My Slave Beauty

My Slave Beauty
Penyesalan


__ADS_3

Semua orang memperhatikan kedua kakak adik tersebut, Fidel tersenyum kecut sedangkan Cakra mengeluarkan tawa cengengesan.


Paman Alex menatap mereka tajam, keduanya sadar kemudian menundukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana rasanya?" bisik Cakra pelan melanjutkan kembali obrolan mereka.


"Aku tidak akan menjawabnya jika kakak sudah tahu jawabannya" jawab Fidel kesal.


"Baik baik aku mengaku, aku hanya menaruh kamera pengintai tepat di depan kamar Sakura, aku tidak menaruhnya di dalam jadi kalian aman, aku tidak tahu kalian memakai gaya apa saat melakukannya, gaya lumba-lumba kah atau gaya kupu-kupu" ucapnya asal.


Fidel mendengus mendengarkan ucapan Cakra namun pandangannya ke depan berpura-pura memperhatikan paman Alex.


"Sekarang jawab pertanyaanku" pintanya serius memandang adiknya.


"Aku menyesal kak" Fidel mengalihkan pandangannya pada kertas di mejanya, ia memainkan pulpen mengetuk-ngetuknya pelan.


"Maksudmu menyesal karena tidak melakukannya dari dulu?"


"Tidak, bukan seperti itu kak. Aku merasa sangat bersalah telah melakukan hal itu pada Sakura, dia hanya seorang gadis polos, aku merasa seperti memperdayainya padahal kami tidak punya hubungan apa-apa, aku memang berniat menolong dan merawatnya mangkanya aku tak habis pikir kenapa aku sampai bisa merenggut miliknya yang berharga, sedangkan selama ini aku tidak memberikannya apa-apa" jawabnya penuh sesal.


"Bukankah memang tugasnya untuk melayanimu? tubuhnya memang di jual untuk hal seperti itu oleh pemiliknya yang dulu"


"Memang tapi rasanya, akhhh aku merasa sangat berdosa kak. Aku merasa dia tak pantas di perlakukan seperti ini, dia harus melakukannya dengan suaminya atau setidaknya orang yang dia cintai" Fidel memijat dahinya, ia merasa frustasi.


"Aku rasa dia masih beruntung karena yang melakukannya adalah kau, bayangkan jika orang bej*d yang melakukannya padanya, tentu nasibnya akan lebih miris lagi"


"Aku tidak tahu harus senang atau sedih mendengar perkataanmu kak"


"Jika kamu menyesalinya kamu setidaknya harus bertanggung jawab"


"Maksud kakak?" kini Fidel memandang Cakra dengan serius.


"Nikahi dia" Cakra membalas tatapan Fidel.


"Kak menikah itu bukan perkara main-main, aku tidak ingin sembarangan melakukannya"


"Loh? memangnya kenapa? apa menurutmu Sakura tidak pantas menjadi istrimu? menurutku dia gadis yang baik, sopan, penurut, rajin, cantik meski perilakunya kadang sedikit aneh karena terlalu pendiam tetapi selebihnya dia sudah cocok menjadi ibu rumah tangga, atau karena dia tidak jelas asal usul sehingga kau tidak mau menerimanya?"


"Bukan karena itu kak, aku hanya belum siap dan belum yakin untuk menikah"

__ADS_1


"Pikirkanlah baik-baik, kalau kau merasa bersalah padanya bertanggung jawablah, aku dengan sigap akan mempersiapkan pesta pernikahan kalian jika kau sudah ngebet ingin melakukan malam pertama lagi" nasihat Cakra memang selalu mengandung unsur modus, namun Fidel terdiam dan memikirkan perkataan kakaknya.


"Cepatlah menikah sebelum usiamu tua" suara seseorang di belakang mereka berdua.


"Tunggu kak kau jangan bicara terus aku sedang berpikir!!" teriak Fidel kesal mendengar wejangan kakaknya.


"Fidel aku tidak berbicara sama sekali beberapa menit yang lalu" ketus Cakra tak terima di marahi.


"Jika bukan kakak yang berbicara lalu siapa?" Fidel bertambah kesal.


"Aku yang berbicara" paman Alex berdiri tepat di belakang mereka. Keduanya pun menolehkan wajahnya dan membelalakan matanya.


Paman Alex menggulung berkas di tangannya dan memukulkannya pada kepala Fidel dan Cakra. Keduanya mengaduh memegang kepalanya.


Suara tawa riuh menertawakan mereka, ruang rapat tersebut lebih seperti kelas anak SMA karena ada dua pemuda nakal yang asyik mengobrol di tengah jalannya diskusi.


"Kalau kalian merasa rapat ini tidak penting, silahkan keluar!!" tegas paman Alex menujuk ke arah pintu.


"Maafkan kami paman, kami tidak akan bersuara lagi" ucap keduanya kompak.


"Ingat!! aku memperhatikan kalian!" Paman Alex kembali ke podium, sedangkan Cakra dan Fidel hanya bisa menundukkan wajahnya malu.


Rapat pun berakhir dengan keadaan Fidel dan Cakra yang mendengarkan paman Alex secara seksama.


***


"Sakura" panggilnya ketika tak menemukan gadis tersebut di kamarnya. Ia berjalan mengelilingi rumah mencari keberadaannya.


"Iya tuan" suaranya dari arah dapur menghampiri Fidel yang sedikit panik.


"Kamu darimana saja? bagaimana keadaanmu? apa masih demam? kepalamu masih pusing?" Fidel memegang dahi Sakura mengecek suhu tubuhnya.


"Aku habis membersihkan rumah tuan dan aku sudah baik-baik saja" ucapnya singkat, memang wajahnya sudah lebih segar di bandingkan tadi pagi.


"Aahhhh syukurlah" Fidel menarik napasnya.


"Terima kasih banyak atas perhatian tuan, jika buka karena tuan aku pasti masih meringkuk demam di kamar"


"Tidak Sakura mungkin akulah yang menyebabkanmu sakit" perasaan sesalnya masih menyelimuti hati Fidel. "Oh iya aku membawakan ini untukmu, kemarin kamu ulang tahun dan karena aku tidak tahu, aku baru bisa memberikan kuenya malam ini, ayo lebih baik kita ke sana" ajaknya memegang tangan Sakura membawanya menuju ruang keluarga.

__ADS_1


Sakura tersenyum menatap punggung Fidel yang ada di depannya, Fidel mendorong bahu Sakura untuk duduk di bawah. Ia meletakkan dan membuka kardus segiempat yang di bawanya.


"Taraaaaa, selamat ulang tahun Sakura" ucap Fidel penuh gembira.


"Wahhh kuenya bagus sekali tuan, terima kasih banyak" Sakura merasa senang dan terharu, ia memegang kedua pipinya menatap kue tart dari Fidel.



"Ayo kita tiup lilin dulu dan jangan lupa kamu harus berdoa sebelum meniupnya" Fidel mengeluarkan korek api dan lilin, lalu membakarnya tak lupa ia juga menyanyikan lagu ulang tahun untuk Sakura.


Sakura mengadahkan tangannya dan berdoa dalam hati kemudian dia meniup lilinnya padam hanya dalam satu tiupan, Fidel bersorak tepuk tangan. Meski hanya merayakannya berdua Sakura sangat bahagia, ini pertama kalinya ia mendapatkan kue saat berulang tahun.


"Sekarang potonglah kuenya" pinta Fidel memberikan pisau pemotong kue dan sebuah piring kecil. Sakura menurut, dia memotong sedikit kue dan menyendokkannya ingin menyuapi Fidel.


Awalnya Fidel menolak namun melihat wajah ceria Sakura ia menjadi tak tega, sebenarnya ia tidak terlalu suka makanan manis, kali ini demi Sakura ia rela memakannya.


Gadis itu juga memakan kue tersebut, Fidel tak dapat mengalihkan pandangannya dari Sakura.


"Sakura"


"Iya tuan mau lagi?" tanyanya sambil mengangkat sendok dan piringnya.


"Tidak, aku ingin membicarakan sesuatu"


"Membicarakan apa tuan?" Sakura menaruh piring dan sendoknya di atas meja.


"Sakura aku ingin meminta maaf atas kejadian malam itu, aku benar-benar menyesal. Aku tidak bermaksud memperlakukanmu sebagai budak hanya untuk melayani kebutuhan seksu*lku, sungguh tak pernah sedikitpun pikiran itu terlintas di otakku" mata Fidel berbinar-binar memandang Sakura.


"Tak apa tuan, itu memang sudah kewajibanku untuk melayanimu. Aku dilahirkan dengan nasib seperti ini, tugasku adalah memberikan tubuh ini untuk memuaskan pemilikku" perkataan Sakura menusuk jantung Fidel, semakin membuatnya merasa bersalah dan sangat-sangat menyesal.


"Sakura jangan berkata seperti itu tentang dirimu, tak ada satu pun manusia yang ingin di lahirkan dengan nasib buruk. Meski begitu kamu tetap bisa merubahnya menjadikanmu manusia yamg lebih baik" Fidel memegang kedua tangan Sakura, gadis itu hanya bisa menundukan wajahnya.


"Sakura. . aku juga sudah memikirkannya" Sakura mengangkat wajahnya.


"Memikirkan apa tuan?"


"Sebaiknya kita menikah"


"Apa? menikah?"

__ADS_1


***


Kira-kira di terima gak yah sama Sakura??


__ADS_2