My Slave Beauty

My Slave Beauty
Kera Sakti


__ADS_3

Fidel tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit, tak lama kemudian ia pun sampai di sebuah ruangan bernuansa putih dengan tirai-tirai penutup yang memanjang dari satu tempat tidur dengan tempat tidur lainnya. Di sana beberapa tempat tidur telah kosong, hanya satu ranjang pasien saja yang berpenghuni. Seorang wanita muda merintih merasa nyeri pada perutnya, buliran air mata membasahi pipinya, dia mencengkram pakaiannya menahan rasa sakit.


Fidel datang di ikuti oleh dua orang bidan yang sedang berjaga.


"Nona dokter sudah datang" ucap sang bidan meminta pasien meluruskan tubuhnya.


Wanita muda itu menurut, Fidel memeriksa dan membuka lembaran-lembaran data yang di terimanya, ia dapat melihat ceceran darah yang menembus pakaian pasien di depannya. Fidel menelisik memandang wajahnya pilu, nampaknya usianya masih belia, benar saja melihat data yang tertulis usia wanita tersebut baru menginjak usia 17 tahun.


"Maaf nona di mana suami dan keluarga anda?" tanya Fidel menatapnya. Ia sedari tadi tidak melihat pendamping yang menemani wanita tersebut.


"Tidak ada" wanita tersebut menggelengkan kepalanya, tetesan air mata terus membasahi pipinya.


"Apa nona memiliki nomor telepon keluarga atau kerabat yang bisa di hubungi?" tanya Fidel lagi.


"Tidak ada!! sudah dokter jangan banyak bertanya!! lebih baik dokter cepat keluarkan bayi ini dari perutku!!" bentaknya menumpahkan tangisan, terisak dan meringis.


"Akutidak bisa melakukan prosedur tindakan jika tidak ada persetujuan suami atau keluarga anda nona, aku tidak bisa gegabah" tegas Fidel.


"Memangnya anak ini bisa di pertahankan? bukankah dia sudah mati? dan kau hanya tinggal mengeluarkannya?" wanita tersebut membelalakan matanya yang memerah menantang Fidel.


"Bicaralah padaku nona apa yang sebenarnya terjadi?" pinta Fidel melemah, sebenarnya ia akan melakukan tindakan kuretase pada pasien ini namun sepertinya dia begitu depresi.


"Apa dokter tahu, anak ini adalah anak yang tidak di inginkan!! ayah kandungnya tidak ingin mengakuinya, keluargaku membuangku saat aku menceritakan hal yang sebenarnya, aku juga tidak menginginkannya!! kenapa dia harus ada di perutku!!" tangisnya pecah, dia merasa hatinya lebih sakit di bandingkan pendarahan yang sedang dia alami. Fidel semakin bersimpati, rupanya wanita ini usianya sama dengan Sakura kekasihnya, mereka nampak masih polos.

__ADS_1


"Apa anda melakukan hubungan di luar nikah?" berat untuk Fidel menanyakan hal itu, pertanyaan pribadi namun ia sangat ingin tahu. Wanita tersebut menganggukan kepalanya.


"Apa anda juga masih seorang pelajar?" dia mengangguk lagi. Fidel membuang napasnya kasar, wanita ini hamil di luar nikah. "Jadi anda berpikir untuk menggugurkan bayi ini, anda mengkonsumsi obat-obatan keras berharap bayi ini meninggal?" wanita itu terdiam, mulutnya terkunci dia tak ingin menjawabnya. Fidel membaca laporan sebelumnya, menurut hasil test dalam tubuh wanita ini terdapat beberapa kandungan obat-obat yang dilarang di konsumsi oleh ibu hamil yang dapat mengakibatkan keguguran.


"Apa salah bayi ini?" pertanyaan Fidel menghujam jantung wanita di depannya, dia menutup wajahnya menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa anda begitu menginginkan dia mati? padahal kalianlah orangtuanya yang bersalah, bahkan anda sebagai ibunya begitu bernafsu menginginkan dia tidak hadir di dunia ini" lontaran kata dari mulut Fidel menyayat hatinya, selama ini kekasih dan keluarganya tidak ada yang menerimanya, ayah kandung dari bayi ini menolak bertanggung jawab, keluarganya merasa malu hingga mengusirnya dari rumah tidak ingin mengakui keberadaannya karena di anggap sebagai aib keluarga.


"Aku akan memberi anda waktu, hubungi salah satu orang yang anda percaya untuk kemari. Aku tetap akan melakukan kuretase karena keadaan bayi ini memang tidak lagi dapat di selamatkan, tapi aku hanya ingin mengingatkan lain kali berpikirlah dua kali dalam bertindak, kehadiran seorang anak meski orangtuanya tidak sengaja dan tidak mengakuinya mereka tetap berhak untuk hidup, jangan mengalihkan kesalahan kalian padanya, seharusnya anda tidak boleh menyerah, aku yakin pasti tersisa satu orang di dunia ini yang menerima keadaan anda apa adanya, anda hanya berpikir terlalu pendek" ucap Fidel seraya pergi, sebelum ia melewati pintu keluar ia sempat berpapasan dengan seorang gadis muda lain yang berlari masuk ke ruangan tadi. Terdengar suara tangisan hebat dari gadis tersebut bersama pasien yang baru saja di periksanya, gadis tadi adalah sahabat pasien.


Tak lama kemudian proses kuretase pun di laksanakan, Fidel keluar dari dalam ruang operasi, di depan pintu ia di sambut oleh teman pasiennya tadi.


"Dokter bagaimana keadaan temanku?" tanyanya begitu penasaran, dia dengan sabar menunggu prosedur tindakan demi tindakan yang harus di lalui temannya.


"Terima kasih banyak dok atas bantuannya dan biaya yang sudah dokter bayarkan" rupanya biaya perawatan untuk pasien muda tersebut Fidellah yang membiayainya, mereka hanya pelajar, keluarganya pun tidak ada yang mau menjadi walinya, Fidel merasa tak tega hingga akhirnya ia rela membiayai pasiennya, ia telah di sumpah untuk menyelamatkan siapapun orang yang membutuhkannya, hanya terkendala biaya Fidel tak ingin sampai membahayakan nyawa seseorang.


"Sama-sama, jaga dan berikan masukan yang positif untuk sahabatmu, semoga dengan kejadian ini kalian bisa memgambil hikmahnya" pungkasnya, Fidel meninggalkan gadis tadi menuju ruangannya.


***


Fidel membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya, selama di perjalanan tadi ia berpikir dalam. Bagaimana jika hal yang di alami pasiennya tadi terjadi pada Sakura, ia dan Sakura telah melakukan sesuatu yang belum boleh di lakukannya. Lagipula kenapa dirinya tidak bisa menahan diri jika berada di samping kekasihnya, ia menyesal dan mengutuk dirinya sendiri.


Sakura tertidur di depan televisi yang menyala, dia menunggu kepulangan Fidel. Pria tersebut mematikan layar segiempat yang menyala melalui remote di depannya dan berjongkok memandang gadis berhidung mancung yang sangat di cintainya.

__ADS_1


Fidel membelai pipinya pelan membuat Sakura sedikit mengerang.


"Maaf ya Sakura aku bersalah padamu" llirihnya sambil mengecup keningnya.


Fidel mengangkat kepala Sakura ke dalam pangkuannya dan menggendongnya ala bridal style, meletakkannya di ranjang yang bernuansa pink warna kesukaan gadisnya.


Sakura bergerak pelan namun tertidur kembali, sepertinya dia sangat pulas.


"Sakura kali ini aku akan benar-benar akan berusaha menahan diri, aku tidak ingin menyentuhmu sebelum kita resmi menikah, persetan dengan beberapa stok kond*m yang masih tersimpan di laci, biarlah mereka kadaluarsa yang penting kita jangan sampai tergoda" niat Fidel memberi keputusan dan bertekad, Sakura memiringkan tubuhnya memeluk guling membuat pakaiannya tersingkab ke atas menampakkan paha mulusnya.


"Iiisshhh baru berniat godaan sudah datang" keluhnya dengan suara berbisik, Fidel menelan salivanya dan berdiri akan menutup tubuh Sakura dengan selimut namun Sakura malah menaikkan kembali kakinya membuat kain segitiga yang kebetulan berwarna biru semakin nampak.


Tangan Fidel bergetar, dalam hatinya ia berpikir sebaiknya di tutup sekarang atau tunggu beberapa menit lagi, sayang jika pemandangan ini di lewatkan namun kemudian ia menggelengkan kepalanya dan memukul kepalanya pelan.


"Apa yang kamu pikirkan Fidel, tutup cepat tutup!!" perintahnya pada diri sendiri, cukup lama ia terdiam dalam kegalauan akhirnya Fidel memutuskan untuk mendiamkan dan pergi dari kamar Sakura.


"Hulk untuk sementara kamu menjadi biksu suci dulu ya alias Tong Samcong, jangan tergoda dengan kemolekan wanita dan ingat terus kalimat ini, kosong adalah isi- isi adalah kosong, celana dalam adalah CD, ehhh apa yang aku katakan!!" Fidel menampar pipinya sendiri.


***


Hai selamat hari senin


Jangan lupa like komen dan votenya ya biar hulk berubah jadi Tie Patkai yang doyan perempuan 🤣🤣

__ADS_1


Semoga terhibur 💕


__ADS_2