
Malam harinya, saat semua terlelap tidur dan mendengkur di dalam tenda, Sakura masih terjaga. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memandang wajah teman-temannya yang tidur dengan keadaan sempit juga berantakan. Rasa senang dan haru bergerumuh di dalam hatinya, saat yang ia nanti-nantikan untuk bisa menghabiskan waktu bermalam dengan teman sebaya, tak sangka ia akan merasakannya juga. Jo menaruh tangan dan kakinya tepat di tubuh Sakura, mendekapnya seperti bantal guling dan gadis itu bahkan tidak merasa risih, ia sesekali menepuk-nepuk tangan Jo menina bobokannya, akhirnya Sakura memutuskan untuk memejamkan matanya, ia tertidur namun ulasan senyum tipis menyimpul dari sudut bibirnya.
Pagi hari, semua peserta kemah di minta untuk merapikan peralatannya dan berkumpul di tengah tanah lapang untuk di bubarkan, ya acara kemah dengan waktu satu malam ini terasa sangat singkat, tentunya mereka masih ingin merasakan dan menikmati kebersamaan ini lagi, namun proyek acara sudah di tentukan, semoga masih ada kesempatan untuk mengikuti acara seperti ini lagi, itulah doa di dalam hati Sakura padahal jika ia mengingat rencana pernikahannya dengan Fidel yang akan di laksanakan sekitar 2 bulan ke depan, tentunya statusnya sebagai istri tidak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan sekolah yang mengharuskannya menginap. Jika saja Fidel berbaik hati memberikannya ijin untuk tetap bisa menghabiskan masa muda dan statusnya sebagai pelajar seperti remaja lain, tentu Sakura akan sangat bahagia tetapi jika tidak ia hanya bisa pasrah dan menerimanya.
Panitia menutup acara, siswa dan siswi peserta kemah satu persatu menaiki bis untuk pulang.
"Jo maaf ya aku tidak bisa pulang bersamamu, aku akan pulang dengan kak Fidel" ucap Sakura berpamitan kepada temannya.
"Ekhem senangnya punya pacar cucu pemilik yayasan, bisa di temani dan pulang bersama. Aku iri padamu Sakuraaaa" goda Jo merangkul bahu temannya. "Jika kak Fidel punya saudara atau sepupu yang belum punya pacar perkenalkanlah padaku ya" Jo mengangkat-angkat alisnya sebelah sambil tersenyum menyeringai.
"Aku tidak begitu kenal anggota keluarganya yang lain, maaf ya Jo. Tetapi bukannya Reno juga masih jomblo, kenapa tidak dengannya saja"
"Iiisshhh hentikan Sakura, si preman peniti itu selalu membuatku kesal dan muak, mana mungkin aku dan dia... aku tidak bisa membayangkannya dan tidak mau" Jo bergidik merinding tak ingin membayangkannya berpacaran dengan Reno.
"Hehe, ya sudah aku duluan ya kak Fidel sudah menungguku di mobilnya" Sakura mundur beberapa langkah dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati ya jangan mampir ke vila atau hotel. Uupppsss" Jo membalas lambaian tangan Sakura kemudian ia melanjutkan langkah kakinya menaiki tangga untuk masuk ke dalam bis.
Sakura membuka pintu mobil, ia duduk di samping Fidel yang cukup lama menunggunya.
"Nona Sakura bagaimana apa semua barang-barangmu sudah lengkap semua? tidak ada yang tertinggal?" tanya Fidel tersenyum memandangnya.
"Tidak ada, semua barang-barangku sudah rapi di dalam bagasi, silahkan nyalakan mesinnya tuan" jawab Sakura mengikuti permainan tuan dan nona ala Fidel.
"Baik kalau begitu kita berangkat, pegangan yang erat ya nona" Fidel menginjak pedal gas dengan kencang sedikit ngebut dan mengejutkan Sakura.
"Pelan-pelan tuan, apa tuan lupa sebentar lagi kita akan menikah!!" teriak Sakura, tangannya memegang erat handle di atas kepalanya.
"Oia aku lupa, kalau begitu kita pelan-pelan saja ya yang penting selamat dari pada tidak jadi kawin eh maksudku menikah" Fidel mengendurkan pijakannya, mobil bergerak pelan.
Sakura menghela napasnya karena tadi ia cukup terkejut sedangkan Fidel hanya terkikik melihat ekspresi panik kekasihnya.
__ADS_1
"Tuan jangan main-main di jalan raya"
"Baik nona maafkan aku, aku tadi hanya iseng dan sedikit khilaf"
Fidel dan Sakura melanjutkan perjalanan, selama perjalanan mereka bercengkrama layaknya sepasang kekasih, sesekali Sakura menyuapkan makanan ke dalam mulut Fidel, sikapnya kini sudah tidak terlalu kaku mungkin karena pembawaan Fidel yang luwes sehingga Sakura dapat mengikutinya.
Lama perjalanan dan kurangnya tidur membuat Sakura mengantuk, ia nampak menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Fidel menepikan mobil tepat di halaman rumahnya, dia menoleh pada Sakura yang tampak pulas, rambutnya menutupi wajah cantik dan hidung mancungnya, Fidel menyisipkan rambut tersebut di belakang telinga Sakura menatap wajah kekasihnya lekat.
"Apa kita sudah sampai? kenapa kak Fidel tidak membangunkan aku?" ucapnya mengerjapkan mata kemudian meregangkan tangannya dan menguap. Fidel tersenyum dan membukakan sabuk pengaman kekasihnya.
"Aku tidak tega membangunkanmu, sepertinya kamu nampak kelelahan padahal tadinya aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat" Fidel mendekatkan tubuh dan wajahnya menggoda Sakura.
"Maksud kak Fidel akan mengajakku jalan-jalan?" tanyanya begitu bersemangat, seketika rasa kantuk itu hilang. Fidel menganggukan kepalanya.
"Lebih tepatnya sih kencan, kita belum pernah melakukannya semenjak resmi berpacaran, tapi lain kali saja deh, kamu mungkin masih merasa capek setelah berkemah" Fidel menjauhkan dirinya kemudian menarik kunci mobilnya dan bersiap akan turun.
"Tidak-tidak, aku tidak lelah kok, aku kan kuat tadi hanya mengantuk saja, sekarang aku sudah segar, lihat ini ototku, tuh!!" Sakura mengangkat kedua lengannya dan menunjukan otot tangannya yang kurus dengan bangga.
"Asyik!!" teriak Sakura kegirangan, "Aku masih sanggup kok untuk berjalan kaki beberapa kilometer lagi"
"Benarkah? tetapi karena aku kasihan padamu maka aku akan berbaik hati" Fidel turun dari mobil berjalan mengitari kap depan dan membuka pintu di samping Sakura, dia berjongkok. "Untuk menghemat tenagamu beberapa jam ke depan, aku akan menggendongmu, bagaimana? aku ini calon suami idaman kan?"
"Entahlah, suami idaman atau mesum" ledek Sakura.
"Eh beraninya kamu mengataiku mesum!!, baiklah anggap saja ini hukuman karena kamu berani menggodaku" Fidel menarik tubuh Sakura, menggendongnya paksa ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Tuan turunkan aku!" teriaknya meronta sambil tertawa, mendengar teriakan Sakura membuat Fidel semakin bersemangat, dia berlari dan menjatuhkan dirinya bersama Sakura di atas kasur king size miliknya.
"Akkhhh!!" pekik Sakura tersentak begitu di jatuhkan, kini Fidel berada di atasnya, mata mereka saling bertemu dan memandang satu sama lain.
Deg Deg Deg
__ADS_1
Detak jantung keduanya berdebar kencang, selama beberapa detik mereka terdiam namun Fidel seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia mengelus rambut Sakura membuat gadis itu semakin gugup dan menelan salivanya.
Persekian detik kemudian Fidel menurunkan wajahnya perlahan, mendekatkan bibirnya menuju bibir Sakura, hanya tinggal satu senti saja, Fidel mendorong wajahnya lebih dekat. Ya bibir itu mengenai bibir kekasihnya.
Dengan lembut Fidel menciumi bibir mungil Sakura memperdalam ciumannya, menghisapnya dan bermain-main dengan salivanya, memutari isi rongga mulut Sakura hingga mereka hampir kehabisan napas, Fidel mengendurkan bibirnya memandang wajah cantik itu dan menciuminya lagi, rasanya tidak ingin berhenti, dia ingin lagi dan lagi, tak ingin melepaskan dekapannya. Sakura mengangkat tangannya melingkarkannya di belakang leher Fidel membuat Fidel semakin bengis mengulum kulit tipis miliknya.
Tangannya mulai nakal, semula tangannya hanya memegang pinggang kekasihnya kini mulai turun mencari celah ujung kaos olahraga yang di kenakannya dan menyusup masuk, namun belum sampai di gundukan dua bukit kembar yang mini itu, dia merasakan sesuatu yang mulai berkedut seperti berdiri namun salah arah dan terjepit.
Fidel teringat kembali pesan Cakra yang harus bersabar untuk tidak melakukan aktifitas maju mundur chantiknya yang nikmat, Fidel memang bukannya mengingat pesan dokter untuk tidak terlalu banyak bergerak terutama di aktifitas berat tetapi dia malah mengingat pesan Cakra yang menurutnya lebih spesifik dan tepat dalam penggambaran aktifitasnya.
"Hhhaaahhh" Fidel mengeluarkan tangannya dari balik baju Sakura dan melepaskan ciumannya kemudian dia memilih mendudukan dirinya.
Sakura hanya terbengong dan merasa heran, kenikmatannya yang baru seujung jari ini kenapa harus berakhir sebelum waktunya.
"Ada apa kak Fidel?"
"Tidak apa-apa Sakura hanya saja aku tidak bisa melakukan hal yang lebih dari ini, pinggangku jika aku memaksakannya sekalipun yang ada aku malah kesakitan, sebaiknya aku harus ke kamar mandi"
"Untuk apa?"
"Ya untuk mandilah memangnya untuk apa lagi" entah kenapa wajah Fidel mengisyaratkan hal yang lain, dia berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar mandinya.
Sakura mendudukan dirinya dan memandang Fidel hingga menutup pintunya. Ia memilih untuk menunggu Fidel keluar dari kamar mandi cukup lama, 10 menit, 20 menit, 30 menit. Entahlah apa yang sedang di lakukan Fidel di dalam sana, hanya Fidel dan Hulk lah yang tahu. Uupppsss
***
Hai ketemu lagi sama Othor 😁
Di hari senin ini jangan lupa di awali dengan like komen dan votenya ya
Perihal alasan Fidel lama di kamar mandi jangan tanya author lagi ngapain ya, sebaiknya readers tanya sama lelaki yang ada di rumah. Hahahaha Kidding 🤣🤣
__ADS_1
Mungkin aja emang sabunannya lama 😂😂