
"Kau siapa?"
Dengan gayanya yang elegan, wanita itu berjalan mendekati Sakura yang berdiri tenang sambil memegang alat penyedot debu di tangan kanannya. Untuk beberapa saat mata gelap wanita itu mengamati Sakura, dari wajah hingga turun ke kaki lalu kembali lagi ke wajah Sakura yang kini berkedip tanpa ekspresi balik menatapnya.
"Anuuu..." Sakura mulai berbicara tetapi wanita itu mengangkat telapak tangannya memberi isyarat agar Sakura berhenti bicara.
"Kau tidak perlu menjelaskannya, aku sudah paham" jelasnya, ia berputar berjalan mengelilingi Sakura dan masih mengamatinya. Melihat Sakura yang mengenakan baju Fidel yang kebesaran hingga ke paha telanjangnya, harusnya ia sudah bisa menduga siapa Sakura tanpa perlu menanyakannya. Lalu jika mengingat perkataan ambigu Cakra beberapa hari yang lalu, yang mengatakan jika dirinya berkunjung ke rumah Fidel maka ibunya akan menemukan sesuatu yang menarik, kenyataan inilah yang semakin memperkuat dugaannya.
Tidak mungkin jika gadis yang dihadapannya ini adalah seorang pengurus rumah tangga, Fidel tidak suka kalau rumahnya dijamah oleh orang asing meskipun itu adalah seorang asisten rumah tangga, menurutnya akan tidak nyaman jika barang-barang pribadinya di sentuh oleh orang tak di kenal. Biasanya Fidel akan membersihkan rumahnya sendiri tapi jika kelelahan maka ia akan memanggil pengurus rumah dari rumah orangtuanya. Namun satu bulan terakhir ini memang Fidel tak menghubungi ibunya agar mendatangkan asisten rumah tangga untuk sekedar merapikan rumahnya, Itulah yang membuatnya penasaran dan menanyakan kabar putra bungsunya pada Cakra.
"Jika ibu pergi ke rumah Fidel maka ibu akan menemukan sesuatu yang menarik" Jawaban itu selalu terngiang di kepalanya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi kediaman Fidel.
Bukan sesuatu yang di duganya memang, mendapati seorang gadis yang tampak begitu polos mengingat putranya itu tak pernah membicarakan seorang wanita kepadanya.
Namun tak pelak kejadian ini cukup membuatnya senang, jujur saja dia selalu menaruh rasa curiga jika Fidel adalah penyuka sesama jenis alias homo. Ternyata dugaannya salah besar, cukup jantan Fidel bisa mengajak seorang gadis untuk tinggal bersama di rumahnya.
"Siapa namamu sayang?" tanyanya tegas.
"Sakura" jawabnya dengan wajah datar.
"Nama yang cantik" tersenyum. "Aku Cindy ibunya Fidel"
"Salam kenal nyonya Cindy" Sakura membungkukan badannya, ia memang di ajarkan untuk selalu bersopan santun pada pembelinya maupun keluarga pembelinya tanpa terkecuali.
"Tidak perlu memanggilku seperti itu Sakura, panggil aku tante" ibunya Fidel mulai tersenyum ramah melihat perilaku Sakura yang begitu sopan sampai membungkukan badannya.
"Baik nyonya tante" Sakura kembali membungkukan tubuhnya penuh.
"Tante saja, tante tak perlu memakai embel-embel nyonya"
"Baik nyonya tante"
Ibunya Fidel menaikkan alisnya sebelah dan memilih untuk tidak lagi berkomentar, ia berpikir mungkin karena Sakura adalah gadis yang sopan sehingga memanggilnya seperti itu.
__ADS_1
"Apa kamu sudah makan siang?" tanyanya mengganti topik pembicaraan. Sakura menggelengkan kepalanya.
"Kebetulan sekali aku membawa banyak makanan karena Fidel belum datang lebih baik kita makan berdua saja" Sakura menurut, ia mengekor pada ibu Fidel dan meletakkan penyedot debunya di dapur.
Melihat Sakura yang penurut dan pendiam sedikit membuatnya bertanya-tanya, bagaimana interaksinya dengan Fidel?. Anak bungsunya itu juga cukup pendiam dan tidak mau di ganggu oleh orang lain, dia biasanya di rumah hanya bicara seperlunya. Jika di kombinasikan dengan Sakura yang pendiam bagaimana jadinya? ini sedikit melenceng dari harapannya, karena ibu sebenarnya berharap gadis yang berhubungan dengan Fidel adalah gadis yang ceria serta banyak bicara jadi bisa mengimbangi Fidel yang selalu sedikit suram. Namun bagaimanapun sifat gadis yang ada di depannya ini, dia mampu memikat hati Fidel, menjauhkannya dari sifat homo, itu saja sudah cukup.
Ibu sebenarnya tidak pernah menentukan kriteria gadis seperti apa untuk jadi menantunya. Dia menyadari jika kedua anaknya bukanlah orang yang sempurna, sehingga tidak harus mendapatkan gadis yang sempurna pula. Contohnya Cakra yang memiliki sifat sedikit gila, anak sulungnya itu kekanak-kanakan dan jahil, ia bertemu dengan Gayatri yang kalem dan berwibawa, sehingga cukup untuk bisa mengisi kekurangan dan kelebihan dari sifat masing-masing. Sehingga pada Sakura pun ia tidak muluk-muluk, Fidel memilihnya maka ia akan menerima.
"Sakura makanlah yang banyak, kamu begitu kurus. Apa Fidel tidak memberimu makan dengan baik?" ibu menopang dagu pada kedua tangannya yang bertaut di atas meja, memperhatikan Sakura yang sedang memakan makan siangnya.
"Tuan Fidel memberiku makan dengan baik, dia bahkan sering membelikanku donat" Sakura menjawabnya polos, lagi-lagi jawaban Sakura membuat ibu mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu bahkan memanggil Fidel dengan kata tuan? Sakura kenapa kamu begitu sopan, kenapa kamu tidak memanggil Fidel dengan sebutan sayang?"
"Aku harus sopan pada pemilikku"
"Pemilik?" ibu mengeryitkan dahinya merasa semakin bingung.
"Mungkin maksudnya dia milik Fidel seutuhnya"
"Aku pulang" Fidel masuk dengan segera mencari keberadaan Sakura dan ibunya, ia menemukannya mereka berada di dapur dan sedang duduk berhadapan. Fidel sedikit panik lalu mulai bernapas lega melihat Sakura dalam keadaan kering dan baik-baik saja.
"Syukurlah ibu tidak menyiramkan air kepadanya"
"Kenapa kamu begitu panik dan masuk ke dalam rumah tergesa-gesa? dan saat wajahmu melihat ibu, kamu seperti melihat hantu" Fidel berdehem dan bersikap wajar.
"Bukan begitu bu, aku hanya terkejut kata kakak ibu akan mengunjungi rumahku hari ini, rasanya terlalu mendadak"
"Apakah aku harus menghubungimu dulu jika ibu ingin berkunjung ke rumah anak ibu sendiri?" ibu mencibir.
"Tidak, bukan begitu maksudku bu" ibu mengangkat telapak tangannya lagi meminta Fidel berhenti berbicara.
"Sudahlah ibu tidak ingin mempermasalahkannya, lagipula ibu tidak
__ADS_1
ingin kamu menyembunyikan pacar cantikmu ini jika ibu memberitahukan akan datang ke sini, kamu bisa menghilangkan kesenangan ibu" Ibu tersenyum senang karena keputusannya.
"Pacar?" Fidel sedikit bingung.
"Iya, Sakura pacarmu kan?"
"Ibu sebenarnya itu. ."
"Sudahlah ibu tahu, sebaiknya kamu sekarang duduk dan makan bersama kami, kamu pasti lelah dan lapar kan" Fidel menurut, ia sebenarnya ragu untuk menceritakan kenyataan tentang status Sakura.
Fidel duduk di samping Sakura dan mulai menyendokkan makanan ke dalam piringnya dan berusaha bersikap normal meski dalam lubuk hatinya takut dan dilema. Sang ibu memperhatikan putra bungsunya yang duduk berdampingan dengan Sakura, sangat serasi, Fidel yang tampan dan Sakura yang cantik alami meski gadis itu sangat pendiam dan sedari tadi tak berkata apa-apa jika tidak di tanya.
Ibu kembali menyemburatkan seulas senyum dari wajahnya.
"Fidel" panggil ibu lirih.
"Iya bu" jawab Fidel sambil mengunyah makanannya. Ibu mendekatkan wajahnya pada telinga Fidel.
"Apa saat kalian melakukannya, Sakura masih perawan?"
Uhuk Uhuk Uhuk
Fidel tersedak, Sakura segera memberi segelas air putih untuknya.
"Ibu pertanyaaan apa itu? sepertinya ibu terkena virus kakak!!"
***
Hola selamat sore
Semoga suka dan terhibur ya dengan cerita abal-abal ini
Jangan lupa like komen dan votenya
__ADS_1
Sarangheyo 😘