
Dor!
"Mama!--"
Ragel menutup mulutnya rapat-rapat. Tubuh mungil nya bersembunyi di balik vas bunga besar di sudut bank.
Ragel membulatkan mata lebar. Saat melihat bercak darah yang begitu kental membanjiri bank tersebut.
Anak laki-laki itu semakin membelalakkan matanya. Seakan bola mata abu-abu itu keluar dari tempatnya.
Mama nya-- Bu Tama, terbaring tak bernyawa dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Karena tembakan peluru.
Ragel berlari mendekati sang Mama. Mengangkat kepala berlumuran darah tersebut ke pangkuannya.
"Mah! Mama. Bangun Mah! Mamaaa!!" panggil Ragel sesegukan.
Berharap sang Mama bangun. Menyapa nya, lalu tersenyum lembut padanya dan berkata kalau Mama baik-baik saja.
Tapi nihil, sang Mama tak menyahut sedikitpun. Kelopak mata indah itu tak kunjung terbuka barang sedikitpun.
Hanya senyum tulus yang terukir di bibir sang Mama. Gerakan kecil sedikitpun tak ada. Hanya darah yang terus mengalir dan mengenai pakaian Ragel.
"Hah! Ternyata tepat sasaran," ucap seseorang di depan Ragel. "Target terakhir. Orang yang paling saya incar. Bagus, rencananya mulus sekali."
Ragel mengangkat pandangannya. Menatap seorang pria bertopeng joker tersebut takut.
"Si-- siapa kamu?" tanya Ragel takut-takut.
Dor!
Pria bertopeng itu kembali menembakkan peluru nya selurusan dengan kepala Ragel. Nyaris saja, Ragel jadi korban selanjutnya.
"Coba tebak, tuan muda. Saya siapa?"
Manik abu-abu itu membulat. Jarak wajah nya dengan pria bertopeng tersebut terlalu dekat.
Mengerikan. Sangat mengerikan.
Seluruh tubuh Ragel bergetar. Pistol tersebut bahkan sengaja di arahkan tepat di kening Ragel.
Terlalu menakutkan.
"Coba tebak, tuan muda."
Bibir Ragel bergetar. Ingin menjawab tidak. Lagi-lagi suara tembakan terdengar. Bersamaan dengan suara pecahan dari vas bunga tersebut.
"Takut ya, tuan muda?"
Lagi-lagi, pria bertopeng itu menembakkan peluru nya ke arah bingkai sertifikat yang terpajang apik di dinding.
"Duh, tuan muda benar-benar takut ya?"
Ragel masih diam bergeming. Hanya memerhatikan pria bertopeng tersebut takut. Dirinya ingin kabur. Tapi entah kenapa, seluruh tubuhnya tidak dapat di gerakkan barang sedikitpun.
"Baiklah--"
"Ugh!"
Pria bertopeng itu terdiam. Saat salah satu dari korbannya ternyata masih hidup.
Pria bertopeng itu tersenyum sinis. Menarik leher pria berumur 20 tahun itu. Lalu mengarahkan pistol nya ke kepala korbannya.
"Hei tuan muda. Pilih mana?" Pria bertopeng itu menarik pelatuk pistolnya. "Korban ini yang mati. Atau ..." Pria tersebut tersenyum psikopat.
__ADS_1
"... Tuan muda yang mati?"
Ragel membelalakkan matanya. Menggeleng pelan. "Ja-- ja ... jangan! Jangan bunuh dia--"
Dor!
Ragel menutup matanya sanking terkejutnya dengan suara pistol yang begitu nyaring.
"Ups! Tuan muda telat." Pria tersebut melemparkan pistol miliknya ke arah Ragel. "Haaahh! Tuan muda ternyata yang menembak nya!"
Ragel menggeleng kuat. "Bu-- bukan! Bukan aku!"
"Iya, tuan muda yang nembak. Ayolah tuan muda. Anda terlalu naif. Jangan bohong gitu," sinis pria bertopeng itu tertawa jahat.
"Jadi? Tuan muda yang bersalah, ya."
"Nggak! Bu-- bukan aku!!"
Pria bertopeng joker itu tersenyum sinis. Mendekati Ragel. Berbisik pada anak laki-laki itu.
"Ingat ini tuan muda," bisik pria tersebut begitu dalam. "Anda yang membunuh semua orang yang ada disini dan juga laki-laki terakhir yang anda tembak."
"Mengerti kan, tuan muda?"
"Hah! Hah! Hah!"
Ragel terbangun dari tidurnya. Buliran keringat terus mengucuri wajah nya. Napas nya yang tak beraturan dan hawa dingin yang menyelimuti kamar nya.
Ditambah dengan kamar yang gelap. Hanya sinar bulan yang menelusup masuk di sela-sela kain jendela.
"Nggak! Bukan gue yang nembak orang-orang di bank itu! Bukan gue!!"
Ragel depresi. Menarik rambutnya sekuat tenaga. Menggelengkan kepala. Mencoba menolak kata-kata yang diucapkan pria bertopeng di mimpi itu.
Tapi kenyataan.
Ragel menarik laci di nakas nya. Mengambil sebuah silet yang ada di dalamnya.
Sret.
Ragel menyayat lengan kirinya. Mengeluarkan darah segar di kulit putih bersih nya.
"Gue bukan pembunuh."
Sret.
Cowok itu kembali menyayat lengannya. Hingga darah segar itu mengalir di lengannya.
"Gue bukan pembunuh."
Sret.
Sekali lagi, Ragel menyayat lengannya. Kali ini sangat kuat. Hingga darah tersebut mengalir deras tanpa berhenti.
Ragel menangis dalam diam. Menatap sayatan yang dia buat di lengannya. Perlahan, isak tangis itu berubah menjadi tawa yang mengerikan.
"Hahahaha! Pembunuh? Gue pembunuh."
Ragel masih menatap sayatan itu lekat. "Bau amis. Benar-benar menyenangkan sekali mencium bau amis," sinis Ragel tertawa sinis.
"Kira-kira, apa kabar pria bertopeng itu sekarang?" Ragel bertanya entah pada siapa. "Apa dia masih jadi pembunuh. Atau perlu gue yang bunuh dia?"
***
__ADS_1
Olivia mengerjap sekali. Melihat Ragel dengan jaket denim dan celana kain duduk di motor klasik.
"Yo!"
Ragel menyapa Olivia santai. Melangkah mendekati gadis nya itu. "Dah beres? Langsung ke sekolah lo nya kan?" tanya Ragel santai.
Olivia masih diam. Menatap Ragel bingung. "Hei, lo kenapa dah Gel? Ini masih jam setengah tujuh. Gue belum sarapan. Lo nya ..."
"Yodah, sarapan bareng gue di luar. Ayo!" ajak Ragel menarik tangan Olivia.
"Gel, lo oke kan?" tanya Olivia.
Ragel yang sibuk memasangkan helm pada kepala Olivia mengangguk singkat.
"Gue lebih dari oke setelah ketemu elo," jawab Ragel enteng.
Blush!
Olivia gugup. Matanya berkeliaran kesana-kemari. Tak ingin menatap wajah tampan Ragel yang terlu dekat dengannya.
"Iya-iya, gue tau! Yodah, ayo sarapan di luar," dalih Olivia memalingkan wajah.
Ragel terkekeh kecil. "Ayo!" ajak Ragel sudah duduk di motor nya.
***
"Gel! Mampir ke toko buku dulu ya. Gue mau beli buku matematika soal nya," pinta Olivia memajukan wajahnya.
Setelah mereka sarapan pagi di pinggir jalan. Ragel kini mengantarkan gadisnya ke sekolah.
"Oke!"
Olivia tersenyum. Menatap wajah tampan Ragel di kaca spion.
"Lo nya langsung pulang habis nganterin gue kan? Jangan keluyuran lho!"
"Iya iya, ibu negara!"
Olivia cemberut. Mencubit punggung Ragel pelan.
"Duh! Lo kenapa dah?" tanya Ragel meringis pelan.
"Jangan bilang gue ibu negara! Gue masih remaja! Bukan ibu-ibu!" omel Olivia kesal.
"Kan lo emang bakalan jadi ibu-ibu," ucap Ragel. "Ibu dari anak-anak gue nanti maksudnya~" lanjut Ragel.
Olivia membulatkan matanya. "Rageeeelll!!!" Olivia buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik punggung Ragel.
Malu nyaaaa!
***
Hai gais!
Acha up lagiiiiii><
Akhirnya bisa up lagi, Yeay!!!
Gimana part ini? Kita kasih yang manis di akhir part. Co cwit><
Eits, jangan harap bakalan manis selalu yah. Akan ada part-part yang paling-paling pokoknya. Tungguin aja。◕‿◕。
Oke gais, Acha minggat dulu. Jangan lupa komen dan vote nya.
__ADS_1
Sankyuuuuuuu 💓