My Slave Beauty

My Slave Beauty
Kiss Me Please


__ADS_3

Fidel meletakkan tablet dan meremas kertas yang ada di mejanya.


"KAKAAAAAAAAK!!!" sepertinya Fidel harus memeriksa sekeliling isi rumahnya untuk memastikan benda apa yang di taruh di rumahnya.


"Hahaha, tidak usah gemas seperti itu padaku. Kakakmu ini memang rupawan dan juga pintar" ucapnya bangga. "Sudah ya aku akan kembali ke ruanganku" Cakra melangkah menuju pintu keluar.


"Tidak usah kemari lagi dan tidak usah berkunjung juga ke rumahku!!" teriak Fidel geram.


"Mana bisa? kamu ini marahnya menyuruh yang bukan-bukan saja, ingat jika suatu hari kamu akan melakukannya dengan Sakura, lakukanlah pelan-pelan karena rasanya sakit untuk perempuan" Cakra berdiri di depan pintu padahal tadi dia sudah berpamitan tapi tak juga pergi.


"Siapa juga yang akan melakukannya dengan Sakura" wajah Fidel menjadi semu kemerahan.


"Apa kamu yakin bisa menahan hasratmu? tinggal berdua saja di rumah dengan seorang gadis, semalam saja kamu sudah memeluknya lalu nanti malam apa kamu tidak berencana menciumnya dan menggerayanginya dan membuka pakaiannya dan menyetub*hinya dan hilanglah keperjakaanmu" ucap Cakra tak hentinya memanas-manasi Fidel sambil menggodanya.


"Cepat pergi sana jangan bicara lagi!" Fidel membuang wajahnya tak ingin memandang kakaknya karena salah tingkah, bukan tidak mungkin hal itu bisa terjadi.


"Wajahmu kenapa merah seperti itu, malu ya? tidak usah malu pada kakakmu, jika kamu tidak bisa melakukannya aku akan mengajarimu, begini caranya Fidel" Cakra mengelus-ngelus gagang pintu sambil memasang wajah mesumnya dan memajukan bibirnya seperti akan mengecup.


"Aku bilang pergi sana!" Fidel melempar sebuah berkas ke arah Cakra.


"Iya iya aku pergi, padahal belum pernah melakukannya tapi sok sekali tidak mau di ajari" Kakaknya itu masih saja mengoceh.


"Kakak!!" teriak Fidel lagi.


"Oia aku sebenarnya mau mengatakan sesuatu, sebaiknya hari ini kamu pergi mengajak Sakura mengunjungi sekolahnya, biar pekerjaanmu aku yang urus. Satu jam lagi pergi lah"


"Kakak serius? akan mengerjakan pekerjaanku?"


"Iya asal kamu hilangkan keperjakaanmu, hahaha" Cakra tertawa renyah dan bahagia, tak ada hentinya ia menggoda adik bungsunya. Fidel sudah malas menanggapi kakaknya yang tidak mempan dengan tindakan apa pun yang di lakukannya, perlawanannya tidak mengubah keadaan, kakaknya itu memang jahil dan kekanak-kanakan.


"Aku serius pokoknya satu jam lagi pulanglah" kali ini Cakra keluar dan menutup pintunya, "jangan lupa gerakannya seperti ini" Cakra membuka pintu lagi menggerakan pinggulnya ke depan dan ke belakang secara bergantian.


"Haaaahhhh" Fidel mengusap keningnya pelan, pasrah dengan tingkah laku kakaknya. Cakra menutup pintunya kembali dan benar-benar tak kembali lagi.

__ADS_1


Fidel melanjutkan kembali membuka beberapa berkas yang tadi di pegangnya, kemudian ia teringat perkataan Cakra untuk mengajak pergi Sakura.


"Yah aku rasa aku memang harus mengajaknya pergi ke sekolah" Fidel bangun dari duduknya kemudian ia memunguti berkas yang berserakan karena di lemparnya dan merapikannya di atas meja. Ia beralih mengambil jas yang di gantungnya lalu membawa tas dan kotak bekal yang di beri Sakura pagi tadi. Fidel meninggalkan ruangannya, ia berjalan melewati ruangan Cakra dan akhirnya kembali masuk ke ruang kerja kakaknya.


Fidel mengetuk pintu lalu melangkah masuk menghampiri Cakra yang tengah sibuk mengetik pada keyboard di depannya.


"Ada apa?" tanyanya singkat sambil menyandarkan punggungnya memandang adiknya.


Fidel datang dengan wajah datar, tiba-tiba ia mengangkat kotak bekal yang di pegangnya, mengayunkannya akan melemparnya pada Cakra.


"Eh eh ampun Fidel maafkan aku!" Cakra menyilangkan tangannya mencoba melindungi wajahnya. Sayangnya kotak bekal itu masih ada di tangan Fidel, ia membalasnya menjahili kakaknya. Fidel terkekeh melihat refleks Cakra.


"Takut ya kak? Hahahaha" Fidel meletakkan kotak makan itu di atas meja Cakra. "Makanlah ini masakan Sakura, jangan memikirkan kapan aku akan melepas keperjakaanku terus, aku tidak akan sembarangan melakukannya"


"Kita lihat saja nanti" Cakra menurunkan tangannya dan beralih membuka kotak makan pemberian Fidel, masakan yang di buat Sakura terlihat lezat. "Ternyata dia pintar memasak ya" Cakra mencicipinya sedikit lalu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Sepertinya berapa kali pun aku mengatakannya tidak akan di dengar olehmu, aku pergi ya. Ingat pekerjaanku kakak yang selesaikan semua" Fidel melangkahkan kakinya pergi.


"Iya bersenang-senanglah adikku sayang, terima kasih makanannya" ucapnya sambil mengunyah makanan.


***


Sejenak Fidel masih saja terpesona dibuatnya walaupun setiap hari ia bertemu dengannya, Sakura membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Fidel, ia mengenakan sabuk pengaman dan menunggu mobil di lajukan tetapi majikannya itu hanya menganga memandangnya terus menerus.


"Tuan" Sakura menggibas-gibas tangannya di depan wajah Fidel membuatnya membuyarkan pandangannya.


"Oh kamu sudah bersiap?" tanyanya mengalihkan pandangannya ke depan dan mulai menginjak pedal gasnya.


"Iya tuan"


Mobil Fidel melaju dengan cepat dan telah sampai di sekolah yayasan milik keluarga besar Fidel. Ia dan Sakura mulai berkeliling, gadis yang di bawanya itu di buat takjub pada bangunan yang ada di hadapannya, tak pernah di bayangkannya akan bersekolah di sekolah ternama seperti ini. Sakura ingin sekali berterima kasih pada Fidel dan Cakra tetapi jika kata-kata saja rasanya tak cukup.


"Sakura" ia menoleh pada dokter tampan yang berjalan di sampingnya.

__ADS_1


"Ini untukmu" Fidel menyerahkan benda berbentuk persegi panjang itu pada tangan Sakura, sebuah ponsel model terbaru yang biasanya ia lihat di televisi.


"Terima kasih banyak tuan" mata Sakura berkaca-kaca, ini pertama kalinya ia memiliki ponsel sendiri.


"Aku sudah menyimpan nomor ponselku di sana, ingat kamu harus menghubungiku jika terjadi apa-apa"


"Iya tuan terima kasih" wajahnya tampak merona karena bahagia.


" Kamu sudah mengatakannya barusan, apa ini karena kamu sangat senang?"


"Iya tuan aku sangat senang, terima kasih"


"Heeemmm kamu mengucapkannya lagi"


Fidel dan Sakura selesai berkeliling, di seberang sekolah tersebut ada sebuah taman kecil, mereka mampir dan duduk di sana. Tak jauh dari sana mereka melihat sepasang muda mudi sedang berciuman.


Fidel yang melihatnya langsung menutup kedua mata Sakura dengan tangannya tetapi gadis itu menepisnya, ia juga ingin melihat apa yang terjadi di depannya.


"Aishhh kamu sebaiknya tidak melihatnya Sakura"


"Tuan, kenapa tuan tidak menciumku juga seperti lelaki itu mencium wanita di sampingnya?"


"Apa?"


Pertanyaan Sakura membuat Fidel tercengang, apa ia tidak salah dengar? gadis ini menanyakan perihal mencium padanya? Sakura memandangnya dengan tatapan polos tak memperdulikan keterkejutan Fidel, pasangan muda mudi tadi masih saja berciuman, membuat Sakura kembali membulatkan matanya mengalihkan pandangannya.


"Ayo kenapa tuan juga tidak menciumku?" Sakura merengek meminta di cium seperti minta di beri makan, ia memintanya dengan mudah seolah ciuman itu tak berarti apa-apa.


"Tu-tunggu Sakura" gadis itu tanpa basa basi menarik wajah Fidel mendekatkan wajahnya dan memajukan bibirnya.


"Kyaaa Sakuraaaaa"


***

__ADS_1


Semoga terhibur ya


Jangan lupa like komen dan vote nya jika kalian suka cerita abal-abal ini 😘


__ADS_2