MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
45. Kecelakaan


__ADS_3

Ragel menyeruput cappucino nya. Menatap lurus pada sekolah milik Papa nya di seberang sana.


Menyipitkan mata saat Saga berjalan menyebrangi jalan. Melangkah memasuki cafe.


Ragel tak peduli. Kembali menyeruput cappucino. Mulai bertengkar dengan pikirannya yang melayang pada masa lalu dimana kejadian yang tak diharapkan nya terjadi.


Drrkk!


Saga duduk di depan Ragel yang tersekat meja. Meletakkan ice coffe nya. Memangku dagu, menatap Ragel dengan senyum segaris.


"Ngapain lo?" ketus Ragel.


"Saya? Cuman bertanya-tanya, kenapa anak kepala sekolah juga ikutan diskors. Padahal bisa saja kamu--"


"Kalau lo nyari masalah. Mending undur diri gih," tukas Ragel beranjak dari duduknya.


"Anak cowok berumur 12 tahun. Menjadi tersangka atas teror yang terjadi di Austria. Tepatnya bank, pada saat itu," ujar Saga masih tersenyum segaris. Menatap Ragel remeh.


Ragel menoleh. Menggebrak meja. "Apa perlu elo tentang kejadian itu? Lo korban juga, hah?!"


Saga menggeleng tenang. "Bukan saya. Tapi kakak pacar tuan muda, ya kan?"


Ragel membulatkan mata lebar. Jantung berdegup kencang mendengar kata 'tuan muda' dari mulut Saga.


Nggak! Nggak mungkin, Saga--


"Sayang sekali, Olivia tidak tahu apa-apa tentang anda Ragel. Seharusnya Olivia tahu soal ini--"


Bugh!


Tanpa sadar, Ragel meninju rahang Saga dari bawah dengan kuat. Hingga mengeluarkan cairan merah dari mulut Saga.


"Aahhh, bukan tersangka. Tapi terdakwa," ringis Saga memegang rahang nya yang serasa akan retak.


"Diam lo, ban*ke!!" umpat Ragel sekali lagi meninju Saga.


"Diam kalian disitu!!"


Seorang satpam dengan baju putih datang menghampiri. Berdiri diantara Saga dan Ragel.


Semua mata kini tertuju pada mereka. Menatap Ragel sinis. Bisa-bisanya anak seumuran Ragel memukul orang yang lebih tua dari nya di tempat umum begini.


"Kamu, silakan keluar dari kafe ini. Anda juga pak!" titah Pak satpam. "Jangan sampai ada keributan lagi di luar kafe!!"


Saga tersenyum remeh. Melangkah meninggalkan kafe.


Dengan emosi yang masih meluap-luap. Cowok berumur 18 tahun itu melempar cappucino nya ke dinding. Menendang meja sekuat tenaga.


Ragel mengepalkam tangan sekuat tenaga.


Tuan muda.

__ADS_1


Itu ... kata-kata dari pria bertopeng tengkorak itu di bank. Kata-kata yang tidak Ragel suka.


Dor!!


"Takut ya, tuan muda?"


Ragel menggeleng pelan. Mencoba menghapus ingatan tentang teror di bank tersebut.


Cowok itu melangkah lebar. Menaikki motornya. Memasang helm, menghidupkan motor nya.


Dor!!


"Hei tuan muda. Pilih mana?" Pria bertopeng itu menarik pelatuk pistolnya. "Korban ini yang mati. Atau ..." Pria tersebut tersenyum psikopat.


"... Tuan muda yang mati?"


Ragel menarik pedal gas nya. Melajukan motornya sekencang mungkin.


Dor!!


"Ups! Tuan muda telat." Pria tersebut melemparkan pistol miliknya ke arah Ragel. "Haaahh! Tuan muda ternyata yang menembak nya!"


Ragel menggeleng kuat. "Bu-- bukan! Bukan aku!"


"Iya, tuan muda yang nembak. Ayolah tuan muda. Anda terlalu naif. Jangan bohong gitu," sinis pria bertopeng itu tertawa jahat.


Ragel menggeleng pelan. Semakin menarik pedal gas nya. Tanpa arah, cowok itu terus melajukan motornya.


Cekiiitttt!!!


Brak!


Yang Ragel ingat hanya satu. Bau amis dan darah yang mengalir di kepalanya. Sebelum akhirnya mata itu tertutup rapat dan semuanya gelap.


***


Olivia memutar pena nya resah. Matanya masih setia memerhatikan rumus matematika di buku. Tapi pikiran nya sudah bercabang entah kemana.


"Ragel baik-baik aja kan?" gumam Olivia resah.


"Ah! Apa sih Liv. Dia baik-baik aja. Lo nggak usah khawatir." Gadis itu mencoba menenangkan diri.


Berusaha fokus dengan rumus matematika. Hanya beberapa menit Olivia bisa fokus. Sampai seseorang datang dengan tergesa-gesa masuk ke kelas Olivia.


"Geeeesss!!! Ragel ges!" Cewek dengan napas terengah-engah itu menatap Olivia khawatir.


"Ragel kenapa woi!" Laura berdiri dari duduknya. Berjalan mendekati cewek tersebut.


"Ragel ... kecelakaan!"


Suara pena jatuh terdengar nyaring. Membuat kelas hening beberapa saat.

__ADS_1


"Lo ngadi-ngadi banget. Mana mungkin--"


"Bener! Di persimpangan jalan. Ragel nabrak pohon karena ngindarin truk yang nyaris nabrak dia," jelas cewek itu tak mau disebut pembawa berita bohong.


Dengan cepat, Olivia beranjak dari duduknya. Tak peduli dengan apapun lagi.


Dia harus kesana. Memastikan kalau berita itu tidak benar. Iya, semua pasti tidak benar.


"Lo nya langsung pulang habis nganterin gue kan? Jangan keluyuran lho!"


"Iya iya, ibu negara!"


"Lo kenapa nggak langsung pulang sih Gel? Kenapa harus keluyuran sih?!!" gumam Olivia terus berlari ke persimpangan jalan.


Tanpa sadar air mata jatuh ke pipi gadis itu. Melihat banyak orang disana yang berkerumunan.


Nggak, semuanya salah. Ragel nggak mungkin kecelakaan.


Olivia membeku. Melihat tubuh Ragel yang terbaring lemah. Darah terus mengalir di pelipis matanya tanpa henti.


Olivia melangkah pelan. Menatap Ragel tak percaya. Ini pasti bukan Ragel.


Gadis itu terduduk lemas. Menunduk dalam, menitikkan air mata saat melihat wajah sang pacar lebih dekat.


"Ragel~" lirih Olivia pelan.


Mengelus wajah Ragel yang terbalut darah segar.


"Jangan gini. Gue nggak mau lo kenapa-napa."


Olivia selalu berharap, Ragel baik-baik saja. Karena Olivia tidak ingin kehilangan orang yang dia cintai ... lagi.


***


Holaaaaa👋💕


Maap baru up ges. Hehehehe, maap banget Acha nggak bisa nepatin janji buat up 2x seminggu.


Serius, sesusah itu ternyata.


Dan juga ... Acha ada sedikit problem disini.


Doain aja yang terbaik yah untuk Acha dan cerita MY PSIKOPAT BOYFRIEND.


Insyaallah, Acha akan berusaha untuk up lagi🔥🔥🔥🔥


Tapi serius nanya, sampai sini cerita MY PSIKOPAT BOYFRIEND gimana?


Acha tunggu vote sama komen nya.


Sankyuuuuu 💓

__ADS_1


__ADS_2