My Slave Beauty

My Slave Beauty
Celemek


__ADS_3

Fidel memarkirkan mobilnya di sebuah tempat parkir VVIP untuk pejabat dari sebuah kantor perusahaan besar di Jakarta. Ia turun dan berjalan menuju lobi. Banyak karyawan yang berpapasan dengannya dan membungkukan badannya memberi hormat menyapa Fidel. Kini ia berada di dalam lift menuju sebuah ruangan khusus bertuliskan Direktur perusahaan.


Tanpa mengetuk pintu Fidel langsung masuk ke dalam.


"Fideeeelllll adikku" seseorang menghambur mengapit leher jenjang Fidel dengan kedua tangannya.


"Hentikan kak aku bukan anak kecil lagi" ia jadi sulit bernapas.


"Kamu ini manager tidak bertanggung jawab! kenapa jam segini kamu baru datang ke kantor?" omel orang itu.


"Kakak sendiri berteriak-teriak, direktur apa yang memberi contoh tidak baik" balas Fidel.


"Haahhh sekarang kamu sudah berani melawan kakakmu, sudah mau jadi adik durhaka ya"


"Jangan berbicara seperti itu kak jika ada yang mendengar nanti mereka bisa salah paham"


"Kenapa kamu baru datang?"


"Aku kan tadi pagi sudah mengirim pesan pada sekretarismu, kalau aku akan ke kantor setelah jam makan siang" jelas Fidel.


"Tapi Gayatri tidak mengatakan apa pun padaku" sang kakak menaruh tangannya di dagu seolah mengingat-ngingat dan berpikir. "Hemmm mungkin dia lupa, apa kamu terlambat hari ini karena pergi ke rumah sakit? kamu bilang hanya akan bekerja di rumah sakit hari sabtu dan minggu saja"


"Tidak, aku ada urusan lain"


"Urusan lain? apa ini ada hubungannya dengan perempuan?" mendengar pertanyaan itu seketika wajah Fidel memerah.


"Hahaha, ada apa dengan wajahmu? tebakanku benar ya?" Sang kakak tertawa bahagia.


"I-itu bukan urusanmu! lebih kakak sekarang mengurus keperluan untuk rapat perusahaan nanti" Fidel mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya juga, untung kamu sudah datang sebelum rapat di mulai. Aku selalu kerepotan tiap kali menghadapi paman Alex, dia selalu menuntut semua hal terlihat sempurna" keluh kakaknya.


"Tapi kamu hebat kak, selalu bisa menghadapinya dengan baik" puji Fidel.


"Memang sih, tapi akhir-akhir ini para pemegang saham sudah berani menuntut membuat paman Alex menjadi lebih cerewet. Aku jadi pusing"


Fidel tak menjawabnya ia hanya bisa menghela napas ikut merasa frustasi.


"Tidak bisakah kamu berhenti menjadi dokter dan fokus saja pada perusahaan Fidel?" saran sang kakak.


"Tidak bisa kak, menjadi dokter adalah impianku sejak kecil. Lagi pula aku sudah merelakan lima hari kerjaku di perusahaan dan hanya bekerja di hari sabtu dan minggu di rumah sakit. Mereka tidak mempermasalahkannya karena aku adalah cucu pemilik perusahaan terbesar di Jakarta" tungkas Fidel.


"Tapi . ."


"Aku tahu semenjak ayah meninggal kakak harus menanggung semuanya, tapi aku minta pengertian kakak. Aku suka menjadi dokter"

__ADS_1


"Yahhhh ya sudah jika itu maumu, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi" dia menyerah. Jika menyangkut profesinya sebagai dokter Fidel memang tidak bisa di bujuk. Kakaknya sudah berulang kali memintanya untuk berhenti tetapi Fidel bersikeras tak mau berhenti.


"Tuan Cakra" panggil seorang perempuan sambil berjalan masuk, mereka berdua menoleh. "Aku ingin memberitahu jika tuan Fidel akan ijin, Loooohhh??" perkataannya terpotong melihat Fidel ada di depannya.


"Laporannya terlambat" ucap Fidel.


"Maaf aku lupa" sesal perempuan itu.


"Tak apa-apa, aku bilang kalau hanya ada kita berdua kamu tidak usah seformal itu sayang" Cakra memeluk sekretarisnya itu.


"Hei! masih ada aku di sini!" ucap Fidel dengan nada meninggi.


Cakra menarik tengkuk leher Gayatri dan mencium bibirnya. Wajah Fidel kembali memerah melihat adegan mesra di depannya.


"Dasar pasangan mesum! ingat ini kantor bukan di rumah!" omel Fidel.


Cakra melepaskan ciumannya. "Kalau kamu iri cepatlah menikah adikku"


"Ciihhh aku tidak iri!!"


"Apa kamu sudah makan?" tanya Cakra pada Gayatri tanpa memperdulikan omelan Fidel.


"Belum, tadi jam istirahat aku tidak sempat makan"


"Kalau begitu ayo kita makan sebelum rapat di mulai" Cakra menarik pinggang Gayatri dan mengajaknya keluar ruangan meninggalkan Fidel sendirian.


Fidel membuang napasnya kasar, kakaknya sudah berusia 29 tahun dan menikah tetapi tingkah lakunya kadang masih seperti anak remaja. Akhirnya Fidel pun keluar dari ruangannya tak ingin di tinggal sendirian.


***


Hari sudah malam, Fidel sudah melenggang masuk ke dalam rumah.


"Aku pulang" ucapnya sambil membuka pintu rumah.


"Selamat datang" sahut seseorang dari arah dapur.


Fidel berjalan membawa sekotak donat berjalan menuju ke arah suara.


"Sakura aku membawakan makanan kesukaanMUUUUUUUUU" pekik suara Fidel saat melihat Sakura membelakanginya. "Apa yang kamu lakukan Sakura!" paniknya.


"Aku sedang memasak makan malam untuk tuan Fidel" Sakura memutar tubuhnya menghadap Fidel.


"Bu-bukan itu maksudku, apa yang kamu lakukan dengan pakaianmu?" Fidel kembali gelagapan, Sakura hanya mengenakan celemek tanpa pakaian dan tanpa dalaman. Catat! Hanya celemek doang.


"Aku terbiasa seperti ini tuan" jawabnya polos.

__ADS_1


"Akkkkhhh"


"Tuan Satrio menyukainya"


"Aku bukan Satrio!"


Dengan wajah yang sangat merah seperti tomat, Fidel melepas jas yang di pakainya dan mengenakannya pada Sakura. Untunglah ia sempat berganti pakaian tadi di kantor.


Meski hanya sepotong jas tetapi jas itu dapat menutupi tubuh atas Sakura.


"Lain kali jangan melakukan hal ini lagi, mengerti!"


"Aku tidak mengerti" ucapnya membuat Fidel mengeryitkan dahinya.


"Tuan Satrio selalu menyuruhku tidak memakai pakaian apa pun di depannya, dia menyuruhku berganti baju di depannya, tidur dengannya juga dan hal-hal lainnya. Tapi tuan Fidel selalu marah jika aku melakukannya"


"Jangan samakan aku dengan Satrio" Fidel menjadi semakin frustasi, akhir-akhir ini sepertinya tekanan darahnya mulai naik.


"Tapi kata mami Stella semua lelaki sama saja"


"Memang semua lelaki menyukai pemandangan seperti ini"


"Tapi kenapa tuan Fidel selalu marah"


"Bukannya aku marah, aku hanya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak di inginkan jika aku tidak bisa menahan diri. Aku salut pada Satrio dia bisa menahannya untuk tidak menyentuhmu"


"Dia tidak bisa menahannya, dia selalu berusaha menyentuhku"


"Benarkah?" Sakura mengangguk.


"Tapi aku selalu mengancamnya dengan surat perjanjian ini, sehingga dia tidak jadi menyentuhku" Sakura memperlihatkan kertas lepek itu lagi.


"Rupanya kamu pintar juga" Fidel mengelus pelan rambut Sakura.


Itu sebabnya surat perjanjian itu terlihat lepek, Sakura selalu membawanya kemana-mana agar bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya.


"Pokoknya kamu jangan melakukan hal ini lagi, bagaimana pun aku ini laki-laki normal. Aku tidak tahu sampai kapan bisa menahan batasku, aku tidak ingin melukaimu, sekarang apa kamu mengerti?" jelas Fidel. Sakura menganggukan kepala.


"Bagus, sekarang pakai bajumu setelah ini ayo kita makan malam" Fidel menepuk bahu Sakura kemudian pergi meninggalnya menuju kamar untuk berganti pakaian.


Sakura menatapnya hingga menghilang, ia melepas jas yang disematkan Fidel dan menciumnya.


"Bau aroma tubuh tuan Fidel" ia menyesapnya, tetapi kemudian ia memandang sedih pada jas yang di pegangnya itu.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2