
"Mami Stella?"
Lidah Sakura kelu, ia segera mendudukkan wajahnya, kedua tangannya saling bertautan ia taruh di bawah perutnya.
Wanita paruh baya yang mengenakan selendang berbulu motif macan tersebut menyipitkan matanya memandang Sakura dari atas kepala hingga ujung kakinya. Gadis yang di didiknya itu penampilannya kini sangat berbeda dengan yang dulu, Sakura yang biasanya dia lihat hanya mengenakan pakaian lusuh bisa berubah cantik seperti putri dalam dongeng cinderella.
"Rupanya ini benar-benar kamu Sakura, aku kira aku hanya salah lihat. Sepertinya kehidupanmu menjadi lebih baik setelah di beli oleh orang lain dari Satrio"
Sakura tak bisa menjawabnya, ia terlalu takut. Tangannya mulai gemetar. Stella melangkahkan kakinya mendekati Sakura, gadis itu refleks ikut memundurkan tubuhnya.
Tap tap tap
Bunyi langkah kaki dari sandal highhells milik Stella terdengar semakin dekat.
"Kenapa kamu menjauhiku sayang? tidak usah takut padaku Sakura, selama kamu masih menjalankan kewajibanmu sebagai budak dengan baik, kamu masih bebas hidup di luar, asal ingat untuk tidak jatuh cinta pada pemilikmu" Stella berhenti tepat di depan Sakura.
Tangannya menopang dagu Sakura dan mengangkatnya, memandangnya sinis dengan mata yang tajam.
"Kamu tidak melakukan pelanggaran yang satu itu kan?" Sakura menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagus, kalau kamu sampai jatuh cinta terhadap pembelimu bersiaplah untuk kembali kepadaku"
Srettt
Seseorang menghardik tangan Stella pada wajah Sakura.
"Itu tidak akan terjadi, Sakura tidak akan pernah kembali ke tempat busukmu lagi!"
Stella menoleh pada pria yang kini berdiri di samping Sakura.
"Oh jadi tuan adalah pemilik Sakura yang baru? tuan cukup tampan dan pasti seorang yang kaya raya" Stella kembali mengedarkan pandangannya memandang Fidel.
"Iya Sakura adalah milikku, sekali milikku maka aku tidak akan pernah memberikannya pada orang lain!" tegas Fidel begitu emosi melihat perlakuan Stella tadi pada Sakura, ia memegang tangan gadis itu dan menariknya agar bersembunyi di belakang punggungnya.
"Sakura apa kamu sudah memperlihatkan surat perjanjian pembeli dan budaknya pada tuan tampanmu ini? aku jelaskan sekarang padamu tuan, karena anda membelinya dari Satrio bukan dariku, bagiku tidak masalah Sakura akan di beli oleh siapa saja asal dia tidak melanggar 3 poin yang berada di kertas bermaterai tersebut"
"Maksudmu kertas ini?" Fidel mengambil sebuah kertas lepek dari tas Sakura, gadis itu memang selalu membawa surat kepemilikannya kemana pun ia pergi. Ia hanya bisa diam dan menurut melihat perdebatan antara Stella dan Fidel.
Fidel merobek kertas tersebut dan membuangnya ke lantai.
"Kau tidak berhak mencampuri hidup Sakura lagi, dia adalah milikku sekarang dan untuk selamanya. Persetan dengan perjanjian konyolmu itu!"
Stella dapat membaca perlakuan dan pembelaan Fidel untuk Sakura tak seperti pembeli budaknya yang lain, meski ini pertama kalinya ia bertemu dengan Fidel.
"Sepertinya aku melihat kalian sudah memakai perasaan, tuan dengarkan aku baik-baik. Aku hanya menjual tubuh para budakku tidak dengan perasaannya"
"Apa hakmu membatasi kebahagiaan orang lain dengan tidak memperbolehkannya jatuh cinta?"
Stella tertawa terpaksa mendengar ucapan Fidel.
"Para budakku ini hanya manusia rendah dan hina, mana bisa saling mencintai dengan tuannya. Mereka hanya akan di sakiti dan di permainkan, orang kaya hanya menginginkan kesenangan dengan tubuh perempuan lugu, tidak ada orang yang benar-benar mencintai seorang pembantu, mereka akan membuangnya ketika mereka puas. Habis manis sepah di buang"
"Jangan menyamakan satu orang dengan orang yang lainnya, jangan sok tahu. Anda bukan tuhan yang bisa menghalangi dan menghancurkan hidup orang lain. Aku peringatkan jangan sekali-sekali lagi menyentuh Sakura bahkan sampai berpikir untuk membawanya kembali, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi"
"Wah sepertinya tuanmu ini sangat berani dan sangat menyayangimu Sakura" Stella melipat tangannya merasa tertantang dengan pria muda di depannya.
Sakura memegang lengan baju Fidel, memegangnya erat. Fidel dapat merasakannya ketakutan dalam diri Sakura.
__ADS_1
"Akan ku jebloskan kau ke penjara jika berani mengusik kami lagi!!"
Fidel menarik tangan Sakura dan membawa pergi menjauhi Stella.
Wanita berbibir merah itu memandang kepergian mantan budak dan tuannya itu.
"Mari kita lihat seberapa besar nyalimu mempertahankan Sakura atau bahkan kapan kamu akan membuangnya" Stella mengambil minuman yang berada di atas meja tak jauh dari tempatnya berdiri, dia meminumnya sekali tenggak dan membantingnya cukup keras ke atas meja.
Fidel membawa Sakura keluar dari gedung tersebut menuju parkiran dan berhenti tepat di depan mobilnya.
Dia melepas tangan Sakura dan memukul kap atas bagian mobilnya dan juga menendangnya.
"Haaaahhhh sial, acara apa ini kenapa tuan Beni bisa mengundang nenek sihir itu!"
Sakura merasa tak enak telah membuat suasana hati Fidel menjadi berantakan.
"Maafkan aku, karena tuan membawaku tuan menjadi bertemu mami Stella dan menjadi kesal" Sakura membungkukan badannya.
Fidel menoleh pada Sakura, tentu dia masih ingat ketakutan yang mendera gadis di sampingnya ini, sekarang ia malah meminta maaf.
"Ini bukan salahmu Sakura, maaf telah membuatmu menjadi takut" Fidel memegang kedua bahu Sakura.
Dia tahu gadis ini hanya bersikap tegar di hadapannya, sebenarnya hatinya rapuh dan lemah.
"Apa kamu masih ketakutan?" tanyanya pada Sakura yang tak mau mengangkat wajahnya melihat Fidel yang sedang berbicara.
Entah kenapa lantai di bawah kaki Sakura menjadi basah padahal malam hari ini cerah, air itu hanya membasahi lantai bagian depan kaki Sakura saja.
Sakura sedikit terisak, ia tak dapat menahan perasaan panik dan takutnya.
Melihat Sakura yang masih menahan isakkanya membuat Fidel iba, ia menarik kepala Sakura ke dalam dekapannya.
"Aku takut tuan, hingga kini masih tersimpan di memori otakku perlakuan demi perlakuan yang kami dapatkan di tempat itu, aku tidak ingin kembali ke sana. Aku sangat membencinya" buliran air mata itu mengalir deras. Sakura meraung menangis sedih.
"Tenanglah Sakura, aku tidak akan membiarkan mereka membawamu kembali ke sana. Selamanya aku ada di sampingmu dan menjagamu"
Gadis itu melingkarkan tangannya di tubuh Fidel, perasaan nyaman dan aman ini membuatnya sedikit lega. Ia sangat berharap hidupnya akan berubah dan tak pernah berhubungan dengan Stella lagi.
Tuannya itu menepuk-nepuk punggung Sakura berusaha untuk menenangkannya.
***
Kini Fidel dan Sakura telah sampai di rumah, dokter tersebut memutuskan untuk tidak melanjutkan kegiatannya menghadiri peresmian salah satu kolega perusahaannya. Dia pasti di marahi sang kakak karena tidak melaksanakan perintahnya dengan baik tetapi dia tidak peduli.
Fidel memasuki dapur, dia harus meminum air putih untuk medinginkan pikirannya.
"Tuan" panggil Sakura pelan.
"Kenapa Sakura?"
"Boleh aku meminta tolong" ucapnya malu-malu.
"Tolong apa?"
"Begini pakaian ini bukan milikku harganya pasti sangat mahal, ini pertama kalinya aku memakai pakaian seindah ini"
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku. . aku tidak bisa membuka pakaiannya tuan, tanganku tak sampai pada bagian belakangnya yang rumit"
Fidel terkekeh mendengarnya, gaun itu memang memakai kancing berbentuk bulat di belakangnya dan jumlahnya cukup banyak memanjang ke bawah.
"Aku kira kamu ingin memakainya tidur tak ingin melepasnya, sini aku bantu buka kan"
Fidel memutar tubuh Sakura membelakanginya, dia mulai membuka kancing tersebut satu persatu, bagian kulit mulus punggung Sakura pun sedikit demi sedikit mulai terlihat. Bahkan Sakura kini menahan lengan gaun tersebut agar tidak terjuntai jatuh membuka dadanya.
Hingga akhirnya kancing terakhir, Fidel membukanya perlahan, dia menelan salivanya. Entah kenapa pikirannya yang kotor muncul, ia mengingat betul bentuk tubuh Sakura dengan dadanya yang kecil seperti kue soerabi menghiasi otaknya. Kini di dalam dirinya seperti ada yang berdiri, Hulk bangun dari tidur panjangnya.
Sakura memutar tubuhnya menghadap Fidel.
"Terima kasih tuan" Sakura melangkah pergi menuju kamarnya.
Fidel mengepalkan tangannya dan menggigit bibir bagian bawahnya.
"Haruskah aku membiarkan Sakura masuk ke kamarnya? atau mengajaknya masuk ke kamarku?"
"Aakkhhh" Fidel menjambak rambutnya dan membuangnya kasar. Dia akhirnya mengambil keputusan dan berlari mengejar Sakura menghentikan langkahnya dengan menahan tangan Sakura yang sudah memegang gagang pintu kamarnya.
"Sakura" gadis itu terkejut.
"Ada apa tuan?"
"Ma-maukah kamu tidur denganku?" Fidel mengalihkan pandangannya tak berani menatap Sakura. Tentu gadis polos ini tak keberatan melakukannya, bukankah ia memang beberapa kali pernah tidur bersama Fidel. Sebenarnya tidur kali ini bukan tidur biasa untuk pria yang sudah lama menjomblo ini. Hanya saja Sakura tidak mengerti.
"Baik"
Fidel mendongakkan kepalanya, dengan cepat dia menarik tangan Sakura membawanya menuju kamarnya segera. Gadis itu masih memegangi gaunnya yang hampir melorot, ia sempat berpikir tidak biasanya Fidel begini, ia bahkan belum sempat mengganti pakaian.
Fidel menjadi tak sabar, setelah tepat berada di depan ranjangnya. Dia melingkarkan tangannya di tubuh Sakura menjatuhkan dirinya dan Sakura di atas tempat tidur.
"Awwww" pekik suara bariton tepat setelah mereka menjatuhkan diri.
"Sakura ada apa dengan suaramu?" tanya Fidel heran mendengar suara ngebass tersebut.
"Itu bukan suaraku tuan"
"Lalu siapa? aku juga tidak berteriak"
"Ini aku, kalian seenaknya saja membanting tubuh kalian di atasku" Cakra keluar dari dalam selimut Fidel.
"Hadeeehhh kakak sedang apa di kamarku?"
"Memangnya sedang apa? yaa sedang tidurlah" jawabnya enteng.
"Kau mengangguku saja kak!!"
"Kenapa? tidak jadi ya ena-enanya?" Cakra memasang wajah jahilnya, ia mengangkat jari telunjuknya menunjuk Fidel.
Fidel kesal, ia menarik dan menggigit telunjuk Cakra kencang.
"Awww sakit!!!" Cakra menarik jarinya dari mulut Fidel dan memukul bahu adiknya, kini dia sibuk meniup-niup telunjuknya yang memerah.
"Hahhhh ayo Hulk duduk lagi yang anteng di dalam kandang"
***
__ADS_1
Salam sayang untuk readersku semua
semoga terhibur 💕💕