My Slave Beauty

My Slave Beauty
Keluarga


__ADS_3

Fidel menarik selimut yang berada di dekapan Cakra dan memakaikanya pada Sakura, gadis itu masih menyanggah gaunnya yang hampir melorot.


"Kenapa baru jam segini kalian sudah pulang? bukankah acaranya sampai tengah malam" tanya Cakra menyelidik setelah Fidel mengganggu tidurnya.


"Aku akan menceritakannya nanti, ayo kita ke ruang keluarga" Fidel menarik kerah baju Cakra dan mengajaknya keluar kamar.


"Fidel pelan-pelan" pekiknya.


"Sakura gantilah pakaianmu" ucapnya sambil menoleh pada budaknya yang penurut.


"Baik tuan" Sakura meletakkan kembali selimut yang di pakaiankan Fidel dan berdiri memegangi gaunnya.


"Haissshh, kakak pergilah duluan" Fidel mendorong bahu Cakra agar segera menuju ruang keluarga. Ia beralih menghampiri Sakura, Fidel melepas jasnya dan memakaikannya pada Sakura.


"Tutupi tubuhmu, jangan sampai orang lain melihatnya"


Seulas senyum tersungging di bibir Sakura, bentuk perhatian Fidel selalu membuatnya melayang.


Fidel melangkahkan kakinya keluar kamar untuk pergi menemui Cakra. Sakura mengekor kemudian berbelok menuju kamarnya, dia berjalan sambil sedikit melompat dan bernyanyi. Fidel melihat dan mendengar suaranya, ia pun ikut tersenyum.


"Apa yang ingin kamu ceritakan?" tanya Cakra langsung melihat Fidel mendudukkan dirinya di sampingnya.


"Aku bertemu Stella, wanita pemilik tempat tinggal Sakura dulu kak"


"Wah kamu bertemu wanita ular, lalu apa yang di perbuatnya?" Cakra mengambil snack yang berada di dalam plastik.


"Dia mengancam Sakura akan membawanya kembali pada tempat busuk itu, aku tidak tahan melihatnya. Aku menggertaknya kembali"


"Dia tidak kamu suntik?" Cakra berbicara sambil mengunyah makanan.


"Maksud kakak?" tanyanya tak mengerti.


"Suntik mati saja, kamu kan seorang dokter. Memangnya kamu tidak punya serum untuk membunuh orang?" pertanyaan sekaligus hasutan konyol Cakra bermunculan.


"Ya ampun kak kau mau aku masuk penjara?"


"Haha, tidak habisnya aku tidak suka cerita mengenai orang bernama Stella itu, jika aku bertemu dengannya akan ku bawa dia ke kebun binatang lalu memberikannya sebagai mangsa para buaya. Lalu selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan menyelidiki griya milik Stella itu, mencari kelemahannya untuk di jadikan barang bukti atas kejahatannya"


"Bukan Stella, maksudku Sakura. Apa yang akan kamu lakukan tadi padanya?"


Wajah Fidel memerah, lagi-lagi Cakra memergokinya.


"Aku tidak akan melakukan apa-apa padanya tadi, kami hanya akan tidur" Fidel membuang wajahnya, ia berbohong.


"Aku tidak percaya, di luar tadi bahkan kamu sudah membuka semua kancing gaun Sakura, tidak melakukan apa-apa katamu!!"


"Itu tadi dia yang meminta kak" kilahnya.


"Lalu kamu bernapsu?" pertanyaannya tepat dan benar.


"Begitulah" Fidel menjawabnya dengan malu-malu, wajahnya merah seperti tomat. Ia berdehem untuk menghilangkan rasa malunya.


"Hahahaha, rupanya kamu sudah dewasa sekarang"


Sakura menghampiri Fidel dan Cakra membawakan minuman untuk keduanya.

__ADS_1


"Tidak usah membawakan minuman untukku Sakura, aku sudah membawa bekal. Aku tahu dokter pelit ini hanya akan memberiku air putih lagi jika aku ke rumahnya" tebakan Cakra memang betul.


"Maaf tuan Cakra" Sakura kembali ke dapur.


"Baguslah jika kakak sadar diri, Oia kak kenapa kamu tidur di rumahku?"


"Aku di marahi Gayatri"


"Kenapa? kakak pasti berbuat yang aneh-aneh ya?"


"Tidak, aku hanya membeli konsol video game terbaru"


"Game baru lagi, kali ini berapa harganya kak?"


"6,2"


"6,2 juta?"


"6,2 milyar" Fidel ternganga mendengarnya lalu mendengus pelan.


"Aku rasa kakak sepertinya bukan hanya di marahi, kakak pasti di usir oleh kak Gayatri. Iya kan?" Cakra tersenyum kecut.


"Hehe, biarkan aku menginap malam ini di rumahmu ya"


"Tidak, rumah ini kecil kak hanya ada dua kamar"


"Ranjangmu besar, aku akan tidur denganmu menggantikan Sakura"


"Tidak mau!" Fidel bangun dari duduknya dan akan kembali menuju kamarnya.


"Tidak boleh, lebih baik kakak menginap di hotel sana"


"Aku tidak punya uang, uangku habis membeli konsol game"


"Rasakan! untuk apa membeli game mahal seperti itu"


"Ayolah Fidel kasihani kakakmu ini" rayunya tak berhenti. Sakura hanya bisa memandang dari jauh kedekatan Fidel dan kakaknya, Sakura merasa tersentuh, ia tidak memiliki keluarga, bahkan ia tak tahu siapa orangtuanya yang sebenarnya, masih hidup kah atau sudah tidak ada. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya, rasanya ia juga ingin mempunyai keluarga tempat untuknya pulang dan mengadu.


Malam itu, Fidel tidur di temani Cakra, ia tak punya pilihan. Kakaknya itu terus memaksa, dia melingkarkan kaki dan tangannya pada tubuh Fidel sambil sesekali mengerang dan mendengkur.


Plak Plak


Tangan Cakra memukul wajah Fidel dua kali.


"Hhhaaahhh, sakit kak!!" Fidel mendorong tubuh Cakra menggunakan tangan dan kakinya dengan kesal menjauhkannya dari tubuhnya, sepertinya dia mendorong terlalu keras hingga tubuh Cakra jatuh dari atas ranjang.


Cakra terbangun dengan mata setengah terbuka dan mengedarkan pandangannya, di lihatnya Fidel dengan mata yang terpejam dan mendengkur.


"Kenapa aku jatuh?" Cakra naik ke atas ranjang kembali dan tidur dalam keadaan tengkurap.


Fidel melirik pada kakaknya dan terkekeh.


Pagi hari, Sakura telah memasak nasi goreng untuk sarapan.


"Wah Sakura pandai memasak ya, sepertinya enak" puji Cakra.


"Silahkan di makan tuan" ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih Sakura" Cakra memakan sarapannya terlebih dahulu dari pada Fidel dan Sakura.


Gadis itu membuka apronnya dan sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya.


Mereka pun makan bersama dalam satu meja. Setelah makan Cakra berpamitan untuk pulang, ia takut akan lebih di marahi Gayatri jika tidak pergi bekerja, sedangkan Fidel kini sedang mengantar Sakura menuju sekolahnya.


Fidel memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang sekolah. Sakura turun dan hendak berjalan menuju kelasnya.


"Sakura ponselmu tertinggal" panggil Fidel menghampirinya setengah berlari.


"Terima kasih tuan maaf aku lupa"


"Belajarlah yang giat ya, aku pergi dulu" Fidel mengelus pucuk kepala gadisnya.


"Baik, hati-hati tuan" Dokter itu melambaikan tangannya dan pergi masuk kembali ke dalam mobilnya. Sakura tak bisa berhenti tersenyum.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pemuda tengah melihat interaksi keduanya dengan tatapan sulit di artikan. Pandangan Sakura dan pemuda itu bertemu setelah Sakura membalikkan tubuhnya. Sekilas pemuda itu tersenyum sebelum akhirnya menghampirinya.


"Pagi Sakura" sapanya ramah. Wajah Sakura menghangat rasanya ia sangat senang memiliki teman.


"Pagi juga tuan Reno" Reno mengerutkan keningnya tak suka dengan panggilan Sakura.


"Panggil aku Reno saja tidak usah ada kata tuan"


"Baik Re-reno" ucapnya gugup karena terbiasa menghormati orang lain.


"Sakura bukankah yang bersamamu tadi adalah Fidel Brawijaya? cucu pemilik yayasan sekolah kita" Reno mulai berjalan di ikuti Sakura yang berjalan di belakangnya.


Sakura mengangguk.


"Apa tuan Reno mengenalnya?"


"Kenapa tuan Reno lagi, Reno saja" ujarnya kembali mengingatkan. "Tentu hampir semua orang mengenal keluarga Brawijaya, mereka kaya raya. Bahkan Cakra kakak sulung Fidel berhasil mengembangkan dan menyelamatkan perusahaan keluarganya sepeninggal almarhum ayahnya. Aku dengar bahkan Cakra itu orangnya sangat keren, berwibawa dan karismatik"


"Sebenarnya tuan Cakra tidak sewibawanya itu" gumam Sakura dalam hati.


"Dan Fidel Brawijaya sendiri adalah seorang dokter muda yang paling di incar karena kejeniusannya"


Sakura mendengarkan dengan seksama penjelasan Reno, ia sama sekali tidak menyangka jika Fidel dan keluarganya seterkenal itu, ia hanya tahu Fidel adalah orang baik yang telah menyelamatkannya dan merawatnya. Kini pikiran Sakura menerawang, ia menundukkan kepalanya.


Reno yang berbicara dan tidak di tanggapi Sakura kemudian menoleh dan memperhatikannya yang terus menerus melihat ke bawah.


Dia memperhatikan kembali resleting celananya.


"Celanaku resletingnya tidak terbuka lagi kan Sakura? kenapa kamu terus melihat ke bawah? aku sudah memakai peniti pada resleting celanaku agar tidak melorot" ucapnya polos.


"Apa? pemuda bagai preman sepertimu memakai peniti di celananya, hahahaha" gelak tawa muncul dari arah belakang, Jo merasa geli melihat penampilan Reno yang memakai anting-anting dan sangar tetapi memakai peniti untuk mengeratkan celananya.


"Kau ini menguping saja!!" umpatnya pada Jo.


***


Bersambung


Maaf ya jika kurang menarik, semangat author soalnya sedang lowbet. Haha


Selamat berakhir pekan 😍

__ADS_1


__ADS_2