
Fidel mengantarkan Sakura pulang, ia harus berangkat bekerja meski sudah kesiangan.
"Kamu bereskan makanan dan perlengkapan lainnya di dapur ya, stok alat kebersihan taruh di dalam lemari kamar mandi. Kamu mengerti kan?" tanya Fidel memastikan.
"Iya tuan aku mengerti"
"Kalau begitu aku berangkat dulu ya" setelah menurunkan barang belanjaan di depan pintu rumah Fidel langsung kembali masuk ke dalam mobilnya dan menginjak pedal gasnya dalam. Ia tahu akan di marahi kakaknya begitu tiba di kantor jadi sebisa mungkin ia harus segera ke sana.
Sakura hanya bisa memandang kepergian Fidel, ia membuka pintu dan memasukkan barang belanjaanya ke dalam rumah.
"Tuan Fidel pergi tanpa mengelus rambutku" ucapnya dengan wajah murung, sentuhan tangan Fidel di kepalanya membuat ia candu, ya kecanduan akan belaiannya.
***
Fidel sudah berada di kantor, ia langsung pergi ke ruangannya. Ia segera mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
Braakkkk
Suara pintu di dorong dengan kerasnya hingga membuat Fidel terkejut.
"Selamat siang adikku" sapanya tanpa merasa bersalah. Cakra memang selalu berbuat semaunya pada Fidel.
"Tidak bisakah kakak mengetuk pintu dengan benar" Fidel membuang wajahnya tak ingin menatap kakaknya, ia kembali memeriksa beberapa dokumen yang sudah berada di mejanya.
"Jangan marah adikku, tadinya aku ingin memberimu informasi penting tentang griya itu, yah karena kamu ngambek tidak jadi deh. Aku akan kembali saja ke ruanganku" Cakra senang sekali menggoda adiknya, ia berjalan mundur dan seolah-olah akan pergi sambil menutup pintu ruangan Fidel.
"Eh aku tidak marah kok kak, aku hanya terkejut dengar suara pintu terlalu keras" ucap Fidel merayu sang kakak.
"Benarkah? kamu tidak berbohong? kamu tidak marah pada kakakmu ini yang suka membanting pintu?" Cakra menghampiri Fidel sambil terus meledeknya.
"Iya kakak aku tidak marah, tak apa kakak banting pintunya sampai rusak pun tidak masalah asal kakak mau berbagi info tentang griya bersama"
"Bilang dulu kakakmu ini keren dan tampan"
"Kakak keren dan tampan" Fidel menuruti kata-kata kakaknya.
"Bagus, jawab juga pertanyaanku, sudah sejauh mana hubunganmu dengan budak yang bernama Sakura itu?"
"Jangan menyebutnya begitu kak, dia bukan budakku" tiba-tiba Fidel menjadi kesal. Dia tidak suka Sakura di katai seperti itu meski ia tahu kakaknya itu hanya bercanda.
"Tuh kan kamu marah lagi padaku, ah sudahlah aku ke sini bukan untuk bertengkar denganmu" Cakra memberikan Fidel sebuah map, ia tahu Fidel mulai serius tak baik menggodanya terus.
"Apa ini?"
__ADS_1
"Data- data tentang Griya bersama" Fidel langsung membuka map itu dan membacanya lembar demi lembar, keningnya mengkerut.
"Rupanya tempat ini benar-benar tempat perjual belian perempuan, mereka memiliki surat-surat ijin dan pengadopsian anak yatim piatu. Data mereka bersih dan rapi pantas saja mereka selalu lolos dari pihak berwenang" Cakra menjelaskan pada Fidel data yang sudah di dapatnya.
Fidel termangu, ia tidak bisa membayangkan nasib para budak itu yang di jual demi uang, mereka terkekang, hidup mereka pun hanya untuk bekerja menuruti kemauan pembelinya. Sangat tidak manusiawi.
"Tempat ini harus di musnahkan, mereka tak layak untuk berdiri dan juga seharusnya mereka di jebloskan ke penjara" amarah Fidel memuncah.
"Tidak mudah menjebloskan mereka ke penjara, beberapa kali mereka bebas dari jeratan hukum. Management mereka benar-benar terorganisir sehingga menemukan bukti yang kuat masih sulit di dapat"
"Aku yang akan menjebloskan mereka dengan tanganku sendiri kak" ujar Fidel penuh percaya diri.
"Yah berusaha lah dan hati-hati mereka bukan orang sembarangan dan lagi bagaimana masih bertahankah kamu dengan keperjakaanmu?" Cakra menanyakan hal di luar jalur pembicaraan.
"Sudah sana keluar jika kakak ingin membicarakan keperjakaanku lagi"
"Hahaha adikku ini sensi sekali, padahal aku hanya ingin mengatakan melepas keperjakaan itu enak loh, @$@#€#¥@₩!)&!^@%@" Cakra mengoceh membicarakan hal-hal yang vulgar.
Fidel tak ingin mendengarnya, ia memilih bangun dan mendorong bahu kakaknya untuk berjalan keluar dari ruangannya.
"Kamu tak sopan Fidel aku sedang berbicara, seru loh ini pembicaraan untuk 21+"
"Aku tidak tertarik mendengarnya"
"Kamu jangan hanya tahu praktiknya tapi teorinya juga penting, cepatlah berikan keperjakaanmu pada gadis itu" teriak Cakra dari luar.
"Haaahh Dia sengaja membuatku aku malu" Fidel menghela napasnya.
Ia kembali ke tempat duduknya.
***
Keesokan harinya, Fidel meringkuk pulas dalam balutan selimut tebal yang menenggelamkan tubuhnya. Sudah kebiasaanya di hari minggu untuk bangun siang, dia akan bangun tengah hari untuk pergi ke rumah sakit. Keluarganya adalah penyumbang dana terbesar pada rumah sakit tempatnya bekerja, sehingga dia mendapat kelonggaran selonggar-longgarnya untuk bekerja di sana. Bukan berarti dia melalaikan tugas, dia meminta jadwal siang di hari minggu untuk beristirahat setelah 5 hari bekerja di perusahaan.
"Fidel adikkuuuuu" Cakra mendobrak pintu sambil berteriak dan merentangkan tangannya yang tengah membawa bingkisan.
Hening, keadaan rumah itu sepi seperti kuburan. Ia tahu Fidel pasti masih tidur, ia ke rumah Fidel untuk memberikan makanan yang di masakan ibunya, salahkan anak bungsunya ini yang tak pernah pulang dan mengunjunginya. Cakra masuk begitu saja ke dalam rumah Fidel mencari hawa kehidupan.
"Eh siapa?" mata Cakra menangkap seorang gadis yang tengah memegang penyedot debu. Gadis itu memandang Cakra intens seolah penasaran siapa manusia yang masuk ke rumah Fidel tanpa ijin.
"Seorang gadis cantik? Ahhhaaa" seringai jahil tercetak dari wajah Cakra.
Terdengar suara langkah kaki menuju kamar Fidel, kemudian di susul teriakan dan gebrakan pintu.
__ADS_1
"Fidel bangun"
Fidel berjengit kaget.
"Kakak! mau apa dia pagi-pagi begini datang dan membuat keributan" Fidel mengumpat, ia membenarkan kembali selimutnya akan memejamkan mata bermaksud tidur kembali. Tak peduli dengan kedatangan kakaknya, kali ini dia sengaja mengunci pintu kamarnya agar Sakura tidak mengganggunya.
Tak mendapat respon dari sang adik, Cakra semakin menjadi-jadi. Ia terus menggedor pintu kamar adiknya.
"FIDEL ADA WANITA TELANJANG DI RUANG TAMUMU!!"
Mata fidel terbuka lebar, hilang sudah rasa kantuknya.
"Sakura, kebiasaanmu itu benar-benar merepotkan!" secepat kilat Fidel turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Sakura. Tubuhnya membeku saat mendapati seorang gadis yang menatapnya heran. Sakura sedang memegang penyedot debu dan masih mengenakan pakaian lengkap. Fidel kemudian berjalan mendekati Sakura.
"Kamu. . Kamu kenapa pakai baju?" Sakura mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan Fidel.
"Tuan ingin aku melepas bajuku?" Sakura membuka apron yang di pakainya. Tangannya mulai menurunkan baju di pundaknya.
"Tidak maksudku"
"Maksud tuan lepas semua jangan memakai apapun?" Pertanyaan Sakura semakin menyudut, tangannya masih bergerak berusaha membuka pakaiannya dan di tahan oleh tangan Fidel, ia jadi mengerti rupanya ia di kerjai oleh kakaknya.
"Lepaskan tangan tuan" Sakura berusaha menyingkirkan tangan Fidel.
"Tidak usah buka baju Sakura" lirihnya tapi tak di dengar oleh Sakura.
Terjadi tarik ulur pakaian yang di kenakan Sakura.
"Lepas tuan"
"Jangan Sakura"
Cakra yang melihat dan mendengar adegan pembukaan dan penahanan pakaian gadis yang dilakukan oleh adiknya itu hanya bisa membelalakan matanya.
"Fidel kamu berusaha memperkosanya ya!" teriaknya lagi membuat Fidel membuang napasnya kasar.
"Dia lagi, ini gara-gara dia" Fidel kembali frustasi semakin banyak orang yang membuatnya pusing.
"Lama-lama aku bisa terkena komplikasi, darah tinggi, sakit jantung, migrain dan impoten. Eh Hulk masih kuat berdiri kok, hanya belum mengeluarkan kekuatannya saja" gumamnya dalam hati.
***
Semoga suka ya 😁
__ADS_1