
"Kau ini menguping saja!" umpat Reno pada Jo.
"Kenapa juga kau menceritakan tentang penitimu itu cukup keras, kau ini lucu sekali. Kau yang mengumbar sendiri aibmu tapi kau menyalahkan orang lain" timpal Jo tak mau kalah, mereka berdua memang tidak cocok satu sama lain.
"Ah sudahlah aku tidak mau bicara denganmu, oia Sakura kalau boleh tahu apa hubunganmu dengan Fidel Brawijaya? kalian terlihat akrab" tanyanya penasaran.
"Tuan Fidel adalah pemilikku" jawabnya singkat membuat Reno mengeryitkan dahinya.
"Apa maksudmu dengan pemilik?"
"Tuan Fidel adalah orang yang memilikiku" jawabnya lagi rancu membuat Reno bertambah bingung.
"Kau ini sebagai laki-laki masa tidak mengerti maksud Sakura" Jo menambahkan.
"Aku semakin tidak mengerti" Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jo menghela napasnya.
"Sudahlah jika kau tak mengerti, lagipula itu hal yang tidak penting bagimu, ayo Sakura lebih baik kita masuk kelas" ajaknya, Jo merangkul tangan Sakura dan mengajaknya meninggalkan Reno.
"Tapi nona Jo"
"Sudah ayo Sakura"
"Aku sedang berbicara dengan Sakura, kenapa kau membawanya pergi!" ucapannya tak di dengarkan Jo, dia tetap membawa Sakura menjauhi Reno.
Tanpa mereka sadari tatapan Reno tak pernah lepas dari mereka, lebih tepatnya pada Sakura. Ia terus memandangnya hingga gadis itu semakin jauh darinya.
"Sakura sebaiknya kamu tidak terlalu dekat dengan Reno" Jo memperingatkan ketika mereka sudah sampai di kelas, Sakura menatap bingung pada teman barunya tersebut.
"Memangnya kenapa?"
"Reno itu bukan laki-laki yang baik setidaknya untuk gadis polos sepertimu" Jo menarik salah satu bangku, kemudian duduk, di ikuti oleh Sakura yang duduk di sampingnya.
"Aku baru mengenalnya kemarin, dan . ."
"Karena itu, kamu harus menjauhinya. Dia itu berandalan"
"Berandalan? bagiku dia itu sedikit lucu"
"Lucu? apa kamu tidak lihat penampilannya Sakura, dia sedikit berantakan dan memakai anting-anting, aku dengar dia memiliki tato di tubuhnya, yah selain tadi saat dia menceritakan padamu dia memakai peniti, tidak ada hal lucu lainnya pada dirinya, dia suka berkelahi dan terlibat banyak masalah. Dia juga terkenal suka mempermainkan wanita" jelasnya panjang lebar.
"Wanita?" Sakura seolah masih tidak percaya.
Jo menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Dari yang aku dengar, dia pernah menjalin hubungan dengan wanita yang usia lebih tua darinya. Wanita itu di jodohkan dengan orang lain, sehingga dia patah hati dan berubah menjadi brengs*k, dia jadi suka gonta ganti pacar. Tapi itu hanya gosip yang beredar dari mulut ke mulut, aku tidak tahu kebenarannya" Jo menyelesaikan ceritanya dengan helaan napas.
"Tapi menurutku dia baik" Sakura menyanggahnya, ia rasa Reno tak sebejad itu.
"Kamu ini terlalu polos Sakura, pasti semua orang kamu anggap baik kan"
"Ada yang tidak baik, yaitu Mami Stella dan tuan Satrio" gumamnya dalam hati.
Setidaknya itulah yang terlintas di kepalanya. Namun ketika mengingat Fidel, ia tak dapat menahan senyumnya, terlebih saat Fidel memberi perhatian untuknya.
"Hei apa yang kamu pikirkan sampai kamu senyum-senyum begitu Sakura?" goda Jo saat mendapati Sakura tersenyum dengan wajah merona. Sakura menggelengkan kepalanya menutupi rasa malunya.
"Ayolah katakan padaku, apa yang kamu pikirkan sampai kamu tersipu begitu?" Jo tak menyerah untuk menggoda temannya.
"Aku hanya teringat pada tuan Fidel" Sakura tertunduk malu.
"Aaaaa..." Jo mengangguk paham, pasangan yang sedang kasmaran memang seperti itu, selalu tersenyum jika mengingat pujaan hatinya. Itu adalah hal normal, setidaknya itu yang di pikirkan Jo tentang sakura.
Bel tanda masuk pun berbunyi, Reno memasuki kelasnya, dia duduk di bangku paling belakang, pandangannya tak bisa teralihkan pada Sakura yang duduk tak jauh tempatnya.
***
Saat berada di kantor, entah mengapa Fidel merasa sangat penasaran dengan keadaan sang kakak, ia ingin memastikan apakah kakaknya itu bekerja atau tidak, atau dia sudah mati di tangan kakak iparnya yang kesal sekali perihal konsol game yang berharga 6,2 milyar tersebut.
"Kak" panggilnya lirih sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Cakra. Rupanya sang kakak masih bernapas, dia tengah duduk di depan komputernya mengetik-ngetik sesuatu.
"Kenapa kakak tidak menjawab panggilanku?" tanya Fidel heran, biasanya sang kakak selalu cerewet dan bawel. Setelah mendekat barulah ia tahu.
Rambut Cakra berantakan, hidungnya merah, telinganya juga merah.
"Ada apa denganmu kak? apa kamu di siksa oleh kakak ipar?" tanyanya panik melihat keadaan Cakra.
"Hmmfftt hhmmmfftt Fideeelll" isaknya seperti anak kecil sambil memeluk adiknya yang mendekat.
"Haiissshhh jangan memelukku seperti ini kak aku geli" bukannya menenangkan Fidel malah merasa jijik dengan sikap kakaknya.
"Kamu dan Gayatri sama saja, tidak ada yang mengerti aku dan mengasihaniku"
"Kakak ini seperti anak kecil, ceritakanlah apa yang terjadi tapi jangan memelukku" Fidel menurunkan tangan Cakra yang melingkar di tubuhnya.
"Konsol game terbaruku di sita Gayatri, aku tidak tahu dia menyimpannya di mana. Harganya mahal aku takut dia merusaknya, kalau lecet juga bagaimana?" Fidel membuang napasnya kasar mendengar cerita Cakra.
"Haaahh aku kira kakak di sakiti kak Gayatri sampai memerah seperti ini"
__ADS_1
"Tidak, dia mana berani menyakitiku. Kalau dia berani mengangkat tangannya aku juga tidak segan-segan. ."
Cakra tidak melanjutkan ucapannya, pintu ruangannya terbuka rupanya Gayatri tengah berdiri sambil memandangnya tajam, dia membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Kakak akan apa tadi jika kak Gayatri mengangkat tangannya di depan kakak?" tanya Fidel memperkeruh, ia sengaja menjahili kakaknya.
"A-aku menerima belaian tangan istriku, aku akan tunduk dan patuh" ucapnya salah tingkah. Gayatri melangkahkan kakinya mendekati meja Cakra, dia ketakutan.
Braaakkkk
Gayatri membanting dokumen-dokumen tersebut di atas meja hingga Fidel dan Cakra terperanjak hampir melompat. Gayatri memasang wajah seramnya dan tak mengeluarkan komentar apa pun lalu berjalan pergi keluar dari ruangan suaminya.
Fidel dan Cakra sama-sama menghela napas seperti habis menghadapi singa.
"Kau ini kak sudah tahu kak Gayatri tidak suka sikap borosmu, untuk apa malah membeli game sampai semahal itu. Lagipula kau ini golongan suami takut istri akut. Hahaha" Fidel mentertawakannya.
"Kau ini bahagia melihat kakakmu menderita, Gayatri memeriksa rekening koranku, aku juga sudah berusaha menyembunyikan konsol game itu tetapi dia berhasil menemukannya, dia seperti memiliki mata Byakugan milik mata Hinata istrinya Naruto yang bisa menerawang benda-benda di dalam rumah meski sudah di tutupi dengan apa pun" jelasnya membawa-bawa cerita anime.
"Kau ini menghayal kak, aku kira wajahmu memerah karena di aniyaya tahunya hanya gara-gara menangisi konsol game. Lalu apa kakak tidak kapok dan masih mau membeli game terbaru lagi?"
"Tentu saja, aku masih bisa membelinya lain kali" ucapnya enteng namun tiba-tiba udara menjadi dingin, angin berhembus tak tahu dari mana asalnya membuat bulu kuduk Cakra merinding seperti ada suatu mahluk yang memperhatikannya. Lampu di ruangannya berkedip-kedip seperti akan mati, Fidel dan Cakra mendongakkan kepalanya ke atas.
"Aku punya firasat buruk" Cakra menelan salivanya.
Rupanya Gayatri tengah berdiri di depan pintu, entah kenapa hari ini pintu setiap di buka tidak mengeluarkan bunyi. Cakra membelalakan matanya dan menolehkan lehernya yang kaku secara perlahan.
"Kak sebaiknya aku pergi dulu, pekerjaanku menumpuk" Fidel pun merasa ngeri, ia berlari kabur dari ruangan Cakra melewati Gayatri.
"Eh Fi-Fidel kenapa kau meninggalkan kakak, kakak butuh kau Fidel" Cakra berteriak sambil memelas, Gayatri menggulung dokumen yang di pegangnya dan memukul-mukulnya pada tangannya sambil berjalan mendekati Cakra.
"A-aku hanya bercanda sayang, aku berjanji tidak akan membeli game baru lagi" Gayatri semakin dekat, wajah Cakra panik.
Bugghhhh
"FFFIIDDDEEELLL" teriaknya kencang meminta pertolongan adiknya.
Suara Cakra sampai terdengar menggema ke ruangan Fidel, adiknya itu hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar!! takut istri saja sok berani menantangnya. Yah hanya kak Gayatri yang sabar menghadapi kakak, bersyukurlah kak meski kak Gayatri sedikit galak" gumamnya berbicara sendiri dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Jangan lupa Jempol, komen dan Votenya ya biar author tambah semangat.
__ADS_1
Tanpa kalian apalah arti tulisan author. Hehe