
Fidel menepikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah, keadaan sudah begitu ramai. 2 mobil bis besar sudah terparkir menunggu penumpangnya yang tak lain adalah siswa siswi sekolah SMA Nusantara. Sakura sendiri sudah menyiapkan peralatan dan kebutuhannya sejak kemarin, ia hanya tinggal bersiap membawa dirinya sendiri.
"Sudah kamu cek lagi semua kebutuhanmu? apakah sudah lengkap semua?" tanya Fidel sambil mematikan mesin mobilnya.
"Sudah, sepertinya tidak ada yang tertinggal" Sakura hanya membawa satu tas gendong yang ada di pangkuannya.
"Baiklah, berhati-hatilah di sana jangan terlalu lincah, aku takut kelincahanmu itu menarik perhatian laki-laki lain" Sakura terkekeh mendengarnya.
"Aku kira takut kenapa, lagi pula aku tidak bisa lincah. Aku merasa tidak percaya diri jika harus berjingkrak-jingkrak di depan orang lain"
"Mangkanya kamu jadi dirimu sendiri saja jangan sampai terbawa suasana di sana, dan jauhilah laki-laki yang memakai anting-anting itu"
"Maksudmu Reno?"
"Iya aku tidak suka melihatnya" Fidel mengedarkan pandangannya mencari sosok lelaki yang di sebutkannya tadi.
"Kami hanya berteman, tidak lebih"
"Baguslah, ponselmu jangan lupa batreinya harus penuh terus" Fidel mulai cemburuan dan posesif.
"Baik tuan" Fidel melirik Sakura mendengar panggilan itu lagi. "Ah maaf bebek"
"Bebek lagi terserahlah"
"Pokoknya hati-hati ya" dokter muda tersebut mengelus pucuk rambut gadisnya dan mengecup keningnya pelan.
"Aku pergi ya" Sakura berpamitan, ia keluar dari mobil Fidel lalu melambaikan tangannya dan berjalan menuju ke arah bis. Segera setelah menemui salah satu guru yang berjaga di depan pintu mobil, ia menaiki tangga menuju ke dalam mencari tempat duduknya.
Fidel memandangnya hingga Sakura duduk dengan aman, gadisnya itu duduk berdampingan dengan Jo namun kemudian sekilas dia melihat Reno duduk bersebrangan dengan kursi kekasihnya.
"Haiissshhh si anting-anting itu!" Fidel tetap memanggilnya begitu meski tahu namanya Reno.
Dia mendengus kesal namun tak dapat berbuat apa-apa, Fidel menyalakan mesin mobilnya dan melesat menuju kantornya.
Kedua bis sekolah tersebut mulai berjalan, suasana riang dan gembira dengan alunan lagu yang dinyanyikan mereka bersama. Sakura sendiri sangat menikmatinya, ia hanya bisa tersenyum dan bertepuk tangan melihat keasyikan teman-temannya.
Mereka tiba dengan cepat dan selamat di tempat tujuan, para siswa dan siswi di giring menuju sebuah hamparan luas rerumputan yang di sampingnya terdapat danau kecil nan indah. Mereka di bagi dalam beberapa kelompok, pria dan wanita terpisah.
Masing-masing kelompok mendirikan tendanya, Sakura kebetulan satu kelompok dengan Jo. Ia bersama teman-teman yang lain sedang merapikan peralatannya, beruntung salah satu dari teman mereka merupakan anak pramuka sehingga mendirikan tenda bukan hal sulit untuk di lakukan.
Jo memutuskan untuk tidur di sebelah Sakura, dia meletakkan barang-barang yang di bawanya itu tepat di sampingnya, Sakura hanya bisa tersenyum melihat berapa banyak barang yang di bawa Jo hingga tempat itu menjadi sempit dan berantakan.
__ADS_1
"Maaf ya Sakura sepertinya aku membawa terlalu banyak barang" Jo tersenyum kecut melihat tempat tidur yang tersisa untuk Sakura berukuran kecil.
"Tak apa-apa, aku masih mendapat tempat untuk tidur kok meski sedikit" mendengar hal itu membuat Jo menggaruk kepalanya, mulai berpikir, dia terlalu takut menaruh tasnya di luar namun jika di dalam juga Sakura akan kesempitan. Belum sempat dia merapikan barangnya kembali, para panitia acara meminta semua peserta kemah untuk berkumpul.
Semua siswa dan siswi berbaris sesuai urutan kelompoknya, mereka di beri arahan karena akan melakukan penjelajahan. Tak lama kemudian para peserta pun mulai berjalan sesuai intruksi, satu persatu kelompok pergi ke dalam sebuah hutan, mereka di minta untuk mengikuti arah panah untuk sampai kembali ke tempat perkemahan.
Tibalah kelompok Sakura untuk memulai penjelajahannya, mereka melewati semak-semak dan anak sungai, jalannya cukup berlumpur dan licin, semua bekerja sama dan saling berpegangan. Mereka sempat melalui beberapa pos di mana di pos tersebut mereka akan bertemu panitia yang berjaga.
Kelompok Sakura mulai kelelahan, mereka berjalan sedikit pelan sehingga kelompok lain dapat menyamainya.
"Sakura apa kamu baik-baik saja?" tanya Reno, rupanya kelompoknyalah yang menyusul kelompok Sakura.
"Iya aku baik-baik saja" jawabnya dengan napas terengah-engah.
"Jika kamu lelah aku bisa menggendongmu" ucapnya mencoba merayu.
"Hhhuuuhhhh" teman sekelompoknya memprovokasi.
"Reno jangan menggombal di saat seperti ini, kita harus berjalan cepat untuk sampai di perkemahan lagi, hanya tinggal satu pos saja yang harus kita lewati" timpal temannya yang lain ingin segera menyelesaikan tugas penjelajahannya.
"Lagipula kakiku masih kuat untuk berjalan sendiri, kamu ikutilah ketua kelompokmu saja" ujar Sakura merasa tak enak.
"Eeemmm baiklah, aku akan menunggumu di perkemahan jika begitu, berhati-hatilah" ucap Reno berpamitan dan berjalan cepat akan menyusul teman-temannya, namun saat baru sedikit lebih maju dari Sakura, gadis itu hampir terpeleset sehingga dengan cepat Reno berbalik dan berusaha menahan tubuh Sakura, mereka jatuh bersamaan.
Segera Sakura membangunkan dirinya.
"Reno apa kamu baik-baik saja? mana yang sakit?" tanya Sakura panik.
Reno berusaha menggerakkan kakinya namun sepertinya terkilir. Teman-temannya yang lain kemudian berbalik melihat keadaan Reno yang sepertinya susah berdiri.
"Kita harus memanggil panitia meminta mereka membawakan tandu" ucap salah satunya. Kemudian dua orang teman Reno berjalan menuju pos yang di tuju.
"Maaf ya ini karena kamu mencoba menolongku" ucap Sakura berjongkok di depan Reno.
"Tenang saja Sakura, kakiku hanya terkilir setelah mendapat pertolongan pertama nanti pasti akan sembuh" Reno berusaha menenangkan.
Kedua orang teman Reno kembali dengan beberapa orang panitia.
"Apa yang terjadi? bagaimana keadaanmu?" seseorang menghampiri Sakura dan Reno, suaranya nampak tidak asing. Sakura menolehkan wajahnya mencari asal suara dan berdiri.
"Tuan? maksudku bebek? eh kak Fidel" Sakura mengulang beberapa panggilannya yang harus di rubah kepada Fidel.
__ADS_1
Fidel memegang bahu Sakura membolak balikkan tubuhnya.
"Apa tubuhmu terluka? mana yang sakit?"
"Bukan aku yang terluka tetapi Reno" Sakura menunjuk Reno yang duduk di bawahnya sedang memandang interaksi mereka.
"Oh rupanya kau" ucapnya dengan nada malas, Fidel berjongkok kemudian memeriksa kaki Reno yang terkilir.
"Kami terjatuh saat dia berusaha menolongku yang akan terpeleset" jelas Sakura masih merasa bersalah.
"Dia harus segera di bawa ke perkemahan, aku akan mengobatinya di sana" Reno hanya diam tak ingin berkomentar, dalam hatinya sebenarnya bertanya-tanya, bagaimana pria ini bisa sampai di tempat perkemahan mereka padahal tadi sebelum berangkat, Fidel bahkan tak nampak batang hidungnya.
Reno di bantu oleh panitia lain untuk naik ke atas tandu dan di bopong kembali ke perkemahan, dia di bawa menuju tenda berlogo Palang Merah. Di sana Fidel segera memberi pertolongan untuk Reno, dia memijat kakinya menggunakan sebuah krim, meski sedang di obati Reno tetap menatapnya tak suka.
"Sekarang gerakkan kakimu sedikit demi sedikit" pinta Fidel padanya, Reno mengikuti perintahnya, kakinya memang sudah tidak terlalu sakit.
"Baiklah kakimu hanya tinggal di kompres dengan es batu agar tidak terlalu bengkak" ucap Fidel seraya berdiri.
"Tugasku sudah selesai, aku akan menemui Sakura"
"Tunggu dulu, apa alasanmu yang sebenarnya? kenapa kau bisa sampai di perkemahan kami?" tanya Reno menyelidik dan menatap Fidel tajam.
"Aku datang sebagai dokter, aku akan mengobati peserta kemah yang sakit namun sekaligus aku juga ingin menemui pacarku, menjaganya dari laki-laki modus sepertimu"
"Laki-laki modus, Ciihhh bukannya kau juga sama, kenapa kau memacari gadis muda seperti Sakura? kau ini sudah dewasa, carilah gadis yang seumuran denganmu"
"Aku tidak modus kepadanya, aku serius. Asal kau tahu beberapa bulan lagi kami akan menikah jadi sebaiknya kau menyerah untuk mendekatinya"
"Apa menikah?"
"Iya kau sebaiknya tidak usah berharap lagi pada Sakura sudah jelas dia hanya menyukaiku dan aku rasa obrolan kita cukup sampai di sini tak perlu di perpanjang lagi, aku ingin segera menemui kekasihku, ini jangan lupa oleskan pada kakimu" Fidel menyerahkan sebuah salep pada tangan Reno dan berjalan meninggalkan tenda.
Reno meremas salep tersebut kesal kemudian dia memperhatikan benda yang di pegangnya.
"Salep 88? hei tunggu dulu kakiku terkilir kau tidak salah memberi obat?" ucapnya protes sambil berteriak.
"Itu memang bukan obat untuk terkilir, aku melihat kutu air ada banyak di sela-sela jari kakimu, pakailah agar mereka tidak berkembang biak" teriak Fidel lagi tanpa menoleh.
"Sial!!! membuat malu saja, lagipula matanya jeli sekali sampai tahu ada kutu air di kakiku, apa dia tadi memegangnya?" Reno menerawang pikirannya sedikit bingung sambil melihat kakinya yang memiliki bintik-bintik kutu air cukup banyak dan gatal. "Baiklah lumayan, semoga bisa mengobati kutu airku" namun kemudian dia bersyukur sudah di berikan salep berwarna merah dengan krim kuning dan beraroma khas itu.
***
__ADS_1
Semoga terhibur 💕
Jangan lupa like komen dan Vote nya ya biar semangat author membara jadi othor sengklek lagi 🤣🤣