
Hari sudah malam, Fidel dan Sakura telah menghabiskan makan malamnya. Masakan Sakura terasa enak hingga Fidel menghabiskan semuanya, mungkin Sakura hanya makan seperempatnya saja sisanya di lahap oleh Fidel. Kini perutnya terasa begah, ia duduk bersandar di sofa ruang keluarga sambil mengelus-ngelusnya.
"Ah kenyang sekali"
Sakura menghampiri Fidel dan duduk di sampingnya.
"Apa tuan Fidel mau ku pijat?" tanyanya tiba-tiba.
"Aku tidak terbiasa di pijat"
"Biasanya tuan Satrio sehabis bekerja selalu memintaku memijatnya"
"Sudah aku bilang jangan samakan aku dengannya"
"Maaf" wajah Sakura terlihat sedih.
"Hem apa kamu benar-benar bisa memijat?" Fidel tidak tega melihat wajah murung Sakura.
"Iya dulu kami para budak sebelum di jual di beri pelatihan berbagai keterampilan, salah satunya memijat"
"Sepertinya kalian benar-benar di siapkan untuk di jual ya"
"Itulah tujuan kami di lahirkan" rasanya Fidel menjadi iba mendengar perkataan Sakura.
"Jangan berkata seperti itu, semua orang di lahirkan tidak dengan tujuan tidak baik. Kalau pun keadaannya kurang baik kita semua masih bisa memperbaikinya. Salah satunya kamu, bersyukurlah kamu mulai sekarang tidak akan ada yang menyakiti atau memaksamu bekerja lagi"
"Iya ini semua berkat tuan Fidel" ucapnya bersyukur dengan wajah datarnya.
"Baiklah sekarang cobalah kamu pijat aku" Fidel merebahkan dirinya di kasur lantai yang terpasang di bawah sofa.
"Tuan buka pakaiannya" pinta Sakura.
__ADS_1
"Kenapa harus membuka pakaian?" tanya Fidel panik sambil menyilangkan tangan di dadanya.
"Bagaimana aku bisa memijat tuan jika tuan memakai pakaian" jelasnya.
"Ma-maksudku apa harus semuanya di buka?" Fidel kembali gelagapan.
"Kalau bisa sih iya" seketika wajah Fidel terasa panas, pipinya merona.
"A-Aku tidak mau membuka semuanya, kaosku begini saja" Fidel menarik kaos yang di pakainya sampai ke dadanya, ia tak ingin membukanya. Sakura tak bisa membantah tuannya.
"Tuan balikkan tubuh anda" pintanya lagi.
"Be-begini?" Fidel memutar tubuhnya dan menelungkupkannya.
"Iya" Sakura mengambil sebuah botol yang berisi minyak, ia mengolesinya sedikit pada telapak tangannya dan mulai memijat punggung Fidel perlahan, rasanya enak dan nyaman, Fidel sangat menikmatinya sampai ia memejamkan matanya, minyak itu memiliki aroma harum yang menenangkan.
"Ahhhh" entah kenapa Fidel mengeluarkan suara itu, ia sadar dan segera menutup mulutnya.
"Biasanya orang akan bersendawa saat di pijat kenapa aku malah mendesah!" gumamnya sudah mulai kembali frustasi. "Apa yang aku pikirkan!"
"Kenapa tuan ini baru punggung saja yang aku pijat, dada, kaki tangan belum"
"Aku rasa tidak usah, ini sudah cukup kok"
"Kaki saja, biarkan aku memijat kaki tuan. Sepertinya tuan lelah akhir-akhir ini" tanoa aba-aba Sakura memijat kaki Fidel yang hanya mengenakan celana pendek.
"Aku rasa tidak perlu Sakura" Setiap sentuhan tangan Sakura selalu terasa nyaman, ia sepertinya tahu letak dimana otot-otot tubuh Fidel yang lelah sehingga Fidel pada akhirnya kembali tidak berkutik. "Ekhem ya sudah jika kamu memaksa Sakura sebentar saja pijat kakiku" Fidel membuang wajahnya malu.
Sakura tersenyum tipis ia tetap melanjutkan pekerjaanya, gerak tubuh dan tangannya terlihat lihai memijat. Juga rambut panjangnya yang tergerai menambah keayuan wajah cantiknya. Malam ini Sakura mengenakan pakaian baru yang di belikan Fidel, hanya saja yang ia pakai kali ini adalah pakaian yang sedikit terbuka, hanya seutas tali yang menyemat di pundaknya. Meski ia memadukannya dengan cardigan tetapi tetap saja bentuk asli pakaian dan tubuh sakura jelas terlihat. Fidel menelan salivanya, ia merasa sesuatu ada yang mulai bangun dari tidurnya dan mengeras.
Tangan Sakura naik memijat paha Fidel, ia refleks menahan tangan Sakura untuk melanjutkannya.
__ADS_1
"Sa-sakura aku tidak bisa di pijat di area itu" ucapan Fidel membuat Sakura sedikit bingung.
"Hem?"
"Maksudku jangan memijat pahaku rasanya terlalu geli aku tidak tahan"
"Huhhh padahal 'Hulk'ku yang tidak tahan jika sampai ia salah pegang aku bisa malu"
"Aku mengantuk, sebaiknya aku tidur sekarang. Terima kasih ya pijatannya" Fidel mendudukan dirinya kemudian ia bangun dan berjalan meninggalkan Sakura.
"Tapi tuan" perkataan Sakura tak di gubrisnya, Sakura hanya dapat melihat Fidel masuk ke kamarnya.
Fidel menutup pintu, ia bersandar pada kayu kotak berwarna coklat itu.
"Lebih baik sudahi saja dari pada nanti terjadi apa-apa, kalau sampai Hulk meminta masuk ke hutan kecil bisa gawat" Fidel menghela napasnya lega. Tak lama ia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi hendak menggosok gigi.
Setelah selesai membersihkan diri, Fidel langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Hari ini seperti kemarin rasanya sangat lelah karena kegiatannya padat. Dalam sekejap Fidel sudah tertidur pulas.
Kriiiing Kriiiingg
Dering alarm berbunyi, dengan mata tertutup Fidel menekan tombol di tengah jam wekernya, ia begitu hapal tempat menaruhnya. Ia masih merasa mengantuk dan masih malas untuk bangun, Fidel mencoba menarik bantal di sampingnya untuk melanjutkan tidur tetapi tangannya menyentuh sesuatu.
Ia menekan-nekan dan meremasnya, benda ini sedikit bulat dan terasa kenyal. Rasanya lembut, semakin menyentuhnya rasanya semakin menyenangkan, Fidel masih merasai benda di tangannya. Jika yang ia sentuh adalah tengah-tengah bantal kenapa rasanya begitu kenyal?
Fidel mencoba membuka matanya, untuk memastikan benda apa yang sebenarnya ia pegang, dan seketika matanya membulat mengetahui apa yang tengah ada di telungkup tangannya.
"Huuuwaaaa" teriaknya panik serta merta mendudukan dirinya.
"Mama tanganku, tanganku tak lagi suci aku sudah menyentuhnya benda kenyal itu!!" sesalnya dalam hati.
"Eh selamat pagi tuan" sapa gadis itu tanpa dosa.
__ADS_1
***
Lanjut besok lagi ya 😄