My Slave Beauty

My Slave Beauty
Keberuntungan


__ADS_3

Sakura merangkulkan tangannya erat pada tangan Fidel, pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik, tak lama kemudian mereka membuang wajahnya secara bersamaan, jantung keduanya berdegub kencang.


Fidel berdehem mencoba menghilangkan kegugupannya, tak ada lagi suara-suara aneh dari kamar Cakra, Sakura mulai mengendurkan tangannya dan sedikit menjauh dari majikannya. Padahal ini bukan kali pertama mereka berada satu kamar bahkan beberapa kali mereka tidur dalam satu ranjang tapi rasanya malam ini sedikit berbeda, mungkin karena barusan mereka mendengar suara desahan konyol Cakra.


"Maaf tuan"


"Tak apa Sakura, hari sudah malam sebaiknya kita lekas tidur"


"Tunggu dulu, kita? kenapa aku memperlakukannya seolah dia ini istriku, aku bahkan belum menikah, aku memang tidak punya pilihan lain"


"Baik tuan"


Sakura merangkak memposisikan dirinya untuk tidur di bagian ujung ranjang yang berdekatan dengan dinding, baru saja dia bergerak sedikit. .


Kriiieeettt


Suara berasal dari ranjang yang akan mereka tiduri, Sakura tetap melanjutkan langkahnya.


Kriieeettt


Ranjang kayu itu masih mengeluarkan suara, Sakura mempercepat gerakannya segera merebahkan dirinya.


krriiett kriieett krieett


"Haishhhh ada apa dengan tempat tidur ini, kenapa berisik sekali" keluh Fidel, sedari tadi ia mendengarkan dengan seksama suara yang di timbulkan akibat gerakan Sakura.


"Maaf tuan aku tidak bermaksud untuk berisik"


"Ini bukan salahmu Sakura"


Fidel pun bergerak akan merebahkan dirinya, hal yang sama terjadi kepadanya. Ranjang kayu akan berbunyi jika orang di atasnya membuat gerakan.


kriieett krieeet krieett krieett


Karena Fidel bergerak cepat dan kasar ranjang itu pun mengeluarkan suara yang cepat dan nyaring.


"Tuan apa ranjang ini tidak akan roboh?" tanya Sakura merasakan ranjang ini sedikit bergoyang akibat gerakan Fidel tadi.


"Semoga saja tidak, ranjang yang aneh, benar-benar merepotkan" umpat Fidel.


Kini keduanya sudah merebahkan diri, udara dingin malam ini membuat mereka berdua bergidig merinding, keduanya pun menarik selimut sampai dada mereka secara bersamaan. Angin laut yang berhembus kencang di tambah villa yang hanya berdindingkan dari bilik bambu ini seolah membuat angin tersebut tembus masuk ke dalam kamar.


"Dingin sekali"


"Tuan. ." panggil lirih Sakura.


"Heemmm"

__ADS_1


"Apa aku boleh membantu menghangatkan tubuh tuan?" tanyanya langsung dan polos.


"Menghangatkan tubuhku?"


"Apa yang akan Sakura lakukan ya, menghangatkan seperti apa"


"Bo-boleh tetapi caranya bagaimana?" tanya Fidel gelagapan, pikirannya kemana-mana.


"Caranya seperti ini" Sakura bangun dari posisinya dan mendekati Fidel.


Krriiieeeeeett


Ranjang itu kembali berbunyi.


"Bergeraknya pelan-pelan Sakura" Fidel mengingatkan, ranjang ini bergerak miring-miring.


"Iya tuan" Sakura bergerak perlahan mendudukan dirinya di samping Fidel, dia menggosok kedua tangannya cukup lama kemudian menempelkannya di pipi Fidel.


"Bagaimana tuan apa terasa hangat" ucapnya sambil memandang Fidel penuh makna.


"Iya rasanya hangat" Fidel memegangi tangan Sakura yang menyentuh pipinya, sepasang mata itu kembali bertemu.


Wajah cantik, putih dan mulus serta bibir mungil Sakura begitu menggoda, kemudian rambut panjangnya yang terurai menutupi pandangan Fidel. Kini tangan Fidel beralih menyibakkan rambut itu ke belakang telinga Sakura. Pemuda itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia memegangi leher Sakura menariknya agar wajah mereka lebih dekat.


"Kamu mencoba menghangatkan tubuhku tetapi sebenarnya tubuhmu sendiri pun juga kedinginan, lebih kita hangatkan bersama" ucap Fidel pelan.


"Caranya tuan?"


Fidel melancarkan aksinya, dia mencium bibir Sakura, melum*tnya sedikit demi sedikit, gadis itu sempat terkejut dan membelalakan matanya, permainan lidah Fidel di dalam mulut Sakura begitu asyik dan lincah layaknya seekor belut yang bergerak bebas di dalam aquarium, lidahnya licin, gesit dan sensitif terhadap lawannya yang berada di dalam mulut Sakura. Tak lama kemudian dia mulai menikmati permainan dari sang majikan, Sakura memejamkan matanya mencoba ikut bermain. Keduanya bermain adu belut, kedua belut itu saling bertabrakan beradu saling menjatuhkan, entah belut siapa yang akan menang dan menjatuhkan lawan. Fidel menarik tubuh Sakura dan mendekapnya lebih dekat.


Tubuh pemilik belut ini yang awalnya merasa dingin mulai menghangat dan terasa panas, bak belut yang di panaskan keduanya menggeliat merasakan nikmat dunia yang baru seujung kuku saja. Fidel berusaha membalik keadaan, ia mulai bergerak mengganti posisinya agar berada di atas Sakura, mencoba membuatnya tak berdaya. Gerakannya cepat dan tepat, membanting tubuh lawan belutnya tapi rupanya ia lupa akan sesuatu.


KKKRRIIIEEETTTTTTTTTT GUBRAGGGGGGG


Ranjang itu roboh, bak aquarium yang pecah, kedua belut tadi lepas dari sarangnya dan lepas tak tahu kemana.


"Tuaaannnnn"


"Uwaaaa"


Beruntung mereka tidak terluka, kini ranjang kayu yang reot itu menjadi ranjang matras untuk tempat tidur di lantai.


"Apa tuan baik-baik saja?" tanya Sakura melihat Fidel seperti syok, pemuda itu termenung diam saja.


"Ranjang reot ini kenapa harus roboh di waktu yang tidak tepat!"


"Aku tidak apa-apa, kamu Sakura?"

__ADS_1


"Aku juga baik-baik saja tuan"


"Aku rasa ini semua takdir Sakura"


"Hem? maksud tuan?" tanyanya tak mengerti perkataan Fidel.


"Sudahlah, mari kita tidur"


Fidel berusaha memejamkan matanya, akhirnya mereka tidur di atas ranjang yang rusak.


"Kita gagal menghangatkan tubuh, aku sudah tidak bernafsu" sesalnya dalam hati.


Dari balik lubang dinding bilik bambu kamar sebelah, ada sebuah mata yang berkedip. Dia tertawa terbahak-bahak. Saat mendengar suara seperti barang terjatuh itu membuat Gayatri tersentak bangun dari tidurnya.


"Suamiku suara apa itu, apa yang terjadi?" tanya Gayatri pada Cakra yang masih melanjutkan acara mengintipnya, ia sampai mengambil sebuah kursi dan duduk di depan lubang tersebut seperti sedang menonton sebuah pertunjukan hanya tidak memegang popcorn saja.


"Kamu akan tertawa melihatnya, ranjang Fidel roboh. Hahaha" Dia tertawa di atas penderitaan adiknya.


"Issshhh sudahlah aku mau tidur lagi" Gayatri malas mengikuti ajakan suaminya yang konyol, ia mengambil bantal guling dan menutup matanya kembali.


"Hei sini temani aku melihat mereka" pintanya sambil tertawa tetapi sang istri tak menanggapinya. "Payah!"


***


Keesokan harinya Fidel bangun dengan kondisi sakit punggung, ia melakukan beberapa gerakan peregangan otot agar merasa lebih baik.


"Pagi adikku" sapa Cakra menghampirinya.


"Pagi kak"


"Sepertinya malammu sangat melelahkan ya"


"Tidak juga, tumben sekali kakak pakai kacamata" ia memandang Cakra yang memakai kacamata hitam.


"Kenapa kakakmu ini keren ya?" Cakra membanggakan diri.


"Dia memakai kacamata karena matanya bintitan Fidel" ucap Gayatri menimpali.


"Bintitan? sini aku periksa kak" Fidel mendekati kakaknya tetapi sang kakak menolak dan menjauh.


"Tidak usah di periksa, mataku baik-baik saja Fidel hanya bengkak sedikit"


"Adikmu ini dokter kak, aku harus memeriksa apakah matamu mengalami iritasi atau di gigit seekor serangga, karena area mata itu penting"


"Tidak perlu Fidel" Cakra berlari menjauhi adiknya kemudian Fidel pun mengejarnya. Adegan kejar-kejaran ala india pun terjadi.


"Matanya bintit karena mengintip kamu Fidel bukan karena alasan medis" ujar Gayatri pelan.

__ADS_1


***


Maaf ya Gaje 😁


__ADS_2