
...Ziva Magnolya-- Pilihan yang Terbaik🎶...
Olivia menghela napas. Setelah mobil Ziky benar-benar pergi dari depan rumahnya. Olivia menggapai ganggang pintu.
Ceklek!
Olivia terkejut. Mendapati sosok sang ayah yang berdiri tepat di depannya.
"A-ayah ..." Olivia meneguk ludahnya pelan. Mengamati raut wajah ayah yang sulit di tebak. "... maaf," lirih Olivia menundukkan kepalanya.
"Haaahh!!" Helaan napas sang ayah terdengar keras. Membuat Olivia semakin menundukkan kepalanya. "Apa saat ini, hal yang lebih tepat bagi remaja yang sedang dilanda kegalauan itu adalah kabur dari rumahnya? Apa rumah nya yang sesungguhnya itu, sudah tidak bisa dikatakan rumah?" tanya Ayah mengusap wajahnya pelan.
"Bukan begitu yah. Olivia ... nggak mau ayah sama ibuk cemas," cicit Olivia memelankan nada suaranya beberapa oktaf.
Ayah kembali menghela napas panjang. Menatap putri nya lembut. "Kalau kamu kabur, itu semakin membuat ayah sama ibuk cemas. Sangat-sangat cemas. Bahkan serasa akan mati. Karena cuman kamu, satu-satunya permata di hidup kami, Liv!"
"Maaf Yah. Maafin Oliv. Olivia benar-benar minta maaf." Olivia memeluk sang ayah erat. Mencari kehangatan dari tubuh sang ayah yang tak kuat lagi.
"Lain kali, kalau ada apa-apa. Ceritakan sama ayah dan ibuk, oke?"
"He'em," Olivia mengangguk singkat. "Maaf, Ayah."
***
Olivia menatap ponselnya. Ada beberapa pesan dari Ragel dan puluhan telepon dari cowok itu yang tak Olivia angkat.
Gadis itu menekan panel nama Ragel di pesan nya. Menatap sederet pesan yang langsung menyayat hati Olivia.
Bukan pacar gue, sumpah!🔥
|Angkat telpon gue Liv
|Sorry, gue yang salah
|Plis, jangan gini. Lo dimana Livia?
|Jangan putus dari gue gitu aja. Gue bisa jelasin. Ayo, angkat telpon gue Livia.
|Apa semudah itu caranya putus? Apa lo nggak mau bicara baik-baik sama gue terlebih dahulu?
|Sorry, i am bad. Tapi jangan gini.
Olivia kembali menitikkan air matanya. Membaca sederet pesan selanjutnya.
Ragel ... dia benar-benar mencintai dirinya atau tidak? Kalau benar, kenapa masih ada seseorang yang ada di kehidupannya?
Olivia tau, dia sangat bodoh. Benar-benar bodoh. Tidak seharusnya Olivia bangga akan hal semu.
Hati Ragel, bukan untuk dirinya. Seharusnya Olivia menancapkan kata-kata itu. Agar hati Olivia sadar dan tak berlabuh pada cowok itu.
Bukan pacar gue, sumpah!🔥
|Mari bicarakan baik-baik besok. Gue tunggu di rooftop sekolah.
Satu pesan terakhir yang dikirim cowok itu. Jam 10 tepat. Cowok itu mengirimkannya pesan terakhir.
Olivia mengetikkan satu kata. Dan keputusan nya saat ini benar-benar bulat.
Olivia Dwi Ananda
__ADS_1
|Oke.
Saat itu, tepat tengah malam. Olivia memutuskan pilihan nya. Untuk mengakhiri hubungannya dengan Ragel.
***
Menatap pintu rooftop kayu itu lekat. Olivia mencoba menetralisir detak jantung nya yang terus berdetak cepat. Serasa akan keluar dari tempatnya.
"Plis hati, lo jangan gini. Gue udah bulat untuk putus dari nya. Plis!"
Olivia memegangi dadanya. Berharap detak jantung nya kembali normal. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dan tak ada yang perlu ditakutkan.
Dia memang benar-benar akan putus dari Ragel. Iya, benar-benar akan putus.
Ceklek!
Olivia menatap lurus pada sosok laki-laki yang sibuk melihat lapangan dari atas rooftop di pinggir dinding.
Laki-laki itu menoleh saat menyadari kehadiran Olivia di daun pintu. Dengan langkah perlahan, Ragel mendekati Olivia.
Olivia juga melangkah mendekati Ragel. Kini jarak mereka hanya 30 senti. Saling memandang satu sama lain.
Bercermin pada netra mata hitam milik keduanya. Mencoba mencari sesuatu yang hilang di dalam sana dan berharap akan kembali dan melengkapinya lagi.
"Sori," itu kata pertama yang Ragel keluarkan. Setelah sepersekian menit mereka saling menumbuk pandangan. "Gue minta maaf. Tapi--"
"Berulangkali pun lo minta maaf ke gue. Udah gue maafin. Tapi untuk alasan, gue nggak bisa," potong Olivia masih terus menatap Ragel.
"Kenapa?"
"Karena ..." Olivia menghela napas. "Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi Gel," ucap Olivia mulai lelah.
"Secepat itu?" Olivia mengangguk yakin. Ragel tersenyum kecut. "Berbagai alasan pun, nggak bakalan lo terima? Apa sudah jelas, setelah lo liat semuanya? Lo nggak mau tau alasan gue dulu, hm?"
Olivia berkata yakin. Dia masih berani menatap Ragel. Walau hati nya sudah sakit duluan. Hatinya sakit, bahwa dia harus berbohong kalau dirinya tidak menyukai Ragel.
"Sekarang gue tanya Liv. Apa lo nggak cinta--"
"Gue yang harusnya nanya itu Gel! Elo— apa lo nggak cinta sama gue? Apa nggak ada secuil pun rasa kasih sayang di hati lo? Semudah itu ya, buat hati orang bingung dan semudah itu menghancurkan hati orang tersebut, hm?"
Olivia menggebu-gebu, menatap manik hitam gelap milik Ragel dengan mata berkaca-kaca. Dia mencoba menahan tangis yang akan meledak itu.
"Gue--"
"Kalau lo nggak cinta. Kalau lo nggak sayang. Nggak usah ngajak pacaran! Gue nggak perlu dikasihani. Gue nggak butuh Gel. Secuil pun nggak butuh!"
Lagi-lagi Olivia memotong. Mengeluarkan segala unek-uneknya yang dia pendam selama ini.
"Ah iya, gue lupa. Elo kan nggak tau gimana rasanya kasih sayang. Gimana rasanya dicintai. Dan gimana rasanya menahan sakit, saat dia mencintai seseorang tersebut. Tapi orang yang dia sukai, malah tak mencintai nya. Lo pasti nggak pernah ngerasain nya," sinis Olivia membuang pandangan.
"Apa semudah itu hubungan bisa terjalin erat? Apa dengan gue bilang, kalau gue sayang elo. Lo bakalan berhenti minta putus?" tanya Ragel. Dia sengaja mengulur-ulur. Agar Olivia menyerah dan mereka akan baikan.
Olivia menggeleng. "Nggak semudah lo membalikkan telapak tangan. Apa tau lo tentang rasa cinta dan sayang? Apa tau lo, gimana rasanya mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Apa tau lo--"
"Gue tau. Gue tau gimana rasanya dicintai oleh seseorang yang juga kita cintai. Gue tau, gimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai dan gue ..." Ragel menunjuk dirinya sendiri. "... tau, gimana sakitnya saat seseorang itu pergi ninggalin gue gitu aja," ujar Ragel.
Olivia mengepalkan tangannya kuat. Mencoba menahan segala rasa yang ada agar tidak meledak. Terkhusus rasa ingin nangis sejadi-jadinya.
Tapi Olivia tahan, agar dia tidak terlihat lemah di depan Ragel. Dia tak ingin menunjukkan air mata nya pada Ragel. Sedikitpun.
__ADS_1
"Lo ..." Olivia menghela napas panjang sekali lagi. "Gue capek Gel. Capek. Plis, bebasin gue. Tinggal bilang 'putus' dan semua kelar. Gue capek. Rasanya beban di pundak gue luruh. Satu aja. Jadi plis, putusin gue."
Olivia menatap Ragel dengan sorot mata lelah. Dia tidak tau lagi harus berkata apa. Ragel terlalu mengulur waktu.
"Dengerin penjelasan gue dulu--"
"RAGEL!" bentak Olivia tanpa sadar. "Aiisshhh!!" Olivia mendesis kasar. Mengusap wajahnya gusar.
Gadis itu berjongkok. Memusatkan pandangan nya pada sepatu kumal miliknya. Setetes demi setetes, air mata jatuh. Mengenai sepatu miliknya yang kumal itu.
Suara isak tangis samar-samar terdengar. Olivia sudah tidak kuat lagi. Dia sungguh-sungguh ingin mengakhiri semua ini.
"Putusin gue. Atau gue yang putusin." Olivia mengusap air mata di pipi nya yang basah. "Gue benar-benar capek. Lo boleh benci gue dan anggap gue egois. Silakan. Karena gue nggak peduli," ucap Olivia masih terus menatap sepatu nya.
"Lo boleh benci gue sesuka lo. Bahkan lo boleh bully dan menghasut siapa saja yang ada di sekolah ini. Agar tidak ada yang mau berteman dengan gue. Silakan. Lo boleh egois Gel. Karena gue juga egois."
"Karena gue cuman minta satu. Putus. Maka beban gue jadi ringan, walau hanya secuil," ujar Olivia kembali menghapus air mata nya yang jatuh.
"Putusin gue Gel--"
"Mulai hari ini, lo dan gue ..." Ragel menarik napas panjang. Sebelum akhirnya mengucapkan kalimat sakral yang mengakhiri hubungan mereka berdua. "... tak ada hubungan apapun lagi," lanjut Ragel mutlak.
Olivia mengangkat pandangannya dengan mata basah. Air mata terus turun tanpa izin dari sang empu.
Ragel menatap mata basah itu lekat. Ingin rasanya memeluk tubuh Olivia seerat mungkin. Tapi tak mungkin, Ragel tak mungkin melakukannya.
Langkah lebar itu mendekati Olivia. Dengan lembut dan cepat, Ragel mengusap kepala Olivia. Lalu melangkah meninggalkan gadis itu sendiri.
Ceklek!
"Aaakkhhhhh!!!"
Olivia berteriak histeris. Menahan rasa sakit di dada nya. Tangis nya pecah, membiarkan air mata nya jatuh. Menahan luka di hati nya.
Bukan beban meluruh. Tapi Olivia merasa, bahwa dia telah kehilangan satu cahaya di hidup nya.
"Bodoh! Egois elo nya Liv! Bodoh!"
Olivia merutuki dirinya sendiri. Rasanya sesak di dada. Dia ... putus dari Ragel. Rasanya sakit.
Ragel yang berada di balik pintu, hanya bisa diam. Mendengar tangisan Olivia yang pilu.
Hati Ragel sakit. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Permintaan Olivia dia turuti. Sejujurnya, Ragel ingin lebih lama bersama gadis itu.
"Sorry Liv. I am really sorry."
***
**HOLAAAAA GAEEESSS 👋
MAAF BANGET AKU BARU BISA UP SEKARANG. YA AMPUN, BENAR-BENAR DEH, TERLALU AKU NGGAK UP KARENA SIBUK SAMA KULIAH.
IYAAAA, AKU UDAH MULAI KULIAAAAHHHH. JADI MABA DOONG😭
BTW, KALIAN MASIH SETIA DENGAN MPB AKU SENENG BANGET LOCH 🧚♀️
MAKASIH YAW TEMAN-TEMAN. BISMILLAH BISA UP MINGGU DEPAN.
AKU UDAH PUNYA TARGET UNTUK UP. INI BENERAN HARUS BISA UP AKU NYA.
__ADS_1
POKOKNYA DOAIN MOGA LANCAR YAH.
PAY PAY 💓**