
Keesokan harinya, Fidel dan Sakura menjalani kegiatan seperti biasa, Sakura menjalankan kewajibannya sebagai seorang pelajar, dia tengah sibuk bersekolah sedangkan Fidel di hari kerja seperti ini ia mengemban amanat sang ayah untuk bekerja mengurus perusahaan bersama Cakra kakaknya. Detik demi detik, menit demi menit jam pun berlalu, Fidel menapakkan kakinya masuk menuju ke dalam rumah, ia mengedarkan pandangannya mencari pujaan hati, gadis itu memang sangat rajin. Dia mengetahui waktu pulang Fidel bekerja, dia sedang mempersiapkan beberapa piring makanan dan menatanya di atas meja.
Fidel merengkuh memeluk perutnya yang rata dari arah belakang membuatnya terkesiap karena tak sedikitpun mendengar derap langkah kaki kekasihnya.
"Selamat malam gadis cantikku" bisik Fidel tepat di telinga Sakura membuat gadis itu merinding, tak ayal satu kecupan pun mendarat di pipi mulusnya.
Cupppp
"Selamat malam kak, baru pulang sudah nakal" ucapnya sambil tersenyum menatap sebuah wajah yang bersandar di pundaknya.
"Nakal? memangnya aku anak kecil"
"Ucapanku salah ya? harusnya mesum mungkin" ledek Sakura.
"Mesum? benar sih hanya saja sekarang aku sedang taubat" Fidel melepas pelukannya dan duduk di kursi yang ada di hadapan Sakura.
"Taubat? maksudnya taubat apa kak?" tanya Sakura tak mengerti sambil menyendokkan nasi ke atas piring mengambil makanan untuk Fidel lalu memberikannya.
"Sudahlah kamu tidak akan mengerti, pokoknya aku melakukan ini demi kamu, demi menjagamu" Fidel berbicara sambil mengambil beberapa sendok capcay menaruhnya di piringnya juga sepotong ayam goreng, dua tahu isi, sambal dan kerupuk, porsi makannya memang selalu banyak.
Sakura ikut mendudukan dirinya di kursi samping Fidel, dia akan menemani dan menunggui kekasihnya makan.
"Bukankah kak Fidel memang sedari dulu sudah menjagaku, sekarang menjaga apa lagi? bukankah semuanya sudah baik-baik saja" dia begitu penasaran pada topik pembicaraan ini.
"Kenapa kamu tidak makan? ambil piringmu makanlah bersamaku" pinta Fidel sambil mengunyah makanannya.
Sakura menggelengkan kepalanya, tangannya menopang ke atas meja setelah dia mendekatkan kursinya lebih rapat menuju Fidel.
"Aku sudah makan, kak Fidel jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab dulu pertanyaanku, kak Fidel menjagaku dari apa saat ini? bukankah keadaan kita sudah aman?" Sakura memasang wajahnya datar, dia sedikit takut karena perkataan Fidel tadi.
Fidel menghentikan aktifitas makannya sejenak dan menaruh sendok yang di pegangnya, ia memutar tubuhnya menghadap Sakura sepertinya ia salah berbicara karena gadis itu menjadi sangat ingin tahu maksud dari omongannya tadi.
"Sakura. . aku menjagamu dari diriku sendiri" pemuda itu menarik napasnya pelan. "Tahukah kamu aku sama bahayanya dengan lelaki yang berkeliaran di luar sana, aku sudah merebut milikmu yang berharga, cukup satu kali saja aku merusaknya, aku tidak ingin merobeknya lagi sebelum hari pernikahan tiba, doakan aku ya semoga aku bisa melakukannya" ucapnya mengakhiri sesi obrolan serius dengan kekasihnya.
"Hhhmmmfffttt Hahahahahaha" Sakura tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Fidel, lelaki itu kemudian menatapnya heran. "Kak Fidel niatnya sudah baik hanya saja lucu, kenapa minta doa kepadaku?"
__ADS_1
"Sepertinya aku memang salah, seharusnya aku minta kerjasamamu untuk jangan sampai menggodaku" Fidel memutar tubuhnya melanjutkan acara makannya kembali.
"Apa selama ini aku selalu menggoda kak Fidel?" pemuda itu terbatuk, tangannya segera meraih segelas air putih dan meminumnya.
"Apa kamu baru sadar? dari awal kedatanganmu kemari saat kita pertama kali bertemu kamu ingat? kamu bahkan telanjang bulat di depanku" Sakura mengingat memori kejadian itu, sungguh membuatnya malu.
"Maaf dulu aku sangat polos, aku tidak tahu jika perbuatanku itu sangat memalukan" wajah Sakura memerah seperti tomat matang membuat Fidel melengkungkan senyumnya.
"Tak apa, tak usah di sesali. Beruntung kamu melakukan hal itu terakhir kalinya hanya di hadapanku tidak di depan laki-laki lain" Fidel mengelus rambut Sakura pelan. "Oia aku membawa sekotak donat dan menaruhnya di ruang televisi, ambilah sudah lama kamu tidak memakannya"
"Tidak, nanti saja setelah kak Fidel selesai makan, kita memakannya bersama ya"
"Baiklah" Fidel dan Sakura bercengkrama, sebenarnya rutinitas hubungan mereka layaknya suami istri, hanya statusnya saja yang masih terganjal. Haruskah author segera menikahkannya?
***
Setelah selesai makan malam, Sakura dan Fidel menghabiskan waktu mereka dengan menonton televisi sambil memakan donat, Fidel menaruh kepalanya di atas paha Sakura menidurkan tubuhnya di sofa, sesekali Sakura menyuapi memberikan sepotong donat yang sedang di lahapnya, pemuda itu sangat manja, dia senang di layani. Mereka saling memandang dan tertawa bersama, namun tiba-tiba pandangannya teralihkan saat mendengar sebuah siaran berita.
Berita itu menyiarkan seorang pria paruh baya pemilik sebuah perusahaan ternama yang jatuh sakit, Fidel refleks mendudukan dirinya mengambil remote dan membesarkan volume suara televisinya mendengarkan secara seksama. Pemilik perusahaan yang sakit itu adalah Danu Brawijaya yang tak lain adalah kakek Fidel.
Fidel terkejut, ia segera menyambar ponsel pintar miliknya dan menekan beberapa tombol lalu menghubunginya.
"Sakura cepatlah ganti pakaian, kakekku sedang sakit. Kita akan menuju ke kediamannya" pungkas Fidel sambil berjalan ke kamarnya, Sakura mengangguk menuruti perintahnya.
Tak lama Fidel dan Sakura pun sudah berada di dalam mobil, ia mengendarai mobil dengan cepat dan melesat, sebenarnya Sakura sedikit takut namun dia tak berani berkata apa-apa karena melihat wajah Fidel yang menampakkan banyak kekhawatirannya memikirkan keadaan kakeknya.
Mereka tiba dengan selamat di sebuah rumah mewah lebih mewah dari tempat tinggal ibu Fidel, pemuda itu segera berlari menuju ke dalam bahkan sepertinya ia lupa pada Sakura, Sakura tak punya pilihan dan tak bisa protes, dia hanya berusaha menyamai kecepatan Fidel sampai pada sebuah kamar yang di jaga ketat dengan beberapa body guard di depannya.
Pintu di bukakan dan nampak seorang kakek tua tengah merebahkan tubuhnya di selimuti hingga ke dada, Fidel mendekat dan memandangnya, terdengar dengkuran kecil dari mulutnya.
"Bagaimana keadaan kakek dok?" tanyanya pada seorang dokter khusus yang menangani dan merawat kakeknya.
"Keadaannya cukup memprihatinkan, usianya juga sudah lanjut, kami sudah sebisa mungkin memberikan obat dan vitamin yang terbaik untuk tuan Danu" jelas dokter, kakek memiliki riwayat penyakit asma akut.
Fidel meraih tangan kakeknya memegangnya dan mengelusnya, tangan rapuh inilah yang ikut membesarkannya saat ia kehilangan sang ayah. Air mata Fidel mulai menggenang dan mengalir, ia menyekanya beberapa kali.
__ADS_1
Sakura yang melihatnya kemudian mendekat dan menepuk-nepuk pundak Fidel pelan mencoba menguatkan, dokter dan suster yang menjaga kakeknya memilih keluar, tak ingin mengganggu.
"Kamu datang cu" ucap kakek dengan suara serak dan bergetar, rupanya isak tangis Fidel membangunkan kakeknya.
"Iya kek, aku datang. Kakek tidak usah memperdulikan kehadiranku, lebih baik sekarang kakek beristirahat dengan damai"
"Cucu durhaka" masih dengan suara gemetarnya.
"Maaf kek aku salah bicara, maksudku kakek tidur lagi saja" kilah Fidel menyadari kesalahannya karena tadi seolah mengucapkan salam kepada orang yang sudah mati.
"Ini siapa cu?" tunjuk kakek pada Sakura.
Fidel menolehkan kepalanya dan menarik Sakura berdiri di sampingnya.
"Ini Sakura kek calon istriku"
"Cucu menantu?"
"Iya kek"
Tangan kakek Fidel terangkat, Sakura memegangnya dan menjabatnya.
"Sudah berapa bulan?" tanyanya.
"Hubungan kami sudah berjalan hampir tiga bulan kek" jawab Fidel, Sakura hanya bisa tersenyum.
"Bukan hubungan kalian, cicit. Cicit kakek sudah berapa bulan?" meski dengan suara gemetar kakek sedikit emosian.
Fidel dan Sakura saling berpandangan.
"Kakek kami menikah saja belum, bagaimana bisa punya cicit untuk kakek"
"Bikin!! cepat bikin cicit untuk kakek" kakek terbatuk-batuk karena suaranya meninggi membuat Sakura bingung namun tidak untuk Fidel.
"Kakek bikin cicit itu tidak gampang!!" Fidel meremas selimut yang ada di depannya, ia tak habis pikir baru bertemu sang kakek sudah meminta cicit.
__ADS_1
"Gampang, apa perlu kakek ajari?" Fidel dan Sakura terbengong mendengar kalimat ini.
"Sepertinya gen ibu dan kakak memang turunan langsung dari kakek" Fidel menggelengkan kepalanya dan memijat dahinya, ia merasa pusing.