
Sakura sudah berada di sekolah, ia kini tengah duduk di bangkunya, kebetulan suasananya belum begitu ramai.
Gadis itu ingin memanfaatkan waktunya dengan membaca buku, Sakura mulai membuka halaman demi halaman pelajarannya yang tertinggal kemarin karena ijin sakit.
"Hai" terdengar suara bariton menyapanya.
Sakura menutup bukunya lalu menoleh pada asal suara.
"Hai juga" senyumnya pada Reno yang berdiri sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangannya pada meja.
"Aku dengar kamu sakit, memangnya kamu sudah sembuh?" tanyanya sambil menepelkan salah satu telapak tangannya pada dahi Sakura lalu berganti menempelkannya pada dahinya, ia mencoba membandingkan suhu tubuh mereka.
"Iya aku hanya demam dan sekarang sudah lebih baik" jawabnya sambil tersipu malu, Sakura senang jika dirinya ada yang memperhatikan.
"Baguslah jika begitu"
"Kau tidak usah terlalu perhatian pada Sakura nanti kau akan kecewa" celetuk dari arah belakang Reno kemudian dia duduk di samping Sakura. "Hai temanku, aku rindu kemarin kita tidak bertemu" Jo memeluk Sakura.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh memberi perhatian pada Sakura? dia tidak keberatan, iya kan Sakura?"
Sakura menganggukan kepalanya sambil tersenyum kecut.
"Kau lupa ya Sakura ini sudah ada yang memiliki"
"Hem? memiliki? pantang bagiku untuk mundur jika janur kuning belum terbentang"
"Memangnya bendera terbentang!!"
"Ma-maksudku melambai, eh bukan mekar, sepertinya bukan juga, janur kuning apa ya?" ucap Reno sambil berpikir, dia lupa pribahasa yang akan di ungkapkannya.
"Melengkung" timpal Sakura pelan.
"Nah, sebelum janur kuning melengkung Sakura masih milik bersama"
"Maaf Reno tapi aku hanya bisa dimiliki oleh satu orang dan saat ini hanya tuan Fidel lah pemilikku" Jo terkekeh melihat Sakura yang langsung menolak Reno.
"Tapi Sakura kamu kan belum resmi menikah dengannya, seharusnya masih ada kesempatan untukku"
Sakura menggelengkan kepalanya, ia tak ingin berkomentar lebih jauh. Bahkan ia tidak menceritakan bahwa Fidel sudah melamarnya meski ia belum memberinya jawaban.
"Sudahlah Reno kamu sudah di tolak mentah-mentah" ledek Jo.
"Tapi. ."
Teeeettt Teeeet Teeeett
Bel tanda masuk berbunyi semua murid bergegas duduk di kursinya masing-masing, termasuk Reno. Dia membanting tasnya di atas meja dan memicingkan matanya menatap punggung Sakura.
***
Fidel telah sampai di kantornya, ia kini sedang sibuk memeriksa berkas yang menumpuk di atas mejanya.
Braaakkkk
__ADS_1
Suara pintu ruangannya di dorong keras.
"Adikku yang sudah ternoda, kakak datang" ucap Cakra sambil merentangkan tangan mendekati Fidel. Yang di panggilnya itu mendengus kesal.
"Jangan menyentuhku!!" Fidel menepis salah satu tangan Cakra.
"Kenapa? kau mau bilang jijik padaku? aku jijik mas aku jijik" Cakra memperagakan adegan "Aku jijik dari aplikasi Tiktok dengan suara dari Naysila Mirdad pada salah satu cuplikan sinetron di SCT*.
Fidel menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang kakak.
"Sepertinya hubungan kakak dengan kak Gayatri sudah lebih baik" raut wajah Cakra tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.
"Tentu saja, aku dan kakak iparmu itu tak tahan berselisih lama-lama, hubungan kami memang selalu manis dan hot"
"Pasti kakak sudah beraksi tadi malam" tebak Fidel.
"Wah terlalu ketara ya? atau jangan-jangan kamu menaruh kamera pengintai juga di kamarku untuk balas dendam" selidiknya dengan mata jahil.
"Aku tidak gila sepertimu kak"
"Lama-lama kamu pasti gila sepertiku Fidel, apa lagi perihal cinta. Oia bagaimana apa kamu sudah melamar Sakura?" Cakra melangkahkan kakinya duduk di sofa depan meja kerja Fidel.
"Sudah, dia belum memberiku jawaban kak" jawabnya lesu.
"Kamu melamarnya dimana?"
"Di rumah"
"Membawa bunga atau cincin?"
"Kamu menyatakan perasaanmu?"
"Tidak juga, aku hanya bilang sebaiknya kita menikah. Itu saja"
Kini berganti Cakra yang mendengus membuang wajahnya.
"Kau ini melamar seorang gadis tidak memberi apa-apa, tidak menyatakan perasaanmu, kau seperti mengajaknya main, pantas saja dia tidak memberikan jawabannya untukmu"
"Jadi aku harus bagaimana kak?"
"Kau ini kan kaya raya, sewalah sebuah restoran, ajak dia makan malam, berikan dia bunga, cincin, berlian, saham, mobil, rumah. Aku yakin dia tidak akan menolakmu"
"Aku serius kak!" ujarnya kesal seakan Cakra sedang bercanda.
"Aku lebih serius, wanita mana yang akan menolak lamaranmu jika kamu memberinya semua itu" ucapannya benar.
"Sakura bukan wanita matrealistis kak, bahkan ia selalu menolak jika aku memberinya uang saku untuk jajan di sekolah"
"Kau memberi uang jajan berapa untuk Sakura?"
"10 ribu" jawabnya polos.
"Astaga Fidel!!! beli baso saja itu tidak cukup, ternyata kau ini pelit sekali. Aku malu jadi kakakmu" Cakra memijat pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Apa terlalu sedikit kak? dia membawa bekal dan air, aku kira itu cukup untuknya membeli chiki"
"Astaga! kamu kira Sakura anak SD jajan di sekolah membeli chiki, chiker atau cilok. Yayasan sekolah kita itu mahal di kantin makanannya empat sehat lima sempurna, tidak ada chiki-chikian"
"Jadi tidak cukup ya?" tanyanya lagi memastikan.
"Kamu ini dokter, chiki kan kurang baik karena mengandung banyak MSG, kamu mau Sakura terkena penyakit amandel
karena terlalu banyak makan makanan kurang sehat"
"Tidak kak, aku khilaf aku benar-benar tidak tahu, lagi pula dia aku beri atm, untuknya berjaga-jaga jika tidak punya uang"
"Haaahhh syukurlah jika setidaknya kamu memiliki sedikit kesadaran" Cakra menghela napasnya.
"Jadi berapa uang jajan untuk anak SMA sehari?"
"Minimal 15ribu"
"Cuma beda 5ribu tapi kakak sepertinya memarahiku habis-habisan"
"Kalau 15ribu cukup untuk membeli baso 13ribu, 2ribu nya untuk membeli jasjus"
"Hahhhh kau sama saja kak pelit sepertiku"
"Kita hentikan pembahasan uang jajan ini, cepat kamu cari restoran bagus dan meresvasinya, rencanakan dengan matang lamaran ini jangan sampai di tolaknya"
"Iya baik kak"
"Jangan lupa beli bunga dan cincin"
"Iya kak"
"Aku juga ingin memberimu ini" ucapnya sambil berdiri merogoh kedua saku celananya dan menaruh sesuatu di atas meja Fidel.
"Apa ini?"
"Aku sekarang tidak memakai ini lagi, Gayatri bilang dia tidak suka"
Macam-macam kond*m berbagai rasa dan bentuk, tisu magic dan obat kuat.
"Ya ampun kak, aku juga tidak memakai ini"
"Simpan saja pokoknya untukmu bekal nanti" Cakra berjalan menuju pintu dan pergi meninggalkan Fidel.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kak tidak akan melakukan itu lagi sebelum resmi menikah dengan Sakura" ucapannya tak di dengar Cakra.
"Haissshhh kakak ini, lagipula kenapa dia memiliki barang seperti ini banyak sekali, 1, 2, 3, 4, 5 wah ada 20, aku rasa kakak memang sangat perkasa" Fidel menyisihkan pemberian dari kakaknya tersebut kemudian menaruhnya di dalam laci.
***
Maaf kan cerita author yang absurd ✌😁
Jangan lupa like komen dan votenya ya
__ADS_1
Biar author semangat 😄