My Slave Beauty

My Slave Beauty
Kemah 2


__ADS_3

Malam itu, semua peserta kemah di intruksikan untuk berkumpul di tengah tanah lapang, mereka duduk mengitari sebuah api unggun yang cukup besar. Cuaca dingin berubah menjadi hangat, salah satu panitia dan guru memberikan sambutan dan yel-yel demi menyemangati dan memeriahkan acara. Kemudian malam itu mereka habiskan dengan mendengarkan sebuah persembahan lagu dengan suara iringan gitar.


Kurasa ku sedang jatuh cinta


Karena rasanya ini berbeda


Oh, apakah ini memang cinta


Selalu berbeda saat menatapnya


Mengapa aku begini


Hilang berani dekat denganmu


Ingin ku memilikimu


Tapi aku tak tahu


Bagaimana caranya?


Reff : Tolong katakan pada dirinya


Lagu ini ku tuliskan untuknya


Namanya selalu ku sebut dalam doa


Sampai aku mampu


Ucap maukah denganku


Song By Bude Doremi, Tolong.


Semua yang mendengarkan lagu tersebut terhanyut, terbawa suasana. Tak ayal Sakura pun sama, ia sempat bertepuk tangan pelan, gerak mulutnya mengikuti lirik lagu hanya saja ia begitu malu untuk ikut bernyanyi cukup keras.


Fidel yang berada tak jauh darinya memperhatikannya, memandang gadis yang dicintainya tersebut sambil tersenyum, pandangan mereka bertemu, saling berbalas senyum meski tak saling menyapa. Sangat indah bukan, cinta tak selalu dapat di utarakan dengan kata, hanya sebuah pandangan saja dapat membuktikannya.


Bukan hanya Fidel, Reno pun sama, memandang Sakura lekat meski bahkan tak pernah sedikit pun di lirik olehnya, pandangan Reno sempat berganti, dia tahu betul mungkin di mata Sakura saat ini hanya ada Fidel seorang. Hatinya merasa kecewa, dia teringat perkataan Fidel jika dirinya dan Sakura akan menikah, apa ini waktu yang tepat baginya untuk menyerah?


Reno tertunduk, rasanya pandangan Sakura tak akan pernah teralihkan olehnya.


"Ini untukmu" suara seseorang duduk di samping Reno, menyodorkan sebuah jagung bakar berwarna kehitaman . Reno menolehkan wajahnya, suara itu sering dia dengar.


"Aku tidak mau" Reno menjauhkan jagung bakar tersebut menepis tangannya.


"Aku sudah berbaik hati mencoba menghiburmu tapi kau malah menolaknya, kau tahu bahkan untuk mengambil jagung bakar ini aku sampai mengantri"


Reno memutar tubuhnya melihat suatu kerumunan, ya tempat jagung bakar yang di sediakan panitia itu memang di minati banyak orang, antriannya begitu panjang.


"Kau benar-benar tidak mau?" ucap Jo memastikan sekali lagi namun tak ada tanggapan. "Ya sudah aku saja yang habiskan, jangan menyesal ya jika saat nanti kau mau kau sudah kehabisan stok jagungnya" Jo mendekatkan jagung yang tadi akan di berikannya pada Reno ke depan mulutnya.


"Eh tunggu, baiklah aku mau" ucapnya dengan wajah datar, Jo tersenyum kembali memberikannya kali ini Reno mengambil dan memakannya.


"Kau tahu, jagung adalah buah praktis, cara hidupnya menandakan cara berpikir fleksibel, jagung yang dibakar menandakan bahwa hidup ini butuh proses. Orang yang membakar jagung itu akan senang dan bahagia saat jagungnya sudah masak, deretan biji jagung yang tertata rapi seperti ini dapat menggambarkan orang yang berpikir positif dan tertata" ucap Jo menunjuk jagung yang di pegangnya sambil mengunyahnya.


Reno tersenyum smirk.


"Kau ini konyol, di saat seperti ini bahkan kau membuat filosofi tentang jagung bakar"


"Kenapa memangnya tidak boleh? cinta itu seperti biji jagung ini, ketika biji yang lain lenyap karena di kunyah maka masih ada biji-biji yang lainnya, mereka ada selama biji tersebut belum habis semua"

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? jangan mengibaratkan perkataanmu dengan makanan, langsung saja pada intinya" Reno menatap Jo tajam.


"Aku tahu kau sedih karena tidak bisa mendapatkan Sakura, dia sudah bahagia dengan kak Fidel. Ini waktunya kau untuk mundur tapi tetap bersemangatlah masih banyak gadis lain, tentu sama baiknya dengan Sakura" Jo berbicara sambil menepuk pundak Reno seolah mencoba menguatkan.


"Apa maksudmu itu kau? kau yang gadis yang sama baiknya dengan Sakura?" Seketika Jo melepaskan tangannya dan menarik bibirnya ke atas.


"Issshhh aku sih tidak mau jika harus menjadi pengganti Sakura untuk mendekatimu" ucapnya sambil membuang muka.


"Aku juga tidak sudih jika harus berpacaran denganmu!"


"Aku juga! siapa juga yang mau berpacaran dengan preman yang suka pakai peniti, takut burungnya terbang!" ledek Jo.


"Itu tandanya aku menjaga milikku yang berharga, tidak boleh ada orang lain selain calon istriku yang melihatnya, bahkan jika kau yang melihatnya aku rasa kau akan tergila-gila"


"Apa? tergila-gila!! yang ada aku malah ilfeel, uweeekkk" Jo bersikap sok muntah.


"Kalau mau muntah, pergi jauh-jauh sana jangan dekat denganku!!"


"Aku juga tak tahan dekat denganmu, uweeekkk!!" Jo berdiri dari duduknya begitu pun Reno, mereka saling meledek dan menjauh.


Sakura melihatnya, perseturuan Reno dan Jo, memang suasana ini nampak tak asing.


"Hai Jo, kenapa wajahmu terlihat kesal?" sapa Sakura saat Jo sudah berada di hadapannya.


"Iya si Preman peniti itu membuatku dongkol saja" ucapnya penuh penekanan, Sakura tersenyum melihat ekspresi marah nan menggemaskan Jo.


"Hati-hati loh cinta dan benci itu bedanya hanya satu senti"


"Iya aku sangat membencinya, tapi untuk cinta NO!! Sakura jangan mendoakanku untuk jatuh cinta kepadanya"


"Aku tidak mendoakan kalian, biarlah perasaan itu akan ada dengan sendirinya"


Sakura hanya tersenyum tipis mendengar perkataan temannya yang panjang lebar bak kereta ekspress tak memakai rem.


"Ekhem" seseorang berdehem di belakangnya, Sakura membalikkan tubuhnya.


"Eh tu- maksudku kak Fidel"


"Jo, permisi apa aku boleh meminjam temanmu?" ijinnya mendengar Jo menghentikan ocehannya.


"Silahkan kak Fidel, mau di pinjam berapa menit, jam atau hari pun bebas" jawabnya sambil menyeringai.


"Baiklah, tidak lama-lama kok aku hanya ingin mengajaknya berkeliling, kalau begitu ayo Sakura" Fidel berjalan terlebih dahulu.


"Aku pergi sebentar ya" pamit Sakura pada Jo.


"Iya bersenang-senanglah" Sakura mengekor pada Fidel mengikuti langkahnya.


"Maaf ya aku mengganggumu dan temanmu" ucap Fidel memulai pembicaraan.


"Tidak kok, aku hanya berbicara seperti biasa dengan Jo, eemmm sebenarnya kita akan kemana?" tanya Sakura, mereka sudah agak jauh dari perkemahan.


"Sebentar lagi kita akan sampai, nah itu di depan" tunjuk Fidel pada hamparan danau yang cukup luas.


"Wah ini kan danau yang kami lewati tadi siang, ternyata saat malam hari danaunya menjadi lebih indah" pantulan cahaya bulan yang terang, kunang-kunang berterbangan serta bunga teratai yang mengapung menambah indahnya danau tersebut.


"Kita bisa duduk di sini" Fidel naik ke atas sebuah batu besar, ia menyodorkan tangannya meminta Sakura mengikutinya, tentu saja gadis itu tidak menolak.


Sakura meraih tangan Fidel dan lelaki itu menariknya pelan, kini keduanya duduk di atas batu memandang indahnya alam ciptaan Tuhan.

__ADS_1


"Wah aku benar-benar terpesona tuan emmm maksudku kak Fidel, sebelumnya aku belum pernah melihat danau sedekat ini" ucapnya sambil memandang ke depan.


"Benarkah? berarti aku adalah orang pertama yang mengajakmu untuk menikmati pemandangan alam, alam semesta ini sangat indah Sakura, selain tempat ini masih banyak tempat lainnya yang akan membuatmu takjub" ucapnya sambil tersenyum memandang wajah kekasihnya yang cantik.


"Apa kak Fidel mau memperlihatkannya lain kali padaku?" Sakura berbalik menatap Fidel, kini pandangan mereka bertemu dan wajah mereka begitu dekat.


"Aku mau, lihat saja setelah kita menikah nanti aku akan mengajakmu keliling dunia" Fidel mengangkat tangannya membelai rambut panjang Sakura. "Sakura, maukah kamu menikah denganku pada bulan desember nanti?"


"Kenapa menanyakannya padaku?"


"Aku rasa harus minta persetujuanmu, aku takut jika kamu belum siap atau mungkin ada alasan lain untuk menunda pernikahan"


"Aku tak punya alasan untuk menolakmu kak, bagiku lebih cepat lebih baik"


"Apa? kau ini ternyata genit sekali, begitu tak tahannya ingin segera menikah" Fidel mencubit hidung Sakura menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan hingga hidungnya berwarna kemerahan.


"Bukannya kak Fidel yang sudah tak tahan?" Fidel melepaskan tangannya dan tersenyum kecut.


"Hehe, iya sih aku sudah tak sabar ingin memilikimu karena aku sangat menyayangimu Sakura"


"Aku juga sangat menyayangimu kak Fidel" mata keduanya berbinar saling memandang, Fidel mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir mungil kekasihnya.


Jarak mereka semakin sempit, Sakura memejamkan matanya.


"Uhuk Uhuk" suara batuk seseorang membuat Fidel dan Sakura terkejut dan spontan menjauhkan wajahnya.


Fidel menoleh mencari asal suara kemudian dia mendengus kesal.


"Ada apa kau kemari?" tanyanya turun dari atas batu menghampiri Reno.


"Aku ingin meminta obat"


"Obat apa? kutu airmu lagi?"


"Iya, salep darimu hilang, entahlah jatuh dimana"


"Haahhhh" Fidel membuang napasnya panjang. "Kalau kemarin salep 88 sekarang adanya salep 86"


"Memangnya ada salep 86?" tanya Reno polos.


"Ada keluaran POLRI"


"Kau bercanda" Reno membuang wajahnya dan melipat tangannya di dada tak habis pikir ada dokter konyol macam Fidel.


"Salep kutu air merk lain, kau mau?"


"Merk apa?"


Sakura kemudian turun perlahan dari atas batu berusaha menyimak pembicaraan kedua lelaki tersebut.


"Ada Kalpanax sama bagusnya dengan salep 88, kau tenang saja"


"Oh baiklah, ayo ambil sekarang" kedua lelaki tersebut berjalan membicarakan salep kutu air sampai meninggalkan Sakura.


Untungnya gadis tersebut segera mengikut langkah kaki mereka.


***


Maafkan obrolan absurd preman dan dokter yang seperti bekas tukang warung tersebut.

__ADS_1


Semoga terhibur 😂😂


__ADS_2