My Slave Beauty

My Slave Beauty
Kakek Kesayangan 2


__ADS_3

Malam itu kakek berusaha mendudukkan dirinya, refleks Fidel membantunya menyandarkan punggung di tepi ranjang.


"Cu apa kalian sudah makan?" tanya sang kakek.


"Sudah kek tadi di rumah" jawab Fidel duduk di samping kakek membenarkan selimutnya.


"Tetapi kakek belum makan, kalian harus makan lagi temani kakek" pintanya kemudian meraih sebuah remote memanggil penjaga yang berdiri di depan bersama sekretaris pribadinya.


"Tapi aku dan Sakura masih kenyang kek" Sakura menepuk bahu Fidel dan mengangguk memberinya tanda tak keberatan. "Yah baiklah aku dan Sakura akan makan malam di sini"


Bibir kakek menyimpulkan sebuah senyuman, dia dapat menebak rupanya cucunya yang sudah dewasa ini begitu menurut dan takluk pada kekasihnya. Kakek menurunkan kakinya pelan menapaki lantai, Fidel mengambilkan sepasang sandal yang tak jauh darinya membantu kakek memakainya.


Beberapa penjaga juga seorang sekretaris datang dengan mendorong sebuah kursi roda. Kakek di bantu berdiri dan mendudukkan dirinya di sana.


"Antar aku ke ruang makan" perintahnya pada sang sekretaris yang memegang tuas pada kursi roda tersebut dan mendorongnya berjalan.


Fidel dan Sakura mengekor dari belakang, pemuda itu tak lagi malu, ia memegang erat tangan kekasihnya seolah bangga dan memamerkannya pada semua orang yang ada di rumah mewah tersebut.


Sakura mengadahkan wajahnya, memandang ke kanan dan ke kiri secara bergantian, di sepanjang lorong rumah kakek Fidel terpajang lukisan-lukisan yang besar juga unik yang memiliki nilai estetik tinggi.


Mereka sampai di sebuah ruangan yang terdapat sebuah meja makan yang cukup panjang, di atasnya telah tersaji berbagai macam masakan layaknya makanan yang di sediakan di hotel berbintang.


Fidel menarik sebuah kursi untuk Sakura duduk, tak lupa ia duduk di sampingnya sedangkan kakek duduk di ujung meja sebagai tuan rumah. Kakek mengangkat tangannya, beberapa pelayan mengerti dan menuangkan minuman ke dalam gelas yang berada di depan mereka, juga mengambilkan sepiring steik lengkap dengan pisau dan garpunya.


Makanan milik kakek sudah di potong oleh pelayan sehingga kakek hanya tinggal menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Makanlah tidak perlu sungkan" steik ini di masak khusus oleh chef kenamaan sehingga rasanya enak dan empuk, untuk seusia kakek saja bahkan masih bisa memakannya.


Sakura memotong dan menyicipnya sepotong, olahan daging itu begitu menempel pada lidahnya rasanya sangat lezat, membuatnya ingin makan lagi dan lagi. Tingkah lakunya ini di perhatikan oleh kakek, dia tersenyum tipis melihat ekspresi makan Sakura yang menggemaskan.


"Kakek bukannya kakek sedang sakit? kenapa makan makanan seperti ini?" tanya Fidel menyilidik, sikap kakek juga tak menyiratkan orang yang sedang tidak sehat, malah kakek terlihat cukup segar baginya.


"Kakek hanya merasa pusing tadi pagi" jawabnya enteng.


"Pusing? apa tekanan darah kakek tinggi?"


"Tidak, sebenarnya kakek hanya sedang rindu pada cucu kakek, memikirkan kalian membuat kepala kakek pusing"


"Hahhhh, lalu berita yang beredar di media elektronik itu bagaimana? mereka bilang kakek sakit parah"


"Mereka mengada-ngada, setelah tidur siang rasa pusing kakek sudah hilang, apa lagi setelah kedatangan kalian, kakek seperti berumur 30 tahun kembali" ucapnya menampakkan wajah yang berkerut.


"Iissshhh kakek membuat khawatir saja, lain kali jika ingin bertemu denganku atau kakak kakek bisa menghubungi kami, kami akan datang. Apa ibu dan kakak sudah kemari?" tanya Fidel.


"Mereka datang sebelum dirimu"


"Oh syukurlah"


Dddrtttt Dddrrtttt

__ADS_1


Ponsel Fidel bergetar, ia mengambil benda pipih tersebut dari dalam saku celananya.


"Kakek dan Sakura maaf aku harus menerima panggilan ini sebentar" pamitnya seraya berdiri, sebuah panggilan penting dari salah satu kliennya.


Hanya tinggal Sakura dan kakek, gadis itu sudah menghabiskan makanannya dan meletakkan kembali pisau dan garpu menyusunnya rapi di atas piring.


Sakura tersenyum malu saat pandangan matanya bertemu dengan kakek.


"Siapa namamu gadis kecil?" ulang kakek lupa dengan nama calon cucu menantunya.


"Namaku Sakura tuan" jawabnya sambil mengangguk.


"Berapa usiamu Sakura?"


"Usiaku baru 17 tahun tuan" kakek nampak berpikir.


"Kamu masih sekolah?"


"Iya tuan kelas 3 SMA"


"Oh bagaimana hubunganmu dengan Fidel? apa dia nakal?" pertanyaan kakek membuat Sakura geli, dia sedikit tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Kak Fidel sangat baik, dia selalu menolongku dan menjagaku" jawabnya dengan berani.


"Kamu tulus mau menikah dengannya?" pertanyaan kakek berubah menjadi cukup serius dan sensitif.


"Iya tuan"


"Sebenarnya bukan kak Fidel yang memiliki banyak kekurangan tuan tapi aku" Sakura meremas jari jemarinya.


"Maksudmu?"


"Aku bukanlah orang kaya bahkan aku tidak memiliki tempat tinggal" Sakura merasa rendah diri.


"Keluarga kami tidak pernah memandang status sosial seseorang" timpal kakek.


"Aku hanya seorang anak yatim piatu tuan, bahkan aku tidak tahu siapa orang tua kandungku, aku dulu hanya seorang mantan budak" Sakura tak ingin menutupi apa pun tentang identitas dirinya.


"Tak apa, kami akan menjadi keluarga barumu, sebelum menjadi seperti sekarang ini aku dulu hanya pekerja serabutan" jelasnya.


"Tapi aku dan tuan benar-benar berbeda, aku tidak memiliki jabatan maupun kekayaan"


"Keluarga kami tidak membutuhkan jabatan apa pun karena jabatan kami berada paling tinggi, kekayaan juga tak perlu, tak usah menambah kekayaan, harta keluarga kami tidak akan habis 7 turunan" Sakura hanya tertunduk tak mampu berkata-kata.


"Sakura bagiku asal kamu baik dan kalian saling mencintai, tak masalah kamu berasal dari mana dan status sosialmu apa, semua yang ada di dunia ini hanya titipan, tak perlu kita berambisi terlalu tinggi ingin sempurna dan memiliki segalanya, lagipula aku yakin cucuku tidak akan salah pilih wanita, kalau dia sudah melamarmu itu berarti kamu adalah yang terbaik dari yang paling baik"


Mendengar hal itu entah kenapa hati Sakura merasa pilu, air matanya menggenang ingin menyeruak keluar, bukankah dia terlalu beruntung? bisa bertemu Fidel, di selamatkannya, di jaganya, dicintainya dan di terima dengan baik oleh seluruh anggota keluarganya, Tuhan begitu menyayanginya, membalas semua penderitaannya dahulu dengan kebahagiaan.


Sakura beberapa kali menyeka air matanya, dia tak sanggup mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Sakura" panggil lembut kakek, "kemarilah"


Sakura mendekat dan menekuk lututnya menyentuh lantai, tangan kakek membelai pelan pucuk kepalanya.


"Mulai sekarang kita bukan orang lain lagi, kita adalah keluarga" Sakura tak dapat menahan tangisnya, buliran air mata mengalir deras membasahi pipinya. Dia mengambil tangan kakek, menaruh wajahnya pada punggung tangannya.


"Terima kasih banyak tuan"


"Kakek, panggil aku kakek"


"Iya terima kasih kakek" tangan kakek yang satunya lagi menepuk-nepuk bahu Sakura pelan.


***


Fidel kembali sehabis menerima panggilan telepon yang cukup lama, ia duduk kembali di kursi tempatnya di ruang makan.


"Maaf panggilan tadi sangat penting kek" kakek menganggukkan kepalanya.


"Kapan rencanamu akan menikah?" tanya kakek pada cucu kesayangannya.


"Dua bulan lagi kek sekitar bulan desember"


"Percepat pernikahanmu, aku akan membangunkan sebuah rumah sakit jika kamu segera memberi kakek cicit"


"A-apa? sebuah rumah sakit?" Fidel menelan salivanya, menjadi seorang dokter tetap adalah cita-cita yang sangat di inginkannya.


"Iya, dua hari lagi kita akan menggelar pesta pertunangan"


"Dua hari? kenapa mendadak sekali kek" keluhnya mendengar perlehatan acara untuk dirinya yang begitu tiba-tiba.


"Minggu depan kalian akan menikah"


"MENIKAH? tunggu dulu, kenapa kakek yang harus memutuskan kapan aku akan menikah!" rengeknya.


"Kenapa? apa masalahmu sehingga ingin menundanya?" Fidel mengedarkan pandangannya, ia melihat situasi ingin menyampaikan sesuatu namun malu karena banyak pelayan dan penjaga di sana.


Fidel mendekati kakek dan berbisik pelan di telinganya.


"Kakek aku tidak bisa menikah sebelum dua bulan lagi karena pinggulku, aku mengalami kecelakaan cukup fatal" kakek mendengarkannya secara seksama.


"Kau mau kakek belikan obat kuat untukmu?" tanya kakek cuek membuat Fidel mendengus karena malu.


"Bukan!!" Fidel mengedarkan pandangannya kembali. "Aku benar-benar tidak bisa menikah sebelum desember kek, akan percuma"


"Kau mau meminum obat kuat itu sekaligus tiga butir? apa kau sanggup?" tanya kakek polos, obrolan mereka tak terhubung.


"Bukan!! pinggulku, pinggulku sedang tidak baik kek" Fidel mencoba kembali menjelaskan.


"Obat kuat saja tak cukup? kau mau aku belikan obat perkasa paling paten?"

__ADS_1


"BUKAN ITUUUU!!! SEKRETARIS TOTO APA ALAT BANTU PENDENGARAN KAKEK RUSAK!!" teriak Fidel kesal membuat Sakura, kakek dan semua pelayannya terkikik.


"Kakek membuatku malu saja!!"


__ADS_2