
Ragel mengambil botol minumnya, meneguk minuman tersebut hingga habis. Keringat bercucuran membasahi wajahnya.
Menatap lurus ke depan, dimana Angga dan teman-teman lainnya masih lanjut bermain futsal.
"Gel!" panggil Ziky yang ikut duduk disamping Ragel dengan laptop di tangannya.
"Apaan?"
"Coba lo liat ini, " Ziky mengarahkan laptop nya pada Ragel, "nggak biasanya cctv di setiap ruangan sekolah yang kita pakai nggak bergerak gini. Sejak 30 menit yang lalu gue periksa, kondisi nya tetap sama. Tak ada pergerakan sama sekali," ujar Ziky.
Ragel mengernyit bingung, menatap layar laptop itu saksama.
"30 menit sebelumnya ada pergerakan atau ada sesuatu yang aneh?" tanya Ragel mengambil alih laptop tersebut.
Ziky menggeleng pelan, "30 menit sebelumnya gue lagi nggak meriksa laptop. You know lah, gue kan ikut main futsal sama lo dan yang lainnya."
Ragel mengangguk pelan, mencoba memundurkan waktu ke beberapa menit sebelumnya. Tapi hasilnya nihil.
"Cctv kita di sadap orang," ucap Ragel akhirnya.
"Gue juga menduganya. Tapi siapa yang sadap? Atau jangan-jangan--"
"Ada yang masuk ke dalam gudang yang di dekat pohon besar itu," lanjut Ragel mengembalikan laptop Ziky lalu berlari meninggalkan lapangan.
"Woi, lo mau kemana?"
"Ke gudang!"
Ziky mengernyit, sebentar, gudang... jangan-jangan disana ada seseorang yang nyadap cctv mereka.
"Si Ragel mau kemana?" tanya Angga yang sudah berdiri disamping Ziky.
"Ke gudang," jawab Ziky.
"Lho, di gudang ada apa? Terus kenapa lo nggak ikut?" tanya Angga lagi.
"Ada yang nyadap cctv..." Ziky membulatkan mata lebar. Menatap Angga dengan raut terkejut, "Ang, lo bisa bantu gue buat kasih tau kepsek. Biar gue telpon polisi," ucap Ziky.
"Hah?"
__ADS_1
***
Brak!
Ragel menendang pintu gudang tersebut hingga terbuka. Cowok itu masuk ke dalam gudang dengan kondisi gudang yang sudah berantakan.
Semua barang-barang mereka hancur. Bahkan komputer yang ada disana juga hancur.
"Akhirnya datang juga~"
Seseorang mengarahkan pistol nya tepat di belakang leher Ragel. Bersiap untuk menembak leher Ragel.
"Gue udah duga sejak awal. Kalau lo kan yang ngerencanain ini semua?"
Saga berdecak sombong, semakin mengarahkan pistolnya pada kepala Ragel. Tersenyum devil di balik punggung Ragel.
"Saya kira kamu nggak tau identitas saya. Ternyata selama ini, tuan muda mencari informasi tentang saya ya? Wah, hebat sekali. Apa perlu kejadian itu saya ulang lagi di sekolah, hm?"
Ragel mengepalkan tangannya kuat. Berusaha untuk tenang sembari memikirkan cara untuk mengalahkan Saga. Terlebih lagi pria itu menggunakan pistol.
"Lo salah umpan, pak Saga."
Ragel melangkah maju, mengangkat tangannya. Berbalik cepat saat telah memberi jarak. Lalu menendang tangan Saga hingga pistol tersebut jatuh ke lantai.
"Udah gue bilang kan, lo salah umpan selama ini," ucap Ragel, bersiap-siap saat Saga mulai berdiri kembali.
Saga berdecak sinis, melangkah maju dengan senyum devil nya yang terukir di wajahnya.
"Saya nggak pernah salah mengambil umpan. Karena memang kamu yang saya jadikan umpan untuk menarik perhatian Papa kamu, tuan muda," ujar Saga semakin melangkah maju.
Pria itu kini menendang Ragel hingga membentur dinding. Saga menarik kerah baju Ragel, meninju pipi cowok itu berkali-kali.
Ragel berusaha melepaskan diri dari cengkraman Saga. Cowok itu menendang kaki Saga hingga pria itu hilang keseimbangan.
Dengan cepat Ragel berdiri, napasnya tersengal-sengal. Menatap tajam pada Saga yang malah tertawa jahat.
"Semua itu nggak ada hubungannya sama Papa. Tau apa lo tentang Papa, dasar bajing*n!" umpat Ragel.
Saga semakin tertawa jahat, mengambil pistol yang ada di dekatnya. Mengarahkannya pada Ragel dengan posisi tangan yang siap menarik pelatuk ke arah Ragel.
__ADS_1
"Saya tau banyak tentang Papa kamu. Bahkan hal tercela sekalipun yang dia buat," ucap Saga melangkah maju dengan senyum sinis.
"Hah? Lo ngawur? Papa nggak pernah sekalipun melakukan hal tercela. Kecuali itu elo, pria pengecut!" Ragel balik tersenyum sinis mengangkat tangannya, mundur selangkah saat Saga mulai maju.
Saga berdecih, mengarahkan pistolnya ke atap gudang. Menembak atap gudang tersebut dua kali berturut-turut hingga berlubang.
"Papa kamu yang sudah bunuh anak dan istri saya. Dia yang bikin semuanya kacau dan berantakan. Dia sendiri yang menabrak mobil saya. Pria gila seperti dia, semakin gila saat mabuk, setan!!" bentak Saga mengarahkan pistolnya ke arah sebuah foto Papa Ragel. Menembak nya berkali-kali.
Mata hitam itu membulat lebar. Tak percaya dengan ucapan Saga yang secara tiba-tiba.
"Lo ngomong apa sih ******--"
Dor!
"Papa kamu itu pembunuh! Dia.... dia yang ngambil kebahagiaan saya dan buat saya jadi menderita seperti ini," Saga kembali menarik pelatuk dan menembak dua kali ke arah dinding tepat disamping Ragel, "dia juga harus merasakan apa yang saya rasakan. Dia harus menerima ganjaran yang udah dilakukan, setan!!!"
***
Olivia berlari ke lapangan futsal, segera menghampiri Ziky dan Angga yang berdiri tak jauh dari lapangan.
Gadis itu mengatur napasnya sebelum mengangkat suara.
"Lo nyari Ragel, right?" tanya Ziky tiba-tiba.
Olivia mengangguk pelan, "where is he? Dia nggak ada disini juga kah?" tanya Olivia.
"Dia baru aja pergi. Lo.... bisa bantu gue buat susul dia ke gudang dekat pohon besar di belakang sekolah? He's there," ujar Ziky meminta Olivia untuk menyusul Ragel.
"Hm, boleh. Nggak ada masalah kan?" tanya Olivia memastikan.
"Hanya sedikit masalah. Intinya sekarang lo susul Ragel. Gue sama Angga akan urus yang lain, okey?"
Olivia mengangguk sekali. Segera pamit untuk nyusul Ragel.
"Take care Liv," ucap Ziky.
"And then, Ang, lo tau apa yang lo lakuin sekarang?" tanya Ziky pada Angga.
Angga mengangguk sekali, "oke. Gue segera ke kepala sekolah sekarang."
__ADS_1
Ziky mengangguk, menepuk bahu Angga sekali. Baru mengingat satu hal yang terlintas dibenaknya.
"Kalau bisa berdua. Lo bisa ajak Syera untuk nemui kepsek," ucap Ziky lalu berlalu pergi meninggalkan Angga.