My Slave Beauty

My Slave Beauty
Libur


__ADS_3

Pintu kamar mandi terdengar terbuka, seseorang keluar dari sana. Sakura sudah mengenakan kaos dan celana Fidel yang kebesaran untuk tubuh kurusnya. Itu lebih baik di bandingkan dengan pakaian mininya.


Saat Sakura menghampiri Fidel, dia sudah tertidur. Ada suara dengkuran kecil juga mulutnya yang sedikit menganga. Mungkin karena lelah, Sakura membenarkan selimutnya yang turun.


Gadis itu mendudukkan dirinya di samping Fidel memandangnya lekat-lekat, lalu memegangi tangannya. Ada perasaan bahagia, sedih juga merasa bersalah. Sebelum bertemu dengannya pasti kehidupan Fidel baik-baik saja, tetapi setelah kemunculan Sakura, dia sepertinya sering merasa frustasi. Haruskah ia tinggal terpisah dengan Fidel?


Tanpa Sakura sadari dirinya juga mengantuk, ia bersandar pada ranjang Fidel dan tertidur. Fidel bermimpi dirinya jatuh hingga tubuh aslinya terperanjak dan membuka mata, terkadang mimpi bisa membuat kita terkejut betulan.


Fidel mengedarkan pandangannya, rupanya Sakura tidur dalam posisi duduk. Wajahnya begitu dekat, tangan Fidel perlahan membelai rambut hitamnya. Saat tertidur wajahnya tetap cantik meski aura kesedihan tetap terlihat di pelupuk matanya yang masih tersisa sedikit air mata.



Besar harapan Fidel untuk membuat Sakura bahagia menjalani hari-harinya, menjadi diri sendiri, bebas menjalani hidup, semoga saja gadis ini mau menerima Fidel untuk menjadi pendampingnya. Tak terasa Fidel kembali menutup matanya, keduanya sudah melalui hari yang berat.


Pagi menjelang, Sakura terlihat sedang membereskan sofa di ruang perawatan Fidel.


"Pagi Sakura" sapanya sambil membersihkan kotoran putih di sisi matanya.


"Eh pagi juga tuan, anda butuh sesuatu?" tanyanya menghampiri Fidel.


"Iya, bisa tolong bantu aku duduk Sakura, rasanya badanku pegal karena rebahan terus" ucapnya sambil mencoba duduk dengan menopang pada kedua tangannya secara sigap Sakura segera membantunya.


"Aduh sakit" keluhnya merasa sakit pada bagian pinggul.


Karena tenaga Sakura sedikit lemah, ia tersungkur duduk di samping Fidel dengan posisi memeluknya. Beruntung Fidel dapat menahan tubuh Sakura.


Keduanya terkejut, perlahan Sakura mendorong tubuhnya, kini mereka duduk berhadapan, jarak wajah keduanya begitu dekat, mereka saling berpandangan.


Sakura beranjak akan menjauh namun Fidel menahan dan menarik tangannya untuk tetap di sana. Dengan refleks Sakura mempersempit jarak di antara mereka, ia mendekatkan bibirnya akan mencium Fidel.


"Sakura"


"Iya tuan" Sakura menghentikan aksinya dan membuka lagi kedua matanya yang sempat terpejam.


"Jangan menciumku, bibirku masih sakit" di ujung bibir Fidel memang terdapat sedikit luka.


"Oh maaf tuan aku kira. ." Sakura menundukkan wajahnya malu lalu memundurkan tubuhnya hingga membuat Fidel terkekeh.

__ADS_1


"Rupanya kamu sangat ingin ya? baiklah kalau sedikit mungkin tidak apa-apa" Fidel menarik tengkuk leher Sakura kembali mendekatkan wajahnya.


Brakkk


"Adikku kakak datang" Cakra berjalan masuk dan melihat Fidel yang hampir berciuman. "Upppsss pagi-pagi sudah bermesraan"


Dengan segera Sakura turun dari ranjang Fidel dan berdiri.


"Kau ini kenapa sih kak selalu datang di waktu yang tidak tepat" ucapnya kesal melihat sang kakak mendekat, Gayatri mengekor pada Cakra dan kembali menutup pintu.


"Kau ini Fidel, kemarin kalau kakak tidak datang mungkin keadaanmu bisa lebih parah dari pada ini, tidak bisa ilmu bela diri tapi berkelahi, bersyukurlah punya kakak sepertiku"


Gayatri mendekati Sakura dan berdiri di sampingnya.


"Bagaimana kabarmu Sakura? apa kamu baik-baik saja?" dia mendengar cerita Sakura dari Cakra dan merasa miris serta iba akan apa yang terjadi padanya.


"Aku baik-baik saja nona" jawabnya sambil tersenyum.


"Syukurlah, kalau kamu Fidel bagaimana apa sudah merasa baikan?" kini pandangannya beralih pada adik iparnya.


"Aku sudah merasa lebih baik kok kak"


Pintu dibuka dari luar, dokter dan beberapa suster masuk ke dalam ruangan Fidel.


"Selamat pagi dokter Fidel dan keluarga" sapa dokter Alfan yang menangani Fidel.


"Selamat pagi dok" jawab kompak semuanya.


"Dokter Fidel seharusnya tidak boleh duduk seperti itu, kalau mau duduk ranjangnya di naikan saja, aku kan sudah bilang untuk sementara waktu dokter Fidel tidak boleh banyak bergerak" dokter Alfan syok melihat Fidel yang duduk begitu saja tanpa sandaran.


"Aku lupa dok, maaf baru kali ini menjadi pasien" jawabnya sambil tersenyum kikuk.


Seorang suster memutar besi pada bawah ranjang dan menaikkannya, lalu seseorang lagi membantu Fidel bersandar kembali pada ranjangnya yang tinggi.


"Aw" keluhnya lagi meringis.


"Tahan sedikit lagi ya dok" ucap sang suster sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Haiiisshh manjanya adikku" Cakra menggelengkan kepalanya sedangkan yang lain hanya terdiam memperhatikan.


"Baik, dokter Fidel aku akan memperlihatkan hasil rontgen untuk keadaan tulang pinggulnya yang kemarin" Dokter Alfan menerima sebuah foto x-ray yang di berikan suster dan memasangnya pada sebuah layar berbentuk kotak agar menjadi lebih jelas.


"Ternyata tidak ada keretakan yang terjadi di sana sehingga tidak perlu melakukan tindak operasi" semua bernapas lega mendengarnya. "Itu kabar baiknya"


"Wah ada kabar buruknya juga dok?" tanya Cakra ingin mengetahui kondisi adiknya.


"Iya tuan, bagian tulang pinggulnya sedikit bergeser, selama beberapa waktu ini dokter Fidel akan sering merasa sakit pada pinggulnya, dianjurkan dokter Fidel tidak boleh terlalu banyak menggerakan bagian pinggangnya dengan kegiatan berat" jelasnya.


"Kegiatan apa saja dok?"


"Seperti berolahraga, mengangkat barang berat, itu tidak boleh di lakukan selama tiga bulan ini agar kondisi tulang tidak bertambah parah dan mengurangi rasa sakit yang akan di deritanya"


"Kalau kegiatan ini dok?" Cakra memaju mundurkan pinggangnya membuat semua orang tertawa dan berpikir mesum.


"Kalau bisa kegiatan itu juga jangan dulu tuan, yang itu juga cukup beresiko" Cakra tersenyum menyeringai melirik pada adiknya.


"Aku akan memberikan obat penghilang nyeri, ingat untuk selalu bergerak secara berhati-hati ya dokter Fidel" ucapnya kembali mengambil foto x-ray tulang pinggul Fidel dan memberikannya kembali pada suster.


"Baik dok, terima kasih"


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu" pamitnya pergi bersama para suster.


"Semoga lekas sehat dokter Fidel" ucap salah satu suster yang berjalan paling belakang sambil tersenyum menyilangkan jari jempol dan telunjuknya membentuk bentuk hati dan menutup pintunya.


"Pasti suster itu penggemar K-Pop atau Drama korea" Cakra menggelengkan kepalanya namun ia segera beralih pada Fidel. "Aku merasa kasihan padamu Fidel, pasti rasanya sangat menderita, baru sekali merasakan surga dunia harus libur lagi selama tiga bulan, hilang keperjakaan hilang juga kesempatan" slogan hilang keperjakaan milik Cakra kembali terucap.


"Ingat ya tidak boleh begini-begini" Cakra memaju mundurkan pinggangnya lagi sambil tersenyum memasang wajah jahilnya. "Padahal enak tapi tidak boleh" Cakra mengangkat jari telunjuknya dan menggoyangkannya sebagai tanda 'jangan' sambil masih terus menggoyang-goyangkan pinggangnya.


"Aaaahhhhh aaahhh" Cakra mendesah-desah memprovokasi adiknya.


"Kamu ini tidak bisa diam ya!!" Gayatri menarik telinga Cakra untuk menghentikan kegiatan jahilnya.


"Aw sakit!" pekik Cakra memegangi tangan Gayatri yang masih menempel di telinganya, Sakura terkekeh melihatnya.


Sedangkan Fidel memilih memijat dahinya meratapi nasibnya.

__ADS_1


"Sabar ya Hulk terpaksa libur panjang, jangan nangis, kalau sudah sah kita gaspol sampe mabok dan muntah-muntah semalaman tidak apa-apa aku siap, aku kuat" gumamnya sambil menundukkan wajahnya melihat ke arah sana yang terkulai melemah.


__ADS_2