
Sepertinya Cakra memang sengaja melakukannya.
"JADI ADIK KESAYANGANKU INI SUDAH TIDAK PERJAKA???" teriaknya membuat semua orang yang berada di ruang rapat memperhatikan mereka.
"Kak kau ini apa-apaan sih!!" gerutu Fidel kesal sambil membelalakan matanya.
"Ekhem harap tenang dan fokus pada rapat, jangan membuat keributan" tegur paman Alex memandang tajam pada Fidel dan Cakra.
"Lihat ulahmu ini Fidel" bisik Cakra lagi seolah tidak ada takut dan kapoknya meski sudah di peringatkan pamannya.
"Aku? kau yang berteriak kak! membuat semua orang memperhatikan kita" Fidel membela dirinya.
"Jadi bagaimana rasanya? sesak, hangat atau sakit?"
"Apanya?" Fidel tak mengerti apa yang dimaksud Cakra.
"Ya itu" Cakra mengedip-ngedipkan sebelah matanya semakin membuat Fidel tak mengerti.
"Itu apa sih kak?" Cakra menghela napasnya.
"Halah ya itu melepas keperjakaan" ucapnya dengan penuh penekanan.
"Iisshhh kau ini kak! pikiranmu kotor sekali" mereka masih berbicara dengan berbisik-bisik.
"Pikiranku tidak kotor aku hanya menanyakan pengalamanmu" kilah cakra.
"Aku belum melakukannya kak"
"Maksudmu?" Cakra kembali di buat penasaran, ia mendekatkan telinganya pada Fidel.
"Dia masih berumur 16 tahun"
"Lalu? apa hubungannya dengan keperjakaanmu?" sekarang Fidel yang menghela napasnya.
"Kau ini membicarakan keperjakaan terus, ada semacam perjanjian antara budak dan pembeli. Jika budaknya belum genap berusia 17 tahun maka sang pembeli tidak boleh menyentuhnya" Jelas Fidel membuat Cakra mengerti.
"Jadi kau?"
"Masih bujangan"
"Perjaka?" tanya Cakra memastikannya lagi.
"Masih perjaka dan orisinil" jawab Fidel enteng.
"Payah!" Cakra menjauhkan telinganya dari Fidel, ia kecewa dengan jawaban adiknya.
"Tidak penting kak aku sudah melakukannya atau belum tetapi sebenarnya ada yang mengganjal hatiku"
"Kamu mulai jatuh cinta pada Sakura?" tebak Cakra asal.
"Berhentilah berkata yang tidak-tidak kak! jangan menggodaku!"
"Kamu jadi sensitif ya jika membicarakan tentang Sakura" Cakra tidak mengindahkan kekesalan adiknya, ia malah semakin berkomentar.
"Hahh sudahlah aku tidak mau bercerita lagi" ucap Fidel ngambek.
"Hehe maaf maaf, apa yang mengganjal hatimu itu wahai adikku?" Cakra berusaha untuk serius.
"Aku merasa ada yang aneh dengannya kak"
__ADS_1
"Aneh bagaimana?"
"Banyak hal tentang dirinya yang masih menjadi misteri bagiku, aku ingin meminta tolong padamu kak"
"Minta tolong apa?"
"Bisakah kakak mencari tahu tentang Griya Bersama? sebenarnya tempat macam apa itu? kenapa di jaman yang sudah ada hukum seperti sekarang ini masih ada orang yang memperjual belikan manusia dan menjadikannya budak?"
Cakra melihat keseriusan di balik wajah Fidel, sepertinya kali ini adiknya merasa ini sangat penting dan harus di ungkap.
"Baiklah aku menyuruh orang untuk menyelidikinya" Cakra menyanggupi permintaan sang adik.
"Ekhem" suara itu berasal dari microphone seseorang sedang batuk. "Aku sudah memperingatkan untuk tidak membuat keributan, jika tidak mau mendengarkan rapat silahkan untuk keluar dari ruangan ini, jangan asyik mengobrol sendiri" seketika suasana di dalam ruangan hening, termasuk Cakra dan Fidel mereka hanya saling melirik. "Apa rapat ini masih akan di teruskan?" tanya paman Alex pada orang-orang di depannya.
"Silahkan di teruskan kembali tuan" jawab seseorang lantang.
"Aku minta tidak ada lagi yang berbicara selain diriku jika masih terjadi aku akan menendangnya sendiri keluar" tegasnya membuat semua orang takut.
Paman Alex melanjutkan kembali jalannya rapat, Fidel mengeluarkan ponsel miliknya dan mengetik sesuatu.
Ponsel yang di taruh Cakra di atas meja bergetar, ia membuka kunci layarnya dan membaca pesan masuk.
"Terima kasih ka" bunyi pesan itu yang berasal dari Fidel yang duduk di sebelahnya.
"Sama-sama adikku 😘" Cakra menambah emoticon Kiss pada balasan pesannya.
"Iiyyyuuuhhhh 😝" Fidel kembali mengirimkan pesan, kedua adik kakak itu saling tersenyum memandang ponselnya, sekarang mereka melanjutkan obrolan melalui ponsel hingga rapat berakhir.
***
Fidel pulang dengan membawa sekotak donat kesukaan Sakura, hari sudah larut malam Fidel pikir Sakura pasti telah tidur. Ia memasuki rumahnya yang gelap.
"Kenapa Sakura tidak menyalakan lampu" keluhnya, untung saja cahaya rembulan yang terang menembus melalui jendela sehingga Fidel dapat meraba jalannya menuju ruang makan untuk meletakkan donatnya.
Hehehehehemmmmm
Sekelebat Fidel merasa mendengar suara tangisan, ia bergidik merinding. Suasana gelap dan mencekam menambah horor keadaan. Fidel mencoba melangkahkan kakinya menuju sumber suara.
"Sakura" panggilnya. Tiba-tiba saja suara tangis itu menghilang saat ia hampir mendekatinya.
"Sakura kamu dimana? aku sudah pulang, aku membawa donat kesukaanmu" Fidel menyalakan senter pada ponselnya. Sebenarnya ia merasa takut, tetapi ia yakin Sakura tidak akan pergi kemana-mana dan suara itu entah tak tahu asalnya dari mana.
Fidel merasa ada yang berjalan melewatinya dari belakang, sesosok bayangan putih. Ia membalikkan ponselnya dan mencari arah kemana perginya bayangan itu tetapi ia tidak dapat menemukannya. Bulu kuduknya berdiri semua seakan sedang berpesta.
"Sakura kamu dimana?" teriaknya lagi. "Cepatlah muncul Sakura, aku takut" ucapnya lirih. Bayangan putih itu kembali tetapi kali ini melewati sampingnya. Fidel mengarahkan kembali senter pada lampunya, lagi-lagi bayangan itu menghilang.
Saat ia membalikkan tubuhnya ke depan tepat di hadapannya sosok putih muncul secara nyata, berambut panjang, berkulit putih mulus, wajahnya tertutupi oleh rambut.
"Huwaaaaa sakit jantung, paru-paru basah, kutu air, cacar air!!" teriak Fidel kencang sampai ia terjatuh ke belakang saking paniknya. "Ampun ampun nyai kunti aku tidak mengganggumu tolong jangan ganggu aku" Fidel menutup wajahnya.
Kemudian Fidel merasa kepalanya seperti ada yang mengelus-ngelus. Ia mencoba mendongakkan wajahnya.
"Tuan Fidel" lembut suara Sakura.
"Sakura?" Fidel dapat melihat jelas wajahnya. "Hahhh dari tadi itu kau?" Fidel menarik napasnya terengah-engah tetapi cukup lega.
"Maaf aku mengejutkanmu" Sakura berjongkok di depan Fidel.
"Kenapa kamu mengendap-ngendap dan menakutiku? dan juga kenapa tidak menyalakan lampu?"
__ADS_1
"Maaf tapi semua lampunya tidak menyala tuan"
"Aku akan memeriksanya" Fidel mengambil ponsel yang sempat jatuh di sampingnya, ia berjalan menuju pusat listrik di rumahnya, rupanya tuas pada listrik rumahnya turun. Fidel menaikkannya dan lampu di rumahnya menyala dan terang.
Fidel berjalan menuju dapur, ia harus minum air untuk menenangkan dirinya. Sakura juga menghampirinya.
"Apa tuan masih merasa takut?"
"Tidak aku tidak takut, aku hanya terkejut" kilahnya.
"Ooohhh" Sakura dengan polosnya mempercayai kebohongan tuannya.
"Donat itu makanlah, aku sudah membawakannya untukmu" tunjuknya pada donat yang sempat di taruhnya di meja makan.
Sakura segera mengambil dan memakannya, sudut bibirnya membuat lengkungan tipis. Sakura amat senang dan menyukainya. Ia memakan makanan berlubang di tengahnya itu dengan lahap hingga tanpa sengaja ada coklat yang menempel pada ujung bibirnya.
Fidel tak dapat mengalihkan pandangannya, ia memberi Sakura tisu dan menunjuk sudut bibirnya yang tertempel sisa coklat.
Sakura menerima tisu tersebut dan mengusap coklat tersebut, ia menjadi salah tingkah mengetahui pria di hadapannya itu terus memandangnya.
"Tuan mau?" sambil menyodorkan donat yang sudah separuh di makannya. Fidel menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu sangat menyukai donat?"
"Iya rasanya manis, tuan Satrio selalu membelikannya untukku sehabis dia pulang bekerja"
"Benarkah? ternyata Satrio yang kejam itu punya sisi baik juga" Sakura masih asyik mengunyah makanannya.
"Terima kasih tuan sudah membelikanku donat dan maaf untuk kejadian tadi aku benar-benar tidak bermaksud menakuti tuan" ucapnya menyesal.
"Tidak apa-apa lain kali hubungi aku jika di rumah ada masalah, kamu sendirian di dalam rumah gelap. Aku rasa kamu pasti juga tadi ketakutan"
"Sedikit"
"Lain kali aku akan memberimu nomor ponselku, jika terjadi apa-apa kamu bisa langsung menghubungiku melalui telepon rumah"
"Terima kasih banyak, oia tuan sebagai permintaan maafku bagaimana jika tuan aku pijat lagi? tadi tuan jatuhkan, pasti tubuh tuan terasa sakit" Sakura menghabiskan sisa setengah donatnya dengan cepat kini ia beralih mendekati Fidel dan memegang bahunya mulai memijat.
"Sa-sakura aku tidak butuh di pijat" Fidel berusaha menyingkirkan tangan Sakura.
"Kenapa tuan? apa tuan tidak mau hanya di pijat? tuan juga mau di pijat plus plus?"
"Apa? pijat plus plus? kamu tahu apa yang kamu katakan Sakura?"
"Tahu tuan, pijat sambil itu kan?" ucapnya polos sambil menggerakan tangannya seolah mendorong dan menarik sesuatu.
Fidel seketika berdiri dari duduknya.
"Sakura aku sudah bilang, jangan samakan aku dengan Satrio aku tidak suka pijat plus plus"
"Tapi tuan" Sakura belum menyelesaikan perkataannya Fidel sudah lari menuju kamarnya meninggalkan Sakura. "Tuan" panggilnya tanpa di perdulikan Fidel.
"Aku lebih takut pijat plus plus Sakura dari pada nyai kunti, bukannya apa-apa aku takut ketagihan nanti di buatnya" Fidel berbicara sendiri, ia memilih untuk membersihkan dirinya dan tidur dari pada terus berpikiran kotor.
Sementara di ruang makan Sakura terduduk lesu.
"Tapi tuan Satrio tak pernah memintaku untuk melakukan itu, lagi pula pijat plus plus itu kan pijat dan bekam. Apa tuan juga tidak suka di bekam ya?" gumamnya berbicara sendiri.
***
__ADS_1
Lanjut besok lagi ya author ngantuk hehe
Semangat semuanya 😍