
Fidel berada di sebuah toko perhiasan, ia nekat meminta ijin pada sang kakak untuk bekerja setengah hari untuk hari ini, tentu saja Cakra mengijinkannya karena alasannya ijin adalah mempersiapkan makan malam spesial sekaligus lamaran ulang untuk Sakura, ini juga adalah ide Cakra jadi dia tentu mendukungnya.
Setelah mendapatkan sebuah cincin manis berukuran kecil Fidel segera beralih ke toko bunga, ia memesan sebuah buket bunga mawar berwarna merah, tak lupa ia juga sudah membelikan sebuah gaun yang akan di kenakan Sakura nanti malam, ia tahu persis gadis itu tidak memiliki banyak pakaian.
Kini ia pergi mengunjungi sebuah restoran yang akan di reservasinya, ia sudah berbincang dengan manager dari restoran tersebut. Meminta di berikan tempat dan suguhan yang spesial.
Segala hal dan perlengkapan untuknya melamar Sakura sudah siap, kini pemuda itu sedang menunggu gadisnya pulang sekolah.
Tak lama kemudian gerbang sekolah pun di buka, siswa dan siswi SMA menghambur keluar. Dari jauh nampak Sakura yang berjalan dengan Jo juga seorang lelaki yang mengikutinya dari belakang.
"Sakura" panggil Fidel membuat gadis itu menoleh kepadanya.
Sakura melambaikan tangannya begitu juga Jo yang langsung pergi karena seorang supir sudah menunggunya. Berbeda dengan Reno yang masih mengekor pada gadis berambut panjang tersebut.
"Tuan" sapanya sambil tersenyum.
"Aku menjemputmu, ayo kita pulang tapi tunggu dia ini siapa?" tanya Fidel melihat Reno memperhatikan mereka.
"Siapa tuan?" Sakura memutar tubuhnya ke belakang mencari tahu siapa yang di maksud Fidel. "Reno?"
Pemuda gagah dan bertindik itu memasang wajah datarnya.
"Kamu ada perlu denganku?" tanya Sakura karena Reno hanya diam saja kemudian menggelengkan kepalanya.
"Dia temanmu Sakura?"
Mendengar pertanyaan Fidel, Reno memajukan langkahnya dan menyodorkan tangannya.
"Reno"
Meski sedikit bingung dengan sikap Reno, Fidel tetap menerima jabatan tangannya.
"Fidel, kamu pasti teman sekelas Sakura?"
"Iya" Sakura hanya bisa terdiam memperhatikan interaksi Reno dan Fidel.
"Maaf ya mungkin lain kali saja kita mengobrol, aku dan Sakura harus pulang terlebih dahulu" ucapnya pamit.
"Tunggu sebentar, apa kalian memang tinggal bersama?" Fidel yang tadinya akan masuk ke dalam mobil kemudian menghentikan gerakannya.
"Iya kami tinggal dalam satu rumah"
"Kalau boleh tahu hubungan kalian itu apa?"
Pertanyaan tersebut menghujam pikiran Fidel, Sakura adalah budaknya namun ia juga menyukainya, mereka belum resmi berpacaran tetapi Fidel sudah melamarnya, hubungan mereka sedikit rumit.
"Aku dan Sakura. ."
"Maaf Reno aku dan tuan Fidel harus pulang" ucap Sakura menyela.
"Tapi sebentar Sakura aku hanya ingin memastikan ini"
"Aku sudah mengatakannya kan Reno, tuan ayo kita pulang" ajak Sakura yang berjalan masuk ke dalam mobil di ikuti Fidel. Sakura tidak ingin membahas hal ini lebih jauh, ia tak mau kehilangan teman seperti Reno karena perasaannya, juga tak mau membahas hubungannya dengan Fidel kepada orang lain.
Fidel melajukan mobilnya cepat meninggalkan Reno yang mengepalkan tangannya kesal.
"Sepertinya temanmu itu menyukaimu" ucap Fidel setelah hampir setengah jalan mereka lalui.
__ADS_1
Sakura hanya tersenyum dan tak menjawab apa pun.
"Apa dia sudah menyatakan perasaannya padamu?"
"Belum"
"Tapi aku rasa dia cukup berani, aku merasa minder sepertinya aku kalah oleh anak SMA"
"Maksud tuan?"
"Ah tidak, Sakura aku ingin mengajakmu makan malam di suatu tempat"
"Ada perayaan apa tuan?"
"Tidak ada perayaan apa-apa, aku hanya ingin makan malam berdua denganmu"
Fidel melesat mengendarai mobilnya menuju rumah, hari mulai gelap, kini mereka berdua sudah sampai. Fidel sudah memberikan gaun yang di belikannya untuk Sakura dan memintanya memakainya malam ini, Sakura sempat bertanya-tanya kenapa Fidel sampai membelikan sebuah gaun mahal untuknya jika hanya akan makan malam tapi Fidel hanya mengatakan bahwa malam ini adalah malam yang spesial.
Dokter tampan tersebut sudah rapi memakai jas hitam, dan kini sedang menunggu Sakura yang sedang berhias. Fidel sudah mengajaknya pergi ke salon tetapi Sakura menolaknya, dia bilang akan berdandan sendiri dengan alat make up yang dia punya karena dia tidak terlalu suka dandanan yang menor.
Suara pintu kamarnya terbuka, Sakura menghampiri Fidel mengenakan gaun panjangnya.
"Tuan apa seperti ini cara memakai gaunnya? sepertinya sedikit ribet" Sakura memanyunkan bibirnya, gaun itu berkali-kali terinjak olehnya dan tersangkut.
Fidel tak berkedip melihat gadis cantik di depannya, mulutnya juga sedikit menganga.
Karena perkataannya tidak mendapat jawaban akhirnya Sakura mendekat.
"Ah ada apa Sakura?"
"Aku sudah bersiap tetapi apa memang gaunnya seperti ini tuan? sepertinya gaunnya kebesaran sehingga terlalu panjang dan terinjak-injak olehku" ucapnya sambil melihat terus ke arah bawah, Sakura merasa gaun ini terlalu mahal jadi sayang jika sampai kotor dan terinjak olehnya, Fidel hanya bisa tersenyum.
"Memang seperti ini Sakura bentuk bawahnya memanjang, gaun ini sangat cocok untukmu" pujinya.
"Oohhh terima kasih banyak tuan" kini Sakura tersenyum manis sebenarnya ia tidak merasa percaya diri mengenakannya.
"Sekarang bagaimana jika kita berangkat?"
"Baik tuan" Fidel menyodorkan siku lengannya, meminta Sakura menggandengnya. Mereka seperti sepasang selebritis yang akan berjalan di atas red carpet. Keduanya tampak cantik dan rupawan.
***
Fidel dan Sakura berada di lantai dua restoran yang sudah di reservasinya. Pemandangan kota nampak jelas terlihat, kelap kelip lampu dan ramainya kendaraan menambah keindahan malam ini.
Seorang pelayan mengantarkan sebuah botol minuman beserta gelasnya dan menyajikannya di atas meja Fidel.
"Satu gelas saja, satu minuman lagi es cocopandan" minuman yang di sajikan pelayan tersebut adalah red wine, tentu Sakura tidak dapat meminumnya.
"Baik tuan" pelayan tersebut kemudian pergi.
Ddrrttt Dddrrttt
Getar ponsel Fidel, dia terpaksa harus mengangkat teleponnya dulu.
"Sebentar Sakura, siapa juga yang menelponku malam ini, mengganggu saja!" ucapnya seraya pergi meninggalkan gadisnya.
__ADS_1
Pelayan tadi datang dan menyajikan minuman yang tadi di minta Fidel, karena merasa haus Sakura langsung menenggaknya, tidak berhati-hati minuman tadi sedikit tumpah dan mengenai gaunnya hingga meninggalkan warna kemerahan.
Sakura segera menyekanya dengan tisu.
"Gaun cantik ini, kenapa aku harus menumpahkan minuman di atasnya" ucapnya penuh penyesalan.
Sakura berjalan menuju kamar mandi dan menyalakan keran air mencoba membersihkan gaunnya.
Suasana di dalam kamar mandi memang sepi, karena Fidel menyewa seluruh restoran dua lantai ini.
Sakura masih mengucek gaunnya, sayang minuman tadi masih meninggalkan bekas meski Sakura menguceknya sekuat tenaga.
"Bagaimana ini nodanya tidak mau hilang" dia mengutuk dirinya yang ceroboh dan hampir menangis.
Sakura menyerah dan pasrah, dia akan meminta maaf pada Fidel karena telah merusak gaun yang baru saja di belikannya.
Sakura berjalan sambil tertunduk dan memegangi gaunnya yang basah.
Tiba-tiba seseorang menyekapnya dengan sapu tangan yang menutupi indera penciumannya, Sakura berusaha berontak namun tenaganya kalah kuat, dia sempat meronta sebelum akhirnya di seret dan hilang kesadaran.
Fidel kembali setelah menerima panggilan telepon yang cukup lama.
"Maaf aku lama Sakura tadi telepon dari salah satu klienku yang penting" ucapnya sambil duduk dan menaruh ponselnya di atas meja namun saat ia mendongakkan wajahnya kursi Sakura kosong.
Fidel memanggil salah satu pelayan.
"Kemana nona yang tadi datang bersamaku?" tanyanya.
"Nona tadi yang bersama tuan pergi ke kamar mandi" tunjuknya ke arah belakang.
"Oh terima kasih"
Fidel menunggu Sakura, namun setelah 15 menit berlalu gadis tersebut belum juga kembali.
"Kenapa Sakura lama sekali"
Fidel berinisiatif menghampirinya ke toilet.
"Sakura" panggilnya dari luar, ia tak berani masuk ke toilet wanita.
Tetap tak ada jawaban akhirnya Fidel memberanikan diri, ia memeriksa toilet tersebut namun sepi bahkan ia memeriksa setiap kamar mandinya yang kosong.
Fidel mulai panik, ia memanggil manager restoran memintanya mencari Sakura. Tak lupa ia juga menghubungi Cakra.
"Kak Sakura hilang"
***
Jauh dari tempat Fidel berada, Sakura yang sudah terikat di atas sebuah ranjang, mencoba mengerjapkan matanya, kepalanya masih terasa pusing dan terhuyung.
Dia berusaha mengembalikan kesadarannya secara penuh. Seseorang menghampirinya, menyentuhnya dan mengangkat dagunya sambil tersenyum.
"Kau?"
***
To be Continued
__ADS_1