MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
51. Tidak Pernah Benci


__ADS_3

Kala itu, disaat bulan sabit dan satu bintang menghiasi langit yang mulai gelap. Ini bukan langit malam yang seperti biasa. Tapi pewarnaan pada langit yang kelihatan abu-abu di padu dengan warna hitam khas malam hari.


Menambah kesan menakutkan bagi siapapun yang melihatnya. Walau memang, senja hadir sebelum malam tiba dengan tenang.


Seperti perkiraan orang tua pada umumnya. Akan turun hujan, setelah senja tiba nanti nya. Benar saja, beberapa menit setelah senja pamit untuk pergi.


Rintik-rintik itu hadir, awalnya satu persatu. Lama-lama mereka jadi banyak dan menimbulkan bunyi merdu khas hujan. Diiringi dengan angin yang kadang-kadang bertiup kencang.


Membuat orang-orang bersenang hati, untuk menikmati malam yang santai ini.


Tapi lain hal nya dengan seorang gadis yang duduk menangis terisak di halte bus.


Dia meringkuk, suara isak tangis tidak begitu terdengar di telinga. Karena suara hujan yang lebih dominan. Dia ... mencoba untuk berhenti menangis. Tapi sambaran petir seakan mengatakan, kalau dia harus terus menangis bersama dengan hujan.


Mengingat ucapan Papa Syera kepada Ragel. Tentang hubungan anak nya dengan Ragel yang telah terjalin. Tanpa Olivia ketahui.


Kalau saja Olivia percaya dengan ucapan orang-orang. Kalau saja Olivia lebih memandang rasional.


Mungkin saja Olivia tidak akan seperti ini. Pantas saja Syera tidak pernah lagi mendekati Olivia. Pantas saja Syera menjauh dari nya.


Andai saja Olivia dulu tidak mengiyakan ajakan Ragel untuk berpacaran. Seharusnya Olivia tidak membiarkan hatinya berlabuh begitu saja pada Ragel.


Olivia salah. Olivia tak pantas lagi berhadapan dengan Syera.


"Gue jahat. Gue benar-benar jahat. Harusnya gue nggak merebut Ragel dari Syera. Bodoh banget elo nya Liv," racau Olivia. Semakin memeluk dirinya.


Membiarkan hujan mendengar isak tangisnya. Membiarkan dirinya dipeluk dingin nya udara malam. Dengan suara petir yang memekakkan telinga nya.


"Harusnya elo nggak bohong sama gue Gel. Harusnya lo jujur." Olivia kembali meracau. Air mata terus membanjiri pipinya.


Olivia terus menumpahkan air matanya. Membuat lututnya basah. Hatinya terasa disayat sehabis-habis nya.


Olivia bodoh dan karena kebodohan nya itulah yang membawa petaka bagi hidupnya sendiri.


"Bodoh lo nya Liv! Bodoh! Hiks, hiks, hiks," racau Olivia.


Kalau boleh waktu memberikan dia kesempatan untuk berputar ke masa-masa dulu. Disaat dirinya tak mengenal Ragel.


Disaat dirinya selalu bersama dengan Syera. Berbagi tawa dan canda, tanpa perlu menjauh. Walau hanya sebentar saja berbagi canda tawa nya.


Tapi Olivia benar-benar nyaman dengan dirinya. Andai saja waktu itu dia menampar Ragel dan langsung pergi begitu saja setelah menolak cowok itu.


Mungkin saja saat ini hati Olivia tak terluka. Mungkin saja dia tak menyayat hati Syera yang jelas-jelas memiliki hubungan khusus terhadap Ragel.


Harus nya ....


"Aaakkhhhhh!!!"


Olivia menjerit frustasi. Dia terlalu bodoh.


Apa yang kamu harapkan Liv? Menjadi seorang Cinderella yang akan bertemu dengan pangerannya. Setelah di bully habis-habisan?


Berharap bisa menjadi seorang putri bagi pangerannya dan menjadi sejarah karena seorang gadis dari rakyat jelata. Menjadi kekasih seorang pangeran?


Sadar Liv! Ini bukan cerita dongeng. Bukan juga sebuah drama series yang dengan mudah mendapatkan cinta pertama nya dari seorang cowok kaya raya!


SADAR OLIVIA!!


Olivia menarik rambutnya sekuat tenaga. Membiarkan rambutnya yang mulai rontok satu persatu.


Rasanya sekarang penampilan Olivia sangat kacau. Benar-benar kacau.


"Nggak usah jadi orgil lo!"


Olivia mendongakkan kepala. Mendapati figur seorang cowok yang sebayanya dengan kata sarkas nya.

__ADS_1


Tangannya dengan pelan meraih tangan Olivia. Lalu menurunkannya. Memberikan sebotol air pada Olivia.


Ziky -- cowok ketus yang selalu saja menatap Olivia dengan tatapan sinis. Duduk disampingnya, membiarkan dirinya mendengar isak tangis Olivia.


"Sesakit itukah rasanya, saat tau. Ternyata elo yang menghancurkan segalanya?" tanya Ziky tanpa menoleh pada Olivia.


Olivia tertunduk dalam. Menatap botol air yang ada di tangannya dalam diam.


"Apa sakitnya sama dengan saat kita menyayat tangan sendiri dengan pisau?"


Perlahan tanpa aba-aba, air mata Olivia turun. Menyusuri pipi nya. Membuat mata gadis itu kembali basah.


"Apa gue bisa menutup mata gue sesaat. Untuk tidak melihat apapun yang sebenarnya terjadi?" tanya Olivia balik. Suaranya yang parau dan pelan.


Membuat Ziky menoleh pada gadis itu. Tatapannya yang sekarang, bukanlah tatapan sinis yang menghina. Tapi tatapan iba.


"Sekalipun elo menutup mata. Telinga elo nggak bisa menutupi segalanya. Indera penglihatan mungkin bisa di tutup. Tapi bagaimana dengan indera pendengaran, yang jelas-jelas sekalipun di tutup. Akan tetap terdengar jelas, apapun yang mereka perbincangkan," ujar Ziky masih terus menatap Olivia.


Olivia juga menatap Ziky. Dengan mata basah nya, gadis itu mengerjap sekali. Menatap Ziky tak mengerti.


"Bukankah elo benci sama gue?" tanya Olivia.


"Awalnya ..." Ziky menghela napas panjang. "Tapi makin kesini. Semakin gue memahami diri lo. Kalau bukan hanya mereka yang menderita. Tapi elo juga," ujar Ziky.


"Tapi lo bisa menutup mata--"


"Sekalipun bisa. Telinga gue nggak bisa di tutup. Dan gue nggak bisa berbohong. Sebenci apapun gue pada lo. Pada akhirnya ..." Ziky membenarkan posisi duduknya. Menghela napas sepanjang mungkin. Menatap Olivia lekat.


"... Gue nggak bisa benci dan sama sekali nggak benci pada lo."


***


Ragel melajukan motornya secepat mungkin. Tak peduli dengan hujan. Tak peduli kalau dirinya akan mengalami kecelakaan lagi.


Karena sekarang yang dia pikirkan adalah ... meminta Olivia untuk menarik kata-katanya.


Motor klasik itu berhenti tepat di depan rumah kecil. Ragel berlari pelan. Mengetuk pintu berkali-kali, terus memang nama Olivia.


Ceklek.


Pintu terbuka. Ragel menegakkan tubuhnya. Bersiap untuk memberikan penjelasan kepada gadisnya.


"Kenapa kamu disini, nak Ragel?"


Ragel mematung. Mendapati sang ayah yang berdiri di depannya. Tangannya setia memegang ganggang pintu.


"Sa--saya..." Ragel gelagapan. Menjilat lidah nya canggung. "... Olivia nya ada om?"


Ayah mengernyit bingung. Malah mengajukan pertanyaan pada Ragel.


"Bukankah kamu sudah menjemputnya? Kalian kan akan pergi berkencan. Bukankah begitu?"


"Ah, ya-- ya ... maksud saya—"


"Ah ... anak itu, senang sekali menyembunyikan sesuatu," potong Ayah mengusap wajahnya dengan tangan kirinya. "Apa dia datang ke rumah kamu?"


"Ya?" Ragel bingung. Tak mengerti dengan maksud ayah Olivia.


"Apa kalian bertengkar?" tanya Ayah lagi.


"Anu ... begini om—"


"Selesaikan masalah kalian," ayah segera menutup pintu rumahnya.


"Tapi om—"

__ADS_1


"Saya percaya sama kamu. Tapi ingat, jangan sakiti Olivia. Karena saya nggak mau melihat anak gadis saya menangis, lagi." Ayah benar-benar menutup pintunya.


Ragel frustasi. Menendang genangan air yang ada di depannya. Mengusap rambutnya frustasi.


"Lo dimana Liv?" Ragel melangkah gontai menuju motornya. Menaiki motor tersebut. Berniat mencari Olivia. Kemanapun yang penting bertemu dengan gadis itu dan berbicara baik-baik dengannya.


"Maafin gue Liv."


***


Sudah pukul 9 malam. Tapi Ziky dan Olivia tak kunjung beranjak dari halte. Keduanya diam membisu. Hujan yang tadinya lebat. Kini mulai mereda.


Lembab nya malam hari dan dinginnya angin yang berhembus. Membuat Olivia menggigil.


"Lo nggak ada niat pulang?" tanya Ziky tanpa menoleh pada gadis itu.


Olivia tersenyum kecil. "Kalau gue pulang. Bisa-bisa ayah sama ibu khawatir. Apalagi ngeliat mata gue yang sembab begini," jawab Olivia.


"Lo sendiri gimana? Apa nggak masalah lo disini sama gue? Apa Ratu nggak marah?" tanya Olivia beruntun.


Ziky tertawa kecil. Menoleh pada gadis itu dengan sisa tawanya.


"Apa lo kira Ratu seperti gadis pencemburu yang dengan mudahnya melabrak orang. Saat tau tunangannya menemani cewek lain?"


"May--maybe?"


Ziky tersenyum sinis. Mendongakkan kepala, menatap langit malam yang gelap.


"Dia ... berkali-kali gue sakiti. Berkali-kali dia melihat gue jalan sama cewek lain. Gadis cupu itu akan tetap percaya, kalau gue akan tetap setia padanya. Dia akan percaya, kalau suatu saat nanti. Hati gue yang mati rasa. Akan berlabuh pada nya," ujar Ziky.


Olivia terdiam. Menatap Ziky bingung. "Lo ... suka Ratu?"


Ziky menggeleng pelan. "Gue nggak tau. "


Ziky beranjak dari duduknya. Melangkah menuju mobil sedan miliknya.


"Sampai kapan lo disitu?"


"Hah?"


"Lo cewek dan gue nggak akan tega melihat cewek pulang malam-malam jam segini," ujar Ziky membuka pintu mobilnya.


"Ayo!"


Olivia mengangguk. Melangkah memutari mobil Ziky. Duduk di kursi penumpang di depan.


Sebelum mobil cowok itu melaju. Ziky mengatakan satu hal yang membuat Olivia terdiam beberapa saat.


"Ikuti hati lo. Kalau saat ini adalah saat yang tepat untuk putus dari seseorang. Sekalipun elo sayang padanya. Gue rasa, keputusan yang tepat adalah ..." Ziky menoleh. Menatap Olivia lamat.


"... break untuk beberapa saat. Daripada hati lo terus hancur."


***


**HALOHA GAEEESSS!!!


LAMA TAK UP CERITA MY PSIKOPAT BOYFRIEND😭🙌 JADI KANGEN KALIAN DARI TOKOH LAINNYA.


MAAF YAH, ACHA AKHIR-AKHIR INI SIBUK BANGEEEETTT💓🙂


MAKASIH UDAH SETIA YAH💓


DAH SEGITU AJA.


OH IYA, JANGAN LUPA FOLLOW IG ACHA

__ADS_1


@acha_khairunisa


SANKYUUUUU 💓**


__ADS_2