
Cakra, Gayatri dan ibunya pamit pulang, mereka tak ingin berlama-lama mengganggu Fidel yang sedang sakit, ibu sendiri menyerahkan dan menitipkan anaknya pada Sakura, bukan karena tidak mau mengurusi, hanya saja melihat Fidel yang dalam keadaan lumayan baik dan masih bisa mengomel membuat ibu sedikit tenang, tentunya ibu juga tak ingin mengganggu kehidupan pribadi anaknya. Untuk saat ini jika Sakura di ajak ke rumahnya pun gadis itu belum tentu merasa nyaman, sepertinya untuk sekarang Sakura masih merasa nyaman jika berada di dekat Fidel, sehingga ibu tak ingin merusak suasana itu.
"Haaahhh sekarang aku bisa beristirahat" tarik napas Fidel lega, bukannya tidak senang di kunjungi oleh keluarganya, Fidel merasa terus mengantuk setiap habis meminum obat, sepertinya ia memang di haruskan tidak boleh banyak bergerak.
Sakura menarik selimut menutupi tubuh Fidel hingga ke dada.
"Terima kasih" ucapnya pada Sakura.
"Sama-sama tuan, selamat tidur" timpalnya kemudian mulai berjalan menjauhi ranjang Fidel, namun langkahnya terhenti, Fidel memegangi tangan Sakura.
"Sakura, tunggu dulu" Sakura membalikkan tubuhnya menoleh pada tuannya.
"Iya ada apa tuan?"
"Apa kamu juga akan beristirahat?"
"Iya sepertinya aku mengantuk" hari memang mulai malam, keluarga Fidel begitu betah menjahilinya hingga lupa waktu.
"Kamu akan tidur di mana?"
"Aku akan tidur di sofa, kenapa tuan?"
"Tak apa, hanya jika tidur di sofa, besok tubuhmu pasti akan terasa sakit"
"Hhhmmm lalu?" wajah keduanya memerah, Fidel belum melepaskan tangan Sakura.
"Ekhem" Fidel berdehem, mencoba menghilangkan rasa malunya. "Sa-sakura menurutku lebih baik jika kamu tidur di sini, di sampingku" Fidel memalingkan wajahnya setelah menuntaskan perkataannya. "Itu juga jika kamu mau"
Sakura mengerti, ia tersenyum lalu menurunkan besi yang ada di bawah tangannya.
"Baik tapi apa tuan nanti tidak kesempitan?"
"Yang ada malah kesempatan Sakura eh maksudku aku baik-baik saja, ranjang ini cukup besar sepertinya muat untuk kita berdua, aku hanya tidak tega dan khawatir jika besok kamu akan bangun dalam keadaan tubuh yang pegal-pegal" alasannya.
"Terima kasih tuan sudah mengkhawatirkan aku" keduanya terdiam cukup lama. "Tuan. ."
__ADS_1
"Iya"
"Permisi jika begitu, boleh bergeser sedikit"
"Oh iya" perlahan Fidel mendorong tubuhnya ke tepi ranjang. "Aw" pekiknya perlahan pinggangnya sedikit sakit.
"Jika sakit ketika bergerak lebih baik aku tidur di sofa saja tuan" ucapnya kasihan melihat wajah Fidel menyemburatkan kesakitannya.
"Tidak tidak Sakura, aku baik-baik saja, hanya tinggal sedikit lagi" akhirnya Fidel berhasil ke tepi ranjang. "Kemarilah" pintanya menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
Sakura naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di sana, dia juga memakai selimut yang sama. Tak ada percakapan di antara keduanya.
"Sakura" panggil Fidel lembut menoleh dan memandang wajahnya.
"Iya tuan"
"Setelah ini kamu akan bagaimana? maksudku apa kamu sudah memikirkan tentang masa depanmu?"
"Aku tidak tahu tuan, tapi bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?" Sakura menghadap ke langit-langit kamar ruang perawatan.
"Silahkan tanyakan saja"
Fidel menatapnya lekat-lekat lalu ia juga ikut memalingkan wajahnya ke atas.
"Sakura tidakkah kamu mengerti perasaanku?" kini Sakura yang berbalik memandang Fidel. "Aku bersungguh-sungguh saat bilang kita akan menikah, bukan karena ingin menyelamatkanmu, juga bukan karena dorongan keluargaku, aku. ." Fidel berhenti berbicara selama beberapa detik. "Aku benar-benar menyukaimu" Fidel memalingkan wajahnya, kini mata mereka bertemu.
Sakura menelan salivanya, gugup. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang menyatakan suka padanya.
"Sakura akan ku ulangi lagi, mau kah kamu menjadi kekasihku? ahh tidak maukah kamu menjadi istriku?"
"Tuan, aku ini hanya seorang bekas budak, tidak memiliki pendidikan yang bagus, aku hanya lulusan SMP lalu sekolah pun di bantu oleh tuan Cakra, aku tidak cantik dan tidak pandai merias diri, rasanya diriku ini tidak sebanding dan sederajat dengan tuan"
"Aku tidak pernah memandang statusmu lagi pula menurutku kamu adalah wanita tercantik di urutan kedua setelah ibuku, aku benar-benar menginginkanmu bisa menjadi pendamping hidupku Sakura" perlahan Fidel memiringkan tubuhnya menghadap gadis yang sedang di lamarnya, sepertinya cinta membuatnya melupakan tulang pinggulnya yang bergeser. "Aku tidak ingin menunggu lagi, jawablah sekarang juga Sakura"
"Eh tuan aku. . aku" Sakura nampak berpikir dalam.
__ADS_1
"Iya Sakura" Fidel begitu tak sabar ingin segera mendengar jawabannya.
"Tuan aku. aku mau pipis!!" Sakura beranjak bangun dan segera berlari ke arah kamar mandi. Fidel menaruh tangannya di dahi dan menghela napas panjang.
"Jawab saja iya Sakuraaaaa" gumamnya dengan suara kecil begitu gemas dengan gadis yang kabur saat di lamarnya.
Sakura benar-benar buang air kecil kemudian setelah selesai merapikan pakaiannya ia memandang dirinya di depan wastafel sambil mencuci tangan.
"Apa aku sedang bermimpi? apa aku koma lalu arwahku keluar dari tubuhku dan berkeliaran? seorang gadis sepertiku di lamar oleh pria sehebat tuan Fidel? jika ini mimpi jangan bangunkan aku ya Tuhan" lirihnya sambil menutup keran air. Sakura keluar dari kamar mandi kemudian berjalan dan merebahkan kembali dirinya di tempat yang sama di ranjang pasien.
"Bagaimana sudah dapat ilham dan akan menjawab sekarang?" tanya Fidel lagi serius.
"Iya tuan"
"Apa jawabanmu?" tanyanya tak sabar.
"Barusan aku sudah menjawabnya"
"Maksudmu kamu mau menerima lamaranku?" Sakura menganggukan kepalanya. "Kenapa tidak menjawab dari tadi membuat aku penasaran saja" ucapnya dengan tersenyum bahagia. "Sakura"
"Iya tuan"
Fidel mendekatkan wajahnya ingin mencium bibirnya, gadis itu tidak menolak karena dia memiliki perasaan yang sama dengan Fidel. Bibir mereka bersentuhan saling memanggut, perlahan Fidel menyesap kulit tipis itu memperdalam ciumannya, entahlah sudah berapa lama mereka tidak melakukannya, ciuman itu terjadi cukup lama membangun hasrat dalam tubuh Fidel ingin meminta lebih, saliva Fidel masuk lebih dalam mengobrak abrik isi mulut Sakura.
Ada yang kembali bangun dari tidurnya, berdiri tegak bersiap untuk bertempur dan mengenjatkan senjata karena amunisi racun kentalnya sudah penuh dalam wadahnya yang berbentuk bulat hitam tergantung.
Tangan Fidel memegangi kepala Sakura, ia ingin menindihnya dan mulai bergerak.
"Awwww adudududududuuh" baru sedikit akan naik rupanya pinggangnya terasa menyakitkan.
"Kenapa tuan apa yang sakit?" tanya Sakura panik segera mendudukan dirinya.
"Pinggangku sepertinya tulangnya akan lepas dari bautnya Sakura" iya, Fidel benar-benar memang tidak boleh banyak bergerak hanya saja ia begitu nakal tidak menuruti perintah dokter, bukan hanya dia tetapi juga Hulknya.
"Aku sungguhan tidak bisa begini-begini?" Fidel mengingat gerakan pinggang Cakra yang maju mundur. "Aku kira hanya bercanda, sial!! bagaimana ini padahal Hulk ingin menyemprot pupuk di atas rumput-rumput kecil pada lahan yang sempit agar rumput tersebut tumbuh subur menambah kenyamanan sarangnya, haiisssh sekarang Hulk berganti pekerjaan lagi jadi suka bercocok tanam, aku rasa Hulkku sangat multitalenta"
__ADS_1
***
Semoga terhibur 😍