My Slave Beauty

My Slave Beauty
Demi Sakura


__ADS_3

Siang hari setelah puas mentertawakan sang kakak yang berhasil ia kerjai kini Fidel tengah sibuk memeriksa dokumen yang ada di komputernya. Mata hitamnya fokus pada layar 14inci itu sambil mengetik-ngetik sesuatu.


Ddrrtt Drrtt


Getar ponsel miliknya yang ia taruh di atas meja, Fidel sempat meliriknya, sebuah panggilan video. Siapa yang melakukan panggilan video untuknya? jujur saja ia orang yang malas untuk menerima panggilan tatap muka atau kirim pesan suara. Fidel sempat mendiamkan beberapa kali panggilan tersebut tetapi lagi-lagi ponselnya bergetar tanda sang pemanggil ingin sekali terhubung dengannya.


Fidel beralih mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan video tersebut.


Video mulai terhubung, layar ponsel Fidel menampakkan sebuah punggung wanita cantik berambut panjang.


"Kenapa melakukan panggilan video jika akan memunggungiku?" ucapnya namun ternyata suara itu sampai pada penelfon, gadis itu menoleh.


"Oh kamu sakura?"


"Iya tuan, aku sedang mencoba menghubungi tuan dengan video call" ucapnya, kini wajah Sakura memenuhi layar ponsel Fidel.


"Lalu bagaimana sudah bisa kan kamu menggunakan ponsel yang aku berikan?"


"Sudah tuan" jawabnya.


"Syukurlah"


"Oh iya tuan aku ingin meminta tolong"


"Tolong apa?"


"Maaf apa tuan bisa tolong sampaikan ucapan terima kasihku untuk tuan Cakra"


"Kakakku? ada apa?" Fidel duduk dengan tegak, ia ingin tahu apa yang Cakra lakukan hingga Sakura berterima kasih padanya.


"Tadi ada sebuah paket untukku di antar ke rumah, pengirimnya adalah tuan Cakra"


"Paket? isinya apa Sakura?" Fidel semakin penasaran di buatnya.


"Awas saja jika dia memberikan benda aneh lagi pada Sakura! lain kali aku berikan obat pencahar tanpa henti untuknya, biar sekalian kosong dan dehidrasi tubuhnya! umpatnya dalam hati.


"Tuan Cakra memberikanku pakaian"


"Pakaian apa Sakura?"


"Jangan-jangan lingerie"


"Sebentar tuan" Sakura meletakkan ponsel miliknya dan pergi mengambil sesuatu, sebuah dus dengan ukuran cukup besar.

__ADS_1


"Lingerie sebanyak itu? Waaawwwww"


"Tuan Cakra memberiku ini" Sakura mengangkat satu potong pakaian itu dan menunjukkannya pada Fidel.


"Seperti seragam sailormoon" gumamnya dalam hati.


"Ini seragam sekolahku tuan"


"Oohhhh aku tidak jadi melihatnya memakai lingerie ya"


"Heemmmm, nanti cucilah seragam itu, minggu depan kan kamu mulai bersekolah"


"Iya tuan, jika tuan bertemu tuan Cakra tolong sampaikan rasa terima kasihku untuknya, aku sangat senang menerima ini" Sakura memandang seragam sekolah itu dan memeluknya.


"Rasanya kamu belum pernah sesenang itu di beri sesuatu olehku Sakura" Fidel mulai iri.


"Iya nanti akan ku sampaikan, oia apa kamu mau aku belikan donat sepulang kerja nanti?"


"Boleh kalau tidak merepotkan tuan"


"Tidak repot kok, kalau begitu sudah dulu ya aku sedang bekerja saat ini"


"Iya tuan maaf aku sudah mengganggu, selamat bekerja tuan"


"Iya terima kasih Sakura" Fidel memutus panggilan video tersebut dan meletakkan kembali ponselnya.


Panggilan video dari Sakura lagi, dengan sedikit malas Fidel menerima panggilan itu kembali.


"Ada apa lagi Sakura?"


"Semangat bekerjanya tuan, aku menunggumu pulang. Muuuaaaccchhh" Sakura memajukan bibirnya pada layar ponsel, bibir manyumnya terlihat jelas dan terlihat besar. Seketika itu pula panggilan video berakhir, Sakura yang memutuskannya.


Mendapat kecupan jarak jauh dari Sakura Fidel jadi tersenyum, ia tak menyangka Sakura akan melakukannya, ini pengalaman pertamanya mendapat ciuman virtual dari seorang gadis.


Bibir Fidel tak bisa berhenti tersenyum, sambil mengetik sesuatu ia tersenyum kemudian mengambil dan mengamati ponselnya lagi sambil tersenyum, ia menjadi salah tingkah dan tidak fokus bekerja.


"Hadehhh kamu ssperti orang gila senyum-senyum sendiri terus" suara itu tiba-tiba datang. Rupanya dari tadi Cakra memperhatikan gerak gerik Fidel, ia berdiri sambil bersandar pada kusen pintu. Senyum manis Fidel hilang dan lenyap begitu melihat Cakra.


"Ada perlu apa kakak ke ruanganku?" Fidel berusaha bersikap wajar, ia mengalihkan pandangannya kembali pada komputer.


"Ayo ngaku ini pasti gara-gara Sakura kan? kamu tersenyum seperti tadi" Cakra melangkahkan kakinya mendekati Fidel.


"Jangan sok tahu, ini bukan urusan kakak!"

__ADS_1


"Jelas urusankulah, apa Sakura sekarang berada di rumah sendirian?" tanya Cakra mendudukan dirinya di meja Fidel sambil mengambil satu dokumen dan membuka-bukanya asal.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Kalau tidak salah ingat sih tadi pagi ibu bilang akan berkunjung ke rumahmu, semoga ibu tidak salah paham ya melihat kamu tinggal berduaan dengan Sakura dan gadis yang polos itu akan di introgasi, kira-kira dia bilang tidak ya kalian sering tidur bersama, semoga ibu tidak berpikiran untuk mengusirnya"


"Haiiissshhh kenapa kamu tidak bilang dari tadi sih kak!" Fidel mulai grasak grusuk mencari sesuatu.


"Sengaja! biar sekalian kalian di kawinkan. Hahahaha"


"Ini bukan waktunya kawin ka, maksudku nikah. Aduh kunci mobilku ada dimana, aku harus cepat pulang jika begitu" Fidel mengangkat beberapa dokumen di atas mejanya sampai ia mendorong Cakra karena menghalanginya.


"Ini maksudmu?" Cakra memegang kunci mobil Fidel dengan kedua jarinya.


"Terima kasih kak" Fidel baru akan mengambilnya tapi Cakra menarik tangannya menyembunyikan kunci di belakang punggungnya.


"Eits tunggu dulu, kamu tadi pagi memberiku obat sakit perut kan? mana obat diarenya, kamu pasti membawa obat-obatan kan di dalam tasmu?" Fidel terbiasa membawa stok macam-macam obat di dalam tas kerja miliknya.


"Obat apa kak aku tidak melakukan apa-apa pada kakak" kilahnya sambil berusaha mengambil kunci mobilnya.


"Kalau tidak mau mengaku ya sudah aku pergi, sebentar lagi Sakura mungkin akan di siram air oleh ibu di anggap wanita jal*ng karena tidur setiap hari dengan anaknya menyangka gadis itu mengambil kesucian anaknya" Cakra menaruh kunci mobil itu ke dalam sakunya dan melangkah menuju pintu.


"Haaahhh iya aku menaruh obat pencahar pada makanan kakak tadi pagi, ini obat diarenya cari sendiri" Fidel membuka sleting dalam tas kerjanya dan menumpahkan banyak macam-macam obat di atas meja.


Cakra kembali menuju meja Fidel.


"Kunciku kak" rengek Fidel dengan wajah memelas.


"Ini bawa mobilnya pelan-pelan, jangan lupa berdoa semoga saat kamu sampai di rumah Sakura masih ada di sana" ucap sang kakak tak hentinya menakut-nakuti adiknya.


"Heemmm semoga" Fidel meraih kunci dan segera berlari menuju pintu keluar dan pulang.


Cakra memperhatikan Fidel pergi kemudian ia beralih mencari obat diare di atas meja Fidel.


"Dia kalau urusan yang menyangkut Sakura buru-buru sekali, tunggu dulu dia ini sebenarnya dokter apa tukang warung. setiap hari membawa obat-obatan seperti ini, paramex, bodrek ekstra, bodrek migra, komik flu dan batuk, jamu cap kupu-kupu, adem sari, vegeta?, aaakkhhh aku tidak butuh kalian" Cakra masih mencari obat yang biasanya dia gunakan. "Nah ini dia, entrostop" senyumnya mengembang, sebentar lagi ia akan mengucapkan selamat tinggal pada mencret-mencretnya.


***


"Fiiiideeellll"


Panggil seorang wanita paruh baya saat ia berhasil masuk ke rumahnya dengan tangan yang menenteng sebuah bungkusan, rumahnya begitu sepi seperti kuburan.


"Anak itu ceroboh sekali tidak mengunci pintu rumah, aku akan memarahinya jika dia pulang nanti" gerutunya, ia melenggang menuju dapur membuka bungkusan yang di bawanya dan menatanya pada sebuah wadah sebelum memasukkannya pada kulkas.

__ADS_1


"Anuuu maaf anda siapa?" suara lirih dari pintu dapur, wanita itu mendongak dan terpaku, butuh beberapa detik sebelum inderanya kembali bekerja dan merespon.


"Kau siapa?"


__ADS_2