
Pagi itu hari yang cerah, setelah Fidel membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian kerjanya ia beranjak keluar dari kamar. Hari ini masih jadwalnya pergi ke perusahaan, ia mengenakan setelan jas dan menenteng tasnya. Ia berjalan menuju dapur menunggu Sakura menyajikan makanannya. Sebelum sampai di dapur ia teringat kebiasaan Sakura yang suka melepas pakaiannya bahkan kemarin ia hanya mengenakan celemek tanpa pakaian dan dalaman. Fidel jadi mengendap-ngendap ia ingin memastikan terlebih dahulu apa Sakura masih dengan kebiasaannya itu atau tidak karena tidak dapat di pungkiri sulit untuknya menahan diri jika terus-terusan di beri pemandangan indah tubuh mulus jenjang Sakura.
Fidel berjalan jinjit dan bersembunyi di balik tembok, ia mencari dimana keberadaan Sakura, terdengar sayup-sayup suara pisau, sepertinya Sakura sedang mengiris sesuatu.
Fidel mendorong kepalanya perlahan, tubuhnya masih ia sembunyikan selama beberapa detik berlalu. Kemudian ia melihat pantulan dirinya sendiri pada sebuah cermin lemari di dekat dapur.
"Tunggu dulu, kenapa aku mengendap-ngendap di rumahku sendiri? dan apa yang sebenarnya aku lakukan? apa aku mencoba mengintip Sakura? dia kan tidak sedang mandi, dia sedang memasak. Ahhh aku rasa aku mulai terkena syndrome voyeurisme (Mesum, gejalanya suka mengintip)"Fidel bergidik merinding, karakternya seketika berubah saat tinggal bersama Sakura.
Saat Fidel sedang berpikir dan meratapi perubahan dirinya, tiba-tiba Sakura berteriak dan mengaduh.
"Akkkhh" pekik Sakura saat jarinya tanpa sengaja teriris pisau. Cairan kental berwarna merah mengalir deras dari telunjuknya meski luka itu tidak dalam.
"Ada apa!" teriak Fidel keluar dari tempat persembunyiannya, ia langsung menghampiri Sakura. Melihat luka pada jari Sakura tanpa permisi ia langsung mengulumnya memasukkan ke dalam mulutnya sambil mengesapnya.
Kedua mata Sakura membulat, jantungnya berdetak dengan cepat, tubuhnya terasa lemas seperti tak bertulang saat rongga hangat itu menghisap lembut jemarinya. Secara tidak sadar Sakura menahan napasnya, ia berusaha mempertahankan diri agar tidak terjatuh. Ini benar-benar bukan karena kehabisan darah, darah yang keluar tak seberapa banyak tetapi hatinya, hatinya luluh lantah.
"Tunggu sebentar aku akan mengambilkan obat" ucap Fidel melepas tangan Sakura dan pergi meninggalkannya, tak lama kemudian ia kembali dengan kotak putih berisi obat-obatan untuk pertolongan pertama. Fidel menarik Sakura mendudukkannya di kursi ruang makan.
"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati untung bukan jarimu yang terpotong" Fidel berjongkok sedang melingkarkan plester pada luka Sakura.
Gadis itu hanya bisa diam sambil memandang wajah pemiliknya, wajahnya terasa hangat.
"Apa masih sakit?" tanya Fidel, pandangan mereka bertemu.
Sakura menggelengkan kepalanya, tak tahan dengan tatapan Fidel, Sakura menundukkan kepalanya dan berusaha meniup-niup tangannya, ia salah tingkah.
Fidel memperhatikan bibir mungil Sakura yang maju-maju meniupkan udara segar di hadapan wajahnya, tubuhnya bergetar, Bibir itu memikat dirinya. Bibir tipis berwarna pink di wajah putih mulus Sakura terlihat menggoda, rasanya ia ingin memakannya.
"Sakura bibirmu itu, Akkkhhhh" Fidel meremas jemarinya seketika ia langsung berdiri.
"Ekhem aku akan memakan roti saja untuk sarapan kali ini, kamu buatlah makanan untuk dirimu sendiri dan juga aku akan pulang malam jadi kamu jangan menungguku"
"Baik tuan"
"Jangan lupa rapikan kembali kotak obatnya dan taruh di tempatnya" Fidel melangkahkan kakinya, Sakura melihat tas yang lupa di bawa Fidel dan memberikannya.
"Tuan tas anda" Sakura menyodorkannya, Fidel mengambil dan menerimanya.
"Terima kasih, oia apa kamu mau aku bawakan donat saat pulang kerja nanti?" tawarinya, Sakura mengulas senyum manisnya dan menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu nanti akan ku bawakan" Fidel melangkahkan kakinya kembali.
__ADS_1
"Tunggu tuan" Sakura mengejar Fidel, tanpa di duga Sakura meraih tangan kanan Fidel dan meletakkannya di atas kepalanya. Mata polos itu memandang wajah Fidel sambil tersenyum bahagia, seulas senyumpun terpatri juga dari bibir Fidel ketika menyadari maksud Sakura. Fidel mengelus-ngelus kepala Sakura pelan.
"Aku berangkat ya" pamitnya lagi, Fidel melangkahkan kakinya meninggalkan Sakura sambil menutup pintu rumahnya.
Sakura mengamati kepergian Fidel dari jendela hingga ia menaiki mobilnya dan pergi, Sakura merasa sedih karena ia kembali merasa kesepian tanpa ada yang menemani.
***
Fidel sudah sampai di perusahaan, ia kini sedang menghadiri rapat. Ia duduk bersebelahan dengan kakaknya. Fidel memandang malas pada sosok lelaki paruh baya yang memimpin rapat kali ini.
"Kurasa paman Alex tidak akan menyetujui perluasan kantor cabang ini" bisik Cakra sambil menutup map di depannya.
Fidel tidak menanggapi perkataan kakaknya, jujur saja ia tidak tertarik dengan urusan bisnis dan perusahaannya. Impiannya adalah menjadi dokter profesional. Dia terpaksa ikut andil hanya karena tidak tega melihat kakaknya mengemban amanat sang ayah sendirian.
"Kamu sepertinya tidak tertarik sama sekali ya" komentar sang kakak.
"Kamu sudah tahu jawabannya kan kak" Fidel beralih memandang malas pada kakaknya.
"Ah iya aku tahu, oia ada yang ingin kutanyakan Fidel"
"Ada apa?"
"Kemarin aku melihat rekening koranmu, ada pengeluaran luar biasa akhir-akhir ini, Apa yang kamu lakukan?" tanya kakaknya menyelidik.
"Iya aku melakukan beberapa transaksi besar" Fidel memilih untuk jujur dan tak ingin membohongi kakaknya.
"Transaksi apa itu? kenapa sampai mengeluarkan banyak uang?" Sang kakak semakin penasaran.
"Ceritanya agak rumit, aku sendiri melakukannya tanpa pikir panjang kak" Cakra mengeryitkan keningnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan seorang gadis?" tebak Cakra.
"Kenapa dalan pikiranmu hanya tentang perempuan saja kak?" kesalnya.
"Oh aku salah ya"
"Tidak sepenuhnya salah sih kak" koreksi Fidel.
"Jadi benar ada hubungannya dengan seorang gadis?" Cakra terlihat antusias.
"Kenapa kakak terdengar sangat bersemangat?"
__ADS_1
"Masa sih? padahal aku biasa saja" kilah Cakra, sebenarnya ia merasa sangat senang jika Fidel mau bercerita tentang seorang gadis, selama ini adiknya itu tidak dekat perempuan, bahkan pacaran pun tidak pernah.
Fidel tidak percaya dengan kilah kakaknya.
"Jadi apa yang kamu berikan padanya? apa dia meminta barang-barang mewah? apa dia meminta di belikan mobil? rumah? perhiasan? berlian? apa kamu begitu mencintainya sampai-sampai rela mengeluarkan banyak uang demi dia?" pertanyaan Cakra menggebu-gebu berbanding terbalik dengan perkataannya tadi.
"Lihat betapa antusiasnya dirimu kak!" Cakra hanya tersenyum malu tadi ia kelepasan bertanya.
Fidel membuang napasnya kasar, ia mulai kembali frustasi.
"Sebenarnya aku membelinya" Cakra melongo mencoba mencerna apa yang di dengarnya.
"Apa maksudmu dengan membelinya Fidel?"
"Saat itu dia dianiyaya oleh pria bernama Satrio, aku tidak tahan melihatnya jadi aku ingin menyelamatkannya dan si Satrio itu bilang aku harus membelinya jika ingin membebaskannya. Setelah aku memberikan sejumlah uang, gadis itu di lepaskan dan dia mulai mengikutiku dan mengatakan kalau dirinya adalah seorang budak dan seorang budak harus mengikuti pembelinya" jelas Fidel panjang lebar teringat saat pertama kali bertemu Sakura.
Cakra belum bisa menangkap cerita Fidel, apa maksudnya budak dan siapa Satrio itu?
"Aku juga tidak begitu mengerti kak, Sakura bilang sebelum di jual ia tinggal di tempat bernama Griya bersama, tempat prostitusi dan jual beli gadis-gadis muda dengan kedok tempat singgah untuk anak yatim piatu"
"Tunggu dulu jadi gadis itu bernama Sakura?" Cakra hanya bersemangat pada cerita gadis itu.
"Iya"
"Sekarang kalian tinggal bersama?" pertanyaan paling mendasar akhirnya terlontar dari mulut Cakra.
"Begitulah"
"Maksud prostitusi tadi apakah budak juga melayani s*ks untuk pembelinya?"
"Hem" Fidel menganggukan kepalanya.
"JADI ADIK KESAYANGANKU INI SUDAH TIDAK PERJAKA??" teriak Cakra membuat semua yang ada di ruang rapat memperhatikan mereka.
"Kak kau ini apa-apaan sih!!" Fidel meremas-remas tangannya di depan wajah Cakra sambil membelalakan matanya, rasanya ingin sekali ia menyumpali mulut kakaknya itu dengan berkas-berkas yang ada di depannya.
***
Bersambung
Semangatin author terus ya
__ADS_1
Semoga suka dan terhibur 😍