
Tiga hari kemudian, hari pertama Sakura akan bersekolah kembali. Meski ia sudah di ijinkan untuk melanjutkan pendidikannya, ia tetap tak melupakan kewajibannya untuk melayani sang tuan. Sakura telah selesai menyiapkan sarapan paginya, ia juga sudah mengenakan seragam sekolah yang ukuran sangat pas pada tubuhnya, beberapa kali ia sempat berkaca, melihat pantulan penampilannya yang baru, perasaanya amat senang dan bahagia.
Senin pagi biasanya Fidel memakai jas hitam dan membawa tas kerjanya tetapi kali ini dia menenteng jas putih kebanggaanya, baru saja dia mendapat telepon dari rumah sakit. Salah seorang pasiennya harus segera dioperasi.
"Sakura" panggilnya.
"Iya tuan"
"Aku mendapat telepon dari rumah sakit, aku harus melakukan operasi darurat sebaiknya kita cepat berangkat, aku akan mengantarmu ke sekolah karena perjalanan kita satu arah" ucapnya menjelaskan. "Kamu bekal saja makanannya untukmu, aku tidak sempat sarapan. Kamu belum sarapan kan?"
"Belum tuan"
"Bergegaslah, aku sudah di tunggu di sana"
"Baik tuan" Sakura mengambil kotak makan dan segera memasukkan sarapan mereka ke dalamnya. Dia melakukan itu dengan cepat kemudian bergegas mengejar Fidel yang sudah menunggu di dalam mobil.
Fidel melajukan mobilnya cukup kencang sehingga mereka sampai di sekolah Sakura dengan cepat.
"Nah sudah sampai" di pandangnya gadis di sampingnya itu, sepertinya Sakura sedikit takut, lingkungan ini baru untuknya.
"Apa kamu gugup?" tanya Fidel pelan.
Sakura menganggukan kepalanya, banyak hal yang ia pikirkan, dapatkah seorang budak sepertinya di terima oleh teman-teman yang tentu saja derajatnya jauh berada di atasnya. Ia merasa rendah diri dan merasa tak pantas.
"Tenang saja, tidak usah gugup. Kamu di sini untuk belajar, jangan berpikir negatif terhadap teman-temanmu, salah satu dari mereka pasti ada yang menerima kamu apa adanya" Fidel mencoba menenangkan Sakura, ia berbicara sambil mengelus pucuk kepalanya. "Maaf Sakura tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini, ada seorang pasien yang sangat membutuhkanku sekarang"
Gadis itu kembali menganggukan kepalanya kemudian menundukan wajahnya, sepertinya ia merasa sedikit kecewa. Fidel mengerti perasaan takut Sakura tapi sungguh ia harus segera pergi. Fidel mendekatkan wajahnya mendaratkan sebuah kecupan di kening Sakura, wajah yang tertunduk itu seketika mendongak menatap sang pemberi ciuman dengan wajah merona.
"Semangat ya ini hari pertamamu, aku yakin kamu pasti bisa melewatinya. Semoga harimu menyenangkan" Sakura perlahan menjadi ceria, Fidel pun ikut tersenyum, dengan begini dia bisa pergi dan meninggalkan Sakura dengan perasaan tenang. Fidel menginjak pedas gasnya sesaat setelah Sakura turun dari mobil.
Gadis itu memandang mobil Fidel hingga tak terlihat, ia memutar tubuhnya mencoba melangkahkan kaki masuk ke dalam gerbang sekolah. Sakura mengedarkan pandangannya kemudian kembali menundukkan wajahnya, semua siswa memperhatikannya mengetahui bahwa ia adalah seorang murid baru.
Tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Sakura, ia sedikit meringis tetapi tetap tak berani mengangkat wajahnya.
"Maaf aku tidak sengaja, apa kamu terluka?" tanyanya ramah, Sakura tak menyangka akan di tanyai seperti itu perlahan ia menatap pemuda yang berada di depannya sekarang ini.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja" jawabnya, pemuda yang memakai seragam yang sama dengannya itu penampilannya sedikit berbeda, ia memakai anting-anting, tak memakai dasi, kemeja yang sedikit berantakan karena tidak di masukkan ke dalam celananya juga warna rambutnya sedikit kemerahan.
"Kamu murid baru di sini? aku baru melihatmu?"
"Iya"
"Perkenalkan aku Reno, anak paling tampan dan keren di sekolah ini" dia mengulurkan tangannya.
"Sakura" menjawab sambil menatap pemuda itu dari atas sampai ke bawah.
"Hei berhenti memperhatikanku, tanganku pegal ingin berjabat tangan denganmu, lagi pula kamu memperhatikan apa?" tanyanya cukup kencang.
"Maaf tapi sepertinya resleting celanamu sedikit terbuka" ucap Sakura polos.
"Apa?" Reno memperhatikan resleting celananya, ternyata benar resletingnya sedikit turun. "OH DAMN!!" (sial)
Reno memutar tubuhnya dan menaikkan resleting celananya, ia s berlari meninggalkan Sakura. Semua orang terkekeh dan berbisik membicarakan tingkah Reno.
Sakura melanjutkan kembali langkahnya, ia mencari letak kelasnya yang baru.
"Hai" jawabnya mengulas senyuman, kali ini ia bertemu dengan seorang gadis cantik berkacamata dan berambut panjang di ikat kuda.
"Kamu Sakura Abilene kan?" tanyanya.
Untuk beberapa detik Sakura terdiam, Abilene? setahunya ia tak pernah memiliki nama belakang, namanya hanya Sakura itupun mami Stella yang memberikannya, mungkinkah Fidel yang menambahkan nama itu?.
Sakura mengulurkan tangannya menjabat tangan gadis di depannya.
"Kenalkan namaku Marcella Jovanka Lovata Isaldina, namaku panjang ya" ucapnya memperkenalkan diri. "Tapi kamu bisa memanggilku Jo saja"
"Salam kenal nona Jo"
"Panggil Jo saja tak usah ada embel-embel nona"
"Baik nona Jo" Jo mengeryitkan dahinya, gadis ini sepertinya tak mengerti ucapannya.
__ADS_1
Jo merangkulkan tangannya mengajak Sakura berjalan sambil terus saja mengobrol.
"Panggil Jo" dia mengajarkannya seolah Sakura tak bisa memanggil namanya.
"Nona Jo" jawabnya.
"Jo saja! tidak usah panggil nona, Jo Jo"
"Jo" ucap Sakura singkat.
"Nah bagus panggil aku begitu"
"Baik nona Jo"
Jo menepuk jidatnya, entahlah dia tak tahu kenapa Sakura terus memanggilnya begitu. Sakura bersyukur di hari pertamanya sekolah ada yang begitu ramah dan mau dekat dengannya. Semasa sekolahnya dulu ia tidak memiliki teman dekat, ia selalu sendiri, hal ini di picu dengan dirinya yang tidak boleh kemana-mana setelah pulang sekolah, ia memang boleh bersekolah umum tetapi ia tidak boleh bergaul dengan dunia luar, itu adalah salah satu peraturan mutlak dari mami Stella terhadap para budaknya. Dulu hidup Sakura benar-benar terkekang.
***
Fidel baru saja menyelesai operasi darurat yang dilakukannya, bersyukur kondisi ibu dan bayi tersebut keduanya sehat dan selamat. Fidel melepas seragam operasinya membersihkan tangan dan berjalan keluar menuju ruangannya untuk beristirahat. Ia tetap harus pergi ke kantor, kakaknya tadi menelpon dan memintanya segera ke sana setelah selesai dengan tugasnya.
Fidel melewati lobi, banyak pasien yang duduk di sana. Saat ia berjalan ia merasa seseorang sedang membuntuti dan memperhatikannya, tetapi ketika ia mencoba menangkap pandangannya orang itu segera membelakanginya, gerak geriknya sedikit mencurigakan, dia memakai topi, jaket dan kacamata. Fidel memperhatikan orang itu dengan hati-hati, pria tersebut memandangnya cukup lama seperti ingin mengetahui apa saja aktifitas yang di lakukan Fidel.
Dokter muda itu benar-benar tak tahan, Fidel berusaha menangkap basah orang yang memperhatikannya dan membuntutinya.
Ia bergegas menghampirinya, orang itu beranjak pergi mencoba untuk berlari, sayangnya gerakannya kalah cepat dengan Fidel. Ia menarik kerah bajunya menghentikan langkahnya, Fidel memutar tubuh pria itu menghadapnya dan menarik kacamatanya, ingin tahu wajah di balik topi hitam tersebut.
"Kakak? sedang apa kakak di sini?" pria yang di tanyainya itu hanya tersenyum kecut tak bisa lagi melarikan diri.
"Eh Fidel kita bertemu di sini" Cakra memasang wajah polosnya.
"Apa yang kakak lakukan di sini? aku kira kakak orang jahat yang mencoba membuntutiku, bukankah tadi kakak menyuruhku untuk segera ke kantor? dan mata kakak kenapa? kenapa memakai perban?" Cakra menutup matanya dengan kain kasa dan plester, seperti seorang bajak laut tetapi bukannya seram ia malah terlihat konyol.
"Aku sakit mata Fidel" adiknya itu tertawa terbahak-bahak, rupanya akibat mengintipnya kemarin itu masih memiliki dampak yang besar terhadapnya. "Jangan tertawa, kamu mempermalukanku" Cakra berbisik di telinga Fidel pelan.
"Lagipula mata bintitan saja pakai di perban seperti itu" Fidel tak bisa menahan tawanya.
__ADS_1