
Sedang meratapi kejadian absurd dan memalukan tadi, tiba-tiba ponsel Fidel berdering.
Drrtttt Ddrrrtt
Panggilan ini berasal dari sang kakak. Fidel yang tadinya memeluk pakaian dalamnya yang basah itu pun mengalihkan tangannya, meletakkan kain segitiga berkaret itu di atas nakas, air dari kain-kain tadi masih menetes kini membasahi lantai kamarnya. Ia lupa belum memerasnya karena hatinya masih merasa syok.
Fidel mengelap tangannya yang basah pada bagian bajunya yang kering dan menarik tombol hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo kak ada apa?" tanyanya tanpa basa basi.
"Fidel kemarilah, aku sedang berada di sebuah vila di Pantai, rumah ini kosong hanya aku dan Gayatri yang menginap, rasanya sepi tidak seru"
"Tidak mau" jawabnya singkat dan langsung.
"Hey adik kesayanganku, ada apa dengan dirimu? kenapa kamu tidak mau menemani kakak yang membutuhkanmu sekarang ini" suara Cakra merayu dan memelas. Dia memang sering tiba-tiba meminta Fidel menemuinya, tak jarang adiknya itu terpaksa pergi karena sang kakak akan mengoceh terus menerus menghalalkan segala cara agar ia mau mendatanginya.
"Aku sedang malas bepergian kak, sudah ya aku tutup" suasana hati Fidel sedang tidak baik.
"Baiklah kalau begitu, cukup Sakura saja yang menginap malam ini. Aku sudah mengirim seorang supir untuk menjemputnya, aku akan menelponnya memintanya kemari, aku rasa jika Sakura sih pasti mau datang ke sini" terbayang sudah sikap Sakura yang tidak bisa menolak permintaan siapapun keluarga majikannya.
"Haaahhhh kamu ini kak!!" Fidel mengambil pakaian dalamnya yang basah itu membantingnya ke lantai dan menginjak-nginjaknya hingga airnya meluber kemana-mana. Ia melampiaskan emosinya, napas Fidel terengah-engah karena begitu kuat menghentak-hentakkan kakinya tadi, ia tak habis pikir Cakra selalu punya cara untuk bisa memaksanya tetapi ia juga tidak bisa marah.
"Apa yang sedang kamu lakukan Fidel?" tanya sang kakak mendengar deru napas Fidel yang memburu.
"Tidak ada" Fidel membenarkan rambutnya yang menutupi dahi sambil menghela napasnya. "Baiklah aku akan ke sana" Fidel menyerah, jika ia tidak ikut pasti Sakura akan ke sana sendirian, gadis itu benar-benar penurut.
"Nah itu baru adikku, lagipula kasihan Sakura ajaklah dia sesekali berjalan-jalan, jangan hanya mengerjakan pekerjaan rumah terus menerus" perkataan Cakra ada benarnya, Fidel setuju.
"Betul juga perkataan kakak"
"Kakakmu ini memang tampan, baik dan pintar" ucapnya membanggakan diri membuat Fidel merasa jijik.
"Issshhh sudah aku akan bersiap-siap ke sana, kirimkan alamat Villanya cepat"
"Baik adikku, aku tunggu kedatanganmu" Cakra menutup panggilannya.
Fidel menundukkan wajahnya, kini lantai kamarnya basah.
"Apa sih yang sedang aku lakukan?" Ia mengambil pakaian dalamnya yang teronggok di lantai kemudian menaruhnya di atas keranjang baju kotor. "Aku rasa aku mulai gila" ia kembali meratapi kejadian yang menimpanya.
Fidel kemudian menuju kamar mandi, ia harus mendinginkan kepalanya, setiap hari begitu banyak peristiwa yang membuat dirinya frustasi akhir-akhir ini.
Kini Fidel sudah rapi mengenakan pakaiannya, ia melangkah keluar kamar bermaksud menemui Sakura, gadis itu belum tahu akan di ajaknya menginap malam ini.
Sakura tengah berada di kamarnya, Fidel merasa gugup perasaan malu tadi masih ada di dalam pikirannya. Ia mencoba menarik napas dan memberanikan diri, perlahan ia pun mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Iya tuan" Sakura menyapanya sesaat setelah melihat wajah tuannya.
__ADS_1
"Ekhem Sa-sakura bersiaplah, malam ini kita akan menginap dengan kakakku" wajah Fidel terasa panas, ia tak berani menatap budaknya.
"Baik tuan, apa tuan sedang tidak enak badan? kenapa wajah tuan memerah?" Sakura meraba kedua pipi Fidel juga keningnya, dia berjinjit wajahnya mendekati wajah Fidel tentu saja sang tuan semakin grogi di buatnya.
"A-aku sehat, aku kuat juga perkasa. Akkkhhh apa yang aku katakan. Su-sudahlah Sakura cepat ganti pakaian aku menunggumu di mobil" Fidel pergi meninggalkan Sakura dengan langkah kaki yang cepat.
"Iya tuan, ada apa dengannya ya? semakin hari tuan Fidel semakin aneh" gumamnya berbicara sendiri, Sakura kembali masuk ke kamarnya.
Tak butuh waktu lama akhirnya Fidel dan Sakura sudah berada di dalam mobil, dokter tampan itu melajukan mobilnya cepat dan sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Villa di pinggir pantai, gaya bangunan rumah ini cukup tradisional. Hampir semua bangunannya terbuat dari kayu, bahkan dindingnya menggunakan bilik bambu.
Angin laut berhembus dengan kencangnya, menambah dinginnya udara malam ini. Sakura dan Fidel keluar dari mobil menghampiri pasangan suami istri yang sedang bersantai duduk di sebuah kursi di depan villa.
"Wah akhirnya adikku telah tiba" ucapnya menyambut Fidel, dia membalasnya dengan tatapan malas.
"Villa ini kecil sekali ukurannya kak" biasanya Cakra akan menyewa sebuah villa besar dan mewah. Fidel menerawang mengamati villa tempatnya menginap.
"Villa lain sudah penuh, hanya tinggal villa ini yang kosong"
"Lagipula ada acara apa kakak menginap di villa mendadak seperti ini?" tanya sang adik menyelidik.
"Acara penghargaan untuk Sakura, dia kan selama ini sudah bekerja keras mengurus kamu dan rumahmu" jawabnya sambil tersenyum manis.
"Haaahhh alasan!!" Fidel tahu Cakra hanya mengada-ngada.
"Oia Sakura aku belum memperkenalkanmu pada istriku, namanya Gayatri"
"Tidak usah sungkan seperti ini Sakura, anggap saja kita teman" Gayatri mengangkat bahu Sakura dan merangkulnya, mereka berbalas senyuman.
"Apa kalian sudah makan malam?" tanya Cakra.
"Belum"
"Kalau begitu kita makan malam dulu" ajak Cakra. Keempat orang itu pun masuk ke dalam villa, di ruang makan sudah tersedia berbagai macam makanan olahan laut dan beberapa jenis minuman.
Sakura dan Fidel duduk berdampingan, di hadapannya ada Gayatri dan Cakra. Masing-masing dari mereka mulai menyendokkan makanan.
"Makanlah yang banyak Sakura, acara malam Cakra berikan khusus untukmu" Gayatri memberi tambahan lauk pada piringnya.
"Terima kasih nona"
Cakra terus memandangi interaksi adik dan budaknya itu. Ia terus tersenyum menyeringai.
Keempatnya menghabiskan makanan dengan lahap.
"Aaahhh aku kenyang, sekarang aku mengantuk lebih baik sekarang kita cepat tidur" ucap Cakra mengelus perutnya dan mencoba berdiri.
"Jadi acaranya cuma makan dan tidur kak?" tanya Fidel membelalakan matanya.
__ADS_1
"Ini sudah malam Fidel memangnya kita mau melakukan apa, besok kita tetap harus pergi bekerja meski sedikit kesiangan"
"Untuk apa menyuruhku ke sini kak jika hanya begini di rumah juga bisa" sesalnya lagi.
"Setidaknya Gayatri bisa mengenal Sakura Fidel, tidak ada yang sia-sia. Oia kamar kalian sebelah sini" tunjuknya pada kamar sebelah kiri.
"Tunggu dulu, kamar kami? memangnya tidak ada kamar lain kak?"
"Tidak ada, villa ini hanya punya dua kamar"
"Kalau begitu aku tidur bersama kakak dan kak Gayatri tidur bersama Sakura"
"Tidak boleh, malam ini aku akan bercinta dengan istriku, denganmu aku hanya akan main pedang nantinya" Cakra menarik tangan Gayatri mengajaknya masuk kamar.
"Eh"
"Selamat malam Fidel dan Sakura, selamat tidur" ucap Cakra sambil menutup pintu kamarnya.
"Aku sudah tahu sepertinya ada yang tidak beres, kenapa aku begitu bodoh mengikuti perkataan kakakku" Fidel mengomel mengutuk dirinya sendiri, ia melirik pada Sakura yang dari tadi tak bersuara.
"Astaga usus halus, usus besar, usus buntu, usus dua belas jari!!" Sakura menatapnya tajam dengan kantung mata yang sudah menghitam. "Sakura kamu mengantuk?" gadis itu menganggukan kepalanya.
"Haaaahhh terpaksa kita harus tidur sekamar, ayo Sakura jangan tidur di sini" Fidel memegang tangan Sakura membawanya ke kamar, ia tidak punya pilihan lain.
Kini Sakura dan Fidel berada di dekat ranjang, Sakura duduk di tepi kasur, keduanya merasa gugup, jantungnya sama-sama berdebar.
"Tidurlah di sebelah sana" tunjuk Fidel pada tepi kasur di dekat dinding.
"Iya tuan" Baru saja Sakura akan merangkak tidur.
"Aaaahhhhhhhh" suara desahan dari kamar sebelah terdengar jelas, dinding dari bilik bambu ini rupanya tidak kedap suara.
"Iya sayang enak" suara Cakra kembali terdengar penuh desahan membuat Fidel dan Sakura saling menatap.
"Suara apa itu tuan? apa yang sedang tuan Cakra lakukan?" tanya Sakura polos.
"Itu. . itu kakakku sedang. ." Fidel tidak bisa meneruskan ucapannya.
"Aaarrrggghhhhuuaararrggghhhhhhhh" suara teriakan Cakra mengaum seperti melepas sesuatu.
Sakura mendekati Fidel dan merangkul tangannya.
"Tuan apa yang terjadi dengan tuan Cakra, jangan-jangan di kamar mereka ada binatang buas, mungkinkah ada serigala, aku jadi takut" rangkulan tangan Sakura pada Fidel semakin kencang.
"Sepertinya itu suara serigala berbulu domba Sakura" Fidel menghela napasnya.
"Gaya bercinta kakak memalukan sekali"
Di ruangan sebelah, seorang lelaki sedang mengintip pada lubang kecil di kamarnya yang terhubung dengan kamar adiknya. Dia menahan tawa kerasnya, mendesah dan mengaum melancarkan ide jahilnya.
__ADS_1
Sang istri hanya bisa memandangnya dari ujung kasur sambil duduk bersandar.
"Dia semakin tidak waras" Gayatri menggelang-gelengkan kepalanya.