My Slave Beauty

My Slave Beauty
Main-main


__ADS_3

Hai part ini untuk 18+ ya, wkwkwk


Yang masih kicil, di skip aja ya 😁


Cakra meronta ingin melepaskan diri dari tangan Fidel yang menjepitnya keras bagai kepiting, dia juga membuat gaduh dengan berteriak memanggil ibunya.


Setelah cukup puas membalas kejahilan kakaknya akhirnya Fidel melepaskannya.


"Aduh kau membuat wajah tampanku menjadi kusut Fidel" Cakra merapikan rambutnya, menyisirnya dengan tangan.


"Diam!! atau mau ku jambak lagi rambutmu kak!" ancamnya mengangkat tangan.


"Eh jangan, aku sudah memakai minyak rambut yang mahal untuk mengaturnya, akan mubazir jika kau mengacaknya lagi" Cakra mengelus rambutnya pelan.


"Tadi malam kakak pulang jam berapa? kenapa tidak ikut makan malam bersama kami?"


"Aku pulang pukul 12, aku lembur bersama Gayatri" Cakra melangkahkan kakinya dan duduk di sebuah kursi.


"Apa ada masalah dengan perusahaan?" tanya Fidel serius.


"Akhh tidak, hanya saja paman Alex meminta data pembaruan produk baru dengan cepat dan mendadak. Kau tahu sendiri kan jika dia itu sangat bawel"


"Oh begitu, lain kali beritahu aku kak jika kakak kesulitan, mungkin aku bisa bantu" Semenjak ayahnya meninggal, Cakra memang berperan besar dalam mengurus perusahaan.


"Kau tidak usah membantuku, lebih kau pikirkan saja bagaimana cara menahan hawa nafsumu" seperti biasa Cakra selalu berpikiran mesum dan kotor terhadap adiknya juga memprovokasi.


"Kak jangan bilang pada ibu ya aku tadi masuk ke dalam Sakura" pintanya pelan.


"Memangnya kenapa?"


"Aku bisa di cincang ibu jika sampai ketahuan, telingaku sekarang masih sakit karena di tarik ibu perihal aku yang mengekor masuk ke dalam kamar Sakura" Fidel memegangi indera pendengarannya dan mengelusnya.


"Hahaha, lagipula kau ini ya kenapa jadi nakal sekali, baru merasakan sekali sih mangkanya mau lagi dan lagi" Cakra mentertawakan kepolosan adiknya.


"Kak ini semua karena kau, kau yang memanas-manasiku untuk melakukannya"


"Kenapa menyalahkan aku? kau yang berbuat"


Ketika perdebatan kecil antara adik kakak tersebut terjadi, terdengar derap langkah kaki mendekati mereka.


"Kak Fidel, tuan Cakra" panggil Sakura mendekat. Mereka berdua kompak menoleh.



"Hhhmmmphh Hahaha" terdengar gelak tawa cukup keras dari keduanya.


Sakura nampak bingung lalu memandang Fidel dan Cakra secara bergantian.


"Kenapa kalian tertawa?" tanyanya penasaran.


"Hehe, maaf Sakura tapi wajahmu tampak lucu. Ada apa dengan bibirmu yang tampak bengkak seperti itu?" Fidel balik bertanya.


"Oh ini karena ulah kak Fidel" jelas sakura.

__ADS_1


"Apa? ulahku? maksudmu karena tadi?" Fidel mengerucutkan bibirnya ke depan, Sakura menganggukan kepalanya. Fidel menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Wah kau buas sekali Fidel" ledek Cakra sambil menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana bisa aku membuat bibirmu menjadi seperti itu?"


"Mungkin karena kau menciumnya sebelum kau menggosok gigi, mulutmu penuh kuman sehingga bibir Sakura menjadi alergi. Iiiyyyuuuhh" Cakra mengangkat bahunya bersikap geli.


"Enak saja!! aku sudah mandi kak" kilah Fidel.


"Rupanya kalian di sini" ibu menghampiri mereka di iringi deretan pelayan yang membuntutinya berjalan menundukkan kepala.


"Oh iya bu" Fidel, Cakra dan Sakura secara refleks berbaris menyamping menyambut ibunya.


"Sakura ada apa dengan bibirmu?" tanya ibu spontan melihat wajah calon menantunya.


"Oh ini. ." Sakura terlihat bingung hendak menjawab apa.


"Di gigit semut bu" timpal Cakra.


"Semut? semut seperti apa?"


"Semut yang besaaarrr" Cakra mengangkat tangan membentuk lingkaran.


"Semut besar? apa maksudmu semut api?"


"Iya bu aku rasa semutnya berasal dari api, api neraka" sindir sang kakak, kemudian Fidel melebarkan matanya melototi Cakra.


"Ahhh kamu ini bercanda Cakra, nanti ibu akan meminta pelayan untuk membersihkan kamar Sakura memastikan tidak ada serangga yang menyusup ke sana" Ibu menjentikan jarinya, para pelayan mengerti mereka berjalan mundur dan segera menuju ke kamar Sakura, melaksanakan perintah majikannya.


"Sakura bisa beristirahat di sini Fidel" pungkas ibu tak merelakan anak dan calon menantunya pulang.


"Aku rasa dia lebih nyaman di rumahku bu" Fidel tetap pada keputusannya.


"Ya sudah tapi kalian harus sarapan terlebih dahulu, ibu sudah memasak banyak makanan" nyonya satu ini jika urusan makanan memang lebih suka memasaknya sendiri meski di rumahnya ada chef pribadi.


"Baiklah" mereka semua melangkahkan kaki menuju ruang makan.


***


Fidel dan Sakura memasuki rumahnya, ibu Fidel membekalkan banyak makanan sehingga Sakura tak perlu memasak. Rumah Fidel juga sudah di bersihkan oleh pelayan yang di kirim ibu, Sakura benar-benar dapat beristirahat hari ini.


Sakura membuka kotak makan dan merapikan berbagai macam makanan dan menutupnya dengan tutup saji, ia berpikir barang kali Fidel ingin makan siang, ia tak perlu merapikannya lagi.


Fidel memandang punggung Sakura dari belakang, gadis belia yang memiliki sifat keibuan, calon istrinya yang cantik dan pendiam. Melihat tubuh bagian belakangnya saja membuat hasrat Fidel berdesir, dia masih mengingat kegagalan tadi pagi.


Fidel melingkarkan tangannya di perut Sakura, memeluknya erat membuat gadis tersebut tersentak.


"Kamu mengejutkanku" ucapnya kembali melanjutkan menyusun piring berisi makanan di atas meja.


"Kenapa kamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta kepadamu? setiap hari rasa cinta ini semakin dalam dan banyak" bisiknya di telinga Sakura membuatnya bergidig merinding.


Sakura menghentikan aktifitasnya, tangannya beralih memegang tangan Fidel yang menempel di perutnya.

__ADS_1


"Sekarang kak Fidel pandai merayu" ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Kamu tidak percaya kepadaku? haruskah kubelah dada ini? untuk membuktikan bahwa di hatiku hanya tertulis namamu" Sakura terkekeh mendengarnya, sepertinya ia sering mendengar slogan tersebut di televisi.


"Kak Fidel benar-benar gombal!" ucapnya penuh penekanan.


Fidel mengendurkan tangannya dan memutarkan tubuh Sakura menghadapnya.


Mata mereka bertemu saling memandang lekat.


"Aku bersungguh-sungguh, aku sangat mencintaimu Sakura"


"Iya aku tahu" jawabnya singkat. Fidel tak dapat mengalihkan pandangannya pada bibir ranum di depannya.


Dia memegangi kepala Sakura mendekatkan wajahnya, ciuman lembut itu pun tercipta. Kecupan demi kecupan berganti menjadi ciuman serta hisapan pelan, Sakura sedikit mengerang karena Fidel menekan bibir bawahnya yang bengkak, tapi lama kelamaan rasa sakit itu berganti menjadi rasa nikmat.


Merasa pegal karena berciuman sambil berdiri, Fidel pun mendekap Sakura melangkahkan kakinya menuju sebuah sofa di ruang televisi yang berada tak jauh dari ruang makan tanpa melepaskan ciumannya.


Fidel mendorong Sakura merebahkan dirinya, tangan Fidel Brawijaya tersebut mengelus pipi Sakura lembut membuat gadisnya melenguh geli.


"Nghhhhh"


Kedua tangan Sakura mengalungi leher dokter muda tersebut, mengerti dengan sikap kekasihnya yang meminta lebih dalam, lidah Fidel pun menerobos mencari lidah lawannya mengajaknya bermain.


"Uukkkhhh"


Lidah mereka bergulat, tentu saja Fidel yang lebih mendominasi. Terkadang Sakura mendorong tubuh pemiliknya tersebut agar tidak menindihnya terlalu rapat, namun apa daya tenaganya terlalu lemah menahan hawa nafsu Fidel. Lidah mereka bermain tanpa henti hingga cairan dalam mulutnya mengalir membasahi bibirnya, entah cairan milik siapa.


Atmosfer panas mulai muncul di antara mereka hingga pasokan oksigen di dunia ini seperti akan habis, Fidel melepas pagutannya memandang wajah gadisnya yang berkeringat.


"Jangan memasang ekspresi seperti ini Sakura, kamu membuatku semakin ingin" Fidel melirik ke arah leher Sakura dan tersenyum menyeringai.


Kecup, jilat, hisap, gigit. Itulah yang dilakukan Fidel pada leher jenjang kekasihnya, Sakura mendesah.


"Akkhhh"


Fidel meninggalkan bekas kemerahan di sana, tangannya kini beralih memegang kancing pakaian atas Sakura.


"Boleh kubuka?" ucapnya meminta ijin, padahal biasanya dia tak pernah bertanya tapi kali ini dia ingin memghargai Sakura.


Tanpa panjang lebar, Sakura mengangguk setuju membuat Fidel berteriak girang dalam hati.


Wajah gadis itu memerah ketika Fidel telah selesai membuka seluruh kancing di baju bagian atasnya. Sakura memalingkan wajahnya.


Sedangkan Fidel dapat merasakan jantungnya berdegub kencang, entah mengapa melihat Sakura yang hanya mengenakan bra berwarna hitam dengan kulitnya yamg seputih susu, dirinya juga malu. Hei!! padahal dia sudah melihatnya beberapa kali.


"Hulk inikah waktu untukmu bekerja kembali, aku ingin kamu menjadi atlit, menggiring bola menuju gawang, menerobosnya sampai ke dalam bermain hingga lelah dan sang bola mengeluarkan isinya sampai kempes, kuatkah kamu wahai atlit gagahkuuuuuu" gumamnya bicara dalam hati.


***


Maafkan author yang pikirannya dewasa ini ya 😂😂


Jika teman-teman merasa tidak setuju atau tidak berkenan dengan jalan ceritanya boleh di skip aja ya, author hanya ingin menghibur, pisss ✌😁

__ADS_1


Oia author tidak akan membuat panjang cerita novel ini, kemungkinan sebentar lagi mereka akan klimaks atau tamat.


__ADS_2