
Pagi menjelang, sinar matahari menembus masuk melalui celah-celah jendela. Seorang gadis berambut hitam terurai mengerjapkan matanya perlahan, mencoba membangunkan diri namun sesuatu yang berat terasa bersarang di kepalanya. Sakura memijat dahinya lembut, penglihatannya sedikit berkunang-kunang. Suara derap kaki terdengar mendekat.
"Kamu sudah bangun? apa kepalamu sakit?" suara bariton yang sangat di kenalnya.
"Iya kak kepalaku pusing sekali" keluhnya menyandarkan bahu di tepi ranjang.
"Ini minumlah, minuman ini berfungsi untuk menghilangkan rasa pengar" Fidel membukakan sebuah botol minuman kecil, memberikannya pada Sakura juga membantunya meminumnya. "Perlahan-lahan" perintahnya, karena rasa minuman itu juga tidak mengenakan.
Sakura menenggak minuman tersebut dalam satu kali tegukan, dia memicingkan matanya, rasa aneh menjalar dalam lidahnya.
Fidel tersenyum simpul melihat ekpresi menggemaskan kekasihnya.
"Maaf ya semalam kamu minum alkohol karena ulah kakek" ia merasa bersalah, seharusnya gadis belia ini tidak sampai meminumnya.
Sakura menggelengkan kepalanya.
"Tak apa kak, itu karena aku salah mengambil minuman yang di sediakan untuk kak Fidel"
"Aku tidak yakin kalau ini bukan strategi kakek" gumam Fidel dalam hati tidak mempercayai kakeknya.
"Lalu bagaimana apa kamu sudah merasa baikan?" Sakura mengangguk.
"Sedikit"
"Kalau begitu mandilah agar tubuhmu segar, setelah itu kita akan langsung pulang. Kamu harus sekolah dan aku harus bekerja, jangan sampai kita terlambat"
"Baiklah" Sakura menurunkan kakinya perlahan, dia membuka kancing pakaiannya.
"Tunggu Sakura!! biarkan aku keluar dulu" suara Fidel meninggi, ia mencoba mempertahankan komitmennya pada diri sendiri.
"Maaf kak aku lupa" Sakura tersenyum kikuk, dia berlari menuju kamar mandi.
"Sakura ini pakaian gantinya aku taruh di atas meja ya, mungkin sedikit kebesaran" Fidel meminjamkan pakaian ibunya saat muda dulu.
"Iya kak, terima kasih banyak" teriaknya dari balik pintu.
"Kalau kakek tetap bersikeras menikahkan kami minggu depan, aku hanya bisa pasrah. Sepertinya keputusan itu tidak buruk" Fidel berubah pikiran, kini ia setuju untuk segera menikah. Ia melangkahkan kaki berjalan keluar dari kamar Sakura.
***
Sakura sudah berpakaian rapi, dia dan Fidel sedang menunggu kakek untuk berpamitan.
Tak lama pria yang di tunggu pun hadir, masih mengenakan kursi rodanya.
"Pagi-pagi begini kalian sudah bangun" sapanya.
__ADS_1
"Kami ingin berpamitan kek, aku dan Sakura harus pulang" jelas Fidel.
"Terburu-buru sekali, sarapan dulu baru pulang" kakek masih merasa rindu dengan cucunya, tak rela mereka pergi.
"Jarak dari sini ke rumahku jauh kek, akan memakan cukup waktu, Sakura akan terlambat jika kami sarapan di sini"
"Yah, baiklah tapi kalian harus berjanji akan berkunjung lagi"
"Iya kek, kami pasti akan mengunjungi kakek lagi di lain hari" pungkas Sakura memasang senyum manisnya membuat kakek akhirnya merelakan.
Sakura meraih tangan kakek, bersalaman dan berpamitan.
"Cucu menantu kakek yang cantik" pujinya melihat kecantikan alami Sakura yang membuat Fidel tergila-gila, terlebih mengenakan pakaian Cindy anaknya, meski model pakain itu cukup tua namun tetap sedap di pandang mata. Mendengar hal itu bibir Sakura menaik, memperlihatkan gigi putihnya.
"Kakek jaga kesehatan ya" ucapnya memberi salam perpisahan.
Fidel memeluk kakek, lelaki baya itu pun menepuk bahunya pelan.
"Kakek ingin cicit perempuan" ucapnya cuek sambil berbisik.
"Issshhh menikah saja belum, lagi pula mana bisa request seperti itu kek. Bukan aku yang menentukan nanti akan lahir cicit perempuan atau cicit laki-laki" Fidel memasang wajahnya malas, tak habis pikir dengan permintaan sang kakek.
"Haaaahhh sepertinya aku harus mengiyakan, percuma jika aku terus menjelaskan"
"Cucu yang baik" pujinya tersenyum polos.
"Aku dan Sakura pulang ya kek"
"Iya, hati-hati di jalan. Ingat cicit perempuan" kakek melambaikan tangan.
"Baik, akan ku buatkan cicit perempuan dari tepung terigu" ledek Fidel kesal, kakek memicingkan matanya menatap Fidel tajam, ia tahu kakek tidak suka.
"Iya iya aku akan buatkan kakek cicit perempuan sungguhan" teriaknya sambil berjalan dan merangkul bahu Sakura mengajaknya menuju pintu utama kediaman kakek. Lelaki tua itu tersenyum puas penuh kemenangan.
"Jika dia benar-benar memberikan aku cicit perempuan, berikan seperempat sahamku nanti pada cicitku, catat di surat pembagian harta warisan" perintahnya pada sekretaris yang ada di sampingnya.
"Baik tuan" sekretaris Toto membungkukan badan.
"Sediakan juga dari sekarang macam-macam obat kesuburan dan obat kuat yang terbaik, kemas dengan menarik jadikan hadiah untuk pernikahannya minggu depan"
"Siap, akan saya kumpulkan dari sekarang tuan"
__ADS_1
***
Fidel dan Sakura menaiki mobil mewahnya, ia seolah tak melepas pedal gas, menginjaknya terus hingga mobil melesat cepat kemudian mereka telah sampai di kota tempat tinggalnya.
Krruuyyyuuukkk
Bunyi perut menyeruak, Sakura meremas perutnya, dia merasa malu.
"Kamu lapar? sebaiknya kita menepi untuk sarapan" Fidel memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan kecil yang menyediakan berbagai macam minuman, burger dan ayam goreng tepung.
"Apa nanti kita tidak terlambat kak jika sarapan dulu?" Sakura tak ingin menghambat pekerjaan Fidel.
"Kita masih memiliki sedikit waktu, aku tidak tega mendengar perutmu yang keroncongan, lebih baik terlambat dari pada nanti kamu sakit" Fidel membuka pintu mobilnya dan berjalan memutar membukakan pintu di samping Sakura. "Ayo nona cantik, kopi di dalam sudah menunggumu"
Fidel menyodorkan tangannya, Sakura tak segan meraihnya dan menuntunnya keluar lalu menutup pintu mobilnya, ia memperlakukannya bak seorang putri.
Sakura duduk di sebuah kursi menunggu Fidel yang sedang memesan makanan, ia pun datang dengan membawa sebuah nampan.
"Makanan datang, silahkan di nikmati nona" ucapnya meletakan nampan tersebut di depan kekasihnya.
"Terima kasih" rona bahagia selalu tersimpul di wajah Sakura, dia melahap makanan yang di belikan Fidel, perutnya meronta menikmati makanan yang masuk ke dalam sana.
Sakura makan dengan terburu hingga di sudut bibirnya terulas sedikit makanan, tanpa ragu Fidel refleks menyekanya menggunakan tangannya.
"Kak bolehkah aku mengatakan sesuatu" ucapnya tiba-tiba di sela makan mereka.
"Katakan saja" jawab Fidel sambil mengunyah makanannya.
"Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu, entah bagaimana caranya agar aku bisa berterima kasih, karena kak Fidel aku bisa menjalani hidup normal seperti gadis-gadis yang lain, mengenal apa arti keluarga dan bisa hidup dengan layak, sepertinya bekerja seumur hidup pun melayanimu semua ini tak akan terbayar" perkataannya membuat Fidel menatapnya lekat dan menaruh makanannya sejenak, ia meraih tangan Sakura dan memegangnya erat.
"Aku tidak memintamu untuk bekerja melayaniku, kamu ini calon istriku bukan lagi budak yang kemarin tanpa sengaja aku selamatkan, lupakan masa lalumu, kini hiduplah dengan baik bersamaku, aku tidak mengharapkanmu membalas apa pun yang pernah aku lakukan, selama kamu berada di sampingku itu saja sudah cukup" mata Sakura dan Fidel saling berbinar, meski masih ada perasaan canggung tetapi mereka sama-sama tulus, mencintai satu sama lain.
"Ekhem" suara orang-orang berdehem memandang interaksi mereka, Fidel dan Sakura lupa bahwa mereka sedang berada di tempat umum, keduanya melepaskan tangannya dan kembali melanjutkan kegiatan makannya.
"Kak Fidel" panggil Sakura memecah keheningan.
"Iya"
"Maaf mengenai hal tadi kak Fidel janjikan pada kakek, apa kak Fidel bersungguh-sungguh? ma-maksudku bukankah menentukan jenis kelamin calon bayi itu sulit"
Fidel terbatuk mendengarnya, sebenarnya sebagai seorang dokter kandungan ia mengetahui kiat-kiat program kehamilan yang bisa membantu menentukan jenis kelamin janin.
"Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Emmm aku menyayangi seluruh anggota keluarga kak Fidel, kakek juga bahkan beliau sudah menganggapku cucunya sendiri meski ini kali pertamaku bertemu dengannya, aku hanya tidak ingin mengecewakannya, jika memang bisa aku rasa aku siap berusaha sebaik mungkin agar bisa mengandung seorang bayi perempuan" Sakura membuang wajahnya malu menatap Fidel.
__ADS_1
"Sakura akan aku jelaskan, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar kamu bisa mengandung seorang bayi perempuan, yang pertama asupan makanan harus banyak mengandung kalsium dan magnesium, kedua lakukan hubungan suami istri sebelum hari ovulasi, ketiga hindari orgasm* dan keempat posisiku selalu di atasmu, sebenarnya ada beberapa posisi lain lagi seperti menyamping dan. . " Fidel berhenti menjelaskan, wajah keduanya memerah, membahas hal ini membuat tubuh mereka kepanasan, Sakura mengipas-ngipaskan tangannya ke tubuhnya dan menyuruput minumannya sampai habis.
"Kenapa obrolan pagi-pagi kami mesum sekali, membuat otakku traveling saja, sabar ya Hulk sebentar lagi kau akan menjadi primadona dalam setiap posisi. Hahahaha" Fidel sudah membayangkan yang tidak-tidak seperti biasa.