My Slave Beauty

My Slave Beauty
Nama Baru


__ADS_3

Bel tanda pulang sekolah berbunyi, Sakura bersyukur akhirnya ia bisa melewati hari pertama sekolah dengan aman dan baik, tentu saja ini berkat salah satu teman barunya yang bernama Jo tadi. Gadis berambut ekor kuda itu menempel terus pada Sakura seperti perangko, ia melingkarkan tangannya, merangkul tangan Sakura dan berjalan bersama. Mereka melewati lorong Sekolah akan keluar menuju gerbang utama.


"Sakura bagaimana jika sebelum pulang kita pergi makan siang ke kafetaria?" ajaknya.


Sakura terdiam sejenak, sejujurnya ia baru saja mendapat pesan dari Fidel yang juga mengajaknya makan siang bersama.


"Maaf sepertinya aku tidak bisa" akhirnya dengan berat hati Sakura menolak ajakan teman barunya itu. Jika bukan karena sudah memiliki janji dengan tuan tampannya maka Sakura ingin mengabulkan ajakan Jo, ia ingin tahu seperti apa rasanya mempunyai teman. "Aku akan makan siang dengan tuan Fidel" jelasnya sebelum Jo salah paham dengan penolakannya.


"Tuan Fidel? siapa dia? apa dia kekasihmu?" entah kenapa Jo merasa tertarik, dalam pandangannya, Sakura nampak seperti gadis polos, ketika mendengar nama seorang pria di sebut mau tak mau merubah persepsi tersebut, meski Jo merasa janggal dengan panggilan Sakura pada Fidel.


Sakura menggelengkan kepalanya.


"Tuan Fidel adalah pemilikku" jawab Sakura.


"Pemilik?" Jo melongo, apa maksudnya dengan pemilik?, berusaha mencerna maksud perkataan Sakura akhirnya Jo mengangguk menarik suatu kesimpulan. Senyum penuh arti menghiasi bibirnya, membayangkan kesimpulan yang ia dapat. 'Pemilik' dalam kepala Jo memiliki arti seperti Sakura telah menyerahkan sesuatu yang berharga dalam dirinya sehingga kini dia milik Fidel seutuhnya.


"Oh aku mengerti, rupanya kamu tak sepolos yang aku kira" Jo menyenggol bahu Sakura tersenyum menggodanya. "Tapi kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan tuan?"


"Karena dia adalah pemilikku" Tidak ada yang salah dengan jawaban Sakura, dia bilang Fidel pemiliknya dan dia milik Fidel, sedangkan sebutan tuan? mungkin itu sudah menjadi kebiasaan Sakura yang sopan memanggil orang lain dengan sebutan nona atau tuan, sama seperti panggilan Sakura kepadanya, Jo tak mau ambil pusing, iya mencoba memahami sifat Sakura.


"Baiklah aku mengerti, lain kali saja kita makan bersama" gadis itu tersenyum maklum, "Supirku sudah datang, kalau begitu aku pulang duluan ya, selamat bersenang-senang" Jo menaiki mobil yang berhenti tepat di depannya dan pergi sambil melambaikan tangannya meninggalkan Sakura.


Sakura membalas ia melambaikan tangan pada Jo hingga temannya itu tak terlihat.


Cekittt


Sebuah mobil berhenti, seseorang menurunkan kaca mobilnya.


"Naiklah" perintah Fidel. Sakura menurut, ia membuka pintu dan menaiki mobilnya.


Dokter muda itu menepikan mobilnya di sebuah restoran, mereka berdua berjalan masuk ke tempat yang sudah di reservasi Fidel. Tempat duduknya berada di samping jendela, dengan banyak tanaman hijau berada di sisi kayu jendelanya. Sakura mengedarkan pandangannya, melihat dedaunan yang menyegarkan mata.


"Halo bu" suara Fidel, Sakura menoleh. Tuannya itu sedang berbicara melalui sambungan telepon sepertinya dengan sang ibunda.

__ADS_1


"Aku sedang makan siang"


"Iya bersama Sakura"


"Iya kapan-kapan aku akan mengajaknya ke rumah ibu"


"Jangan berkata yang aneh-aneh bu"


"Lebih baik seprei itu pasang di kamar kakak"


"Iya, aku mengerti. Aku juga mencintai ibu"


Fidel meletakkan ponselnya di atas meja sambil menghela napasnya.


Rupanya jauh dari tempat Fidel dan Sakura berada, ibu mengumpat.


"Dasar anak tidak tahu di untung, aku menawarkan dia dan sakura menginap di sini dan memasangkan seprei malam pertama yang indah dia malah tidak mau, awas saja nanti jika tiba-tiba ia meminta di kawinkan. Lagipula siapa yang menyuruhnya untuk menginap dan tidur sekamar, maksudku itu tempat tidur Sakura. Seprei berwarna pink dan berkilauan ini kan sangat cantik dan feminim cocok untuk Sakura" Ibu mengelus seprei yang baru saja di lipatnya sambil tersenyum, rupanya Fidel kembali salah tanggap.


Seorang pelayan mengantarkan dan menaruh bermacam-macam makanan di meja Fidel.


Sakura memandang makanan yang terhidang di hadapannya, semuanya nampak lezat. Namun sanggupkah ia menghabiskannya? pikirnya.


"Mereka semua tidak akan habis jika kamu hanya melototinya saja Sakura" tegur Fidel.


"Ini semua untukku tuan?" pertanyaan Sakura berhasil membuat Fidel mendengus geli.


"Iya makanlah" Fidel tersenyum, ia masih melihat tubuh kurus Sakura miris.


"Aku tidak akan sangggup menghabiskannya tuan"


"Tidak apa, makanlah semampumu saja" Fidel berkata lembut, Sakura memandang tuannya. Pria itu begitu mempesona dengan balutan kemeja berwarna biru, pantulan cahaya matahari dari jendela membuatnya semakin bersinar, rambutnya sedikit berantakan tetapi itu semua tak mengurangi ketampanannya.


Perlahan Sakura mengambil garpu dan menusukkannya pada daging yang telah di potongkan fidel untuknya.

__ADS_1


"Enak?" Fidel tersenyum ketika tanpa sadar Sakura terus memasukan potongan daging ke dalam mulutnya, Sakura mengangguk.


"Kamu suka?" Gadis itu kembali menganguk. "Habiskanlah"


Fidel kembali tersenyum melihat Sakura makan dengan lahap.


"Bagaimana hari pertamamu bersekolah?" tanya Fidel di tengah kegiatan makan Sakura.


"Baik, teman-temanku juga baik"


Fidel menarik napasnya lega, sejujurnya dia juga merasa kahwatir dengan keadaan Sakura yang kadang terlalu polos, tetapi sepertinya kekhawatirannya tidak beralasan.


"Tapi kenapa mereka menyebut namaku dengan Sakura Abilene?" Fidel mendongak mendengar pertanyaan Sakura.


Fidel memang membuatkan identitas baru untuk Sakura, baginya akan terasa aneh jika Sakura tidak memiliki nama belakang.


"Aku yang memberikan nama itu, sekarang itu adalah nama barumu jadi biasakanlah dengan nama itu" hanya itu penjelasan Fidel, terlalu rumit jika ia harus menjelaskan semuanya.


"Kalau nama tuan?"


"Fidel Brawijaya"


"Kenapa aku tidak memakai nama Brawijaya seperti tuan?" Fidel tersedak saat mendengar pertanyaan itu.


"Nama belakang keluargaku akan di pakai oleh calon istriku jika aku menikah nanti"


"Aku ingin nama Brawijaya itu"


"Hem?" Fidel mengangkat alisnya sebelah tak mengerti maksud perkataan Sakura.


"Ayo kita menikah tuan, aku mau namaku menjadi Sakura Brawijaya" pintanya polos.


Fidel menyandarkan bahunya dan membuang napasnya kasar.

__ADS_1


"Menikah jangan karena ingin mengganti nama Sakuraaaaaa"


Fidel menggigit kukunya mencoba merangkai kata-kata ingin menjelaskan pada budaknya itu tetapi akankah dia mengerti?


__ADS_2