My Slave Beauty

My Slave Beauty
Sakit


__ADS_3

Selepas dari hotel, Fidel dan Sakura di bawa ke rumah sakit. Keadaan Fidel cukup miris, wajahnya banyak mengalami lebam dan matanya bengkak akibat pukulan Marcel, juga di tubuhnya terdapat beberapa luka, sedangkan Sakura di bawa ke dokter psikiatri untuk di periksa kejiwaannya dengan tujuan untuk mengetahui tingkat trauma yang di alaminya. Bukan main, gadis yang selama ini di sekap dan di doktrin untuk menurut pada orang lain serta melayani tuannya baik secara tenaga maupun sek* tersebut mengalami trauma yang cukup mendalam, hingga dirinya memang sedikit murung, meski keadaan luarnya baik tetapi di dalam hatinya masih ada ketakutan yang tersisa.


Dokter menyarankan Fidel untuk di rawat, kebetulan rumah sakit tersebut adalah tempat bekerja Fidel.


"Dokter Fidel sebaiknya beristirahat di sini, ada sedikit retakan pada tulang pinggul, proses pemulihannya agak lama perlu di lakukan rongsen dan bedrest sampai benar-benar pulih" ucap Dokter Alfan salah satu teman Fidel.


"Memangnya aku tidak bisa beristirahat di rumah saja dok? rasanya akan lebih nyaman jika di rumah sendiri" sebenarnya Fidel khawatir dengan Sakura, ia ingin leluasa memulihkan keadaan mental gadisnya.


"Kalau di rumah pasti dokter Fidel tidak mau diam dan malah ke sana ke mari, itu nanti akan memperlambat proses pemulihan. Sudah menurut saja, dokternya saja bandel bagaimana pasiennya nanti" Fidel tak dapat berkata apa-apa lagi.


"Kami siap merawat dokter Fidel kok" ucap salah satu suster di sampingnya sambil tersenyum. "Tidak di gaji pun tak apa, aku mau jadi perawat pribadinya dokter Fidel" wajah suster tersebut merona menutup wajahnya dengan map yang di pegangnya.


"Hus suster ini cari kesempatan di dalam kesakitan" timpal dokter Alfan.


"Kesempitan dok bukan kesakitan"


"Dokter Fidelnya kan sedang sakit" jawabnya lagi menggoda suster.


"Iissshhh mereka berdua malah bercanda" Fidel tersenyum kikuk.


Seseorang mendorong pintu dan masuk ke dalam, gadis berambut panjang tersebut berjalan sambil menundukkan wajahnya.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya dokter Fidel masih ada pasien yang sedang menungguku" pamit dokter Alfan. "Tahukan pantangannya? jangan terlalu banyak bergerak" ucapnya seraya pergi.


"Aku juga pergi dulu ya dokter Fidel, sampai bertemu lagi. Saranghaeyo" suster tersebut berjalan sambil tersenyum malu-malu dan melompat kegirangan, Fidel hanya terkekeh melihatnya, ia memang sudah tidak asing mendapat perlakuan spesial dari para suster di rumah sakitnya, sebagian besar suster tersebut adalah fans fanatiknya.


Sakura mendekat dan duduk di samping Fidel yang sedang merebahkan dirinya, entahlah sebelumnya pinggang dan pinggulnya tidak terasa sakit namun lama kelamaan rasanya di gerakkan sedikit saja susah.


"Bagaimana hasil pemeriksaanmu tadi?" tanya Fidel padanya.


"Aku tidak mengerti istilah kedokterannya tuan tapi aku rasa keadaan psikisku tidak terlalu buruk" jawabnya sambil melihat Fidel dari ujung kepala hingga ujung kaki, tubuhnya banyak luka dan dia bahkan sulit bergerak, itu semua karena menyelamatkannya.


"Maaf karena menolongku tuan sampai seperti ini" hatinya sedih melihat keadaan Fidel, sebenarnya dia menyalahkan dirinya sendiri.


"Jangan menangis, aku baik-baik saja Sakura, aku hanya harus beristirahat" ujar Fidel memandang Sakura yang meneteskan air mata, ia menggapai tisu yang berada di atas nakas dan berusaha mengusap air mata tersebut, namun tangannya tidak sampai pada wajah Sakura, Fidel berusaha mendorong tubuhnya namun sulit dan terasa sakit.

__ADS_1


Sakura yang melihat Fidel yang memegang tisu tapi tak sampai terus ke wajahnya dan beberapa kali tangannya itu hampir terjatuh karena pegal pun memajukan tubuhnya lebih dekat mempermudah Fidel mengusap air matanya. Mungkin bila di jadikan Ftv adegan ini berjudul 'Tangan tak sampai'.


"Terima kasih tuan"


"Sama-sama Sakura, mulai sekarang kamu tidak perlu takut dan mengingat-ngingat lagi pengalamanmu hidup di griya busuk itu, setelah ini kamu bebas menentukan jalan hidupmu sendiri, tidak akan ada yang mengekangmu dan mengaturmu"


Gadis itu menelungkupkan wajahnya mendengarkan perkataan Fidel.


"Iya tuan terima kasih banyak untuk pertolongan tuan, bagiku tuan adalah pahlawan yang sesungguhnya karena telah menyelamatkan hidupku" Fidel terkekeh mendengar perkataan Sakura.


"Aku rasanya seperti jadi iron man"


"Iron man? tuan sudah pernah beli odading mang oleh?" tanyanya polos.


"Belum pernah, belinya jauh Sakura. Oia lebih baik kamu pulang ke rumah, atau kamu mau pulang ke rumah ibuku? di sana ada kakak dan kak Gayatri" kakak sulungnya tersebut memang tinggal di sana menemani ibunya.


Sakura menggelengkan kepalanya.


"Aku akan menemani tuan saja di sini"


"Tidak, aku yang menyebabkan tuan sampai seperti ini jadi biarkan setidaknya aku merawat tuan sekarang" ucapnya kekeh tak mau pulang.


"Ahhh baiklah, tapi mungkin di sini kamu akan badmood karena tidak melakukan apa-apa"


"Aku bisa membereskan kamar ini tuan"


"Ada petugas yang membersihkan kamar ini Sakura setiap pagi dan sore"


"Kalau begitu aku bisa membersihkan kamar mandi"


"Kamar mandi juga ada petugas yang membersihkannya dua kali sehari"


"Kalau begitu. ." Sakura sedikit bingung berpikir mau mengerjakan apa di sana.


"Kamu cukup menemaniku saja, duduk manis, mengajakku berbicara, menyuapiku makanan, bagaimana? kamu mau?" akhirnya Fidel memberinya tugas membuat gadis itu tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Baik, aku mau tuan"


"Sakura" panggilnya lirih.


"Iya ada apa tuan?"


"Boleh aku meminta tolong"


"Dengan senang hati, apa yang tuan butuhkan?"


"Tolong tarikkan selimut untukku, tanganku tidak sampai" selimut tersebut berada di bawah kaki Fidel masih terlipat rapi.


Segera Sakura membuka lipatan selimut tersebut dan menaikkannya dari ujung kaki menuju dada Fidel, pandangannya sempat berhenti ketika melihat di bawah perut Fidel ada yang berdiri, besar dan menonjol, kebetulan celana Fidel sedikit ketat.


Fidel menyadarinya, pandangan Sakura mengarah ke sana, membuat ia malu.


"Sedang sakit begini Hulk sehat-sehat saja, malah sangat berenergik sepertinya, Hulk duduk nak duduk ayo sayang, ini bukan saatnya bangun" gumam Fidel dalam hati sambil menelan ludahnya.


Penampilan Sakura, masih mengenakan mini dressnya yang tadi kedua lengan bajunya sobek di tarik paksa Marcel memperlihatkan bahunya sedikit, serta ukurannya sangat pendek, memperlihatkan setengah paha mulusnya.


Sempat terdiam kemudian Sakura melanjutkan kembali menyelimuti Fidel.


"Sakura, ambilah pakaianku di dalam nakas, gantilah bajumu dengan itu" Cakra sempat membawakan tas berisi pakaian untuk Fidel, sepertinya kakaknya itu sudah tahu bahwa adiknya akan di rawat intensif di rumah sakit.


"Baik tuan" Sakura memeriksa dan mengeluarkan tas hitam tersebut, mengambil sebuah kaos dan celana pendek milik Fidel.


Sakura membalikkan tubuhnya dan membuka sleting bagian belakangnya di sana.


"Sakura tunggu kenapa kamu berganti pakaian di sini, gantilah di kamar mandi" ucap Fidel sambil berteriak.


"Oh maaf tuan aku lupa" Sakura tanpa sadar melakukannya karena sehabis bertemu Stella doktrin ajarannya terpatri kembali di otaknya, dia berlari menuju kamar mandi dengan pakaian yang sudah terbuka belakangnya.


"Yah yah yah, kenapa tidak di benarkan dulu sletingnya Sakuraaaaaaa" Fidel dapat melihat sesuatu semakin menegang menembus selimut hingga terlihat bentuknya. "Aduh rasanya menahan itu sakit" baginya tulang pinggul yang retak tak sebanding dengan sakitnya menahan Hulk yang meronta.


***

__ADS_1


To be continued


__ADS_2