My Slave Beauty

My Slave Beauty
Sakuraku


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba, setelah tiga hari sebelumnya menggelar pesta pertunangan secara mendadak, perlehatan acara ini pun terkesan terburu-buru, memang betul. Sang kakek tak ingin menundanya, beruntung keluarga Fidel memiliki kenalan seorang vonder wedding orginizer yang terpercaya, sehingga persiapan pernikahan yang hanya memiliki waktu tiga hari ini berjalan lancar tanpa kekurangan suatu apa pun.



Pesta di adakan di sebuah hotel berbintang lima kenamaan di kota tempat tinggal Fidel, bak sebuah pesta impian, semua pernak pernik pernikahan tertata rapi, seluruh hiasan memakai bunga mawar berwarna putih, bunga kesukaan Cindy ibu Fidel. Pasangan pengantin ini memang tidak rewel, mereka menurut saja mengikuti kehendak orangtuanya. Meski di awal, keluarga Fidel sempat merasakan kesedihan karena pernikahan putra bungsu mereka tidak dapat di saksikan oleh sang ayah yang terlebih dahulu meninggal, tetapi setelah proses demi proses terlewati semuanya menjadi turut gembira dan bahagia. Mereka tidak tahu bahwa Sakura juga merasakan hal yang sama, bahkan di hari yang membahagiakan ini dia tak memiliki salah satu pun sanak saudara kandung yang hadir dan menyaksikannya, sekali lagi dia sungguh beruntung. Ada Fidel yang selalu menatapnya mengenggam erat tangannya, menguatkan bahwa hidup ini tetap berjalan, tak perlu melihat ke belakang dan mari menuju masa depan bersamanya.


Mereka sudah resmi menikah, kini statusnya bukan lagi seorang pemuda dan seorang gadis namun sebagai seorang suami dan seorang istri. Sakura tetap melanjutkan sekolahnya, hanya butuh beberapa bulan saja untuknya mengikuti ujian nasional, Fidel juga tak ingin menutupi pernikahannya, ia turut mengundang semua teman serta pihak sekolah di mana Sakura belajar.



Fidel menurunkan kakinya dari dalam mobil, ia melupakan sesuatu di dalam sana. Sebentar lagi resepsi pernikahan di adakan, Sakura masih berhias. Saat berganti pakaian tadi, Fidel di larang menemui Sakura yang sedang di dandani, penata rias ingin memberi kejutan kepada sang pengantin pria tentang betapa cantiknya istri kecilnya yang polos jika bersolek.


Seseorang keluar dari dalam ruangan yang tertutup itu, dengan segera Fidel berlari masuk ke sana, mencari celah karena tak sabar ingin melihat penampilan istri barunya.


Fidel menemukannya, Sakura tengah di rapikan rambutnya.



"Kak Fidel?" ucap Sakura terkejut.


"Hai pac. . akhh sekarang istriku" Sakura tersenyum sambil menundukkan wajahnya, panggilan itu terasa kaku dan membuatnya canggung.


"Tuan ini sangat tidak sabaran, aku bilang tunggu sampai selesai aku meriasnya, tidak jadi surprise sekarang" keluh sang penata rias yang menyisir-nyisir rambut Sakura.


"Semua pengantin baru pasti tidak sabaran" celetuk Fidel cuek.


"Waaahhhh tuan dokter ternyata mesum sekali. Hahahaha" ledek penata rias.


"Ma-maksudku tidak sabar ingin melihat pasangannya, bukan tidak sabaran seperti itu" kilahnya menyesal mengucapkan kata-kata tadi.


"Tidak apa, pasti di pikiran kalian sekarang bagaimana nanti malam, iya khan, aku tahu aku mengerti" wajah Fidel dan Sakura tak berani bertatapan, mereka sama-sama membuang wajahnya, malu.


"Fidel Sakura kalian sudah bersiapkan? kalau sudah cepat masuk ke pintu utama gedung. Tamu undangan sudah berdatangan" ucap Cakra menghampiri.


"Sudah kak" jawab Fidel.


"Nah sekarang pengantin wanita sudah boleh di bawa" penata rias menyudahi riasannya.


Fidel menyodorkan tangannya di depan Sakura, istrinya itu menyambut mengulurkan tangannya, mereka berdua berjalan bersama.


Tangan kanan Sakura berpegangan pada siku Fidel, sedangkan tangan satunya memegang buket bunga. Kehadiran mereka ke dalam gedung di sambut riuh orang yang hadir di sana, semua orang memasang rona bahagia.

__ADS_1


Satu persatu tamu undangan menyalami pasangan pengantin baru itu.


"Selamat ya temanku" Jo memeluk Sakura, dia tak menyangka temannya ini begitu cepat melepas status lajangnya.


"Terima kasih Jo" balas Sakura, kemudian orang pun berganti, lelaki yang biasanya menggunakan anting-anting itu terlihat tak memakai satu pun aksesoris di telinganya yang bolong.


"Boleh aku memelukmu?" tanyanya polos.


"Iiisshhh enak saja, peluk aku kalau mau jangan peluk Sakuraku!!" bentak Fidel tak suka.


"Aku tidak mau memelukmu" jawabnya lesu, Reno kemudian menjabat tangan Sakura dengan wajahnya yang memelas.


"Hei!! jabatan tangannya tidak usah lama-lama!!" bentak Fidel lagi masih cemburu.


"Iya!! cuma pegang sebentar saja tidak boleh!" Reno merajuk, kemudian Jo menghampirinya menarik lengannya paksa.


"Maaf ya Sakura dan kak Fidel, Reno biar aku bereskan" ucapnya berjalan merangkul tangan Reno pergi.


"Iya terima kasih Jo, bawa dia ke meja makan yang jauh sekalian" teriak Fidel tak ingin pesta pernikahannya terganggu, Sakura hanya bisa melempar senyuman pada suaminya yang cukup protektif.


"Istriku cantik" bisiknya saat Sakura menatapnya membuat pipinya memerah mengalahkan warna blush on.


"Terima kasih suamiku yang gagah" Fidel pun merasa percaya diri mendengar pujian dari istri barunya.


Sebenarnya Fidel merasa riskan, rasanya malam pertama ini akan di laluinya dengan biasa-biasa saja. Kondisi pinggulnya yang belum sembuh sepenuhnya, membuatnya tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai suami untuk sementara waktu ini, sungguh merugi. Itulah yang Fidel pikirkan.


Ia memegangi bunga-bunga yang di bentuk lambang hati di atas kasur, menciumi aromanya. Sementara Sakura baru saja selesai membersihkan diri, ia mengenakan baju handuk mendekati Fidel.


"Kak minumlah, tadi sekretaris Toto memberikannya padaku, katanya ini suplemen vitamin yang bagus untuk kesehatan" ucapnya memberikan secangkir minuman.


"Oh terima kasih, tapi aku akan meminumnya nanti" Fidel menerimanya namun langsung menaruhnya di atas nakas.


"Baiklah" Sakura memegangi sebuah gelas yang berisi air yang sama, dia tampaknya haus. Dia menghabiskan minuman tersebut dalam satu tegukan, seperti biasa.


Sakura mendudukkan dirinya di samping Fidel yang berada di sisi ranjang.


Mereka terdiam, canggung ingin memulai obrolan tapi tak tahu harus mulai dari mana.


"Apa kamu sudah makan?" Fidel memecah keheningan.


"Sudah, kak Fidel sendiri apa sudah makan?" obrolan ini seolah mereka baru saja bertemu.

__ADS_1


"Sudah" Fidel dan Sakura sama-sama mengedarkan pandangannya, terlalu sungkan untuk menatap pasangan di sebelahnya.


Sakura menggibas-gibaskan bagian atas baju handuknya.


"Kak Fidel merasa cuaca hari ini panas tidak?" keringat mengalir di dahinya.


"Tidak, aku malah merasa dingin, suhu ac lumayan tinggi Sakura bagaimana bisa kamu merasa kepanasan?"


"Tidak tahu rasanya panas sekali" Sakura mulai merasakan tubuhnya yang bergetar, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.


Fidel memandangnya penuh keheranan.


"Sepertinya ada yang tidak beres" ucapnya seraya mengambil minuman yang di dapatnya dari sekretaris kakeknya tadi, menciumi baunya. "Aakkhh pasti kakek menaruh sesuatu di dalamnya" bau dari minuman itu sedikit aneh.


Sakura tiba-tiba merengkuh memeluknya dari belakang.


"Kak" panggilnya lirih membuat Fidel merinding. Tangan Sakura meraba-raba tubuh bagian atas Fidel.


"Sakura hentikan, apa yang kamu lakukan!!" Fidel merasa tidak tahan. Namun sekali lagi karena pengaruh minuman itu Sakura mendorong tubuh Fidel hingga jatuh ke kasur.


Buggghh


Suara cukup keras bergema, tapi ternyata bukan suara yang berasal dari Fidel dan Sakura. Ibu dan Cakra jatuh terdorong oleh kakek setelah bersandar pada pintu kamar mereka berdua.


Ketiga orang itu segera membangunkan dirinya begitu pun Fidel yang langsung menghampiri, ketiga pengintip pun tersenyum kikuk.


Belum sampai Fidel sampai pada pintu, ketiganya segera berlari dengan Cakra yang mendorong kakek dengan kursi rodanya, mereka pergi tanpa sepatah kata pun.


Fidel hanya bisa memicingkan matanya memandang tingkah konyol ketiga anggota keluarganya yang berbeda generasi tersebut sambil kembali menutup dan mengunci kamarnya, memastikan tidak ada satu celah pun dari kegiatan kamarnya yang bisa di intip.


"Ada-ada saja kelakuan mereka bertiga" keluhnya kembali menuju kasur, namun lagi-lagi Sakura berulah, dia menarik paksa Fidel dan langsung menindihnya.


"Kak aku mohon kali ini jangan menolakku" rintihnya masih merasa kepanasan.


Fidel memandang wajah yang menggoda itu lekat.


"Aku rasa untuk pertama kalinya dalam sejarah, Hulk akan kalah melawan serigala betina, ya Sakura sepertinya akan melahap Hulk habis-habisan. Sesekali kalah tak apa ya Hulk, yang penting kau juga sama-sama enak. Hahaha" Fidel mempasrahkan diri dengan melebarkan tangannya tersenyum menyeringai.


****


Akankah Serigala itu beraksi?

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote nya 😄😘


__ADS_2