
Masih terpaku dengan posisi yang sama. Ragel terus menatap Olivia lekat, begitu juga sebaliknya. Murid IPA 1 menjadi penonton tanpa bayaran. Tanpa ada satupun yang mau memecahkan peristiwa mendeklarasikan pacaran tersebut.
"MOJOK AJA TERUSSS!!! KALAU PERLU LANGSUNG KE HOTEL BINTANG SEPULUH!! LANGSUNG LO BERDUA GELUT!!" teriak Ziky di depan pintu Labor. Memecah keheningan yang melanda.
Wajah Ragel berubah dingin, cowok itu langsung menoleh. Melihat Ziky dengan senyum segaris tipis. Mengetahui satu garis di wajah Ziky. Ragel berdecih.
Ragel kembali menoleh pada Olivia. Memajukan wajahnya, hingga hanya berjarak satu sentimeter dengan wajah Olivia.
"Bay-bay, pa-car!" ucap Ragel sengaja menekan satu kata terakhir.
Lalu setelahnya, cowok itu berjalan meninggalkan Olivia yang masih mematung di tempatnya. Ragel berdiri di depan. Menunjuk Olivia yang ada di belakang.
"JAGA PACAR GUE BAIK-BAIK, NGERTI? KALAU SAMPAI ADA YANG NYAKITIN PACAR GUE ..." satu garis lengkung yang mengerikan menghiasi wajah tampan Ragel. "AYO BAKU HANTAM!"
***
Bugh!
Ziky langsung meninju perut Ragel keras. Menyadarkan cowok gila itu. Agar terbangun dari mimpinya dan sadar apa yang dia perbuat beberapa menit yang lalu.
"Anj*ng!" umpat Ragel menatap horor pada Ziky. Tapi Ziky malah bersikap santai. "Lo mau mati, hah?!" gertak Ragel nggak main-main.
"Elo yang mati duluan, ibab!" serang Ziky tanpa takut pada Ragel si psikopat. "Apa guna lo ngajak si Oliv pacaran?! Lo mau diporotin dia! Mau lo, harta bokap lo yang tujuh turunan, sembilan tanjakan, dua puluh kelokan habis? MIKIR MAKANYA, IBAB!!" hardik Ziky. Kini mereka berada di lorong sepi menuju kantin.
Angga yang berada diantara mereka, bingung. Ingin merelai, tapi rasanya malas. Mending jadi penonton gratis. Kapan lagi coba, Angga dapat tontonan baku hantam secara live streaming.
"Maksud lo apa? Lo nyebut pacar gue miskin?"
"Pacar lo emang miskin! Salah gue emangnya?" jawab Ziky santai.
Ragel berdecih, menarik kerah baju Ziky. Menatap Ziky lebih horor lagi. "Lo punya otak kan?! Kalau punya, mending di pake buat belajar. Daripada buat hal yang nggak guna!"
"Ck! Lo bego banget emang Gel! Nggak nyadar kalo--"
Brak!
Ragel langsung menjatuhkan Ziky hingga cowok playboy itu terbentur dinding. Membuat Ziky meringis kesakitan.
"Lo urus dulu tunangan lo! Jangan urus, urusan gue. Ngerti lo!!"
***
"Heh, miskin!" Laura berjalan mendekati Olivia. Menendang kursi yang ada disamping cewek itu. Menatap Olivia penuh kebencian. "Pake pelet apa lo, hah? Sampai si Ragel kesemsem sama cewek kayak lo yang miskin, kucel gini?!"
Olivia balas menatap mata Laura lempeng. Sudah dia duga, Laura dan teman-teman lainnya akan mempertanyakan hal ini.
Ayolah, Olivia sendiri saja bahkan kaget. Ragel itu ... tipe orang yang dadakan, ya?
"Jawab miskin! Lo pake pelet apa?! Pasti nggak murah kan, bayar nya?!! Hah, atau jangan-jangan uang dari lo lomba olimpiade itu lo pake, hm?!" tanya Laura, menekan kedua pipi Olivia. Hingga bibir cewek itu seperti ikan koi. "Udah miskin, pake pelet lagi. Sayang tuh duit! Mending lo pake buat hal yang lebih berguna. Kayak beli make-up. Biar nggak nampak kucel!" hina Laura. Melepas tangannya dari pipi Olivia.
"Jijik gue deket-deket sama si miskin. Mana suka melet lagi. Siapa tau juga kan, Lo ngepet malam-malam!" hina Laura tertawa terbahak-bahak. Menatap Olivia penuh hina.
__ADS_1
Dimata Laura, Olivia itu tidak lain adalah sampah yang sok mau menonjol diantara berlian lainnya.
"Gue emang miskin. Tapi gue nggak akan berbuat sekeji itu," jawab Olivia dingin. Berjalan meninggalkan Laura yang membulatkan matanya tak percaya.
"Miskin tetap miskin. Tanpa peduli kalau si Syera juga suka sama Ragel!!" pekik Sinta.
Olivia menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang, dimana Syera terus menatapnya lekat.
Syera ... suka sama Ragel? Tapi sejak kapan?
***
Dulu, waktu pertama kali Olivia menginjakkan kaki di kelas 12 unggul, hal pertama yang muncul di benak Olivia hanya satu.
Dia pasti di bully lagi.
Ayolah, siapa yang suka sama Olivia? Siswi-siswi disini mana pernah mengagumi sosok Olivia. Jangankan mengagumi, mengajak Olivia main bareng aja nggak pernah.
Itu semua karena Olivia ... miskin.
Miskin, bisa merubah kodrat seseorang di mata manusia. Padahal, di mata Tuhan. Bukan perihal harta yang bisa meninggikan kodrat. Tapi perihal baik buruk nya manusia. Dan seberapa dekat dia berusaha untuk dicintai sama Tuhan.
Tapi sayang, manusia malah bersikap angkuh karena harta mereka.
"Hai, lo masuk kelas ini yah?"
Seseorang memecahkan lamunan Olivia. Gadis dengan rambut hitam dikuncir satu itu terkejut. Langsung menoleh pada gadis cantik berambut hitam kecoklatan itu.
Olivia mengangguk. "Lo juga kelas ini?" tanya Olivia tersenyum canggung.
Olivia mengangguk, mengikuti langkah cewek itu. Lalu berhenti di bangku nomor dua di tengah.
"Nah, disini aja! Duduk sebangku yah!" ucap Cewek itu tersenyum cantik.
Olivia terkejut, menatap gadis cantik itu lekat. Olivia tidak sedang bermimpi kan? Cewek ini ... mengajak nya duduk sebangku? Serius?!
"Ka ... kamu, nggak malu?" tanya Olivia ragu-ragu.
"Malu? Malu kenapa?" tanya balik gadis itu. Gadis dengan bulu mata lentik itu duduk di bangku sebelah kanan. Meletakkan tas kecil nya diatas meja. Menatap Olivia bingung.
"Anu, itu ..." Olivia menggaruk pipinya bingung. Agak ragu mengatakannya pada gadis ini. "Aku ... miskin," cicit Olivia menunduk.
Gadis itu malah tertawa terbahak-bahak, untung saja hanya mereka berdua yang baru datang di kelas ini.
Olivia mengernyitkan dahi, menatap gadis itu bingung. Beberapa detik setelahnya, menghela napas pasrah. Pasti, sangat-sangat pasti. Gadis ini ... akan mengejeknya.
"Lo lucu deh," celetuk gadis itu meredam tawa nya. Olivia semakin mengernyitkan dahi. "Kalau lo miskin, terus gue harus bilang waw, gitu? Enggak kan? Lagian juga nggak masalah. Lo cantik, baik, imut, malu-malu, feminim, apalagi yah? Hmmm ... ah, lo juga mau-mau aja temen sama gue. Jadi, oke-oke aja dong ... gue temenan sama lo. Apalagi duduk sebangku. Nggak ada undang-undangnya dilarang duduk sebangku sama orang miskin," ujar gadis itu panjang lebar. Terkekeh kecil.
Olivia tersenyum canggung, tak tau harus bereaksi seperti apa. Jujur, ini pertama kalinya ada orang yang mau nerima dia apa adanya.
"Duduk deh. Nggak capek lo, berdiri terus?" tegur gadis itu.
__ADS_1
Olivia mengangguk. Meletakkan tas nya di sandaran kursi. Lalu duduk di bangku nya.
"Oh iya, kenalin gue Syera Rahmania. Panggil Syera aja. Nama lo siapa?" tanya Syera mengulurkan tangannya pada Olivia.
Olivia menjabat tangan Syera ragu. "Olivia Dwi Ananda. Panggil Oliv," ucap Olivia.
Syera mengangguk. "Hai, Oliv! Mulai hari ini dan seterusnya, kita temenan!" titah Syera dengan seulas senyum cantik di wajahnya.
Olivia terkagum, lalu mengangguk cepat. "Hm!"
"Olivia, kamu dengar bapak tadi?" tegur Saga menepuk pundak Olivia pelan.
Membuat Olivia terkejut, lalu menoleh pada Saga yang ada di sampingnya.
"Ah, maaf pak. Denger kok," ucap Olivia grogi. Masalahnya, jarak wajah Saga dan dirinya terlalu dekat.
Saga tersenyum. Hanya ada mereka berdua di Labor kimia. Kelas baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Tapi Olivia memilih untuk tetap di Labor sampai bel kelas selanjutnya berbunyi.
Dan Saga, pria berumur 22 tahun itu menemani Olivia. Sesekali mengajarkan muridnya itu materi yang tak di mengerti.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Saga masih dengan senyumannya.
Olivia menggeleng, "nggak mikirin apa-apa kok pak. Yaudah, kalau gitu. Oliv ke kelas dulu. Makasih udah ajarin Oliv materi kimia tadi."
Buru-buru Olivia mengemasi buku-bukunya. Lalu melangkah keluar Labor kimia. Saga menyusul dari belakang. Menutup pintu Labor.
Lalu berjalan beriringan dengan Olivia. Lorong begitu sepi, karena rata-rata murid-murid pada ke kantin.
"Kamu nggak ke kantin lagi? Bawa bekal?" tanya Saga perhatian.
Olivia menoleh, tersenyum sembari menggeleng. "Udah makan di rumah pak. Bapak sendiri nggak makan?" tanya Olivia balik.
"Saya makan nya nanti. Setelah ini saya nggak ada kelas lagi. Jadi saya bisa makan sepuasnya di kantin tanpa harus di liat-liat orang," ujar Saga. Membuat Olivia tertawa kecil.
Padahal mereka hanya mengobrol hal yang lumrah. Nggak ada obrolan yang spesial sama sekali. Tapi entah kenapa, suasananya jadi terasa berbeda.
Angin bertiup kencang, membuat dedaunan kering terbang. Hingga ada yang nyantol di rambut tergerai Olivia.
"Bentar deh." Saga berhenti. Olivia ikut berhenti. Menghadap Saga sepenuhnya, entah kenapa jantung gadis itu berdegup kencang.
Saga mulai mendekat, berniat untuk mengambil daun kering yang menempel di rambut hitam Olivia.
"Pacar saya cantik banget kalau wajahnya memerah kayak tomat merah gini!"
***
***Hai hai haloooooooo, gimana gais? Olivia sama Ragel udah pacaran lho, tepat tanggal 12 Oktober kemarin, asiiikk πππ seneng nggak? seneng nggak? seneng dong, masa' enggak kan? wkwkwkwk π€£
catat yah tanggal jadian mereka.12 Oktober, oke?
makasih juga lho, udah baca cerita Acha. Akhirnya Acha bawa cerita yang berbeda lagi. Btw, Acha juga ada cerita di aplikasi sebelah. Jangan lupa mampir yah.
__ADS_1
Nama pengguna nya sama kok, sama yang disini. Ditunggu di aplikasi orange, bay bay!!!ππΏππΏ
sankyuuuuuu ππ***