My Slave Beauty

My Slave Beauty
Menjagamu


__ADS_3

Cakra menghampiri Sakura sambil mengeluarkan sebuah ponsel dan memotret Sakura beberapa kali, gadis itu tersenyum malu saat sinar pada kamera yang mengarah padanya menyala.


"Senyumlah lebih natural lagi Sakura" pinta Cakra ia sampai berpindah-pindah posisi dari sisi kanan ke sisi kiri, memotret dari depan kemudian sampai terjongkok. "Wah hasil fotonya terlihat bagus"


Fidel menghampiri mereka, dari jauh dokter tersebut memperhatikan reaksi berlebihan kakaknya.


"Tunggu sebentar kak, bukannya ini ponselku?" Fidel merebut ponsel yang di pakai memotret Sakura oleh Cakra, memang ponsel miliknya. "Kapan kakak mengambil ponselku?"


"Barusan" jawabnya singkat.


"Kak memori ponselku sampai habis, memang kakak memotret berapa banyak" Fidel memscroll galeri poto di ponselnya yang memuat banyak foto Sakura yang berjumlah hampir ratusan. Satu gaya dia poto hingga beberapa kali. "Sepertinya kakak memotret Sakura persatu detik"


"Itu karena ponselmu yang sudah kuno, belilah ponsel yang baru, yang punya tiga kamera di belakangnya" cakra mengeluarkan ponsel miliknya yang mewah dengan simbol buah jambu air yang sudah di gigit separuh.


"Ponselku masih baik-baik saja kak sebelum kakak memegangnya"


"Kamu ini sungguh dokter yang pelit bahkan untuk dirimu sendiri"


Sakura yang mendengarkan percakapan tersebut pun ikut menimpali.


"Jika tuan mau, mari bertukar ponsel denganku" Sakura mengeluarkan ponsel pintar miliknya yang bisa dilipat menjadi kotak.


"Wah aku tidak menyangka ternyata Sakura juga mempunyai ponsel, lebih mewah dari pada punya Fidel" pujinya pada Sakura tetapi ledeknya pada Fidel.


"Ini tuan Fidel yang memberikan untukku tuan"


"Ternyata adikku jika urusannya tentang kebutuhan Sakura pasti memberikan yang terbaik ya" godanya.


"Aku hanya tidak mau dia terlihat ketinggalan jaman kak di banding teman-teman sekolahnya"


"Oohhh ternyata bahkan kamu sangat mengkhawatirkannya" godanya lagi.


"Hahhh sepertinya setiap jawabanku selalu menjadi senjatamu kak" Fidel mengelus keningnya sendiri mulai merasa frustasi.


"Sakura boleh aku meminta nomor ponselmu" gadis itu mengangguk dan tersenyum. Dia mengambil ponsel yang di sodorkan Cakra dan mulai mengetik nomornya.


Fidel melirik mereka tajam, ia merebut ponsel Cakra dari tangan Sakura dan mengembalikannya paksa, ponsel itu ia dorong tepat menabrak dada Cakra.


"Jika ada keperluan dengan Sakura kakak hubungi aku saja" ujarnya tegas.


"Hei kenapa aku harus menelponmu jika aku ingin mendengar suara Sakura, kamu ini kekanak-kanakan Fidel, jangan bilang kamu cemburu kepadaku"


"Ayo kita pergi" ucapnya pada Sakura.

__ADS_1


Fidel tak mendengarkan ucapan Cakra, ia memegang tangan Sakura dan menariknya keluar dari salon itu. Cakra yang sedang mengomel dan di acuhkan pun semakin geram.


"Hei adik kesayanganku, aku sudah beristri, apa kamu lupa! jangan berburuk sangka kepadaku, lebih baik kamu mencari cara agar cepat melepaskan keperjakaanmu bersama Sakura. Jangan memikirkan aku" teriaknya membuat semua orang yang berada di salon memperhatikannya.


Cakra sadar ia menjadi pusat perhatian, ia pun menundukkan wajahnya.


"Adikku orangnya polos dan baru dekat dengan perempuan, aku sedang menyemangatinya" ucapnya berbicara sendiri meski tidak ada yang bertanya, ia hanya berbasa basi mencoba menghilangkan rasa malunya.


"Kakak itu membuatku malu saja" keluhnya saat sudah berada di dalam mobil bersama Sakura.


"Emmm tuan" panggilnya pelan.


"Iya kenapa Sakura?" Fidel menoleh pada gadis cantik di sampingnya.


"Ini pertama kalinya aku menghadiri sebuah acara besar"


"Iya lalu?"


"Apa yang harus aku lakukan di sana tuan? apa aku harus berdansa atau menari atau lain sebagainya?" Fidel terkekeh mendengar pertanyaan Sakura.


"Kamu tidak harus melakukan apa-apa Sakura, kamu cukup menggandeng tanganku dan mengikutiku kemana pun aku pergi"


"Oohh di sana pasti banyak orang-orang penting dan juga kaya"


"Ya begitulah" Fidel mengangguk-anggukan kepalanya. Ia kembali melirik pada Sakura yang tiba-tiba saja terdiam, raut wajah orang tidak percaya diri.


"Baik, terima kasih tuan" ucapnya tersenyum lega.


Mereka pun tiba di sebuah gedung baru berlantai lima, gedung yang akan di resmikan oleh salah satu kolega perusahaan milik keluarga Fidel.


Kini Fidel berjalan masuk bersama Sakura, gadis itu merasa gugup, ia merasa ini bukan tempat yang cocok untuknya, ia berjalan pelan di belakang Fidel hingga akhirnya hampir tertinggal.


Fidel mengedarkan pandangannya, mencari sosok gadis yang tadi berjalan ada di sampingnya. Dia menemukannya berada cukup jauh di belakangnya.


"Ada apa denganmu? apa kamu benar-benar merasa takut?" tanyanya menghampiri Sakura.


Gadis itu hanya tertunduk dan menggeleng. Fidel dapat melihat gerakan tangan Sakura yang memainkan kedua kuku tangannya menandakan perasaannya resah. Pemuda itu pun menjadi tidak tega.


"Kalau begitu kita pulang saja ya, jika kamu tidak nyaman aku tidak akan memaksamu" ucapnya memegang tangan Sakura dan berjalan kembali menuju pintu keluar.


Setelah hampir sampai keluar, tangan Fidel tertahan, mereka menghentikan langkahnya.


"Tuan ayo masuk ke dalam" ajak Sakura, ia merasa tidak enak jika Fidel sampai gagal menghadiri acara besar ini karenanya.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja jika kita masuk ke sana?"


Sakura mengangguk.


"Aku rasa tidak apa-apa, asalkan ada tangan tuan Fidel yang menggenggam tanganku"


Mendengar hal itu membuat Fidel menjadi tersenyum, memang acara ini juga begitu penting untuk menjalin kerja sama dengan koleganya, jika dia ketahuan tidak hadir maka sudah pasti kakaknya akan memarahinya. Dia juga tidak punya pilihan lain.


"Kita akan masuk sebentar saja ya" ujarnya, mereka saling melempar senyuman.


Fidel mengenggam tangan Sakura dan mengajaknya masuk ke dalam. Gedung mewah berhiaskan cahaya yang berkilauan dari arsitektur yang berwarna emas dan perak. Keadaan di dalam sana sudah begitu ramai.


Fidel bertemu dengan banyak orang penting yang berpengaruh juga pada perusahaannya.


"Wah tuan Fidel hari ini membawa seorang wanita" sapa seorang pria muda menyapanya.


"Iya" jawabnya singkat.


"Apa dia kekasihmu?" tanyanya langsung.


"Iya dia kekasihku" jawab Fidel tersenyum, entah kenapa hati Sakura merasa amat senang mendengarnya.


"Wah cantiknya, selamat ya akhirnya kamu punya pacar" Mereka pun berbincang-bincang. Sakura di minta Fidel untuk tidak berbicara jika tidak ada yang bertanya.


Tetapi kemudian Sakura merasa tenggorokannya kering.


"Tuan aku haus ingin minum" bisiknya pelan di telinga Fidel.


"Itu minumnya di sebelah sana, bisakah kamu mengambilnya sendiri?" tunjuk Fidel pada pojok ruangan.


"Bisa"


Fidel melanjutkan perbincangannya dengan rekan bisnisnya.


Sakura melangkah pergi menuju meja yang berisi minuman dengan potongan lemon di atasnya.


Ia segera menyambar gelas itu dan meminumnya.


"Ah rasanya segar" Sakura meletakkan kembali gelas kosong tersebut.


"Sakura" panggil seseorang sambil menepuk bahunya, ia pun menoleh, matanya terbelalak.


"Mami Stella??"

__ADS_1


***


To be continued. .


__ADS_2