menarik tangannya kembali. Olivia buru-buru menyuap sendokan terakhirnya.


Setelah mengunyah makanan tersebut. Olivia menanyakan satu hal yang tanpa dia sadari. Gadis itu dapat melihat sisi lain dari Ragel.


"Kalau lo, masalah apa yang nggak pernah lo bayangkan selama hidup lo?"


Ragel tersenyum masam mendengar pertanyaan Olivia. Cowok itu menghela napas berat.


"Apa masalah yang lo maksud. Masa lalu kelam yang seakan mimpi, tapi malah nyata di hidup gue?"

__ADS_1


__ADS_2