
"Mama!"
Anak cowok berusia 5 tahun itu menuruni anak tangga dengan cepat. Tanpa sadar, di dua anak tangga terakhir. Anak cowok itu tersandung kaki nya sendiri dan terjatuh.
"Aduh!" ringis anak cowok tersebut.
"Astaga, Ragel. Hati-hati," wanita cantik yang di panggil Ragel dengan sebutan Mama, menghampiri nya. "Mana yang sakit? Duh, lihat deh, lutut kamu jadi biru. Kita ke rumah sakit ya?" ucap wanita tersebut khawatir.
Ragel kecil menggeleng kuat. Berdiri, lalu melompat kecil. Menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
Mama tertawa kecil melihat tingkah anak laki-laki nya itu. "Ragel kuat? Kayak Ultraman?" kekeh Mama.
Ragel cemberut, tak terima di bilang Ultraman. "Bukan Ultraman Ma! Ragel nggak anak kecil. Captain America! Not Ultraman!" kesal Ragel.
Mama kembali tertawa, menggelitik perut anak nya. Hingga Ragel tertawa karena geli nya.
"Masa' Captain America nggak kuat digelitik, lemah!"
"Nggak! Captain-- Mama! Geli, hahahaha!"
"Terima serangan dari monster listrik!" Sang Mama kembali menggelitik Ragel.
"Udah Mama!"
Ragel tersenyum kecil mengingat kembali kenangannya bersama sang Mama. Satu-satunya wanita yang sangat dia sayangi.
Masih teringat jelas dalam memori Ragel. Bagaimana kenangan bersama Mama nya itu sangatlah manis. Mama nya begitu menyayanginya. Kasih sayang sang Mama sangat terasa sampai sekarang.
"Mah, apa kabar? Baik-baik disana kan?" Ragel melangkah meninggalkan dapur. Menelusuri meja dimana terletak figura foto diatas nya.
Foto itu sengaja tidak dipajang. Semenjak kepergian sang Mama dan trauma Ragel. Pak Tama tak lagi memajang foto mereka. Hanya menutupi nya dengan posisi terbalik.
Ragel mengambil satu figura tersebut. Terlihat di foto itu, seorang wanita cantik dan anak laki-laki. Anak laki-laki itu memakai baju wisuda SD. Senyuman keduanya tertular. Ragel tersenyum pahit.
"Mah, apa di surga sangat menyenangkan? Sampai Mama ninggalin Ragel tanpa berkata apapun disini? Mama masih sayang Ragel kan?" Ragel berkata pilu. Mengusap wajah sang Mama di foto. "Ragel jahat ya Ma? Anak Mama ini bandel ya Ma. Sampai Mama aja ninggalin Ragel gitu aja?"
Ragel memegang erat figura foto tersebut. Menahan sesak di dada nya.
"Apa Ragel nggak boleh disayangi orang lain Ma? Mah, gimana rasanya jatuh cinta? Gimana rasanya menyanyangi seorang gadis? Apa Mama pernah mengajari dua hal itu? Apa Ragel nggak berhak mendapatkan keduanya dan memberikan keduanya dengan tulus?"
Ragel menghela napas. Meletakkan figura foto tersebut.
"Ragel nggak boleh nangis kan Mah."
***
Olivia menatap gerbang sekolah setinggi 2 meter itu lelah. Dia terlambat dan ini perdana.
Karena dalam kamus Olivia, kata 'terlambat' adalah kemungkinan kecil. Tapi sekarang, itu tidak ada lagi. Dia benar-benar terlambat.
Lima menit jam pelajaran akan dimulai.
Olivia tidak tahu harus bagaimana. Ingin rasanya pulang, percuma saja. Ayah dan ibu nya akan sangat khawatir.
Menunggu di depan sekolah. Satpam akan membukakan gerbang 30 menit setelah pelajaran dimulai.
"Bodoh!" umpat Olivia pada diri sendiri. "Harusnya lo nggak begadang sampe nangis sejadi-jadinya. Bodoh Liv, bodoh!"
__ADS_1
Olivia menggumam sendiri dari balik masker yang dia pakai. Karena dia tau, wajahnya sekarang sangat mengenaskan karena seluruh wajahnya bengkak karena nangis sejadi-jadinya tadi malam.
Deru motor terdengar dari kejauhan. Lamban laun, suaranya mendekati Olivia. Tak lama kemudian seorang cowok dengan rambut acak-acakan berdiri disampingnya.
"Telat, lagi," ucapnya enteng. Ikut berdiri disamping Olivia. "Lo juga--" cowok tersebut terdiam beberapa saat melihat Olivia ikut menatapnya. "Ah, sori," ucap cowok itu.
Olivia diam, menatap Ragel lama. Saat Ragel balas menatap. Olivia memalingkan wajah.
Setengah jam mereka berada dalam posisi yang sama. Tak ada percakapan satupun dan keduanya tak ingin memulai percakapan sama sekali.
Olivia melirik Ragel. Lebih tepatnya lengan cowok itu yang sempat di perban. Ternyata perban nya masih ada.
Apa yang terjadi pada cowok itu? Bertengkar kah?
"Kenapa nggak lewat jalan lain aja? Biasanya anak cowok kayak dia tau jalan tikus," gumam Olivia.
"Males. Ujung-ujungnya ketahuan juga," jawab Ragel mendengar gumaman cewek itu.
"Eh?" Olivia terkejut. Menatap Ragel kaget. "Nggak usah jadi cenayang--"
Kriet.
Gerbang sekolah terbuka. Terlihat seorang satpam dengan baju kebanggaan nya berdiri diantara mereka.
"Wah-wah, siapa ini. Sepasang remaja fenomenal yang tumben-tumben nya telat bersamaan," ejek satpam tersebut.
Keduanya melirik satu sama lain. Lalu menatap satpam tersebut tajam.
"A-ah, ya. Maaf. Tapi kalian nggak mungkin seenaknya saja masuk. Harus ada hukumannya. Hormat lapangan selama satu jam. Lalu lari keliling lapangan 100 putaran," ujar satpam tersebut.
"Ayo! Tunggu apa lagi? Ini perintah kepsek!"
***
Katanya, sinar mentari di pagi hari dapat menyehatkan kulit kita. Karena mengandung vitamin D dalam tubuh. Lumayan juga nambah-nambah vitamin, jadi tidak perlu cari vitamin lagi.
Tapi sayang, sepertinya mata gadis ini enggan untuk terbuka lebih lebar lagi. Selain silau karena sinar matahari nya.
Tubuh Olivia juga terasa berat. Badannya panas, keringat bercucuran, membasahi tubuhnya. Saluran pernapasan Olivia terasa sulit. Rasanya pasokan oksigen disekitarnya berkurang.
Olivia berusaha untuk tetap bertahan. Berusaha untuk tidak tumbang, disaat dirinya menjalani hukuman. Tapi penglihatannya kabur, yang dia ingat hanya sosok cowok yang langsung menangkapnya.
Sebelum mata Olivia tertutup sempurna.
"Livia!"
Olivia mengedarkan pandangannya. Mencari sumber suara yang memanggil dirinya.
"Livia!"
Olivia membalikkan badannya. Tak ada seseorang di belakangnya. Tak ada sama sekali.
"Livia!"
"Siapa lo!" Olivia cemas. Mengedarkan pandangannya sekali lagi. Tiba-tiba, seseorang menusuk pipi nya yang chubby dari samping. "Astaga! Bang Gilang!" Olivia kaget. Memukul lengan Abang nya yang jahil.
"Apa sih lo bang. Nggak lucu! Bikin jantungan aja lo nya!"
__ADS_1
Gilang tertawa puas. Membiarkan Olivia memukul nya habis-habisan. Suara ketawa Gilang, betapa Olivia rindukan.
"Bang, ini bener elo, kan?" Olivia menatap Abang nya lama. Berharap ini bukan ilusi. "Beneran elo kan, bang? Gue nggak mimpi?" tanya Olivia. Memukul pipi Abang nya untuk memastikan.
"Aish, sakit tau!" Gilang membulatkan matanya lebar. Seolah memarahi Olivia. "Kagak, gue setan nya!" canda Gilang.
"Ish, jangan nakutin dong!" Olivia kembali memukul Abang nya kesal.
"Nggak ada yang nakutin Liv. Ini gue. Lebih tepatnya, sesosok yang ingin memberikan satu pesan untuk lo," ucap Gilang serius.
Olivia terdiam. Menatap Abang nya lama. "So-sosok?"
Gilang tersenyum. Mengelus rambut Olivia lembut. "Baik-baik lo nya disana ya. Jangan sedih terus. Lo tau kan, kalau gue nggak mau liat adek gue sedih nggak jelas gini."
Tanpa sadar, air mata Olivia jatuh. Membasahi pipi gadis itu.
"Apa maksud lo bang? Lo nggak mau ketemu ayah sama ibu? Lo nggak mau liat gue sukses? Lo mau pergi gitu aja, ninggalin gue, iya?" lirih Olivia. Tangisnya pecah seketika. Memegang erat kemeja putih Gilang.
Gilang menepuk kepala Olivia dua kali. "Hei, liat gue!" suruh Gilang. Olivia mengangkat wajahnya, "gue nggak ninggalin elo. Gue juga pengen ketemu ayah sama ibu. Tapi bukan disana, ataupun sekarang. Gue pengen liat lo sukses. Tapi bukan disana. Disini, ditempat yang 5 tahun terakhir ini. Tempat yang abadi."
Gilang menatap mata Olivia yang berkaca-kaca. Menghapus jejak air mata adek nya itu.
"Lo itu pengganti gue. Kebahagiaan ayah sama ibu sekarang. Lo harus sehat dan lo harus bisa sukses dari gue yang dulu. Gue tunggu lo disini, Livia."
Gilang tersenyum lembut. Cowok itu memeluk Olivia erat. Seolah tak ingin pergi dari adek nya.
Begitupun Olivia, gadis itu memeluk Abang nya erat. Tak ingin melepaskan sang Abang yang perlahan menghilang. Menyisakan bunga berwarna putih yang berterbangan.
"Abang!"
Olivia terjaga. Menatap langit-langit ruangan putih itu dengan mata mengabur.
Dia bermimpi. Tentang Abang nya. Sosok yang sangat dia rindukan. Sosok yang selalu dia harap hadir kembali di hidupnya. Sosok yang mendengar keluh kesah nya.
Olivia mengepalkan tangannya erat. Menutup matanya dengan lengan kiri. Menangis sejadi-jadinya.
Banyak sekali beban dan masalah yang dia tanggung. Rasanya menumpuk setinggi gunung dan siap akan melahap Olivia hidup-hidup.
"Hiks, hiks, hiks!" Olivia terus menangis. Tak peduli dengan seorang cowok yang sedari tadi berada disampingnya. "Bang, lo jahat bang. Lo jahat!" racau Olivia semakin mengeratkan kepalannya.
Ragel yang berada di sofa UKS. Hanya diam, memerhatikan gadis itu dari sini. Mendengar alunan tangis Olivia yang semakin menjadi-jadi.
"Se-hancur itu kah hati lo Liv?" lirih Ragel mengepalkan tangannya kuat. Menahan diri untuk tidak menghampiri Olivia, lalu memeluknya erat.
"Sori. Cuman itu yang bisa gue ucapkan."
***
**HALOHA GEEESSSS!!
SORI BANGET YAH AKU LAMA UP CERITA INI😭 HUAAA JADI MERASA BERSALAH. SORI BANGET GEEESSS
BTW, FEEL NYA DAPET NGGAK MANTEMAN?
MOGA DAPET YAH💓
OKE SEE U👋🧚♀️**
__ADS_1