MY PSIKOPAT BOYFRIEND

MY PSIKOPAT BOYFRIEND
28. Se-deras Hujan


__ADS_3

Olivia memakai jaket lusuh kebesarannya. Menatap langit abu-abu dari balik jendela kelas. Hujan masih setia membasahi bumi lebih lebat dari tadi.


"Apa cinta bisa mengalir se-deras hujan? Atau ... hanya akan hadir di kala senja menyapa bumi?"


Olivia bermonolog sendiri. Tidak ada siapa-siapa di kelas selain dirinya. Obrolannya dengan Ragel tadi, masih membayang di kepala Olivia.


"Kenapa sesuatu hal yang terasa bahagia bagi kita. Hanya hadir sementara? Seakan ... itu bonus kecil yang memang ada. Tapi tidak awet."


Olivia menggeleng pelan. Sepertinya gadis ini ngelantur yang aneh-aneh. Lebih baik menunggu hujan reda di dekat halte. Daripada harus menunggu hujan reda di kelas sendirian.


Saat langkah sepatu lusuh itu mulai mendekati pintu kelas. Olivia di kejutkan dengan Ragel yang sudah lebih dulu berdiri di depan pintu.


"Gue kira siapa. Ternyata elo," ucap Ragel enteng.


Ragel menatap gadisnya itu lekat. Olivia itu kadang cukup unik. Apalagi melihat gadis itu memakai jaket lusuh kebesaran.


Jadi terlihat seperti anak kecil yang tenggelam dengan jaket nya sendiri.


"Ngapain lo di kelas gue?" tanya Olivia mengerutkan alis.


"Nyari sundel bolong. Ya nyari elo lah!"


Bibir Olivia berkedut. Gadis itu langsung mendorong tubuh besar Ragel.


Olivia buru-buru pergi dari hadapan Ragel. Tapi sayangnya, tangan besar itu lebih dulu menangkap tangan mungil Olivia.


"Mau kemana?" tanya Ragel.


"Pulang," jawab Olivia singkat.


"Bareng gue, nggak ada penolakan!" ucap Ragel tegas.


"Kalau gue nggak mau?"


"Gue maksa," jawab Ragel enteng.


"Nggak!" tolak Olivia berusaha melepas genggaman tangan Ragel.


Ragel langsung mengetuk kening Olivia pelan. "Ngeyel lo," ucap Ragel menaikkan kupluk Olivia.


"Tinggal bilang 'iya'. Apa susah nya, hm?"


Bukannya ada adegan romantis, Ragel malah menarik tali kupluk Olivia hingga menutupi sebagian wajah gadisnya itu.

__ADS_1


"Rageeeelllll!!!!!" pekik Olivia sekuat tenaga.


Ragel tertawa puas karena telah mengerjai Olivia.


***


"Hujan nya makin lebat," gumam Olivia menengadahkan tangannya. Merasakan air hujan yang dingin.


"Ya ... bagus," imbuh Ragel menatap pekarangan sekolah mereka yang basah. "Jadi ada adegan romantis nanti," lanjut Ragel menaik-turunkan alisnya menggoda.


Olivia tersenyum sinis. "Gue pake jaket. Elo juga, jadi gue rasa. Nggak perlu ada adegan romantis," ucap Olivia. Menginjakkan kaki nya ke tanah, berputar menikmati hujan yang semakin membasahi tubuhnya.


"Oke, gue rasa adegan romantis nya pending."


Ragel menikmati hujan. Merasakan air hujan yang dingin membasahi wajahnya. Cipratan air yang sengaja Olivia berikan. Membuat cowok berwajah tampan itu menatap sinis pada Olivia.


"Lo!"


Olivia tertawa kecil, berlari meninggalkan Ragel yang mulai mengejarnya.


Ragel mengejar Olivia yang sudah jauh di depannya. Menatap punggung sempit gadis itu.


Punggung itu terlalu rapuh, ada banyak beban yang dipikulnya. Tapi Olivia, berusaha untuk tetap baik-baik saja terhadap dunia yang kejam ini.


Ragel menghela napas, mendekati Olivia yang sedang menengadah menikmati hujan yang menerpa wajahnya.


Olivia menoleh, menatap Ragel yang lebih tinggi dari nya. "Tapi hujan, memiliki aroma khas yang hanya hujan aja yang memilikinya. Nggak ada satu pun yang bisa menandingi aroma khas hujan," imbuh Olivia menengadahkan tangannya.


Air hujan mengalir di tangan mungilnya. Setiap tetes hujan menyentuh kulit putih itu. Rasa dinginnya menjalar hingga ke hati Olivia.


"Suaranya, air yang mengalir secara alami dan cepat, rasa dingin dari hujan. Seakan membuat kita hanyut ke dalam melodinya," lanjut Olivia.


Ragel menatap Olivia diam, cowok itu tersenyum kecil. Mengulurkan tangan mengusap kepala Olivia.


"Yuk, pulang!"


Olivia diam beberapa saat menatap Ragel. Detik berikutnya gadis itu mengangguk patuh.


Air yang mengalir deras dari hujan. Apakah sepadan dengan hubungan kita yang terjalin sekarang?


Atau hubungan kita hanya sekedar hujan yang mengalir deras. Tapi sayangnya hanya sesaat saja.


***

__ADS_1


Olivia terdiam. Menatap rumah megah di depannya bingung sekaligus takjub.


"Rumah siapa?" tanya Olivia cukup kencang.


"Rumah gue," jawab Ragel.


Olivia menatap sekeliling rumah itu. Terlalu mewah dan besar untuk ditempatin oleh dua orang.


"Kenapa bawa gue kesini?" tanya Olivia lagi.


Ragel menyentil jidat Olivia pelan. "Bawel! Kalau gue langsung bawa ke rumah. Entar ayah sama ibu malah mikir yang aneh-aneh. Setidaknya keringkan baju lo dulu di rumah gue. Ah, atau mungkin ganti baju. Pake baju gue," ujar Ragel membuka pintu putih tulang itu.


"Ayo masuk!"


Olivia masih diam. Matanya mengelilingi rumah besar itu. Sebelum akhirnya Ragel menarik tangan Olivia untuk masuk ke rumah nya.


"Lo tunggu disini. Gue ambil baju ganti," ucap Ragel berlalu meninggalkan Olivia di ruang tamu.


Olivia mengangguk nurut. Memerhatikan ruang tamu Ragel dengan saksama. Ada banyak benda-benda mahal yang terpajang diatas lemari hiasan berwarna cokelat kayu itu.


Mata gadis itu kembali menyusuri ruang tamu Ragel. Hingga mata itu menatap lekat foto keluarga yang terpanjang apik di dinding ruang tamu dengan ukuran sedang.


Ada Ragel, Papa Ragel, dan Mama Ragel. Disana Ragel kecil berumur 5 tahun tersenyum lebar dengan menampakkan gigi ompong dua tengahnya.


Olivia terkekeh kecil melihat Ragel kecil yang lucu. Ada Papa Ragel yang terlihat berwibawa dengan jas hitam nya.


Mama Ragel benar-benar cantik dengan gaun hitam yang dipakainya.


Olivia tersenyum kecil menatap wajah Mama Ragel yang seperti Dewi Yunani itu.


"Mama lo cantik," imbuh Olivia.


Saat Ragel baru tiba di ruang tamu lagi.


Ragel terdiam, menatap wajah Mama nya yang tersenyum cantik itu.


"Mama gue emang cantik."


...****************...


***haloooooooo semuanya 👋


akhirnya aku bisa up lagi walau butuh waktu lama. hehehe maaf yah^^

__ADS_1


btw, masih setia kan sama MPB? masih dong, masih😆


see you di part selanjutnya yah💞💞***


__ADS_2