My Slave Beauty

My Slave Beauty
Kenyataannya


__ADS_3

"Fidel kamu berusaha memperkosanya ya!" teriaknya lagi membuat Fidel membuang napasnya kasar.


"Kakak mengerjaiku kan?" tanpa basa basi Fidel menghampiri kakaknya dan menjulurkan tangannya menarik telinga Cakra. Sungguh keadaan yang berbanding terbalik dengan realita kehidupan yang biasanya terjadi. Jika seharusnya kakak yang menarik telinga adiknya karena nakal, ini justru sang adiklah yang menarik telinga kakaknya karena kesal.


"Aw aw Fidel hentikan telingaku sakit, jangan di tarik seperti itu nanti telingaku bisa putus" Cakra menarik tangan Fidel agar melepaskan tangannya dari telinganya.


"Kalau putus akan ku jahit, kakak tidak tahu adikmu ini pandai menjahit luka. Tenang saja benang yang akan ku pakai untuk menjahit telinga kakak pun adalah benang wol. Biar aku tambahkan motif teletubies sekalian!" ucap sambil melepas telinga Cakra.


Sang kakak langsung menyentuh dan mengelus-ngelus telinganya yang terasa panas dan berwarna merah.


"Jahatnya adikku"


"Heeemmm" Fidel hanya mendengus kesal memandang kakaknya.


"Fidel kamu tidak ingin mengenalkanku pada pacarmu" Cakra mengedipkan matanya seolah menunjuknya minta di kenalkan dengan Sakura.


"Dia bukan pacarku kak, Sakura kemarilah" Sakura yang sedari tadi diam menyaksikan penganiyayaan yang dilakukan dokter tampan ini pada kakaknya berangsut maju mendekat.


"Ini kakakku namanya Cakra"


"Namaku Sakura" gadis itu membungkukan badannya memberi hormat pada Cakra.


"Eh Sakura tidak perlu sungkan sampai memberi hormat seperti itu, anggap saja aku temanmu jangan terlalu formal padaku" pinta Cakra.


"Kalau bisa tidak usah menghormatinya juga tidak apa-apa" timpal Fidel, Cakra memukul bahu adiknya pelan dan tersenyum pada Sakura.


"Oia aku kemari untuk mengantarkan ini" Cakra menyerahkan bingkisan yang berisi beberapa kotak makanan. "Ibu bilang kamu cepatlah pulang, dia ingin bertemu denganmu"


Fidel menerima kotak makanan itu dan memberikannya pada Sakura, Mereka bertiga kemudian berjalan menuju ruang makan.


"Iya nanti aku pasti pulang" jawabnya singkat sambil mendudukan dirinya di kursi meja makan.


Sakura sibuk membuka kotak makanan yang di beri Fidel, ia bermaksud menyiapkan makanan itu untuk segera di santap oleh Fidel dan kakaknya.


Sakura benar-benar terampil menyiapkannya, dalam sekejap ia sudah menyajikan masakan ibu Fidel di meja makan lengkap dengan alat makannya.


"Aku lapar" Cakra mengambil piring dan menyendok nasi terlebih dahulu.


"Kak ini kan kakak yang bawa kenapa malah kakak yang memakannya?"


"Aku tadi tidak sempat sarapan di rumah karena ibu menyuruhku buru-buru mengantar ini. Kamu harus berterima kasih padaku" Cakra mengambil beberapa lauk dan sayur untuk di makannya.


"Yah terserahlah" Fidel sudah merasa malas, tak lagi peduli dengan apa yang akan di lakukan kakaknya. "Sakura duduklah di sini kita makan bersama-sama"

__ADS_1


"Tidak usah tuan, aku belum lapar"tolaknya.


"Kamu pasti belum makan kan, aku tahu kamu belum masak. Sudah cepat kemari"


"Tidak tuan, aku belum mau makan" jawabnya lagi sambil menyunggingkan senyum terpaksa.


"Ini perintah Sakura!" tegas Fidel.


Sakura tak dapat berkata apa-apa lagi jika ini adalah perintah tuannya. Ia mendekat dan duduk di kursi samping Fidel.


Pemiliknya itu menyodorkan piring agar Sakura segera mengambil makanannya. Cakra memperhatikannya dengan seksama, perhatian Fidel pada Sakura. Ini pertama kalinya ia melihat Fidel bersikap seperti itu pada seorang gadis di depannya.


Dengan perlahan Sakura mengambil nasi dan beberapa lauk untuknya makan, sebelumnya Fidel sudah mengambil makannya duluan.


"Sudah berapa lama kalian tinggal bersama?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Cakra.


"Satu minggu" Fidel menjawab sambil mengunyah makanannya.


"Kalian sudah tidur bersama?" lagi-lagi pertanyaan yang terang-terangan dari Cakra, membuat Fidel sedikit batuk tersedak dengan makanannya. "Hey jawablah oleh kalian berdua" Cakra melanjutkan makannya.


Fidel dan Sakura saling memandang.


"Pernah" jawab Sakura.


"Kenapa jawaban kalian berbeda apa yang terjadi sebenarnya? kalian tidur bersama atau tidak?" Cakra memastikan.


"Tidak"


"Pernah" jawaban mereka berbeda lagi.


"Hadeh aku akan bertanya pada Sakura saja, kamu diamlah Fidel"


"Kenapa kakak bertanya kepadanya?"


"Aku tidak percaya kepadamu, laki-laki itu kebanyakan buaya. Sakura jawablah dengan jujur apa kalian pernah tidur bersama?" tanya Cakra pelan.


Sakura menjawabnya dengan anggukan.


"Berapa kali?"


"Dua kali" Seketika Cakra membanting sendoknya.


"Wah kamu ini Fidel menidurinya sudah dua kali dan kamu bilang tadi tidak pernah tidur bersama. Kamu benar-benar Fuckboy" Cakra suka sekali suasana seperti ini, menyudutkan adiknya.

__ADS_1


"Kak ini tidak seperti yang kakak pikirkan" paniknya tak ingin di anggap macam-macam oleh sang kakak. "Sakura jelaskan kalau kita hanya tidur dalam satu ranjang dan tidak melakukan apa-apa" pintanya sambil memandang Sakura.


"Iya kami tidak melakukan apa-apa, kami hanya tidur dalam satu ranjang" Sakura mencoba mengulangi penjelasan Fidel.


"Aku tidak percaya" Cakra ingin memperkeruh keadaan. "Sakura apa Fidel pernah menyentuhmu saat kamu tertidur? tak apa jawablah jujur Sakura, lebih jujur lebih baik" Ia benar-benar mengharapkan Fidel mati kutu.


Sakura kontan menjawabnya dengan anggukan.


"Haaahhhh" Fidel menghela napasnya.


"Dimana dia menyentuhmu?" Cakra semakin penasaran.


Sakura menunjuk dadanya sebelah kanan. Cakra memukul meja sambil berdiri.


"Wah! kamu benar-benar mesum Fidel. Bisa-bisanya kamu menyentuh dada Sakura saat dia tertidur"


Fidel memijat pangkal hidungnya, ia sangat frustasi. Ingin menyangkal tetapi kenyataannya benar.


"Tunggu kak ini tidak seperti yang kakak pikirkan, aku tidak sengaja menyentuhnya. Saat itu aku bangun tidur dan sedang meregangkan ototku aku tidak tahu dia tidur di sampingku dan aku tanpa sengaja menyentuh dadanya." Jelasnya panjang lebar.


"Fidel aku rasa kamu harus bertanggung jawab, kamu sudah tidur dengan Sakura sebanyak 2 kali, itu baru yang di sadari Sakura kamu menyentuh dadanya mungkin saat Sakura tidak sadar kamu memperdayainya" Cakra tak menerima penjelasan Fidel. Ia mengambil jaket miliknya akan beranjak pergi.


"Bukan seperti itu kak aku sungguh tidak berbohong, aku tidak menyentuhnya di area yang lain. Kakak mau kemana?"


"Aku mau pulang, aku akan melaporkannya pada ibu. Kamu harus menikahi Sakura, bertanggung jawablah dia sudah memberikan keperawanannya untukmu" Sakura yang menjadi topik utama dalam pembicaraan ini hanya bisa diam dan menonton.


"Kemarin melepas keperjakaan sekarang memberikan keperawanan, halah" umpat Fidel dalam hati.


"Kak jangan bercanda kak jangan katakan hal ini pada ibu" Fidel mencoba merayu kakaknya yang sudah berjalan menuju pintu keluar rumah.


"Terserah padaku, aku pulang dulu ya"


"Kak, kakak mau apa nanti aku belikan. PS4, TV baru, AC, kulkas? apa mau kakak?" Fidel menahan kepergian Cakra.


"Menawariku barang-barang rumah tangga yang murah, dasar dokter pelit tidak bermodal"


"Lalu kakak mau apa?" rengek Fidel.


"Aku mau . ." Cakra tersenyum menyeringai sambil memandang Sakura. Entah apa yang akan di mintanya.


***


Bersambung

__ADS_1


Cakra itu kakak Laknat 😂


__ADS_2