
Sakura dan Fidel terlelap, setelah malam panjang yang gagal Fidel nikmati akhirnya mereka memilih untuk sama-sama beristirahat, Fidel melingkarkan tangannya di pinggang Sakura, memeluknya erat seolah takut kehilangan gadisnya.
Ceklek
Suara pintu ruang perawatan Fidel terbuka, beberapa suster masuk.
Betapa terkejutnya mereka melihat dokter idamannya yang di kenal lama menjomblo sedang tidur berdua di atas ranjang pasien dalam keadaan mesra, dalam hati mereka menjerit tak terima kenyataan dan apa yang di lihatnya.
Fidel mengerjapkan matanya dan cukup terkejut karena tidurnya sedang di pandang beberapa orang.
"Maaf suster" Fidel bergerak melentangkan tubuhnya, tangannya sesekali menggoyangkan tubuh Sakura.
"Aaahhh jangan tuan" lirih Sakura meracau matanya masih tertutup.
Fidel menoleh kepadanya, para suster tersebut mulai menatap tajam. Ia menggoyangkan bahu Sakura lagi membangunkannya.
"Sakura" panggil Fidel pelan.
"Jangan tuan nanti pinggang tuan sakit lagi"
Salah satu suster yang melihat mereka meremas map yang di pegangnya hingga suara remasan itu terdengar oleh Fidel.
"Sakura bangun!" kini suara Fidel agak mengeras membuat Sakura membuka matanya seketika dan melihat mereka yang menjadi tontonan.
Sakura segera mendudukkan dirinya turun dari ranjang dan merapikan rambutnya.
"Maaf aku tidak tahu kalau ada suster yang akan memeriksa tuan" ucapnya sambil membungkukkan badan.
Para suster yang biasanya ramah tersebut memasang wajah datar, memeriksa tensi darah Fidel lalu menyuntikkan sesuatu, ya gerakan mereka sedikit rusuh seperti orang yang sedang mengambek.
"Ini obatnya untuk dokter Fidel semoga lekas sembuh" ucap salah satunya meletakkan obat di atas nakas lalu segera membalikkan tubuhnya seperti tak ingin berlama-lama ada di sana.
"Terima kasih" ucap Fidel namun tak ada jawaban.
Semua suster tersebut kemudian berjalan keluar dan menutup pintunya sedikit kencang.
Brak
Fidel mengelus dadanya pelan.
"Sepertinya mereka sedang banyak fikiran"
Para suster tadi berkumpul di lobi menemui suster yang lainnya.
"Pupus sudah harapan kita sebagai suster pencari cinta, dokter Fidel sudah memiliki kekasih" ucap salah satunya sedikit heboh.
"Benarkah? kamu tidak berbohong?"
"Sungguh, kalau tidak percaya shift selanjutnya kalian datanglah ke ruangan dokter Fidel, mereka bahkan tidur bersama dan saling berpelukan"
"Apa maksudmu dokter Fidel sudah tidak Ori?" salah satu suster memiliki pemikiran mesum seperti Cakra.
"Iya aku rasa dokter Fidel sudah second" timpal yang lain, mereka mengumpamakan Fidel bak alat komunikasi seluler.
__ADS_1
"Huwaaaaa bagaimana ini dokter kesayangan kita segelnya sudah terlepas"
"Tak apa, kalau begitu kita cari kandidat dokter tampan yang lain" Mereka berdiskusi mencari sosok dokter bujangan yang katanya segelnya lengkap dan belum terbuka. Entahlah mereka akan mencari di counter mana.
Sakura keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan diri, rambutnya basah, setetes demi setetes air membasahi pakaian bagian bahunya.
Seseorang mengetuk pintu, Sakura segera membukakannya. Rupanya salah satu asisten rumah tangga utusan ibu Fidel mengantarkan beberapa makanan dan tas berisi pakaian.
"Tuan mau makan sekarang?" tanya Sakura membereskan makanan tersebut di atas meja.
"Tidak, kamu saja yang makan dan segera ganti pakai seragam sekolah. Sudah 3 hari kamu ijin, jika begini terus bisa-bisa kamu akan ketinggalan pelajaran" ucap Fidel yang duduk bersandar di tepi ranjang, kini pinggangnya sudah lebih baik.
"Lalu tuan bagaimana?"
"Aku baik-baik saja Sakura, aku bisa memanggil suster jika membutuhkan sesuatu, cepat sarapan dan pergilah ke sekolah. Tidak usah mengkhawatirkan aku"
Sakura nampak terdiam.
"Tenang saja Sakura, pinggangku mulai tidak terasa sakit" Fidel kembali mencoba menenangkan.
"Baiklah jika begitu aku akan pergi ke sekolah"
"Nah itu baru anak pintar" pujinya menganggap Sakura seperti anak kecil membuat gadis tersebut tersenyum.
Sakura mengambil seragamnya dari dalam tas dan kembali masuk ke kamar mandi mengganti pakaiannya.
"Tuan aku pergi dulu ya" pamitnya setelah memakai seragam sekolah lengkap dan membawa bekal karena takut akan terlambat.
"Iya belajar yang rajin jangan memikirkan aku terus" ucapnya mengelus pucuk kepala gadis cantik kesayangannya.
Fidel menarik napasnya panjang melepas kepergian Sakura, ia berangsut mengambil ponselnya.
"Sekarang tanggal berapa ya? sebaiknya tepat 3 bulan kemudian pinggangku sudah sembuh dan Hulk boleh kerja rodi lagi aku sudah harus menikah. Rasanya tak sabar melihat Hulk bekerja tanpa harus di suruh hanya tinggal di dorong dengan cukup keras" ucapnya berbicara sendiri tersenyum membayangkan sesuatu sambil menghitung kelender.
***
Sakura sudah berada di sekolah, dirinya segera menghampiri Jo yang telah duduk di rapi di kursinya.
"Hai temanku, kamu kemana saja? aku menghubungi nomor ponselmu beberapa kali tapi tak ada jawaban, tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padamu kan?" tanya Jo menyelidik. Sakura memang tidak menceritakan hal yang terjadi padanya pada siapa pun, ia terbiasa menjadi pribadi yang tertutup.
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja hanya ada sedikit keperluan"
"Oh begitu, syukurlah. Oia Sakura apa kamu melihat berita kemarin? ada sebuah penangkapan terhadap seorang mucikari yang memperjual belikan anak di bawah umur, dijadikan budak untuk bekerja dan melayani sek*, aku merasa pilu mendengarnya" Sakura terdiam dan menelan salivanya, berita penangkapan Stella memang begitu booming di beritakan di berbagai media elektronik.
"Sakura. . Sakura" Jo membuyarkan lamunannya. "Kenapa melamun? apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Ah tidak apa-apa" bibirnya menyimpulkan senyum yang terpaksa.
Tepat setelah itu bel tanda masuk sekolah pun berbunyi, kegiatan belajar pun di mulai.
***
__ADS_1
Sakura berjalan melewati lorong rumah sakit dan berada tepat di depan ruang perawatan Fidel, terkejutnya ia ketika masuk ranjang Fidel sudah kosong dan rapi.
"Tuan" panggilnya namun tak ada yang menjawab. Ia mencari ke dalam kamar mandi pun kosong. Segera Sakura berlari saat tepat seorang suster melewati kamarnya.
"Suster pasien di kamar ini kemana ya?" tanyanya panik.
"Pasien di kamar ini tadi pukul 12 meninggal dan jenazahnya sudah di bawa oleh keluarganya" kaki Sakura lemas, ia jatuh terduduk di lantai.
Suster segera berjongkok dan menenangkannya.
"Bagaimana mungkin, tadi saat aku pergi pasien di kamar ini baik-baik saja" ucapnya seraya menangis tak dapat menahan deras air matanya.
"Ternyata ada kompikasi jantung pada pasien ini sehingga kematiannya pun terlalu mendadak" jelas suster menambah kesedihan Sakura.
Sakura meremas ujung roknya tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Apa nona ini anaknya pasien? pasien kamar ini sudah cukup berumur"
"Apa?" Sakura mendongakkan wajahnya. "Maksud suster pasien di kamar ini sudah tua?"
"Sakura sedang apa kamu di situ?" seseorang sedang berdiri di depan pintu kamar sebelah dengan tegak memperhatikannya.
"Tuan" Sakura segera berdiri dan berlari menghambur memeluk Fidel.
Tubuh Fidel terdorong menabrak kusen pintu.
"Pelan-pelan Sakura dan ada apa? kenapa kamu menangis?" ya gadis itu benar-benar berpikir pasien yang di ceritakan suster tadi adalah Fidel, sungguh ia tak bisa membayangkannya jika harus kehilangan Fidel.
"Suster tadi menceritakan pasien kamar sebelah yang meninggal karena aku masuk ke sana, aku kira dia membicarakan tuan" Fidel terkikik mendengarnya rupanya Sakura salah masuk kamar.
Fidel menarik tangan Sakura ke dalam ruang perawatannya dan melanjutkan kembali memeluknya, membelai rambutnya yang panjang.
"Kamu begitu takut kehilangan aku?" tanyanya sambil berbisik.
"Iya"
"Apa kamu begitu menyukaiku?"
"Iya" jawabnya tak ragu, Fidel melepas pelukannya dan memandang Sakura lekat.
"Aku juga sangat menyukaimu, menangis seperti ini hidungmu jadi merah dan menggemaskan" Fidel mencubit kedua pipi Sakura menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
"Sakit tuan"
"Maaf jika begitu" Fidel mengecup pipi kanan dan pipi kiri yang memerah karenanya dan kembali memeluk Sakura nyaman.
Suster yang tadi melihat Fidel menarik Sakura ke dalam ruangannya pun segera pergi menemui suster yang lain.
"Aku rasa Dokter Fidel benar-benar sudah ternoda" bisiknya kemudian mereka bergerombol membicarakannya.
***
Aduh maafkan cerita yang gaje ini
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya ya biar author semangat mencari pencerahan 🤣🤣
Saranghaeyo 😍