MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
21. Kencan Pertama


__ADS_3

Olivia menghela napas panjang seraya menanggalkan kacamata baca nya. Meletakkannya diatas meja, lalu memijit pelipisnya pusing.


Membaca buku kimia setebal ini, ternyata bikin capek juga. Berkali-kali helaan napas terdengar dari mulut mungil gadis itu.


Setiap keluar main, hal yang dilakukan Olivia adalah datang ke perpustakaan dan menghabiskan waktu istirahat dengan membaca berbagai macam buku.


Karena entah kenapa, gadis itu sudah dilatih sejak memutuskan dijaminkan beasiswa hingga kuliah. Karena Olivia sadar, kewajibannya bukan hanya untuk hura-hura. Tapi ... mendapatkan apa yang mereka harapkan.


Seperti yah ... Olivia mendapat juara umum setiap semesternya.


Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri. Melihat beberapa siswa yang fokus dengan buku mereka masing-masing.


Ada yang membaca buku pelajaran. Ada yang membaca novel ataupun dongeng atau kumpulan cerpen. Ada juga, yang ngambil buku tapi malah makan diam-diam.


Lucu memang melihat pemandangan yang sudah menjadi makanan sehari-hari Olivia sejak kelas satu SD.


Kalau dipikir-pikir, andai saja Olivia seperti mereka. Olivia pasti akan memanfaatkan privilege yang ada. Karena keistimewaan itu, tidak datang pada sembarang orang. Sama seperti kesempatan.


Olivia menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Semakin mengurut keningnya. Ini pasti karena gadis itu tidur terlalu malam.


Harusnya Olivia tidur sebelum jam sepuluh. Tapi khusus kemarin, entah mata yang benar-benar nggak bisa tidur atau bagaimana. Rasanya mata awet banget tadi malam.


Olivia terdiam menyadari kepalanya berat. Gadis itu mengerutkan keningnya, lalu memegang tangan yang memang sengaja di letakkan diatas kepalanya.


"Kalau lo mau cari masalah, gue lagi males. Pergi aja deh," ucap Olivia datar.


Tapi secara tiba-tiba orang itu malah menempelkan minuman dingin ke pipi Olivia. Tentu saja membuat gadis berbando silver plastik itu terkejut.


"Lo!!"


Olivia terdiam saat melihat Ragel yang terkekeh. Gadis itu memutar bola nya, menyusun buku-buku yang rencana dia pinjam. Memakai kacamata baca nya kembali.


Gadis itu segera menuju penjaga perpustakaan untuk meminjamkan buku-buku yang akan dia baca beberapa Minggu ke depan.


Buru-buru Olivia keluar dari perpus karena malu dilihat banyak orang. Tentu saja Ragel menjadi anak ayam. Mengekori Olivia kemanapun.


Olivia jengah, memutar tubuh hingga menghadap Ragel sepenuhnya. Menatap cowok itu datar. Tidak ada yang berbeda dari Ragel. Karena cowok itu memang tidak pernah tampil beda, atau ... memang nggak mau tampil beda?


"Mau apa lo?" tanya Olivia akhirnya.


Bibir Ragel berkedut, menaikkan satu alisnya. "Gue nggak mau apa-apa. Mau ngasih minuman doang sih," jawab Ragel seadanya.


"Oke ..." Olivia segera mengambil minuman tersebut. "Udah kan? Gue balik ke kelas."


Saat Olivia berbalik, Ragel secara tiba-tiba menarik tangan Olivia hingga gadis itu berbalik lagi menghadap Ragel sepenuhnya.


"Gue belum selesai ngomong," ucap Ragel dingin.


Olivia diam, menatap wajah Ragel yang semakin datar.


"Lo ada waktu nanti malam?" tanya Ragel.


Olivia mengangguk kecil. "Ada," jawab Olivia


"Bagus. Kencan pertama kali nya? Karena gue rasa, seminggu kita pacaran. Belum ada kata kencan dalam lembaran kita," ujar Ragel menatap mata Olivia lamat-lamat.


Wusshhhh!!


Angin di taman sekolah bertiup cukup kencang. Menerbangkan daun-daun kering disana. Juga helaian rambut mereka yang menari-nari.


Ragel menaikkan sebelah alis. Menunggu jawaban Olivia.


Olivia memalingkan wajahnya. "Gue pikir-pikir dulu," putus gadis itu menarik tangannya dari genggaman Ragel.


"Emang, gue sama lo masih pacaran?"


Ragel tentu saja tersenyum pasti. "Masih, siapa bilang udah putus? Elo? Jangan ngimpi!"


Ragel menoyor jidat Olivia pelan. Membuat gadis itu mengaduh kesakitan. Ragel malah semakin membuat Olivia senam jantung karena ulahnya.


"Nanti gue chat, sekalian nunggu jawaban lo. Iya ... atau enggak," ucap Ragel menepuk kepala Olivia pelan.


Berlalu begitu saja meninggalkan sang pacar yang berusaha mengontrol detak jantungnya yang berasa nge-dance 45.


"Sialan lo!" umpat Olivia.


***


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif~~ Tut Tut!"


Ragel berdecak kesal, kembali mengulang panggilan suara itu lagi. Tapi lagi-lagi, suara mbak operator yang terdengar.


Ragel kembali melihat room chat nya dengan Olivia. Tak satu pun ada balasan disana. Hanya ribuan pertanyaan dari Ragel.


Gadis nya ini ... sengaja yah?


"Livia~ Livia~"


***

__ADS_1


Olivia menumpukan kepalanya diatas meja belajar kayu berukuran pendek itu. Kelopak matanya sudah tertutup selama 20 menit lamanya.


Gadis itu tertidur dengan kondisi duduk diatas kasur tanpa tempat tidur itu. Dengan tumpukan buku dimana-mana, Olivia berharap dirinya cepat terlelap dan memasuki dunia mimpi.


Tapi harapan itu sepertinya tidak terwujud, karena Olivia merasa tergaduh dengan ketukan di di jidatnya.


Olivia semakin kesal, perlahan kelopak mata itu terbuka. Menemukan mata hitam legam yang juga ikut tertidur diatas mejanya dengan senyum jahil.


Olivia dengan cepat menepuk jidat cowok itu kuat.


"LO!!" pekik Olivia kelewat nyaring.


Olivia buru-buru berdiri tegap dengan mata nyalang menatap Ragel seakan musuh bebuyutannya.


"Ngapain sih lo masuk ke kamar gue?!!!" tanya Olivia emosi jiwa.


"Ngapain? Ya ... jemput pacar gue buat kencan pertama lah," jawab Ragel seadanya.


Olivia menghela napas panjang. "Mana ibuk sama ayah gue? Siapa suruh lo masuk sini?"


"Ayah sama ibuk lo lah. Mereka pergi ke rumah tetangga lo noh. Katanya ada acara syukuran," jelas Ragel berdiri dari duduknya. Mengulurkan tangan, membantu Olivia untuk berdiri juga.


"Ayo buruan! Lo ganti baju, habis itu jalan-jalan kemanapun lo mau!"


"Nggak!" tolak Olivia cepat. "Gue mau rebahan," lanjut gadis itu ogah-ogahan.


Ragel tersenyum tipis, sangat tipis. Cowok itu berjongkok di depan Olivia dengan tangannya yang membentuk pistol. Lalu mengarahkannya diantara kedua mata gadisnya itu.


"Dor!"


Olivia terdiam, menatap mata legam Ragel yang kini sedang serius. Seakan memberikan perintah, kalau dia tidak ingin di tolak. Benar-benar tidak ingin.


"Iya dah iya!" Olivia berdiri dari duduknya, diikuti Ragel. "Keluar lo dari kamar gue!!"


Olivia mendorong punggung Ragel sekuat tenaga. Kali Ragel sengaja tidak memberatkan badannya hingga depan pintu kamar gadis itu.


"Jangan ngintip! Kalau ngintip, gue sumpahin mata lo dua-duanya bisulan!!"


***


Olivia keluar dari kamarnya memakai dress mint dibawah lutut dengan cardigan mocca dan sendal warna senada dengan cardigan Olivia.


Gadis itu menguncir tinggi rambut hitam panjangnya. Lalu mengambil tas ponsel dan memasukkan ponselnya ke dalam.


Buru-buru Olivia keluar dari kamar, setelah mengunci pintu kamarnya. Olivia berbalik, kaget banget ngeliat Ragel yang berdiri disampingnya dengan kepala menoleh ke kiri lalu menutup mata.


Plak!!


"Kamp-- pffttt!" Ragel menahan tawanya. Menggeleng pelan, rasa ingin memarahi Olivia malah jadi ingin menertawakan gadis itu.


Lihatlah pacarnya ini, mencoba untuk berdandan yah?


"Apaan?" Olivia membulatkan matanya saat sadar kalau makeup nya pasti tidak bagus. "Jangan ketawa lo!!"


Olivia buru-buru berbalik, tapi Ragel lebih dulu menahannya.


"Kebanyakan pake pink-pink gini di pipi lo, mo jadi badut?" tanya Ragel menghapus blush-on di pipi tembem Olivia paksa.


"Nah, kagak usah pake gituan lo juga oke," ucap Ragel melihat telapak tangannya yang malah berwarna pink.


"Lah? Malah nempel di tangan gue si mbak pink."


Olivia menghela napas panjang. Masuk ke dalam kamarnya lagi, lalu mengambil kain kecil dan membasahi nya dengan air. Kembali lagi dari dapur, gadis itu menarik tangan Ragel.


Mengelap telapak tangan besar itu sekuat tenaga, hingga warna blush-on itu menghilang.


"Ribet banget jadi orang," ketus Olivia.


Ragel terkekeh, menggelengkan kepala melihat Olivia yang malah semakin jutek.


"Jadi ceritanya mau couple-an sama gue?" tanya Ragel menaik-turunkan alisnya.


Olivia tentu saja mengerutkan keningnya bingung. Melihat outfit yang dipakai Ragel.


Sweeter warna mocca dengan celana levis mint. Cowok itu bahkan sengaja menarik kedua lengan bajunya sampai ke siku.


"Dih, geer lo! Lo kali yang mau couple-an sama gue!!" bantah Olivia tak terima.


"Serius? Perasaan gue pake outfit ini duluan," bela Ragel nggak mau kalah.


"Lah? Bela diri sendiri. Ini tuh satu-satunya outfit yang cocok untuk gue! Lagian lumayan juga gue pake sekarang. Mumpung tetangga gue lagi baik ngasih gue baju bagus!!" omel Olivia emosi jiwa.


Menghentakkan kakinya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Ragel.


Ragel terkekeh kecil. Menyusul Olivia yang sudah di depan pintu.


"Buruan! Atau gue berubah pikiran!!"


***

__ADS_1


Sepasang remaja itu berjalan beriringan. Saling memberi jarak satu sama lain. Tak ada percakapan, hanya suara jangkrik dan semilir angin malam yang berhembus.


Keduanya sama-sama terdiam. Padahal kalau setiap ketemu, ribut adalah satu kata yang akan menjadi wacana bagi mereka agar bisa berkomunikasi.


Walau yah ... cara mereka berkomunikasi agak berbeda dari banyak pasangan.


"Lo beneran udah izin sama ayah ibuk gue?" tanya Olivia akhirnya. Menatap lurus ke depan, kedua tangannya memegang tali tas ponsel miliknya.


Ragel menoleh, melihat Olivia yang tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. Cowok itu menghela napas, menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Udah," jawab Ragel singkat.


Olivia mengangguk mengerti. Satu kata itu sudah lebih dari cukup.


"Lo ngajak gue nge-date atau ngajak uji nyali, hm? Jalan di tempat gelap gini?" tanya Olivia lagi. Kali ini gadis itu menoleh kearah pacar nya.


Ragel juga ikut menoleh, menaikkan satu alisnya. "Menurut lo?"


Olivia tentu saja membulatkan matanya tak percaya. Rasa ingin mengumpat Ragel meningkat drastis.


"Lo udah berapa tahun tinggal disini, hah? Masih nggak tau juga, kalau di ujung jalan sono ada kek pasar malam. Banyak orang jualan, terus selalu rame kalau malam Minggu?" tanya Ragel bertubi-tubi.


Olivia terdiam dengan mata membulat lucu. Menatap Ragel tak percaya.


"Serius? Kok gue baru tau ye? Padahal dari gue lahir, gue nggak pernah liat tuh. Ada pasar malam dan sejenisnya," ucap Olivia mengetuk dagu nya.


Ragel mengetuk kening Olivia pelan. Kadang lucu aja ngeliat gadis itu yang malah seperti anak kecil. Bukan nenek lampir.


"Iya, dan lo sebagai orang yang tinggal disini bahkan nggak tau? Gue nggak yakin lo benar-benar asli sini," ujar Ragel berlalu meninggalkan Olivia begitu saja.


"HEH! JANGAN SEMBARANGAN LO! GUE ASLI ORANG SINI YA GEL!!"


"Iya, asli orang sini. Tapi nggak pernah tau sama perkembangan komplek sendiri!!" ledek Ragel. Malah semakin membuat Olivia kesal.


"RAGEL!!! JANGAN SEMBARANGAN LO!!"


Olivia berlari mengejar Ragel yang sudah jauh darinya. Ragel ketawa kencang, lalu lari secepatnya. Membuat pacar nya itu kewalahan mengeja Ragel sampai diujung jalan.


***


Napas Olivia memburu. Percuma mengejar Ragel, gadis itu pasti tidak akan bisa menyusul langkah kakinya yang lebar.


"Nih!" Ragel menyodorkan botol air mineral dingin di depan Olivia. Gadis itu tentu saja langsung mengambilnya dan meneguknya hingga setengah.


"Lo ngajak gue nge-date atau maraton malam sih Gel?!" protes Olivia duduk diatas rerumputan.


Ragel ikut duduk disamping Olivia. "Dua-duanya," jawab Ragel enteng.


Olivia tentu saja langsung memukul tangan cowok itu. "Kampret lo!"


Ragel tertawa, membiarkan Olivia memukul tangannya bertubi-tubi.


"Eh," Olivia mencium bau-bau gorengan pedas di indera penciuman nya. "Ada gorengan pedas kek nya!"


Olivia buru-buru berdiri, rasa capek seakan meluruh di tubuhnya. "Kesana yuk Gel!" ajak Olivia mengulurkan tangan tanpa sadar.


Ragel tersenyum, mengangguk saja. Membalas uluran tangan gadisnya itu. Lalu mereka berdua menuju Abang gorengan pedas di tepi jalan.


"Bang, tahu pedas nya lima ribu," ucap Olivia berdiri di samping gerobak Abang goreng tahu pedas.


Ragel ikut berdiri disamping Olivia dengan satu tangan tenggelam di saku celananya.


"Pshh, ganteng banget tuh cowok! Gayanya modis banget!!"


"Iya, duh, meleleh gue liat nya. Mana wajah blesteran gitu. Ganteng banget, astagaaa!"


"Eh, tapi cewek disampingnya siapa? Pacarnya? Gue rasa enggak deh."


"Iya pasti enggaklah! Cowok keren kek dia nggak mungkin punya pacar kek gitu. Dih, mending sama gue aja!"


"Siapa tau iya? Jangan asal nge-judge orang lo!"


"Iya, pacaran. Tapi cuman pacar sewaan!! Wkwk."


Olivia mengeratkan tangannya di tali tas ponselnya. Gadis itu menahan hati nya untuk tidak melabrak cewek-cewek yang senang sekali menggosip tepat di depannya.


Ragel melirik sekilas kearah Olivia. Melihat raut murung dari wajah gadis itu. Ragel dengan cepat menarik tangan Olivia untuk memeluk lengannya.


"Udah bang? Nih, duitnya, makasih!"


Ragel mengulurkan selembar uang, lalu mengamb bungkus gorengan tahu pedas itu.


"Yuk, sayang!" ajak Ragel sengaja menekan kata 'sayang'. Menarik tangan Olivia untuk pergi dari sana.


Olivia tentu saja kaget, tapi saat tau gerakan mata Ragel. Gadis itu tersenyum mengerti.


"Kita kesana ya, sayang!"


Kedua senyuman itu, seakan seperti mengejek diri mereka sendiri. Sudahlah hubungan pacaran mereka tidak begitu jelas. Ditambah lagi malah pake akting di depan orang-orang.

__ADS_1


Hadeh~~


__ADS_2