MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
53. Menjadi Asing


__ADS_3

...Mahalini-- Sisa Rasa ๐ŸŽถ...


Fiks, harus banget putar lagu ini biar feel nya kena yang manteman๐Ÿ˜ญ๐Ÿ™


***


Prank!


Tangan besar itu meninju kaca wastafel hingga retak. Cairan merah kental itu mengalir di sela-sela kepalan tangannya. Hingga menutupi warna kulit asli nya.


Ragel menatap dirinya di depan cermin yang retak tersebut. Sorot marah dan kesal bercampur menjadi satu. Membuat dada nya menggebu-gebu.


Ada sesuatu yang mengganjal di hati nya. Setelah memutuskan hubungan nya dengan Olivia. Satu keping puzzle kehidupan Ragel hilang.


"Sebenarnya lo suka atau enggak sih, sama Olivia, hah?" Ragel membentak dirinya sendiri. "Kalau suka bilang! Bukan di pendam. Apalagi sampe mutusin hubungan gitu aja!"


Sekali lagi, cowok itu membentak dirinya sendiri. Menyorot wajahnya dengan mata memerah nyala.


"Pengecut lo!"


Hah! Ragel benar-benar cowok plin-plan. Padahal dulu, waktu dirinya memutuskan hubungan tunangannya dengan Syera. Dia tak semarah ini.


Kenapa sekarang berbeda?


"Benar-benar pengecut lo, ban*sat!" umpat Ragel pada diri sendiri.


***


Olivia menghela napas panjang. Setelah puas menangis. Gadis itu merapihkan penampilan nya yang berantakan. Menatap matanya yang bengkak karena menangis tanpa henti.


Wajah murung itu semakin murung. Apalagi mengingat ucapan Ragel yang terakhir kali nya.


"Mulai hari ini, lo dan gue, tak ada hubungan apapun lagi."


Olivia menutup matanya. Menarik napas panjang, lalu menghembuskan nya secara perlahan.


"Tenang Liv. Lo nggak boleh nyesal. Bukankah ini yang lo mau, kan? Terbebas dari Ragel. Tak ada ikatan apapun lagi sama cowok itu," ucap Olivia mencoba menenangkan dirinya.


Tanpa sadar, air mata luluh begitu saja. Tanpa aba-aba dari sang empu.


Olivia memegangi dadanya yang terasa sakit. Sesak di dadanya semakin menjadi-jadi.


"Tapi kenapa sesakit ini, hiks. Harusnya nggak sesakit ini. Harusnya gue baik-baik aja. Harusnya gue ... hiks," Olivia memukul dada nya sekuat tenaga. Mencoba mereda sesak di dadanya yang semakin menjadi-jadi. "Ini pilihan yang lo minta Liv. Pilihan yang lo anggap terbaik. Tapi kenapa ... hiks, kenapa harus jadi begini, hiks."


Sekali lagi, gadis itu menangis sendirian di rooftop. Mencoba mengatakan pada dirinya bahwa dia baik-baik aja tanpa Ragel.


Mencoba untuk mengikhlaskan pilihan nya. Tapi semuanya runtuh. Setiap kenangan dirinya bersama Ragel terus berputar.


"Ini pilihan elo Liv. Ini yang terbaik!"


***

__ADS_1


Ragel menatap lurus pada jalanan menuju Olivia. Ini sudah jam 7 pagi. Sejak subuh Ragel menunggu seseorang, di depan jalan ini.


Biasanya dia akan dengan senang hati melajukan motornya ke jalan tersebut. Tapi sekarang rasanya berbeda. Asing sekali saat ini.


"Lo udah sampe belum? Harus nunggu angkot dulu lo nya?" Ragel terkekeh kecil. Menyadari ketidakwarasan nya. "Ah, lo lupa Gel? Dia kan si paling disiplin. Nggak mungkin telat."


Ragel menancap gas motor nya menuju sekolah. Pikirannya berputar-putar pada saat dimana dirinya bersama dengan Olivia.


Biasanya mereka akan pergi bersama. Saling beradu mulut, lalu Olivia akan meminta Ragel untuk menurunkan nya jauh dari gerbang sekolah. Agar dirinya tidak digosipkan yang tidak-tidak.


Ragel melajukan motornya. Semua nya sirna. Mereka tak lagi bersama. Tak ada lagi yang bisa di ajak berantem.


Dan Ragel tak bisa lagi modus sama Olivia.


***


"Baik anak-anak, materi hari ini kita cukupkan sampai disini. Jangan lupa Minggu depan kita kuis. Jangan sampai nilai kalian anjlok di kuis kali ini, paham?"


"Paham buk!"


Guru fisika itu menatap Olivia yang sedang termenung entah memikirkan apa.


"Olivia! Ikut saya ke kantor," titah guru berbaju batik itu.


Olivia tersentak kaget. Mengangguk patuh pada guru tersebut. Mengemaskan barang-barang nya. Lalu menyusul guru fisika tersebut ke kantor.


"Maaf, ada apa ya buk?" tanya Olivia sopan.


Olivia terdiam beberapa saat. Menatap sepatu nya yang terlihat kumal itu lamat.


"Ku-kuliah?" cicit Olivia pelan. "Saya masih nggak yakin. Karena biaya kuliah sangat lah besar dan orangtua saya tidak akan mampu membiayai nya," lanjut Olivia.


"Kamu serius untuk kuliah?"


"Tentu saja! Itu adalah mimpi saya!" jawab Olivia penuh semangat.


Guru fisika tersebut mengangguk dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. "Kalau begitu, prodi apa yang akan kamu ambil?"


"Farmasi? Saya berharap lolos di jalur prestasi nantinya buk," jawab Olivia sungguh-sungguh.


"Bagus. Kalau begitu, belajar lah dengan giat. Dan untuk biaya kuliahnya. Jangan takut. Ada banyak beasiswa nanti nya. Syaratnya kamu harus rajin, oke?"


Olivia mengangguk penuh semangat. "Oke buk! Makasih."


Olivia pamit keluar kantor guru. Dengan perlahan gadis itu menutup pintu kantor guru. Lalu melangkah dengan penuh semangat.


Yah, Olivia harus memikirkan masa depannya. Dia harus kuliah. Membanggakan kedua orangtuanya.


"Gel! Njir lah! Weh, pempek gua woi!"


"Hahahaha! Si Angga sial ges!"

__ADS_1


"Sori Ang, gue nggak sengaja."


"Makanya jangan ngelamun mulu lo! Dimana-mana ngelamun. Kek banyak aja beban lo."


"Diem lo!"


Ragel melangkah meninggalkan kedua temannya. Dasar memang, punya teman nggak ada yang bisa membuat dirinya tenang.


Ragel mengangkat pandangannya. Menatap Olivia yang ada di depannya sepuluh langkah.


Kedua nya membeku di tempat. Seolah kaki keduanya merekat erat di lantai koridor. Hanya diam saling menatap untuk beberapa saat.


"Oh, Liv! Apa kabar lo?"


Angga memecahkan keheningan diantar kedua remaja itu. Cowok itu melangkah mendekati Olivia tanpa tau kalau sebenarnya kedua pasangan itu sudah tidak ada hubungan apapun lagi.


"Si Ragel bego itu malah ngejatuhin pempek gue. Marahin sono pacar lucknut lo," ucap Angga santai.


"Ah ..." Olivia mengedarkan pandangannya kemana saja. Bingung harus mengatakan apa. "... gue duluan ya Ang," ucap Olivia.


Gadis itu melangkah lurus tanpa menoleh sedikitpun pada Ragel yang dia lewati. Olivia sempat melirik lengan Ragel yang di perban.


Gadis itu berhenti tepat di samping Ragel. Meringis menatap lengan Ragel yang di perban.


"U okay?" Tanpa sadar Olivia mengatakannya. "Udah dikasih obat--" Olivia berhenti. Menyadari apa yang dia lakukan. "Sori." Olivia melangkah meninggalkan Ragel.


Ragel menatap punggung Olivia hingga menjauh dari pandangannya. Gadis itu mengkhawatirkan nya. Bahkan setelah mereka putus. Masih ada sisa rasa yang ada di dada kedua nya.


"Gue nggak okey Liv. Sama sekali nggak," lirih Ragel.


"Gel? Lo kenapa-- woi, denger kagak lo!" Angga menatap Ragel yang melangkah meninggalkan kedua temannya.


"Lo tau Ang?"


"Apa?"


"Lo terlalu goblock," tukas Ziky melangkah meninggalkan Angga.


"Njir lah!"


***


**GEEESSSSS!!!


SORI BANGET YAH NGGAK UP KEMARIN๐Ÿ˜ญ MAKASIH BANYAK LHO KARENA TETAP SETIA SAMA MPB SAMPAI PART INI.


JANGAN BOSAN-BOSAN BACA MPB SAMPE ENDING YAH๐Ÿ˜ญ


SANKYUUUUU ๐Ÿ’“


INSYAALLAH ACHA UP LAGI MALAM MINGGU KALAU NGGAK BERHALANGAN ๐Ÿงšโ€โ™€๏ธ

__ADS_1


PAY PAY ๐Ÿ‘‹๐Ÿผ๐Ÿ’“**


__ADS_2