
Sakura dan Fidel sedang berjalan menuju perkiran, mereka baru saja selesai menonton sebuah film horor.
"Kamu tidak takut hantu ya Sakura?" tanya Fidel tiba-tiba.
"Ehm? kalau hantu sungguhan mungkin aku akan takut tapi jika seperti film tadi aku tahu mereka hanya manusia biasa seperti kita, dandannya saja di buat menyeramkan. Aku tidak takut terhadap hantu-hantuan kak" jawabnya cukup panjang.
"Oh pantas saja saat menonton tadi sikapmu datar" Fidel berharap Sakura memeluknya erat bersikap seolah takut dan menjerit, namun sayang selama pemutaran film tadi Sakura justru begitu memghayati, dia sama sekali tidak bergidig ketika mendengar teriakan maupun kedatangan hantu pada layar secara tiba-tiba, sebaliknya Fidellah yang bersembunyi di balik bahunya, sebenarnya alasan utama Fidel memilih genre horor untuk nonton kali ini ingin bersikap gentle di depan kekasihnya dan kenyataan di luar harapan, gadisnya terlihat tegar serta kuat tidak seperti gadis lain yang manja, hancurlah harapan Fidel untuk bermesraan di dalam bioskop.
Kini Fidel dan Sakura berada di dalam perjalanan menuju rumah.
Drrttt Drrrttt
Getar ponsel Fidel, ia memasangkan earphone dan mengangkat panggilan yang berasal dari ibunya.
"Halo bu" sapanya.
"Halo Fidel, kamu sedang berada di mana?" suara ibu bertanya tentang keberadaannya.
"Aku sedang di jalan akan pulang, ada apa bu?" Fidel berbicara melalui saluran telepon tetapi pandangannya tetap terfokus ke depan.
"Bisakah kamu ke rumah ibu? ada yang ingin ibu bicarakan, ini serius ajaklah juga Sakura"
"Baiklah, aku akan langsung menuju ke sana bu"
"Hati-hatilah di jalan"
"Iya bu" Ibu mematikan panggilannya.
Fidel menarik earphone yang terpasang di telinganya kurang nyaman.
"Sakura ibu menyuruh kita ke rumahnya sekarang, kamu mau ikut denganku kan?" ijinnya, Fidel khawatir Sakura kelelahan setelah di ajaknya berkeliling dan berkencan.
"Iya aku mau kak, apa ada masalah kak sehingga tante menyuruh kita ke rumahnya?" tanya Sakura penasaran.
"Aku tidak tahu, sepertinya sih ibu ingin membicarakan tentang sesuatu"
"Oh baiklah jika begitu" Fidel melesatkan mobilnya menuju kediaman ibunya.
Sebuah rumah yang mewah nan megah, dari depan nampak pagar rumah yang tinggi, begitu Fidel menyalakan klakson mobilnya pagar tersebut terbuka secara otomatis dan pada saat mobil Fidel telah masuk menuju halaman, pintu pagar tadi menutup sendiri.
Saat Fidel dan Sakura keluar dari dalam mobil satu orang satpam dan beberapa pelayan menghampirinya, menyapanya sambil menundukkan badannya memberi hormat.
"Selamat malam tuan muda dan nona" ucap mereka kompak.
"Selamat malam" jawab Sakura, dia ikut membungkukan badan seolah dia dan para pelayan itu sama.
Fidel berjalan memutar dan menghampirinya lalu merangkul bahunya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu ikut membungkukan badan" bisiknya di telinga Sakura.
"Kenapa kak? mereka itu sangat sopan, aku ingin membalasnya" jawabnya polos.
"Itu sudah menjadi tugas mereka, kamu ini calon istriku sekarang. Sebaiknya lupakan statusmu yang dulu"
"Ehm?" Sakura nampak bingung karena tidak terbiasa di hormati, Fidel membuang napasnya kasar.
"Akkkhh sudahlah ayo kita masuk" Fidel memegang kedua bahu Sakura dari samping dan mengajaknya ke dalam. "Ibu ada di mana?" tanyanya pada pelayan yang menjaga pintu.
"Nyonya ada di ruang utama tuan, sedang menunggu kedatangan tuan muda" jawabnya sambil menunduk.
Para pelayan tadi mengekor mengikuti Fidel dan Sakura bak dayang-dayang. Begitu masuk ke dalam Sakura terpesona melihat arsitektur rumah yang bergaya Eropa nan modern, nuansa berwarna gold dengan bangunan dinding yang luas dan tinggi.
Sekaya apakah keluarga Fidel?
Pertanyaan itu yang terlintas di benaknya, rumah ini dan rumah yang Fidel tinggali memang sangat berbeda. Rumah Fidel bergaya minimalis, tidak terlalu luas, sangat sederhana dan tidak ada pelayan sama sekali, namun rumah ini bahkan setiap pintu ada pelayan yang menjaganya.
Fidel memegang tangan Sakura membawanya menuju sebuah ruangan yang besar terdapat kursi tinggi memanjang dan beberapa lukisan serta pajangan yang berseni.
Ibunya nampak duduk sedang membaca sebuah majalah dan menyuruput secangkir minuman di tangannya.
"Bu" panggil Fidel berdiri di sampingnya.
"Oh kamu sudah datang nak" Ibu meletakkan minumannya dan berdiri memeluk anaknya. "Halo sayang" sapanya pada Sakura setelah melepas pelukannya pada Fidel.
"Duduklah" pintanya menunjuk kursi di depannya. Para pelayan tadi menyajikan minuman untuk Fidel dan Sakura kemudian berjalan mundur sebagian meninggalkan ruangan.
"Minumlah Sakura kamu tidak perlu sungkan ya di rumah ini, anggap saja rumah ini sebagai rumahmu sekarang" ucap ibu lagi, kemudian Fidel dan Sakura menyeruput minuman yang di sediakan, keduanya merasa haus.
"Oia Sakura bagaimana misi menyembuhkan impoten Fidel apa sudah kamu laksanakan dan apakah berhasil?" pertanyaan yang terlontar masih sama dengan yang dulu, entahlah mengapa ibu Fidel berpikir begitu tentang anaknya.
Bruuusshhh
Fidel menyemburkan minumannya.
"Ibu sudah berapa kali aku bilang aku tidak impoten!!" Sakura mengambilkan tisu dan memberikannya pada Fidel untuk mengusap wajahnya yang basah.
"Hahaha, ibu bercanda. Ibu tahu kamu baik-baik saja dan normal. Ibu sudah melihatnya di internet"
"Internet? maksud ibu?" tanya Fidel tak mengerti, seorang pelayan menghampiri memberikan tablet dan memperlihatkannya pada Fidel.
Sebuah foto viral yang menampakkan dirinya mencium Sakura tersebar di semua media elektronik.
"Oh ternyata aku seterkenal itu" Fidel terkekeh melihat banyaknya like serta komen pada foto tersebut, ia merasa bangga.
"Kau ini baru saja sembuh sudah membuat gaduh" tegas ibu.
__ADS_1
"Ibu tidak marah kan? bukannya ibu senang melihatku melakukan hal itu?"
"Memang ibu tidak marah tapi dengan kejadian ini membuat ibu berpikir harus menikahkan kalian segera"
"Tidak usah tergesa-gesa bu, aku belum sembuh total"
"Maksudmu bila di dekat Sakura kejantananmu tidak berdiri secara maksimal?" tanya ibu polos.
"Iiisshhh bukan begitu bu mana ada yang berdiri tanggung, kalau berdiri ya berdiri saja" wajah Fidel menyemburatkan semu kemerahan, ia merasa malu membicarakan hal yang cukup vulgar dengan ibunya.
"Hhhaaahhh syukurlah jika begitu" ibu menghela napasnya. "Ngomong-ngomong Sakura memang menerima lamaranmu kan?"
Sakura menganggukan kepalanya.
"Ibu akan mempersiapkan pesta pernikahan kalian, kalian tidak perlu memikirkan apa-apa. Fokus saja dengan kegiatan masing-masing dan ini sudah malam ibu harap kalian menginap di sini"
Fidel memandang Sakura seolah meminta persetujuannya, lagi-lagi Sakura menganggukan kepalanya.
"Baiklah tapi hanya satu malam saja ya bu"
"Iya, pelayan antar nona ini ke kamarnya" perintahnya pada pelayan yang berdiri di ujung kursi. "Kalian bersihkan diri dulu nanti kita akan makan malam bersama"
"Baik tante" jawab Sakura
"Iya bu" Fidel membangunkan dirinya mengekor pada Sakura dan pelayan tersebut.
Rupanya kamar tamu berada dekat dengan ruangan utama, pelayan membukakan pintu kamar untuk Sakura.
Sakura memasuki kamarnya mengedarkan pandangannya, Fidel masih mengekor dan menutupkan pintu dari dalam.
"Eh kamu kenapa ikut-ikut ke dalam!! kamarmu di sana" ibu menahan pintu yang akan di tutup Fidel dan menunjuk kamar di sebelah kamar Sakura.
Fidel tersenyum kecut kemudian berjalan keluar.
"Maaf bu khilaf"
Ibu menarik telinga Fidel menggiringnya menuju kamarnya.
"Dasar nakal!!"
"Aww sakit bu!!" pekiknya meringis karena telinganya mulai terasa panas.
Sakura memperhatikan calon ibu mertua dan kekasihnya, dia tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
***
Bersambung
__ADS_1