My Slave Beauty

My Slave Beauty
Wanita Yang Di Cintai


__ADS_3

"Apa? Menikah?"


"Bagaimana apa kamu mau Sakura?" tanya Fidel penasaran, ia memandang gadis yang dilamarnya itu lekat-lekat.


"Aku. . Aku tidak tahu tuan" Sakura membuang wajahnya tak bisa memandang wajah Fidel.


"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, kamu pun bisa memikirkannya dulu, aku akan menunggu sampai kamu siap menjawabnya" Fidel mengerti kebimbangan hati Sakura, mereka baru saja saling mengenal dan hidup bersama selama beberapa bulan, meski kelihatannya Sakura itu kaku tetapi tetap saja dia hanyalah manusia biasa yang memiliki perasaan.


Fidel melepaskan tangan Sakura.


"Kamu lanjutkanlah makan kuenya, aku akan mandi dulu" Ucapnya seraya pergi meninggalkan Sakura. Gadis itu termenung memandang Fidel yang menutup pintu kamarnya.


"Bukannya aku tidak mau, hanya saja aku tidak tahu apa kita bisa menikah, selain karena diriku yang tidak memiliki keluarga, aku juga tidak yakin mami Stella akan membiarkan kita melakukannya" Sakura berkata pelan, sebenarnya hatinya sesak tak bisa menerima lamaran Fidel. Dia meremas ujung pakaiannya erat menahan tangisnya.


Pemuda tersebut sebenarnya pergi bukan karena ingin membersihkan diri, ia merasa sangat gugup. Untuk pertama kalinya ia melamar seorang wanita dan tak pernah terbayangkan akan melamar gadis yang statusnya masih pelajar juga baru ditemui dalam waktu singkat yaitu kurang dari 6 bulan. Fidel menjambak rambutnya sendiri.


"Apa timing aku melamarnya sekarang salah? apa aku memang terlalu cepat? namun menurut kak Cakra kan lebih cepat lebih baik, akhhh kenapa aku harus menuruti perkataannya" Fidel membuang rambutnya kasar.


"Aku benar-benar harus mandi"


***


Cakra berjalan perlahan menuju kamarnya, ia mendorong gagang pintu dan melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap seperti seorang maling, tak lupa ia tetap menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya agar tak terlihat. Cakra mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Gayatri, ternyata istrinya tersebut berada di ruang ganti sedang memakai cream malamnya.


Cakra berjinjit ingin memberi kejutan, sedikit lagi saja langkah kakinya sampai. Cakra mengangkat kedua tangannya akan mendorong bahu Gayatri.


"Hentikan candaanmu itu, atau aku tidak akan pernah memberi tahu dimana konsol gamemu itu berada" ancamnya tenang sambil memutar tubuhnya menghadap Cakra.


"Yaaahhh maaf sayang, aku hanya iseng. Ini aku membawakan ini untukmu" ucapnya memberikan sebuah buket bunga mawar berwarna merah. Gayatri memerima buket bunga tersebut, mencium aromanya lalu menaruhnya di atas meja kosmetik di depannya.


"Kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih pada suamimu yang baik hati ini?" Cakra mendekat dan memeluk bahu Gayatri yang sedang duduk berkaca melanjutkan kegiatannya, Gayatri tersenyum kecut lalu menyikut perut Cakra yang berada tepat di belakang lengannya.


"Aw sakit sayang!!" ucapnya mengaduh sambil memegang perutnya.


"Aku belum melupakan masalah konsol gamemu, jangan mencoba terus merayuku!" tegasnya.

__ADS_1


"Wanita itu memang ya, ingatannya itu seperti buku sejarah. Sepertinya setiap kesalahan laki-laki akan selalu di ungkit dan tidak akan di lupakannya"


"Iya memang wanita seperti itu, lalu kenapa? kamu tidak suka?" Gayatri memicingkan matanya tajam ke arah Cakra, seketika suamu takut istri itu menyadari kesalahannya dan memasang wajah manis.


"Suka kok, aku suka pelajaran sejarah tetapi aku lebih suka lagi pelajaran biologi" ucapnya menyeringai nakal. "Selain membawa bunga, aku juga membawa ini" Cakra dengan bangga memperlihatkan pengaman yang baru di belinya, kond*m berwarna hitam dengan gambar laki-laki dan perempuan memakai selimut merah ( Yang tahu merknya bisik-bisik ya jangan berisik 😂).


Gayatri menghela napasnya dan mendudukan kepalanya, wajahnya terlihat sendu. Cakra yang awalnya ceria kini ikut murung, ia tahu istrinya pasti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa? apa ada yang membicarakan hal buruk tentangmu lagi?" tanyanya kali ini Cakra tidak bercanda, dia memegang tangan Gayatri sambil berjongkok di depannya.


Istrinya tersebut menganggukan kepalanya.


"Apa ibumu memarahimu lagi karena sampai saat ini kamu belum hamil?" Gayatri mengangguk lagi, pernikahan Cakra dan Gayatri sudah berjalan selama 3 tahun, hingga kini memang Gayatri belum bisa memberikan keturunan untuk Cakra, seringkali ibu mertua Cakra tersebut mengomel kepada anaknya supaya cepat memberi momongan agar keluarga Cakra senang, keluarga Gayatri takut Cakra akan menceraikannya jika dia belum hamil juga.


"Ahhh lain kali biar aku yang berbicara dengan ibu mertua"


Gayatri mengangkat kepalanya.


"Jangan, ibu akan lebih memarahiku jika kamu memarahinya"


"Aku baik-baik saja, aku hanya merasa bersalah kepadamu, aku tahu kamu pasti sangat mengharapkan kehadiran seorang anak"


"Tidak, aku tidak mengharapkannya jika Tuhan belum memberinya"


"Lalu bagaimana jika kamu menikah lagi? carilah wanita yang bisa memberikanmu keturunan dengan segera" Cakra membelalakan matanya memandang Gayatri.


"Kenapa kamu terus berkata begitu, aku hanya mau dirimu tidak wanita lain, tidak juga seorang anak jika bukan dari rahimmu"


"Aku merasa diriku tidak pantas untukmu" Gayatri menitikan air mata, setiap obrolan masalah kehamilan membuatnya selalu merasa terpuruk dan sedih, menganggapnya belum menjadi perempuan seutuhnya.


Cakra mengusap air mata di pipinya pelan dan memeluknya.


"Jangan lagi membicarakan hal ini, aku tidak suka. Bagiku hanya kamu wanita yang bisa mendampingiku, kau tahu tak ada wanita yang kuat dengan tingkah laku konyolku, cuma kamu yang bisa menghadapinya dengan tenang" ucapannya membuat Gayatri tertawa.


"Lalu diriku yang bukan dari keluarga berada dan juga galak kamu bisa menerimanya?" Gayatri melepas pelukan Cakra.

__ADS_1


"Of course, darimana pun asalmu, bagaimanapun galakmu aku bisa menerima kamu apa adanya, sudah jangan menangis lagi, aku sayang dengan creammu, cream yang baru kamu pakai itu mahal, sayang jika luntur hanya karena terkena air mata" godanya membuat Gayatri tersenyum.


"Kamu lebih sayang cream wajah daripada aku"


"Aku lebih sayang ini jika tidak di gunakan" ucapnya kembali mengangkat pengaman yang di pegangnya. "Ayo kita harus mempergunakan barang yang kita beli dengan baik" Cakra berdiri kemudian menarik tangan Gayatri menuju ke arah ranjangnya. Dia tidak ingin berlama-lama melihat kesedihan istrinya.


"Sebentar aku harus menyisihkannya dulu, aku harus membaginya dengan seseorang sekarang agar dia juga tahu sensasinya" Cakra membuka bungkus pengaman tersebut dan memisahkan salah satunya.


"Kamu akan memberikannya pada siapa?"


"Pada Fidel, dia mana berani membeli ini sendiri"


"Sebaiknya kita jangan memakai itu sekarang" tunjuk Gayatri pada benda itu.


"Kenapa?"


"Percuma, sebelum keluar kamu akan melepasnya dan tetap memuntahkannya di dalam rahimku, hanya hambur-hambur plastik"


"Oh istriku nakal sekali" Cakra menyipitkan matanya menggoda Gayatri. "Kalau begitu aku tidak akan memakai sarung sesuai perkataanmu"


Cakra melompat ke arah kasur menimpa Gayatri, mereka menuntaskan malam panjang dan panas dengan suara desau seisi kamar.


Kriet kriet kriet


Bunyi springbed yang bergoyang karena tekanan orang yang menidurinya, bunyi itu seirama gerakan pinggul Cakra.


"Ranjang ini berisik sekali" keluhnya sambil melanjutkan kegiatannya.


"Itu karena kamu terlalu aktif"


"Apa iya? pokoknya besok kita beli ranjang baru, besi di dalam ranjang merk ini tidak bagus"


kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet kriet


Malam itu bunyi ranjang Cakra begitu menggema.

__ADS_1


Jangan di bayangin ya semoga terhibur 😄✌


__ADS_2