My Slave Beauty

My Slave Beauty
Hal Baik


__ADS_3

Fidel memandang lekat wajah gadis yang berada di atasnya, ralat. Istri, Sakura bukan lagi seorang gadis melainkan dia adalah istri Fidel, rambut panjangnya yang masih basah menjuntai hampir menutup seluruh wajahnya yang kecil. Pria itu menyelipkan kedua sisi rambut panjangnya di belakang telinga namun lagi-lagi rambut itu terurai bahkan mengenai wajah Fidel.


"Issshhh" Fidel mengeluh karena ujung rambut Sakura menusuk pada matanya. "Padahal suasana sudah mulai hangat"


Sakura mengerti, dia mendudukkan dirinya di atas tubuh Fidel, merapikan rambutnya lalu menggulungnya di atas kepala agar tak lagi menganggu aktifitasnya. Dia masih merasakan panas dan gerah.


Fidel tak ingin berlama-lama, tepat setelah Sakura menyelesaikan ikatan rambutnya, Fidel menarik tengkuk leher istri kecilnya, menciumnya lembut. Kecupan demi kecupan lalu berubah menjadi hisapan yang semakin dalam.


Jantung Sakura berdebar, bukan hanya karena efek minuman yang di berikan oleh sekretaris Toto saja namun ini adalah pengalaman pertama dia akan melakukan hubungan suami istri dengan statusnya yang sah. Suara detak jantungnya semakin keras, Sakura dapat merasakannya.


"Aaahhhh" desaunya pelan mulai menikmati permainan. Suara itu membuat Fidel semakin liar dan beringis, awal mula ia sudah berencana akan memasrahkan diri namun kini ia berubah pikiran, sebagai seorang lelaki ia harus memimpin.


Fidel membalik keadaan, ia memeluk tubuh Sakura menjatuhkannya di sampingnya, beralih kini ia berada di atasnya. Fidel melepaskan ciumannya sesaat memberi ruang untuk mereka menghirup oksigen.


Sakura tidak dapat menahan diri lebih lama, tubuhnya bergetar hebat, dia mengangkat tangannya membuka kancing piyama yang di kenakan Fidel, suaminya itu masih memandang penuh keheranan.


"Aku rasa malam ini kamu menjadi buas, lebih liar dari pada aku" bisiknya tersenyum menyeringai. "Sayang. ." Fidel mengelus pipi Sakura perlahan.


"Maafkan tingkah jahil kakekku lagi membuatmu seperti ini tapi aku akan bertanggung jawab" Fidel melum*t bibir ranum itu, mengabsen satu persatu isi dalam mulut Sakura.


Ciuman itu perlahan menurun, berpindah ke leher jenjang istrinya, sesekali ia menghisap dan menggigit kulit lehernya yang putih mulus. Meninggalkan jejak-jejak kemerahan.


kembali satu desahan lolos dari bibir Sakura, menggema dengan jelas di kamar hotel yang sepi. Tangan Fidel dengan lihai menarik tali yang melingkar pada baju handuk yang di pakai istrinya, kini yang terekspos di depannya adalah pemandangan alam yang terukir dari dua gunung merapi yang nampak akan meletus, namun tidak sampai mengeluarkan lahar, sepertinya lahar itu tertahan membentuk muncung berwarna kecoklatan yang menegang.


Di bawah dua gunung merapi itu terdapat turunan yang bermuara pada semak kecil yang di tumbuhi rumput yang rindang. Ini saatnya Fidel berpetualang, perlahan menaiki gunung merapi itu hingga ke puncaknya, puas. Lalu turun mencari sesuatu pada lubang bersemak, semak itu mulai mengeluarakan cairan. Hulk ingin masuk ke sana dan mulai berdiri, dia begitu penasaran. Fidel membuka semua kain yang menutupi Hulk.


Perlahan semak belukar di sibakkan dan dia berhasil masuk, tempatnya gelap dan licin. Itulah yang dia rasakan, dia tergelincir mulai masuk dan keluar.


"Aw!!" Fidel meringis, lagi-lagi ia lupa bahwa pinggulnya masih dalam proses pemulihan.


"Kenapa kak?"


"Maaf Sakura sepertinya aku tidak bisa melakukannya" Fidel menurunkan tubuhnya kecewa. Ia merebahkan diri di samping istri yang baru saja di nikahinya, memandang langit-langit kamar. Meratapi nasib dan bertanya-tanya kapan ia akan bebas melepas Hulk berkoar di alam bebas tadi.


"Kak" Sakura benar-benar 'ingin', sesuatu dalam dirinya meminta untuk di keluarkan. Fidel juga melupakan pengaruh obat yang masih bekerja dalam tubuh istrinya.


"Sakura sepertinya kamu belum puas?" tentu, mereka baru saja melakukan pemanasan, belum sampai inti.


"Kak bagaimana caranya melepaskan ini?" rengeknya menunjuk Hulk yang masih berdiri. Sakura mengacuhkan rasa malunya.


"Bagaimana ya?" Fidel berpikir dalam. "Pinggulku benar-benar belum kuat melakukannya Sakura"


"Kak aku benar-benar tak bisa menahannya" dia berbicara sambil merintih.


"Aku rasa ada satu cara agar kita bisa melakukannya" wajah Fidel nakal.


"Cepat katakan bagaimana?"


"Kemarilah" Fidel menepuk perutnya. Sakura bergerak cepat sesuai intruksi, suaminya menuntunnya menggerakkan tubuh ke depan dan belakang secara bergantian.


"Sempurna" ucap Fidel penuh kemenangan. Hulk sedang di manjakan. Malam itu kamar pengantin sedikit berisik, penuh dengan suara desau yang nyaring.


***


Mentari pagi bersinar, Fidel mengerjapkan matanya, sempat terbuka namun ia memilih untuk menutupnya kembali, rasanya ia tak ingin melakukan aktifitas apa pun hari ini, ia lebih suka menghabiskan waktunya di atas ranjang merangkul pinggang kecil Sakura.


"Akkkhh" Sakura bergerak perlahan mencoba meluruskan tubuhnya dari posisi miring yang melelahkan. Dia bergerak dengan hati-hati seolah menahan sesuatu.


"Kenapa Sayang? apa kamu merasa tidak enak badan?" tanya Fidel begitu memperhatikannya.


"Kak. . pinggangku rasanya sakit, sulit untuk di gerakan" wajah Sakura pucat.


"Malapetaka apa lagi ini, baru satu malam dia menjadi istriku aku sudah membuatnya sakit pinggang"


"Sini aku pijat" Fidel membantu Sakura memiringkan tubuhnya kembali, ia menekan-nekan dengan tangannya, istrinya itu tidak memakai pakaian apa pun, mereka tidak sempat berpakaian karena kelelahan, sebenarnya hanya Sakura yang merasa lelah.


"Aduh" keluhnya merasa sakit saat pinggangnya tertekan.


"Haaahh" Fidel membuang napasnya. "Sepertinya kita harus pergi ke rumah sakit"


"Rumah sakit? untuk apa kak"


"Untuk memeriksa pinggangmu" Fidel menekan pinggang Sakura keras.

__ADS_1


"Aw sakit!!"


"Yah itulah penyakitnya"


"Apa penyakitku parah?" tanya Sakura serius.


"Tidak tahu, bersiaplah setelah mandi kita akan pergi untuk berobat"


"Baik kak" Sakura membangunkan tubuhnya sedikit demi sedikit dan beranjak menuju kamar mandi. Fidel hanya bisa memperhatikannya sambil menggelengkan kepala.


"Hulk kamu membuat Sakuraku kalah telak, dahsyatttt"


***


Fidel telah memeriksakan keadaan Sakura, syukurlah diagnosis dokter mengatakan Sakura hanya mengalami cedera otot pinggang ringan, menurut penjelasan dokter cedera otot terjadi karena aktivitas yang di lakukannya terlalu berlebihan, sepertinya gaya dan posisi semalam tidak cocok untuknya.


Sakura berjalan layaknya ibu hamil, ia memegang pinggang bagian belakangnya, berjalan pelan dan hati-hati. Setelah mengambil obat mereka memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat namun saat mereka melewati lobi rumah sakit.


"Fidel" panggil sang kakak, mereka berpapasan dengan Cakra dan Gayatri.


"Kakak dan kakak ipar sedang apa? siapa yang sedang sakit?" tanya Fidel penasaran, biasanya Cakra enggan pergi berobat jika tidak memiliki penyakit cukup parah.


"Memeriksa Gayatri" jawab Cakra singkat.


"Kak Gayatri sakit apa?"


"Bukan sakit"


"Lalu?"


"Gayatri akan memberikanmu keponakan" suara Cakra cukup kencang, dia terlihat amat senang.


"Wah benarkah? Selamat kak akhirnya aku bisa menjadi seorang paman" Fidel refleks memeluk Cakra, ia turut bahagia, cukup lama Cakra menanti momen ini, akhirnya kini ia menjadi calon seorang ayah.


"Selamat kak Gayatri" Sakura ikut memberi ucapan.


"Terima kasih Sakura" Gayatri tak bisa berhenti tersenyum.


"Terima kasih adikku, tapi tunggu dulu untuk apa kalian ke sini? pasti bukan menguntitku kan?"


"Lalu?" kini berganti Cakra yang penasaran, dia memperhatikan cara Sakura berdiri yang memegang pinggangnya. "Apa Sakura juga sedang mengandung?"


Fidel dan Sakura membulatkan matanya mendengar pertanyaan itu.


"Bukan kak, aku dan Sakura kemari bukan karena itu" kilah Fidel.


"Tolong jelaskan padaku secepatnya" pinta Cakra tak sabar.


"Sebenarnya, kami memeriksa pinggang Sakura, dia mengeluh merasa sakit di bagian sana"


"Apa??? sakit pinggang? pengantin baru?" suara Cakra keras, dia berteriak dengan sengaja.


"Kakak kecilkan suaramu, malu di dengar orang lain" bisik Fidel ingin membekap mulut kakaknya.


"Fidel apa semalam kau membuat Sakura kerja rodi?" bisiknya, pertanyaan Cakra tepat sasaran.


"Ba-bagaimana kakak tahu?" wajah Fidel mengeluarkan semburat merah.


"Kau ini!!" Cakra mengangkat tangannya seolah akan memukul Fidel namun di urungkannya. "Kau lupa bahwa aku juga tahu kondisi tulang pinggulmu! mentang-mentang sedang sakit kau seenaknya menyuruh Sakura yang melaksanakan kewajibanmu" lagi-lagi ucapan Cakra benar.


"Iya kak aku tahu, aku sudah meminta maaf pada Sakura. Ini salah kakek juga karena tidak mau mendengar penjelasanku, aku bilang jangan menyuruhku menikah terburu-buru"


"Kau tetap saja tidak bersyukur!" Cakra mengangkat tangannya kembali namun di turunkan. "Jika sudah siap dan mapan lebih baik cepat menikah, untuk menghindari dosa, masalah pinggulmu seharusnya kau lebih bersabar. Bukankah hanya dua bulan lagi saja keadaannya akan normal kembali"


"Iya kak, aku minta maaf lagi" Fidel menundukkan wajahnya, ia merasa bersalah.


"Setelah ini jangan memaksakan Sakura melayanimu, selagi menunggu keadaan pinggulmu, lebih baik kau menikmati masa pacaran setelah menikah, tidak usah terlalu bernafsu dan ekstrim" nasehatnya lagi.


"Baik kak, akan aku pikirkan. Terima kasih nasihat kakak"


"Nah begitu dong, kakakmu ini memang selalu bijak dalam membimbingmu" ucapnya membanggakan diri.


"Hemmm sok dewasa, padahal biasanya kamu selalu ceroboh" Gayatri meledeknya membuat Fidel dan Sakura tertawa.

__ADS_1


"Aku kan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah jadi sekarang aku sedang berusaha bersikap dewasa, demi anak kita" Cakra mengelus perut Gayatri sambil melebarkan senyumnya. Fidel beralih merangkul bahu Sakura, melihat kebahagiaan kakaknya ia juga ingin merasakan hal yang sama, namun tidak untuk saat ini.


***


Satu Tahun kemudian


"Oaoaoaoaoaoa" tangis bayi perempuan nyaring terdengar, saat itu suasana ramai, di rumah ini memang sedang mengadakan acara syukuran 40 hari kelahiran sang bayi.



Seorang wanita cantik, merengkuh menggendongnya.


"Cup cup sayang maafkan bunda tinggal sebentar ya tadi, bunda tak tahan ingin buang air kecil" seketika tangis bayi itu sirna.


Tap tap tap


Suara langkah kaki mendekat.


"Kenapa tadi anak kita menangis sayang?"


"Sepertinya dia haus kak" ya, ini adalah keluarga kecil Sakura dan Fidel. Tepat setelah Fidel dinyatakan sembuh dari tulang pinggulnya yang bergeser, ia tancap gas, membuat Hulk bekerja setiap hari hingga akhirnya kerja kerasnya membuahkan hasil, lahirlah seorang bayi perempuan nan cantik.


"Biarkan aku menggendongnya" Fidel begitu lihai, ia menggendong putri pertamanya dengan luwes. "Mana anak cantik, anak siapa ini? ayo jawab anak siapa?" ocehnya pada sang bayi, namun tatapan bayi itu seolah mengenal ayah kandungnya, matanya berbinar memandang Fidel.


"Kamu ini bertanya yang bukan-bukan, tentu saja dia anakmu, kenapa kamu menanyakannya!" celetuk Cakra dari arah belakang bersama Gayatri, dia juga sedang menggendong bayinya, usia anak mereka tak berbeda jauh.



"Lihat kalau aku tidak pernah menanyakan hal itu, dia tahu bahwa dia ini jagoan seperti papinya" Cakra mengangkat kepalan tangan bayi laki-laki mungilnya, menggerakkannya gerakan tinju.


"Issshh kasihan anakmu kak, nak dengarkan pamanmu, setelah besar bersikaplah normal jangan seperti papimu yang konyol itu"


"Enak saja mengataiku konyol, biar konyol tapi aku ini menghasilkan"


"Menghasilkan apa kak?"


"Menghasilkan anak, hahahaha" Cakra tertawa renyah.


"Haaaiiishhh anak tampan dan anak cantik buang jauh-jauh sifat orang tidak waras ini ya, jangan sampai kalian berdua menuruninya"


Sakura dan Gayatri sedari tadi hanya tersenyum memandang interaksi ipar dan suaminya, mereka terbiasa melihat pemandangan kakak adik yang riuh itu.


"Sakura" panggil Jo berlari, kemudian memeluknya.


"Jo" Sakura nampak terkejut dengan kedatangan sahabatnya, mereka telah lama tidak bertemu, semenjak lulus SMA Jo meneruskan pendidikannya di luar negri, sedangkan Sakura berkuliah di Universitas swasta yang ada di kotanya, Fidel tak mengijinkannya untuk bersekolah jauh-jauh.


"Kamu datang sendirian?" sambung Sakura pada Jo, sahabatnya itu menggeleng.


"Aku datang bersama dia" tunjuknya pada Reno yang berjalan ke arahnya.


"Wah ternyata dugaanku benar, kamu dan Reno pasti berjodoh" Jo dan Reno berkuliah di Universitas yang sama, belum lama ini mereka resmi menjalin hubungan, penampilan Reno tidak berubah, dia masih memakai anting-anting dan bergaya tengil.


"Halo apa kabar Sakura, selamat ya untuk kelahiran bayimu" Reno mengulurkan tangannya pada Sakura, ibu muda itu menyambutnya mereka berjabat tangan.


"Terima kasih Reno, lalu kapan kalian akan menyusul?"


"Maksudmu punya bayi?" tanya Reno polos, Jo menyikut pinggangnya pelan.


"Kami belum berpikir ke arah sana Sakura, aku dan Reno akan berusaha mengenal sifat masing-masing dulu" jelas Jo.


"Oh tapi kalau bisa jangan lama-lama ya, aku tak sabar ingin melihat kalian berdiri di pelaminan"


"Doakan saja ya" Reno merangkul pinggang Jo mesra.


"Mana cicit kakek" kakek datang dengan kursi rodanya, di dorong oleh Cindy ibu Fidel.


"Cicit kakek sedang berdiskusi" jawab Cakra asal.


"Kamu ini, jawab yang benar Cakra." pungkas ibu.


"Pasti yang ini cicit kakek sedang membicarakan nasib perusahaan" tunjuknya pada bayi yang di gendong Cakra. "Sedangkan yang ini sedang memikirkan fasilitas rumah sakitnya" tunjuknya pada bayi Fidel, kakek sudah memberikan warisan, kemungkinan bayi Cakra akan menjadi penerus perusahaan keluarganya dan bayi Fidel akan memegang kendali rumah sakit yang sedang di bangun kakek. Cicit milyader kira-kira seperti itu nasib mereka.


Semuanya tertawa bahagia, masing-masing memiliki keberuntungan dalam hidupnya sendiri, yakinlah kita pasti bisa merubah kehidupan yang mungkin tadinya berjalan tidak baik lalu berubah menjadi baik, asalkan kita semua selalu berusaha dan jangan lupa berdoa.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2