
Sakura mengedarkan pandangannya, menelusuri setiap sudut ruangan kamar yang diperuntukannya, sangat mewah, tempat tidur dengan warna keemasan layaknya ranjang seorang putri kerajaan, tepat di sebelah ranjang tersebut ada sebuah jendela yang tinggi. Sakura melangkahkan kakinya membuka gorden dan melihat pemandangan kediaman ibu Fidel yang terdapat halaman dengan rumput hijau yang luas dan sebuah danau kecil buatan, juga terdapat beberapa ekor rusa yang terlihat mondar mandir di sana. Meski malam hari, rumah keluarga Fidel di penuhi pencahayaan yang baik.
"Wah sebelumnya aku belum pernah menemukan rumah semegah ini" ucapnya kemudian menutup gorden tersebut kembali dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, Sakura bermaksud untuk membersihkan diri.
Seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya dan mengatakan bahwa semua orang sudah menunggunya untuk makan malam. Sakura mengikuti arahan pelayan yang berjalan di depannya menuju ruang makan, masih dengan nuansa elegant, meja makan berbentuk oval yang di atasnya telah tersaji beberapa macam makanan, mulai dari sayur-sayuran, olahan ikan dan satu ekor ayam panggang yang besar, membuat Sakura menelan salivanya merasakan perutnya yang kurus ingin segera di isi dengan makanan yang nampaknya sangat lezat.
Pelayan menarik kursi di samping Fidel untuk tempat Sakura duduk.
"Terima kasih" ucapnya belum terbiasa di layani.
"Sakura tante lupa memberikan pakaian ganti untukmu, nanti setelah makan malam pelayan akan menaruhnya di kamar, kamu bisa menggantinya" ucap ibu Fidel padanya.
"Iya terima kasih tante" Sakura tak mungkin menolak tawaran calon ibu mertuanya, meski sebenarnya ia lebih nyaman mengenakan pakaiannya sendiri.
"Sekarang lebih baik kita makan, aku sudah lapar" Fidel menjentikkan jarinya memberi isyarat, pelayan di sampingnya pun segera mengambilkan piring dan menyiapkan nasi, begitu juga pelayan yang berada di samping Sakura dan ibunya.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu boleh mengambil sayur dan lauk sendiri" ucap Fidel mengerti perasaan gadisnya, Sakura tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Benar kata Fidel, silahkan ambil makanan yang kamu mau Sakura" ibu pun memberi lampu hijau.
Sakura mulai bergerak, sedari tadi ia begitu penasaran ingin memakan ayam panggang yang terhidang di depannya. Sakura menarik piring yang berisi satu ekor ayam yang belum terpotong mendekatkannya ke arahnya lalu ia pun berdiri mengambil sebilah pisau yang ada di atas meja dan memotong ayam bagian pahanya, sedikit alot dan sulit. Sakura menggesekkan pisau tersebut dengan tenaga yang cukup keras dan menariknya hingga akhirnya. .
Pletak
"Ahhhh" Sakura mendudukan dirinya dan menyuapkan nasi yang cukup besar ke dalam mulutnya beserta ayam panggang hasil kerja keras pemotongannya.
Fidel dan ibunya tertawa melihat tingkah laku Sakura, ia terlihat sangat menikmati ayam panggang tersebut, mendengar suara gelak tawa ia pun mengedarkan pandangannya dan tersadar. Sakura tersenyum malu dan bersikap manis meletakkan kembali ayam yang di pegangnya.
"Tak apa-apa Sakura makanlah yang banyak, maaf jika ayamnya sedikit alot. Pelayan cepat potong ayamnya" ibu memberi perintah, pelayan yang berada di samping Sakura segera memotong ayam tersebut menjadi potongan kecil sehingga mudah di makan.
"Terima kasih tante" Sakura melanjutkan makannya. Fidel merasa senang jika Sakura makan dengan lahap.
"Aaaaaaaaaa" suara sendawa cukup keras keluar dari mulut Sakura kemudian ia pun segera menutup mulutnya.
Fidel dan ibu melirik ke arahnya, Sakura menjadi sangat malu, ia mengangkat sebuah sapu tangan tipis yang biasa di jadikan lap wajah melebarkannya untuk menutupi setengah wajahnya.
Fidel terkikik kemudian menarik tangan Sakura dan menggenggamnya di atas pahanya.
"Kamu sangat kenyang?" tanya Fidel sambil tersenyum.
Sakura mengangguk pelan, ia berharap Fidel segera mengajaknya pergi dari ruang makan.
"Jika begitu kamu lebih baik beristirahat ke kamarmu, aku akan membicarakan sesuatu dengan ibu" seperti memiliki telepati pesan dalam hati Sakura sampai kepada Fidel.
"Benarkah? tidak apa-apa jika aku tidur duluan?" tanyanya basa basi padahal ia merasa senang di beri ijin untuk ke kamarnya sekarang juga.
"Iya, pelayan tolong antar Sakura ke kamarnya"
"Baik tuan muda"
"Tante aku permisi tidur duluan" pamitnya pada ibu Fidel yang sedari tadi memperhatikannya.
"Iya selamat malam Sakura" ucap ibu.
__ADS_1
"Selamat malam tante" Sakura membangunkan dirinya kemudian pergi, setelah sampai di kamar ia segera menutup pintunya dan bersandar di sana.
"Aakkkhhh malu sekali, kenapa aku harus sendawa di depan ibunya kak Fidel, konyol!! ceroboh!!" Sakura memukul kepalanya sendiri pelan merutuki ketidak sopanannya.
Sakura merebahkan dirinya di atas ranjang, ia telah berganti pakaian, memakai pakaian yang di sediakan di atas tempat tidur. Pakaian tidur yang tipis, ia tertidur lesu masih memikirkan kejadian tadi.
"Apa yang sedang kak Fidel dan ibunya bicarakan ya? mungkinkah ibunya merasa jijik kepadaku? semoga ia tidak sampai berpikir untuk membatalkan pernikahan kami" Sakura menarik selimutnya menutup seluruh tubuhnya.
Pagi hari seorang pelayan membawakan sebuah dress untuk Sakura, dia mengetuk pintu kamarnya beberapa kali namun tak ada jawaban.
Fidel kebetulan memergokinya.
"Biar aku saja yang memberikannya" ucapnya kemudian sang pelayan pun pergi.
Fidel memegang dress tersebut kemudian dengan berani langsung masuk ke kamar Sakura dan memanggilnya karena dia tak menemukan kekasihnya di kasurnya.
"Sakura" panggilnya kemudian mengetuk pintu kamar mandi.
Ceklek
Sakura membuka pintunya dari dalam, saat Fidel melihatnya mulutnya menganga.
"Astaga bodrexin, ujian apa lagi ini" Fidel memandang lekuk tubuh Sakura yang menggunakan lingerie tipis pemberian ibunya. Sakura sedang menggosok giginya.
"Kenapa kak?" tanyanya memudarkan lamunan Fidel, Sakura melanjutkan kembali aktifitasnya menghadap kaca besar di hadapannya. Ia berlaku cuek.
"A-aku membawakan baju ganti untukmu, sudah kutaruh di atas meja" ucapnya terbata-bata dan tak fokus.
"Oh terima kasih kak" Sakura menyudahi kegiatannya kemudian ia berkumur-kumur dan mengambil handuk kecil yang tergantung lalu mengusap wajahnya. Ia menatap Fidel yang masih memperhatikan gerak geriknya.
"Kak" lirihnya lembut menghampiri Fidel.
"Iya"
"Permisi ya kak aku harus mandi" Sakura bermaksud ingin menutup pintu kamar mandinya.
"Ma-mandi?" bayangan saat pertama kali melihat Sakura telanjang terbesit di pikirannya. Fidel mengepalkan tangan menahan hasratnya yang mulai muncul.
"Iya tubuhku rasanya sudah gatal"
"Gatal?"
"Kau membuat pikiranku travelling Sakura!! jika gatal bagian mana yang harus ku garuk? aku rela jadi mesin penggaruk untukmu, bagian mana pun aku siap menggaruknya" gumamnya dalam hati.
"Iya rasanya tubuhku kotor"
"Kotor?" tubuh Fidel mulai bergetar, pikirannyalah yang kotor, dia tak tahan ingin memakan gadis di depannya.
Melihat Fidel yang gemetaran Sakura pun semakin mendekat.
__ADS_1
"Kak Fidel apa kakak baik-baik saja?" tanya Sakura sambil menyentuh dahi kekasihnya. "Panas" itulah yang Sakura rasakan pada punggung tangannya.
Fidel memandang bibir ranum tersebut kemudian dia bergerak cepat dengan melingkarkan tangannya di pinggang Sakura mendekapnya dalam.
"Sakura bisakah kita melakukannya sekarang?"
"Maksud kak Fidel melakukan apa?" tanya Sakura tak mengerti. Fidel mengendurkan pelukannya.
"Itu. . yang dulu kita pernah lakukan"
"Hem? lakukan apa?"
"Itu yang membuatmu berdarah"
"Berdarah? aku tidak mau terluka kak"
"Tidak Sakura, kali ini aku akan melakukannya dengan pelan" Fidel menarik tengkuk leher Sakura mencium bibir mungilnya, sambil bergerak melangkahkan kaki menuju ranjang besar di belakangnya.
Fidel mendudukan Sakura perlahan tanpa melepas pagutannya kemudian merebahkannya dan menindihnya. Manis, lembut dan kenyal, bibir Sakura membuat Fidel menjadi candu, pria tersebut semakin memperdalam ciumannya, memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Tubuh mereka mulai terasa panas.
Fidel melepaskan pakaian yang di kenakannya kemudian mencium menuruni leher jenjang kekasihnya membuat Sakura mengerang, pria tersebut semakin bengis, tangan nakalnya mulai menurunkan salah satu tali yang menggantung di pundak Sakura dan . .
Braakkkk
"Adikku aku tahu apa yang sedang kau lakukan" sapa Cakra tiba-tiba muncul mendorong pintu kamar Sakura keras hingga menabrak dinding.
Fidel dan Sakura terkejut kemudian dengan refleks Fidel menarik selimut menutupi tubuh gadisnya dan mendengus kesal, dia melempar bantal yang ada di sampingnya ke arah Cakra dan mengenainya, Cakra malah tertawa renyah.
"Hahaha, sabarlah adikku jangan marah, pinggulmu itu belum sembuh sepenuhnya, kau malah coba-coba"
"Haaahhh, kenapa juga aku lupa bahwa kakak tinggal di sini, seharusnya tadi aku mengunci pintu"
"Dasar adik berdosa, kau bahkan lupa pada kakakmu!"
Fidel berdiri kemudian menarik Cakra keluar dari dalam kamar dan menutup pintunya.
"Sudah jangan banyak bicara, sini aku akan membuat perhitungan denganmu!!"
Fidel melingkarkan tangannya di leher Cakra mengapitnya dan menekan kepalan tangannya di kepala sang kakak. (Menjitaknya ala shincan)
"Kau selalu datang mengganggu surga duniaku kak!!" ujarnya penuh penekan sambil melebarkan matanya.
"Aw ampun Fidel" Cakra meronta meminta di lepaskan.
"Rasakan!!" Fidel menghujami kepala Cakra dengan beberapa kali tekanan dan menjambaknya.
"Awwww!! ibu tolong aku di aniyaya!!"
***
Maafkan tulisan yang kadang gaje dan typo dari author amatiran ini ya teman-teman 😁
Semoga terhibur 💕
__ADS_1